Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09
“Ehem!”
Tara menoleh, terkejut saat melihat David berdiri di sebelah mobilnya. “Kamu?”
“Udah nangisnya?” tanya David dengan nada santai seolah tak ada beban.
Tara tersentak. “Kamu tahu?”
David mengangguk. “Aku disana juga dari tadi.”
“Kamu ngikutin aku?”
“Sorry.”
Tara mengembuskan napas pelan dan bersandar di pintu mobilnya. “Kenapa nggak nyamperin kalau tahu aku nangis?”
“Nggak mau ada fitnah. Ini tempat umum. Dan tempat dudukmu tadi itu terlalu mojok. Kalau aku nyamperin kamu, takut ada teman atau keluargamu yang lihat, terus nuduh kita selingkuh. Aku nggak mau kamu dalam masalah. Makanya aku cuma lihatin kamu dari jauh dan begitu kamu selesai nangis, aku nunggu kamu disini.”
Tara terkesiap. Tak menyangka jika David menungguinya menangis di tempat itu. Tempat kenangan mereka berdua. Tara pikir dia hanya sendirian sehingga tak ada yang melihatnya menangis. Tapi David malah melihat semuanya. Tara malu. Malu karena David pasti berpikir bahwa dia sedang tak baik-baik saja. Walau itu kenyataannya, tapi Tara tak ingin ada yang tahu. Apalagi David.
“Aku nggak bakal nanya kenapa kamu nangis, Ra. Tapi aku tahu kalau hati kamu sangat terluka. Terlihat jelas saat kamu nangis, Ra. Jujur, aku ingin meluk kamu. Ngasih kekuatan buat kamu menghadapi apapun itu masalahmu. Namun, aku sadar kalau diantara kita ada batasan yang nggak bisa kita langgar. Statusmu yang membuatku bisa menahan diri untuk nggak melakukan di luar batas.”
Tara mengangkat wajahnya. “Nggak cuma statusku, Vid. Tapi juga statusmu. Itulah sebabnya kita tetap harus jaga batasan masing-masing.”
David mengernyit bingung. “Statusku? Tapi aku belum menikah, Ra.”
Tara tersenyum sinis. “Tapi bakal nikah kan sama Miska? Bukannya kalian pacaran?”
David terdiam. Dia lupa jika Tara pernah melihatnya dan Miska saat di bengkel waktu itu.
“Kami udah putus, Ra,” ucap David tegas.
Tara membelalakkan matanya, terkejut. “Udah putus? Putuskan menikah?” Sarkas Tara.
David menggeleng. “Udah nggak ada hubungan apa-apa lagi diantara kami. Bahkan sekedar kirim chat aja, juga jarang. Mungkin dia lagi berusaha move on dari aku.”
Tara benar-benar terkejut. Dulu dia terkejut saat tahu David berpacaran dengan Miska, dan sekarang dia terkejut saat tahu David sudah putus dengan Miska.
“Kenapa bisa putus? Kalian udah pacaran tiga tahun loh. Itu lama banget. Kirain kalian bakal nikah.”
“Menikah itu untuk seumur hidup, Ra. Dan seumur hidup itu lama. Aku dan dia sama-sama ingin menikah dengan orang yang bersedia menjalani hidup bersama dalam cinta dan kasih sayang yang hanya untuk satu-satunya satu sama lain. Tapi kenyataannya, aku nggak mencintai Miska.”
Tara mengernyit. “Tiga tahun pacaran, kamu bilang kamu nggak mencintainya? Brengsek juga kamu, ya.” Tara tersenyum sinis.
David mengangguk, tak mengelak dan tak tersinggung dengan kata-kata Tara karena itu kebenarannya. “Aku yang salah. Aku membuka hati saat di dalam hatiku masih ada orang lain yang nggak mau keluar dari sana. Miska coba masuk, tapi dia nggak bisa. Dia terus terdorong ke luar dan akhirnya dia hanya ada di pintu hatiku, Ra.”
Tara merasa jantungnya berdebar. Dia merasa orang lain yang dimaksud David masih ada di hatinya itu adalah dirinya.
“Karena kamu nggak mau ngeluarin orang itu dari hatimu, Vid,” ucap Tara pelan.
David mengangguk. “Aku nggak bisa ngusir dia karena aku masih mencintainya.”
“Mau sampai kapan?” tanya Tara menatap David.
“Sampai dia kembali,” jawab David balas menatap Tara dengan tatapan sendu.
“Kalau dia nggak kembali?”
