NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Sosok ayah

Tanpa suara, setetes air mata jatuh dari sudut mata abu-abunya, mendarat di atas nasi hangat yang ia kunyah.

Lu Ming melihatnya, tapi ia segera berpaling. Ia pura-pura sibuk bercerita tentang betapa lucu dan payahnya Paman Han saat hampir terpeleset kotoran beruang tadi.

​"Hoi! Siapa yang kau bilang payah?" potong Paman Han sambil membusungkan dada, meski wajahnya memerah karena malu. "Kalau aku tidak mengeluarkan teknik 'Langkah Kilat Membelah Langit'-ku, kita berdua sudah jadi camilan pagi beruang itu!"

​Lu Ming tertawa lepas, karena ia tahu "teknik" yang dimaksud hanyalah lari terbirit-birit sambil menjerit kecil.

​Momen itu terasa begitu hangat dan nyata. Di dalam kedai yang remang-remang, di antara uap makanan yang memenuhi udara, tiga jiwa yang dibuang dan dilupakan oleh dunia itu duduk bersama.

Ada tawa sombong Paman Han yang menghangatkan suasana, ocehan semangat Lu Ming yang memberi warna, dan kehadiran sunyi Liu Shen yang mulai merasakan sedikit percikan api di hatinya yang membeku.

​Bahagia itu ternyata sederhana: bagi Lu Ming, bahagia adalah saat ia mampu memastikan orang lain tidak merasakan kepedihan yang pernah menghancurkan dirinya.

​"Liu Shen," ucap Lu Ming saat mereka semua sudah kekenyangan. "Mulai hari ini, kau tidak perlu kembali ke gang gelap itu lagi. Kita bisa mencari tanaman obat bersama di hutan. Kau bisa membantu Paman Han yang payah ini mengawasi keadaan."

​Paman Han ingin memprotes sebutan "payah" untuk ketiga kalinya, namun melihat Liu Shen yang mengangguk kecil dengan binar redup yang mulai muncul di matanya, ia hanya bisa mendengus, menyesap sisa araknya, dan membuang muka untuk menyembunyikan senyumnya. "Yah, lagipula aku butuh lebih banyak orang untuk memancing binatang buas agar aku bisa punya waktu untuk lari."

​Ketiganya tertawa, bahkan Liu Shen pun menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis, namun itu adalah senyuman pertamanya dalam waktu yang sangat lama.

Di bawah langit malam Kota Azure, harapan Lu Ming kini bercabang.

Tidak lagi hanya tentang menunggu kepulangan ibunya, tapi juga tentang menjaga keluarga baru yang ia temukan di tengah nista, debu, dan air mata.

Embusan kabut pagi menyelimuti pinggiran Kota Azure, memberikan kesan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

Kabut itu begitu tebal, menyulap pepohonan menjadi bayangan hantu yang membisu di bawah remang cahaya fajar.

Di sebuah tanah lapang tersembunyi yang ditumbuhi rumput liar dan dikelilingi tembok reruntuhan, suara napas yang teratur memecah kesunyian.

​Lu Ming dan Liu Shen berdiri tegak di atas tanah yang lembap. Di hadapan mereka, Paman Han berdiri dengan tangan bersedekap.

Pagi itu ia tampak sedikit lebih segar, jenggotnya yang berantakan telah dirapikan sedikit, meski aroma arak murah masih samar-samar tercium dari jubahnya yang kusam.

​"Paman," ucap Lu Ming sambil membungkukkan badan sedalam mungkin, menunjukkan rasa hormat yang tulus. Tangannya menggenggam erat sebilah kayu yang telah ia raut sendiri hingga menyerupai pedang pendek. "Ajari kami teknik pedang. Kami tidak ingin hanya lari saat bertemu binatang buas. Kami ingin bertarung. Kami ingin bisa melindungi apa yang kami miliki."

​Liu Shen tidak bicara. Ia hanya ikut membungkuk perlahan, namun sorot mata abu-abu yang biasanya sedingin es kini memancarkan binar tekad yang tajam.

Bagi Liu Shen, Paman Han bukan sekadar pria tua pemabuk yang memberinya makan, pria itu adalah tiang pertama yang menyangga hidupnya yang nyaris runtuh sepenuhnya.

Di mata bocah berambut putih itu, Paman Han adalah sosok ayah yang selama ini hanya ada dalam lamunannya yang paling sepi

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!