Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sejak malam itu, Mita dan Adrian menjalani hari-hari mereka dengan penuh komunikasi, perhatian dan menjadi sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Terkadang Adrian bangun lebih pagi, untuk beribadah, olahraga lalu siap-siap mengantar Mita untuk bekerja sekaligus ia juga berangkat kerja. Kebetulan tempat kerja Mita lebih jauh.
Mereka berkomitmen untuk melakukan hubungan yang dewasa dan sehat. Maksudnya terbuka dan saling memahami. Bukan yang tiba-tiba tantrum dan merajuk berhari-hari. Mereka sudah cukup berumur untuk melakukan hal seperti itu.
"Mas, kamu nggak capek?" tanya Mita saat Adrian menjemputnya di Sabtu sore.
"Nggak dong. Semangat aku nih." Adrian memasangkan helm di kepala Mita dengan hati-hati. "Tadi siang aku udah istirahat cukup, makan cukup, semuanya aku rasa cukup. Kenapa, kamu khawatir sama aku ya?" Adrian mengusap lembut pipi Mita.
"Aku nggak enak sama kamu. Takut jadi beban kamu, Mas. Padahal aku bisa berangkat dan pulang sendiri," ujarnya.
Adrian tersenyum lembut. "Aku enak-enak aja kok. Kamu bukan beban aku. Mumpung nggak dinas, ya manfaatin waktu bareng sama kamu dong. Makasih ya, udah khawatir ke aku. Naik, yuk! Mau kemana kita?"
"Aku ikut aja, Mas. Bawanya hati-hati ya, Mas. Santai dan jangan emosi," ucap Mita mengingatkan.
"Siap, Sayangku." Adrian menunggu Mita memeluknya.
"Kenapa, Mas?" Mita bingung.
"Peluk dong. Pegangan yang erat."
"Owalah, kirain ada apa." Mita cekikikan dan melingkarkan tangannya di pinggang Adrian.
"Bismillah," ucap mereka bersamaan.
Adrian mengajak Mita untuk nonton film di bioskop. Mereka pergi ke salah satu mall yang cukup besar dan terkenal di kawasan blok M.
Menjadi kekasih dari seorang Adrian, membuat Mita diperlakukan amat baik. Mita merasa dihargai dan dilindungi.
Sepanjang perjalanan dari parkiran sampai masuk ke dalam mall. Adrian selalu menggenggam tangan Mita dengan erat.
"Kamu mau apa, Dek?" Mereka berhenti di counter minuman.
"Teh hijau less sugar deh, Mas."
"Teh hijau less sugar sama original ya, Mbak," pesan Adrian.
"Ditunggu sebentar ya, Kak."
Adrian mengajak Mita agak bergeser ke pinggir. Karena ada antrian lain di belakang mereka.
"Mau makan dimana?" Adrian merapikan anak rambut Mita yang menutupi keningnya.
"Ehm... Mumpung di sini, bakmi aja kayaknya enak. Mas Dri gimana?"
"Boleh. Udah lama nggak makan bakmi. Oh, teh nya udah. Sebentar ya." Adrian mengambil teh pesanan mereka dan kembali menggandeng tangan Mita lagi untuk melanjutkan perjalanan mereka di mall.
Setelah pesanannya selesai, mereka menuju ke restoran bakmi, yang saat itu pengunjungnya cukup ramai. Mereka duduk di bagian sudut dekat jendela.
"Kamu tau nggak, Mas... Dulu tuh aku nggak suka makan bakmi," jelas Mita.
"Kenapa?" Adrian selalu antusias setiap kali Mita akan menceritakan sesuatu hal padanya. Rasanya menyenangkan menjadi pendengar dari seseorang yang disayangi. Karena selama ini Adrian memang kesepian.
"Karena sejak kecil aku selalu makan mie pakai kecap." Mita tertawa.
Adrian merasa ceritanya nggak lucu sama sekali. Justru menyedihkan.
"Ibuku terlalu sibuk mengurus anak yang lain. Lauk juga dibatasi, karena untuk kakakku yang belum pulang kuliah saat itu. Jadi aku disediakan mie dan kecap. Aku masak mie dan makannya pakai kecap, rasanya nggak enak. Kecuali mie goreng," lanjutnya lagi.