David mengedikkan bahu. “Aku nggak tahu. Aku cuma jalani aja takdirku. Entah bagaimana besok, aku tetap akan berjalan di jalan yang menurutku benar. Dan saat ini, jalan yang benar itu adalah masih menunggunya untuk kembali ke pelukanku.”
Tara menunduk. Hatinya bergetar. Jantungnya pun berdebar mendengar kalimat David. Tara paham sekarang. Dialah yang dinanti David. Dialah yang ditunggu sang mantan untuk kembali. Tatapan David padanya tetap sama. Tatapan cinta dan harapan. Walau sudah bertahun-tahun berlalu, cintanya ternyata tak pernah padam.
Andai saja, waktu bisa diputar kembali dan dia tak menikah dengan Devan, akankah dia menikah dengan David?
Tara menggeleng saat kalimat pengandaian itu muncul di kepalanya. Tak seharusnya dia membayangkan bersama pria lain saat dia sudah menikah dengan Devan. Bukankah itu sama saja membuka celah untuk berselingkuh?
David tersenyum melihat Tara yang menundukkan kepalanya. Dia tahu jika Tara pun tahu siapa orang yang ada di dalam hatinya.
“Aku masih David yang sama, Ra. Aku tahu tentangmu walau kamu nggak mengatakan apa-apa. Kalau kamu nggak kuat dengan bebanmu, kamu bisa berbagi sama aku.”
Tara mengangkat wajahnya dan tersenyum samar. “Kita tetap harus di batasan kita masing-masing. Aku nggak akan memberi celah apapun diantara kita, Vid.”
David mengangguk. “Aku mengerti. Tapi kapanpun, jika kamu udah nggak kuat lagi menahan sakitmu sendiri, datanglah atau hubungi aku. Dua puluh empat jam ku siap untukmu.”
Tara tak menjawab. Dia balik badan dan membuka pintu mobilnya. Setelah duduk di kursi kemudi, Tara menurunkan kaca mobilnya dan menatap David.
“Semoga saja penantianmu sia-sia.”
Setelah mengucap kalimat itu, Tara menutup kaca mobilnya dan melaju meninggalkan area parkir Danau Greencamp.
David menyeringai sambil memandangi mobil yang mulai menjauh dari pandangannya . “Aku akan tetap berada di dekatmu walau kamu nggak menginginkannya, Tara. Celah itu sudah terbuka. Dan aku akan masuk lalu membawamu ikut denganku.”
***
“Kamu kemana aja sih, Ra? Kalau pergi pamit kek, biar aku nggak khawatir. Aku bangun, kamu nggak ada. Nggak pernah loh kamu selama ini pergi tanpa pamit.” Suara Devan langsung terdengar nyaring begitu Tara menerima panggilan suaminya itu.
Tara menghela napas lirih. “Sorry. Aku cuma ingin nenangin diri aja. Nggak kabur.”
“Tapi nggak harus pergi sepagi mungkin kan? Kalau ujung-ujungnya kamu marah sama aku, harusnya semalam kamu nggak usah buang obat itu. Kita bisa lakuin apa yang kamu mau. Apa perlu aku beli obat itu lagi?”
“Nggak usah dibahas. Nggak ada obat begituan lagi. Aku cuma pergi nenangin diri kok. Dan sekarang aku udah ada di rumah, Dev.”
Devan yang sedang berada di sekolahnya mengembus napas kasar. Dia sungguh khawatir dengan keadaan Tara hingga terus menghubungi Tara di sela-sela kegiatannya mengajar. Namun, Tara tak kunjung menerima panggilannya ataupun membalas pesannya. Hingga akhirnya Tara membalas pesan di jam satu siang, Devan pun langsung menghubunginya.
“Jangan bikin aku khawatir, Ra. Ehm, nanti malam gimana kalau kita makan malam di restoran kesukaanmu?”
“Terserah. Aku ngikut aja.”
“Ya udah. Aku harus balik mengajar. Kalau kemana-mana, tolong ijin sama aku ya. Aku ini suami kamu.”
“Iya.”
Panggilan pun berakhir. Tara memijit pelipisnya. Pikirannya semrawut. Memikirkan nasib pernikahan dan juga perasaannya yang berbeda saat bertemu lagi dengan David tadi.
Entahlah. Tara merasa hidupnya hambar. Tak ada semangat ataupun tujuan dalam hidup. Dia seolah berjalan dengan jiwa yang hampa. Dia hanya melanjutkan hidup yang entah akan membawanya pada kebahagiaan ataukah kesengsaraan.
