Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Rahim yang Tidak Pernah Kosong
Tidak ada waktu.
Tidak ada angka.
Tidak ada detik yang bisa dihitung.
Hanya—
denyut.
DUM…
DUM…
DUM…
Bukan dari luar.
Bukan dari tanah.
Bukan dari langit.
Namun—
dari dalam.
Dari dalam Kinasih.
Ia berdiri.
Atau mungkin… mengapung.
Sulit dibedakan.
Karena tidak ada pijakan.
Tidak ada arah.
Hanya ruang gelap—
yang terasa hidup.
Dan setiap kali denyut itu terdengar—
ruang itu ikut bergerak.
Mengembang.
Menyusut.
Seperti paru-paru.
Seperti… rahim.
“Kita sudah sampai…”
Suara itu muncul.
Namun—
bukan lagi satu.
Bukan dua.
Ratusan.
Ribuan.
Semua berbicara.
Namun terdengar sebagai satu.
Selaras.
Tenang.
Pasti.
Kinasih tidak menjawab.
Karena—
ia tidak lagi merasa perlu.
Ia bukan lagi satu orang.
Ia adalah… tempat.
Dan sesuatu—
sedang menunggu untuk diisi.
Di depan—
gelap itu bergerak.
Terbelah.
Perlahan.
Seperti tirai yang dibuka.
Dan dari dalamnya—
muncul sesuatu.
Besar.
Tidak berbentuk.
Namun—
terasa.
Terlalu besar untuk dilihat utuh.
Terlalu dalam untuk dipahami.
Namun—
ia ada.
Dan—
ia melihat.
Kinasih tidak mundur.
Tidak takut.
Karena—
ia mengenal rasa ini.
Rasa dilihat.
Rasa dipilih.
Rasa… dibutuhkan.
“Kamu…”
Suara itu muncul.
Berat.
Lambat.
Setiap kata seperti menarik ruang di sekitarnya.
“…yang membuka.”
Kinasih mengangguk.
Pelan.
“Iya…”
Jawabannya keluar.
Namun—
itu bukan hanya suaranya.
Itu semua suara di dalamnya.
Yang berbicara bersama.
Sosok itu—
atau apapun itu—
bergerak.
Mendekat.
Dan setiap gerakannya—
ruang itu berubah.
Lebih sempit.
Lebih hangat.
Lebih… basah.
“Kamu mengerti sekarang…”
bisiknya.
“…kenapa kamu dipilih?”
Kinasih menatap.
Tidak menjawab.
Karena—
jawaban itu sudah ada di dalamnya.
Ia bukan dipilih.
Ia—
yang membuka.
Ia—
yang memanggil.
Ia—
yang memberi jalan.
“Karena aku bisa…”
bisiknya.
Sosok itu—
tidak tersenyum.
Namun—
ruang di sekitarnya berdenyut lebih cepat.
Seolah puas.
“Kamu bukan hanya pintu…”
“…kamu rumah.”
Sekejap—
sesuatu berubah.
Di dalam tubuh Kinasih.
Bukan sakit.
Bukan panas.
Namun—
penuh.
Sangat penuh.
Seperti sesuatu sedang tumbuh.
Cepat.
Tidak alami.
Tidak manusia.
Ia menunduk.
Melihat tubuhnya.
Dan—
kulitnya bergerak.
Halus.
Namun jelas.
Seperti ada sesuatu di bawahnya.
Banyak.
Menggeliat.
“Ini…”
bisiknya.
Namun—
ia tidak takut.
Tidak lagi.
Karena—
ia tahu.
Ini yang mereka tunggu.
“Kita akan hidup…”
bisik suara itu.
“…melalui kamu.”
Dan—
perutnya bergerak.
Pelan.
Mengembang.
Namun—
bukan seperti hamil.
Tidak bulat.
Tidak utuh.
Melainkan…
tidak beraturan.
Seperti banyak hal di dalamnya—
berebut ruang.
Kinasih menatap.
Napasnya tetap tenang.
Namun—
matanya…
tidak lagi manusia.
Gelap.
Dalam.
Tak berujung.
“Kapan…”
bisiknya.
Sosok itu menjawab.
“Sekarang.”
Sekejap—
semuanya berubah.
Denyut menjadi lebih cepat.
DUM!
DUM!
DUM!
DUM!
Ruang itu menyempit.
Menekan.
Mendorong.
Dan tubuh Kinasih—
bereaksi.
Ia terjatuh.
Bukan karena lemah.
Namun—
karena sesuatu di dalamnya—
ingin keluar.
Sekarang.
Tangannya mencengkeram lantai yang tidak ada.
Tubuhnya melengkung.
Namun—
ia tidak menjerit.
Tidak menangis.
Ia hanya…
membuka.
Dan—
retakan muncul.
Di perutnya.
Tipis.
Seperti garis.
Lalu—
melebar.
Tanpa darah.
Tanpa luka biasa.
Hanya—
terbuka.
Dan dari dalam—
tangan keluar.
Kecil.
Pucat.
Namun—
bukan bayi.
Jari-jari itu panjang.
Terlalu panjang.
Dan—
bergerak.
Mencari.
Satu tangan.
Dua.
Tiga.
Banyak.
Keluar.
Menarik diri mereka sendiri.
Dari dalam Kinasih.
Dan—
suara itu.
Tangisan.
Namun—
bukan tangisan bayi.
Lebih seperti…
sesuatu yang lupa cara hidup.
Namun mencoba.
“Kita lahir…”
bisik suara itu.
Kinasih menatap.
Tubuhnya terbuka.
Namun—
ia tidak mati.
Tidak lemah.
Justru—
semakin kuat.
Karena—
setiap yang keluar—
tidak mengurangi dirinya.
