Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Keesokan harinya, sesuai dengan janji yang dibuat, Arka dan Aluna datang kembali ke rumah utama keluarga Mahendra.
Mereka berdua tampak berpakaian rapi namun tetap sederhana, membawa serta Arfan yang masih tertidur pulas dalam gendongan.
Mereka tahu pertemuan ini penting, namun hati Aluna masih terasa sedikit gugup dan takut. Ia masih ingat betul kemarin malam ia harus rela mengubur mimpinya demi kebaikan bersama.
Namun Arka terus menggenggam tangannya erat, memberikan kekuatan dan keyakinan.
Sesampainya di ruang tamu, ternyata Raka dan Sarah sudah datang lebih dulu dan sedang menunggu.
"Assalamu’alaikum..." sapa Arka pelan saat melangkah masuk.
"Wa’alaikumsalam... Masuklah Nak," jawab Tuan Mahendra seraya mempersilakan duduk.
Nyonya Soraya hanya diam dengan wajah datar, tidak menyapa tapi juga tidak mengusir. Ia ingin melihat bagaimana kelanjutan pembicaraan ini.
"Kenalin Kak, ini Sarah yang Raka ceritain kemarin," kata Raka cepat sambil menunjuk ke arah pacarnya.
Sarah langsung berdiri dan menyambut dengan senyum ramah. "Halo Kak Arka, Halo Kak Aluna... Salam kenal ya. Senang sekali akhirnya bisa ketemu langsung," ucap Sarah hangat sambil mengulurkan tangan.
Aluna pun membalas salam dengan sopan, "Iya dek, salam kenal juga," jawabnya lembut sambil tersenyum canggung.
Setelah semua duduk, suasana hening sejenak sebelum akhirnya Sarah yang memulai pembicaraan dengan penuh semangat. Ia langsung menuju ke pokok permasalahan.
"Jujur ya Kak..." mulai Sarah dengan antusias, matanya berbinar menatap Aluna.
"Kemarin saat Sarah tidak sengaja lihat buku sketsa yang tertinggal itu, Sarah benar-benar kaget dan takjub. Desain-desain buatan Kak Aluna itu luar biasa bagusnya. Detail, unik, dan punya jiwa yang jarang dimiliki desainer lain."
"Sarah sendiri memang lulusan fashion design dan memang punya hobi yang sama. Tapi setelah melihat karya Kak Aluna, Sarah yakin sekali bakat Kakak ini harus dikembangkan, tidak boleh cuma jadi hobi saja," jelas Sarah panjang lebar.
"Nah... terus terang saja Kak," lanjut Sarah lalu menatap Arka dan Aluna bergantian dengan wajah serius namun ramah.
"Sebenarnya Sarah datang ini bukan cuma main-main. Sarah punya keinginan kuat untuk membuka usaha fashion atau butik sendiri."
"Sarah punya modal yang cukup untuk memulainya. Uangnya sudah siap. Tapi masalahnya, Sarah itu kurang percaya diri kalau harus mengurus sisi bisnisnya sendirian. Sarah paham soal desain dan bahan, tapi soal manajemen, strategi pasar, dan operasional, Sarah masih kurang pengalaman," cerita Sarah jujur.
"Jadi kemarin Raka kasih ide, bagaimana kalau kita kerja sama saja? Sarah yang bantu dari sisi modal dan dukungan teknis desain, Kak Aluna yang jadi kreator utama, dan Mas Arka yang bantu arahkan soal bisnisnya. Bagaimana menurut Kakak berdua?" tanya Sarah penuh harap.
Pertanyaan itu dilontarkan dengan sangat lugas dan antusias.
Namun, sebelum Arka atau Aluna sempat menjawab, suara ketus Nyonya Soraya kembali terdengar memecah suasana. Wanita itu mendengus pelan lalu angkat bicara dengan nada merendahkan.
"Hem... Sarah sayang..." celetuk Nyonya Soraya sambil membetulkan posisi duduknya.
"Ibu harap kamu pikir lagi baik-baik ya. Kamu ini anak baik, berasal dari keluarga mampu, jangan sampai kamu rugi hanya karena ingin menolong atau karena terbuai gambar," ujar Nyonya Soraya.
"Ingat ya, mendesain di atas kertas dengan menjalankan bisnis nyata itu beda jauh. Belum tentu apa yang digambar Aluna itu laku dipasaran, atau bisa diproduksi massal dengan biaya yang efisien. Ibu tidak mau nanti kamu malah kehilangan uang tabunganmu sia-sia," ucap Nyonya Soraya jelas-jelas meragukan kemampuan Aluna.
Tapi kali ini, Sarah tidak gentar. Ia justru menatap Nyonya Soraya dengan sopan namun tegas.
"Tenang saja Tante... Sarah tidak akan gegabah. Sarah menawarkan ini karena Sarah melihat potensinya nyata. Karya Kak Aluna itu punya nilai jual yang tinggi Tante. Mata Sarah sebagai desainer tidak salah melihatnya," jawab Sarah mantap
"Dan lagipula, kita kan bisa buat perjanjian yang jelas. Ini bukan memberi uang cuma-hanya, ini investasi. Kalau untung kita bagi, kalau ada risiko kita pikirkan bersama caranya. Sarah yakin dengan bantuan Mas Arka yang pengalaman bisnis, dan bakat Kak Aluna, ini pasti bisa jalan," tegas Sarah membela rencananya.
Aluna yang dari tadi diam mendengarkan, akhirnya memberanikan diri angkat bicara. Hatinya terharu ada orang luar yang begitu percaya padanya, bahkan lebih percaya daripada ibu mertuanya sendiri.
"Terima kasih banyak ya Sarah..." ucap Aluna pelan namun jelas, suaranya sedikit bergetar menahan haru. "Kakak benar-benar bersyukur dan senang sekali ada yang mau menghargai hasil karya Kakak."
"Jujur, ini memang mimpi terbesar Kakak. Tapi karena keadaan dan keterbatasan modal, Kakak pikir mimpi ini harus ditunda dulu. Tapi kalau Sarah bersedia memberi kepercayaan dan modalnya, Insya Allah Kakak dan Mas Arka akan bekerja sangat keras," lanjut Aluna menatap mata Sarah dalam-dalam.
"Kakak janji tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan kamu. Kita akan buktikan bahwa usaha ini bisa sukses dan menguntungkan untuk kita semua."
Arka pun mengangguk mantap menimpali, "Iya Sarah. Terima kasih atas tawarannya. Kami terima dengan senang hati. Kita akan bangun bisnis ini dengan profesional," kata Arka tegas.
"Besok atau lusa kita buat perencanaan matang mulai dari konsep brand, target pasar, sampai pembagian tugas yang jelas. Kamu tenang saja, urusan strategi dan manajemen serahkan pada kami," tambahnya meyakinkan.
Melihat kesepakatan mulai terjalin, wajah Tuan Mahendra tampak lega dan tersenyum bahagia.
"Syukurlah... Ini keputusan yang sangat baik. Semoga kerjasama ini membawa berkah dan rezeki yang melimpah buat kalian semua," doa Tuan Mahendra tulus.
Nyonya Soraya meski masih mendengus pelan dan wajahnya masih terlihat kurang suka, namun kali ini ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua pihak sudah setuju.
Ia hanya bisa menyaksikan bagaimana mimpi menantunya yang dulu ia remehkan, kini mulai menemukan jalannya untuk menjadi kenyataan yang gemilang.