Tara sudah tak merasakan apapun di hatinya untuk Devan. Saat Devan memanggilnya sayang, saat Devan mengajaknya kencan, bahkan saat mereka tidur seranjang berdua pun, jantungnya sama sekali tak berdebar kencang. Rasanya sangat membosankan.
Sedangkan dengan David, Tara merasakan perasaan itu lagi. Jantungnya bahkan berdebar saat David berbicara padanya dengan nada lembut dan tatapannya yang memperlihatkan masih adanya cinta yang begitu besar untuknya.
Tara dilema. Kenapa perasaan ini datang di waktu yang salah? Tara pikir, dia sudah move on dari David dan mulai mencintai Devan, tapi nyatanya, semakin kesini, perasaannya terhadap Devan menguap begitu saja. Dan pertemuannya dengan David setelah tiga tahun berlalu ini, membuat perasaan yang coba dia kubur dalam-dalam, perlahan menguak ke permukaan.
David masih menginginkannya. Tara tahu itu. Tatapan David padanya menunjukkan segalanya. Bukannya tatapan mata itu tak kan pernah bisa berbohong? Dan Tara tahu jika David masih berharap dia kembali.
Tapi apa yang harus diperbuat sekarang? Jujur, Tara juga ingin lepas dari pernikahan ini. Namun, Devan sangat egois. Dia tetap menahan Tara entah sampai kapan.
Begitu banyaknya pikiran yang berkecamuk di otak kecil Tara, membuat kepalanya pusing. Tara memutuskan untuk tidur. Dia tak ingin memikirkan apapun lagi. Setidaknya, dengan tidur, dia bisa melupakan sejenak permasalahan hidupnya.
Tara membuka mata saat matanya merasakan silau dari cahaya yang begitu terang. Setelah menyesuaikan dengan cahaya tersebut, Tara menyipitkan matanya. Ada dua orang yang kini tengah duduk di sampingnya.
Tara terbelalak sebelum akhirnya tersenyum lebar. “Ibu… Ayah…”
Kedua orang tua paruh baya berbaju putih itu tersenyum dan memeluk putri bungsunya. Tara pun menyamankan diri di dalam dekapan kedua orang tuanya.
“Ibu, Ayah, boleh aku ikut kalian? Aku capek banget, Bu,” ucap Tara lirih.
Ibu mengelus rambut panjang putrinya dengan sayang. “Kenapa mau ikut kami? Apa nggak kasihan sama Abang Haris kalau kamu ninggalin dia?” tanya Ibu.
Tara menggeleng. “Abang pasti mengerti kok kalau aku mau ikut Ibu sama Ayah.”
“Tapi Abang Haris cuma punya kamu, Sayang,” ujar Ayah mengelus punggung putrinya.
“Emangnya Ibu sama Ayah nggak pingin dekat sama aku terus? Katanya sayang sama aku,” ucap Tara merajuk dan melepas pelukan kedua orang tuanya.
Ibu tersenyum. “Kami selalu ada di dekatmu, Nak. Jangan pernah merasa sendiri.”
Tara menggeleng. “Tapi buktinya aku sendiri terus, Bu. Aku capek memendam semuanya sendiri. Aku ingin bebas, Bu.”
“Sesekali egoislah, Nak. Lepaskan apa yang membuatmu nggak bahagia. Kamu berhak bahagia, Nak. Egois lah jika memang itu bisa membuatmu bahagia. Keluarlah dari sana. Cari kebahagiaanmu,” ucap sang Ayah sembari tersenyum lembut.
“Raihlah kebahagiaanmu walau itu akan menyakitkanmu di awal. Tapi percayalah, di masa depan, kamu akan temukan apa yang membuatmu bahagia. Ibu dan Ayah akan selalu ada di dekatmu,” sambung sang Ibu.
Tara menunduk. Semuanya masih membingungkannya. Ingin mundur, tapi dia takut. Ingin maju, dia ragu. Tara berada di persimpangan jalan yang membuatnya bingung. Tara tak ingin salah langkah yang membuatnya akan terus terjebak dalam hubungan tanpa tujuan ini.
Tara memejamkan matanya erat dan memeluk kedua orang tuanya. Ingin sekali dia terus berada dalam pelukan orang tuanya agar tak merasakan kesakitan ini.
“Tara.”
“Sayang.”
“Bangun, Ra.”