Adrian mengambil tangan Mita untuk digenggam. Mengusapnya lembut untuk memberikan ketenangan dan ketentraman hati. Karena ia tahu, inner child Mita sangat terganggu dan butuh disalurkan.
"Aku nggak bisa masak—belum bisa. Jadi aku ngide seperti itu, hingga akhirnya aku trauma. Aku nggak bisa makan mie atau sesuatu yang berkuah kecap. Karena perutku akan mual. Tetapi, aku bisa pelan-pelan memisahkan keduanya. Jadi sekarang aku bisa makan mie dan sesuatu yang berkuah kecap. Aneh ya," jujur Mita.
Adrian menggeleng lembut, "nggak aneh kok. Semua orang memiliki trauma masing-masing. Aku memakluminya. Saat itu kamu terpaksa karena lapar. Kamu menyembuhkan diri sendirian. Tapi, mulai sekarang, kamu boleh banget dan bisa cerita apapun sama aku. Aku akan usahakan untuk menjadi pendengar yang baik lalu kita lakukan hal yang ingin kamu lakukan. Repotin aku aja nggak apa-apa, selama aku di dekat kamu. Kalau aku lagi dinas keluar kota, mohon maaf untuk dimaklumi."
Pesanan mereka datang, dua bakmie spesial. Mita melongo sesaat. Lantas, ia menatap hidangan lalu menatap Adrian bergantian.
"Ini banyak banget, Mas. Aku mana bisa ngabisin!" Mita shock dengan hidangan yang berjajar di depannya.
Adrian hanya mengedikan bahu. "Makan semampunya aja. Sisanya kamu bisa kasih aku, nanti biar aku yang habisin. Kebetulan porsi makan ku lumayan banyak."
Mita menarik napas lalu mengangguk mengerti sembari tersenyum. Mereka berdua pun menyantap makanan mereka dengan obrolan sepele yang mungkin orang akan menganggapnya nggak penting.
"Nanti kamu aku kenalin ke temanku ya?" Adrian menunggu jawaban Mita setelah menghabiskan setengah porsi bakmi milik Mita.
"Ehm... Boleh. Kalau kamu nggak malu, aku oke," jawab Mita pelan.
"Malu? Malu kenapa?" Kening Adrian mengerut dalam.
"Aku kan janda."
Adrian memejamkan matanya sembari mendengkus pelan. "Aku pikir kenapa." Adrian memajukan tubuhnya supaya bisa lebih dekat dengan Mita. "Dengar ya, Sayang ... Aku nggak pernah malu kenal sama kamu, dekat sama kamu. Nggak pernah malu. Kenapa harus malu? Kamu itu luar biasa untuk aku. Meskipun usia hubungan kita masih seumur biji kacang ijo, tapi percaya, pelan-pelan kita akan tumbuh jadi toge."
Mendengar perumpamaan dari Adrian, sontak saja membuat Mita tertawa.
"Lho, kok kamu ketawa?"
"Mas, kenapa harus seperti kacang ijo terus jadi toge? Kan kiasannya itu seumur jagung, Mas. Bukan kacang ijo. Ish, kamu nih!" Mita terhibur dan senang. Cara Adrian menjawab tidak menghakimi atau menilai negatif dirinya.
Adrian ikut tertawa. "Kamu tuh cantik banget kalau tersenyum. Apalagi tertawa lepas kayak barusan. Cantiknya lima kali lipat."
Mita menggeleng jengah dan menghela napas panjang. "Kamu emang buaya darat, Mas. Ayo ah, kita nonton aja. Daripada gombalan kamu keluar semua di sini."
Adrian tertawa dan menggandeng tangan Mita keluar restoran untuk menuju ke bioskop.
◉‿◉
Pertunjukan film selesai hampir di jam sembilan malam. Setelah itu mereka langsung keluar mall, karena Mita nggak mau muter-muter lagi. Kebetulan nggak ada yang dicari juga. Jadi mereka memutuskan untuk pulang.
Saat di lampu merah, tiba-tiba saja hujan tumpah tanpa ada permisi lagi. Bukan hanya mereka yang kehujanan, tapi pengendara motor lain pun sama nasibnya dengan mereka.
Adrian menghentikan motornya di bawa flyover. "Pakai jas hujan dulu ya." Namun, saat itu lah ia ingat kalau jas hujan hanya ada satu.