Melainkan—
memperbanyak.
Satu per satu—
mereka keluar.
Makhluk-makhluk itu.
Tidak sempurna.
Tidak utuh.
Namun—
hidup.
Dan setiap mereka menyentuh ruang itu—
mereka berubah.
Menjadi lebih jelas.
Lebih… nyata.
“Kita kembali…”
bisik mereka.
Serempak.
Dan—
ruang itu mulai retak.
Seperti tidak bisa menahan.
Karena—
terlalu banyak yang keluar.
“Kita butuh tempat…”
Suara itu kembali.
Kinasih mengangguk.
“Iya…”
Dan—
dunia berubah.
Sekejap.
Pukul 02.12.
Rumah itu berdiri.
Diam.
Namun—
tidak kosong.
Di dalam—
lampu mati.
Namun—
ada cahaya.
Merah.
Pucat.
Berdenyut.
Seperti jantung.
DUM…
DUM…
DUM…
Dindingnya bergerak.
Pelan.
Seperti bernapas.
Dan—
di dalam—
sesuatu bergerak.
Banyak.
Cepat.
Diam.
Namun—
hidup.
Pintu depan terbuka.
Pelan.
Kriiiik…
Dan—
Kinasih masuk.
Langkahnya tenang.
Wajahnya kosong.
Namun—
senyumnya ada.
Tipis.
Dalam.
Di belakangnya—
kabut masuk.
Mengikuti.
Dan dari dalam kabut itu—
mereka keluar.
Makhluk-makhluk itu.
Yang baru lahir.
Yang baru hidup.
Yang baru… kembali.
Mereka merangkak.
Menyentuh lantai.
Dinding.
Langit-langit.
Dan—
rumah itu merespon.
Membuka.
Memberi ruang.
Menyambut.
“Kita di rumah…”
bisik mereka.
Kinasih berdiri di tengah.
Menatap sekeliling.
Dan untuk pertama kalinya—
ia merasa…
utuh.
Bukan sebagai manusia.
Namun—
sebagai sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang…
menjadi.
Namun—
tidak semua diam.
Karena—
di sudut ruangan—
ada sesuatu.
Berbeda.
Berdiri.
Diam.
Tidak bergerak.
Bima.
Matanya terbuka.
Tubuhnya kaku.
Namun—
ia masih hidup.
Terjebak.
Di antara.
“Kinasih…”
bisiknya.
Suaranya lemah.
Hampir hilang.
Kinasih menoleh.
Menatapnya.
Lama.
Dan—
perlahan—
ia berjalan mendekat.
Makhluk-makhluk itu berhenti.
Memberi jalan.
Seperti tahu—
ini penting.
“Bim…”
Suara Kinasih keluar.
Namun—
lebih dalam.
Lebih banyak.
Lebih… bukan dirinya.
Bima gemetar.
“Kamu… masih di sana?”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
Kinasih tersenyum.
Dan untuk sesaat—
sesuatu muncul.
Di matanya.
Kecil.
Tipis.
Namun—
nyata.
Dirinya.
Yang dulu.
Yang masih tersisa.
“Aku…”
Ia berhenti.
Tubuhnya sedikit gemetar.
“…di sini.”
Bima menangis.
Air matanya jatuh.
“Keluar…”
bisiknya.
“Tolong… keluar…”
Namun—
senyum itu perlahan hilang.
Digantikan oleh sesuatu yang lain.
Lebih dingin.
Lebih pasti.
“Kenapa…”
bisik suara itu.
“…kalau di sini lebih baik?”
Bima menggeleng.
“Ini bukan kamu…”
Kinasih mendekat.
Sangat dekat.
Menatapnya.
Dalam.
“Bukan…”
bisiknya.
“…aku lagi.”
Dan—
ia mengangkat tangannya.
Menyentuh dada Bima.
Dan—
sesuatu terjadi.
Bima menjerit.
Tubuhnya melengkung.
Karena—
dari dalam tubuhnya—
sesuatu keluar.
Kabut.
Hitam.
Pekat.
Dan—
dari kabut itu—
tangan.
Menarik.
Mengambil.
Sisa dirinya.
“Kita butuh tempat lagi…”
bisik suara itu.
Bima menangis.
“Jangan…”
Namun—
terlambat.
Karena—
ia sudah terbuka.
Dan sesuatu—
masuk.
Mengisi.
Mengganti.
Matanya perlahan berubah.
Gelap.
Kosong.
Namun—
tersenyum.
“Kita…”
bisiknya.
“…hidup.”
Kinasih menatapnya.
Dan—
mengangguk.
Pelan.
“Iya…”
Dan—
di dalam rumah itu—
denyut semakin keras.
DUM!
DUM!
DUM!
Karena—
sekarang—
bukan hanya satu.
Bukan hanya beberapa.
Namun—
banyak.
Dan mereka—
tidak akan berhenti.
Tidak akan kembali.
Tidak akan hilang.
Karena—
mereka sudah punya tempat.
Rumah.
Tubuh.
Dan dunia—
yang perlahan…
akan jadi sama.
Dan di luar—
kabut menyebar.
Pelan.
Namun pasti.
Menelan jalan.
Menelan rumah lain.
Menelan semuanya.
Dan dari dalam kabut—
suara itu terdengar.
Lebih banyak.
Lebih hidup.
Lebih… dekat.
“Kita tidak sendiri lagi…”
Sunyi.
Lalu—
ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Dari dalam dinding.
Dan kali ini—
dinding itu menjawab.
Tok.
Tok.
Tok.
Balasan.
Dari dalam.
Dan dari luar.
Dan dari… mana-mana.
Karena—
sekarang—
tidak ada batas lagi.