Tara membuka matanya saat merasakan elusan di kepalanya. Tara mengerjap dan melihat sekeliling. Dia bangun dan memindai seluruh ruangan. Tara menghela napas pelan. Ternyata dia hanya mimpi. Mimpi yang membuatnya nyaman dan rasanya tak ingin kembali ke sini. Ke kehidupan nyata yang kejam dan menyesakkan.
“Kamu baik-baik aja, Ra?” tanya Devan menatap Tara yang duduk terdiam seperti orang kebingungan.
Tara menatap Devan dan mengangguk. “Jam berapa ini?”
“Jam lima sore.”
“Kamu baru pulang, Dev?”
“Enggak. Aku udah pulang dari jam empat tadi. Kamu udah makan siang belum?”
Tara menggeleng. “Aku nggak lapar. Aku tadi udah makan banyak camilan.”
“Tapi nanti kamu sakit, Ra. Makan dulu ya. Mau dibeliin apa?” tanya Devan perhatian.
“Nggak usah. Katanya mau ngajak makan malam?”
“Iya. Tapi sekarang makan dulu ya.”
Tara menggeleng. “Nanti aja sekalian. Ya udah aku mau mandi dulu.”
Devan mengangguk. Tara beranjak dari ranjang dan melangkah ke dalam kamar mandi. Devan menghela napas. Dia merasa sikap Tara mulai berubah. Perasaan Devan mulai tak nyaman dengan perubahan sikap istrinya.
Pukul tujuh malam, mereka berdua sudah dalam perjalanan menuju restoran yang sudah dipesan sebelumnya oleh Devan agar mereka mendapat tempat duduk yang nyaman.
Begitu sampai restoran, keduanya langsung menuju salah satu meja di lantai tiga. Tara tersenyum datar melihat meja yang dihias dengan bunga mawar merah. Tara akui Devan selalu membuatnya terkesima. Namun Tara juga tahu kalau Devan hanya ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dia adalah pria romantis. Seolah menunjukkan pada dunia bahwa Tara bahagia dan beruntung memiliki suami seperti Devan.
Namun kenyataannya, tak seperti itu. Devan romantis hanya di depan umum. Dulu, jika Devan seromantis ini, hatinya berbunga-bunga. Namun sekarang, hatinya terasa hambar, tak merasakan apa-apa.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Devan setelah mereka duduk berhadapan.
“Steak wagyu. Pakai nasi,” jawab Tara.
“Oke.”
Devan memanggil pramusaji restoran dan menyebutkan pesanannya. Selagi menunggu, Tara menatap sekitar. Ada beberapa orang yang melihat mereka dengan tatapan iri dan ingin. Tara berdecih dalam hati. ‘Jika kalian ingin seperti ini, maka aku kebalikannya. Aku muak dengan semua ini dan ingin bebas.’
Tara duduk bersandar sambil memperhatikan Devan yang sibuk dengan ponselnya sendiri. Dia terngiang-ngiang dengan mimpinya siang tadi. Orang tuanya menemui dan memintanya untuk bersikap egois demi kebahagiaannya sendiri. Selama ini Tara selalu mengalah. Apa yang Devan katakan, dia menurutinya. Dia hidup di sangkar emas suaminya. Walaupun semua kebutuhan lahirnya terpenuhi, tapi batinnya tersiksa. Dan makin kesini dia semakin tersiksa.
“Dev,” panggil Tara.
Devan mengangkat wajahnya. “Iya.”
“Chattingan sama siapa?”
“Ini lagi bahas tentang penerimaan murid baru di grup chat sekolah. Kenapa?”
“Ceraikan aku.”
Devan mengangkat wajah dan menatap Tara lekat. Ponselnya bahkan langsung diletakkan di atas meja. “Kamu sadar nggak sih ini lagi dimana? Ini bukan momen yang tepat untuk kamu ngomongin itu lagi, Ra,” ucap Devan pelan. Dia melirik sekitarnya takut ada yang mendengar ucapan Tara barusan.
“Terus kapan momen yang tepat?”
“Setidaknya enggak sekarang, Ra.”
Tara diam. Pramusaji datang membawa pesanan mereka. “Jangan bikin badmood, Ra. Please,” ucap Devan menatap Tara lembut.
Tara mengangguk dan mengambil pisau garpunya. Keduanya mulai menyantap makanan masing-masing. Tara menahan nyeri di dadanya. Dia kembali harus mengalah.
Diantara para pengunjung restoran, ada seorang pria yang duduk sambil menyantap makanannya. Disela-sela mengunyahnya, bibir pria itu tertarik ke atas. Dia menyeringai.
“Hmm… Cerai ya,” gumamnya sangat pelan.
Bersambung …