"Kenapa, Mas? Cuma ada satu ya?" tebak Mita menahan senyum, melihat wajah Adrian yang tiba-tiba kaku.
"Iya, aku lupa beli untuk kamu. Tau bakalan ujan, mending tadi bawa mobil. Kasian kamu jadi basah," ujarnya lagi.
"Nggak apa-apa, Mas. Cuacanya kan emang susah diprediksi. Siang tadi kan emang panas, siapa sangka kalau malamnya malah hujan begini." Mita mengusap wajah Adrian yang basah dengan lembut.
"Gimana kalau kamu aja yang pakai. Aku kan udah terlanjur basah gini. Mau ya?" tawar Adrian. Bagaimana pun, ia tidak akan membiarkan kekasihnya basah kuyup.
"Jangan, Mas. Kita tunggu reda aja, baru jalan. Kalau aku aja yang pakai, aku yang nggak tega sama kamu," jelas Mita, menolak halus tawaran Mita.
Rasanya Adrian mau guling-guling di aspal karena tatapan dan ucapan Mita membuat dirinya seakan meleleh. Rasanya manis sekali ketika ada seseorang yang begitu peduli padanya.
"Mas jangan liatin aku terus," bisik Mita, malu.
"Kamu gemesin, Dek. Aku jadi mau cepet-cepet nikahin kamu." Adrian keceplosan.
Mita makin tersenyum lebar, dadanya berdebar kencang, perutnya seperti tergelitik hangat.
"Mulai deh keluar gombalnya."
"Aku serius, Dek," bisik Adrian. Merangkul pinggang Mita untuk lebih dekat dengannya.
Namun, semakin dekat tubuh mereka. Adrian bisa menghirup aroma manis dari tubuh Mita. Membuat tubuhnya bereaksi abnormal. Percampuran dari udara dingin, basah, serta aroma manis, membuat sesuatu yang lama terkubur, perlahan naik kepermukaan.
"Pulang yuk, Dek. Udah sisa gerimis aja," ajak Adrian.
Mita melihat gestur wajah Adrian yang berubah seketika menjadi datar. Membuat Mita bertanya-tanya dalam hati, kenapa Adrian berubah secepat itu.
"Kamu tetap pakai jas hujannya. Aku nggak mau kamu masuk angin." Adrian tetap memaksa.
Mita mengangguk. Ia pasrah ketika Adrian memakaikan jas hujan berwarna hitam itu ke tubuhnya.
Selama perjalanan, Mita memeluk erat-erat tubuh Adrian. Berharap, bisa mengurangi rasa dingin yang melanda. Meskipun sebenarnya Adrian sudah pakai jaket. Tidak banyak bicara, keduanya seperti dalam dunianya masing-masing.
Hingga Mita sadari jika kos-kosannya sudah lewat. Dan kini ia tahu Adrian akan membawanya kemana.
Kerumahnya.
Perumahan yang hanya ada lima unit rumah dalam satu komplek. Sepi. Mungkin penghuninya lebih senang berada di dalam rumah dalam kondisi cuaca seperti ini.
Adrian berhenti di rumah paling depan, ada mobilnya terparkir nyaman di halaman. Gerbangnya terbuka otomatis dan ketika Adrian masuk, gerbang itu menutup kembali.
"Nggak apa-apa kan mampir ke rumah ku?" tanya Adrian yang sedang membantu Mita membuka helm dan jas hujan.
"Iya, Mas." Jantung Mita berdebar makin cepat.
"Ayo, Masuk." Adrian menyentuh kunci pintu hanya dengan sentuhan jari. Bunyi klik dan pintu pun terbuka.
Sebelum melangkahkan kakinya ke dalam, Mita menarik napas dalam-dalam guna menetralkan degup jantungnya yang tak terkendali.
"Aku ganti baju dulu ya, Dek. Kamu boleh lihat-lihat kalau mau. Cuma ada kita aja di sini." Adrian langsung masuk ke kamar utama.
Mendapatkan penjelasan seperti itu, membuat perut Mita mulas. Pikirannya ikutan tak terkendali. Di rumah hanya ada sepasang pria dan wanita dewasa. Apa yang akan terjadi dengan mereka berdua?
[]