Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 My elite lover
Suasana di dalam toko es krim itu benar-benar dipenuhi kebahagiaan. Setelah "perang es krim" usai, wajah Saga, Rena, Al, dan El penuh dengan noda cokelat dan krim manis. Mereka tertawa lepas, menikmati momen indah di mana tidak ada yang perlu ditakutkan, tidak ada yang perlu dibanggakan, hanya kebersamaan yang tulus dan hangat.
Namun, kebahagiaan mereka sempat terganggu saat sebuah bayangan yang tiba-tiba menghalangi cahaya di atas meja mereka.
"Heh! Dasar orang-orang tidak tahu diri! Kalian pikir tempat ini arena bermain sampai mengotori tempat semewah ini?!" hardik seorang wanita paruh baya bernama Marta, manajer baru di toko itu. Penampilannya elegan, namun wajahnya dipenuhi rasa jijik dan ketidaksukaan.
Ia menatap sinis ke arah baju Rena yang sederhana, lalu beralih ke wajah Saga yang masih ada sisa krim. Ia sama sekali tidak mengenali siapa pria di hadapannya.
"Kalian pasti tidak punya uang kan untuk bayar kerusakan ini? Jangan-jangan es krimnya juga mau makan gratisan? Dasar keluarga miskin pembawa sial! Keluar kalian dari sini! Jangan merusak citra toko saya!" bentaknya dengan suara tinggi, membuat seluruh pengunjung menoleh dan memandang mereka dengan aneh.
Wajah Rena langsung memucat. Ia buru-buru berdiri ingin meminta maaf, bukan karena takut, tapi karena ia tidak ingin ada keributan lagi, apalagi di hadapan anak-anak.
"Maaf, Bu ... kami tidak bermaksud ... kami akan bayar semuanya, tolong jangan marah ..."
"Bayar? Dengan apa? Pakai apa yang ada di kantong lusuhmu itu?!" cibir wanita itu semakin sinis. "Mending kalian langsung bersihkan semuanya sekarang juga atau aku panggil satpam untuk menyeret kalian keluar!"
Al dan El yang tadinya tertawa riang, kini diam membeku wajah kecil mereka kembali ketakutan melihat orang dewasa yang berteriak dengan garang.
Saga yang awalnya duduk santai, perlahan mengambil tisu dan mengusap sisa krim di wajahnya. Gerakannya sangat lambat dan tenang, namun aura dingin dan menakutkan mulai perlahan menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Kau ... baru saja bilang apa?" suara Saga terdengar datar dan rendah, namun cukup membuat suhu di sekitar mereka seakan turun drastis.
"Aku bilang KELUAR! Tidak dengar ya?!" Wanita itu semakin angkuh dan sombong. "Toko ini hanya untuk kalangan atas! Bukan untuk gelandangan sepert ...,"
BRUK!!!
Sebelum kalimatnya selesai, Saga berdiri dengan cepat dan menumpukan kedua tangannya di meja dengan tenaga yang cukup besar. Hentakan itu membuat gelas-gelas es krim di atasnya bergetar hebat. Tatapan matanya tajam menusuk jiwa, membuat Marta langsung terdiam kaku dan mundur selangkah karena ketakutan yang tiba-tiba.
"Toko ini ... milik siapa?" tanya Saga pelan, namun suaranya terdengar mengerikan.
"P-Punya ... punya keluarga Dirgantara! Pemilik Grup Dirgantara! Makanya jangan berani macam-macam di sini ..."
Saga menyeringai sinis. "Oh, jadi kau bekerja untuk keluargaku? Dan ini caramu melayani pelanggan? Dengan menghina dan memaki?"
Wanita itu terbelalak kaget. "A-Apa? K-Keluarga ...? Jangan ngaku-ngaku ...," ucapnya masih tak percaya.
Dengan gerakan tenang Saga mengetik pesan singkat ke kontak seseorang, setelahnya langsung menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
Tak berapa lama ponsel wanita itu berdering keras. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru mengangkatnya. Wajahnya yang tadi merah padam karena marah, kini berubah pucat pasi seperti mayat hidup.
"I ... Iya Pak Direktur .... hah?! T-Tuan Muda Saga ada di sana?! ... hah?! Menghina dia?! ... Iya Pak! Saya mengerti Pak!"
Telepon ditutup. Wanita itu menatap Saga dengan mata terbelalak, kakinya lemas hingga hampir jatuh jika tidak berpegangan pada meja.
"T-T-Tuan Muda S-Saga ..." suaranya tercekat di tenggorokan, air mata ketakutan langsung mengalir deras. "Saya ... saya minta maaf! Saya tidak tahu kalau anda Tuan Muda Saga. Tolong ampuni saya! Saya butuh pekerjaan ini!" Ia langsung berjongkok dan bersujud di depan kaki Saga.
Saga menatapnya tanpa ekspresi, dingin dan kejam.
"Berdiri. Aku tidak sudi melihat orang sepertimu bersujud," ucap Saga dingin. "Kau salah menilai orang hanya dari pakaian dan penampilan luar. Sekarang, rasakan akibatnya."
Saga mengambil ponselnya, menekan satu tombol, dan berbicara singkat.
"Ya, Tuan Muda?"
"Pecat wanita ini sekarang juga. Dan pastikan, tidak ada satu pun perusahaan di kota ini yang berani menerimanya bekerja. Dia terlalu sombong untuk jadi pelayan," perintah Saga datar lalu menutup telepon.
"Tidak! Tuan Muda tolong! Ampuni saya!" jerit wanita itu histeris.
Rena menatap sedikit iba, namun ia juga tidak setuju dengan cara wanita itu menilai orang sembarangan. Ia tidak punya hak untuk menentang keputusan Saga. "Mungkin ini emang yang terbaik dan jadi pelajaran supaya dia bisa menjaga sikap dan lisannya ke depannya," batin Rena.
Saga tidak peduli. Ia kembali menoleh ke arah Rena dan kedua keponakannya, dan seketika wajah dinginnya meleleh menjadi senyum hangat yang menenangkan.
"Ayo kita pergi dari tempat kotor ini. Tempat ini tidak layak untuk kita," ucapnya lembut.
Mereka pun berjalan keluar meninggalkan wanita yang menangis histeris itu. Di luar, matahari mulai terbenam, memancarkan cahaya oranye yang indah menghiasi langit senja.
"Om Saga ..." panggil El sambil berjalan memegang tangan pria itu erat-erat. "Tadi Om keren banget! Tapi kenapa Om marah banget?"
Saga tersenyum, lalu mengangkat El ke dalam gendongannya.
"Karena Om tidak suka ada orang yang jahat sama kalian dan sama Aunty Rena. Siapapun yang berani menyakiti hati kalian, Om akan buat mereka menyesal seumur hidup," jawab Saga tegas, lalu menatap Rena dalam-dalam.
Rena menunduk malu, jantungnya kembali berdebar kencang. Pria ini benar-benar sempurna; dingin dan kejam pada musuh, namun sangat hangat dan penyayang pada orang yang ia cintai.
"Ayo kita pulang, perut Al sudah kenyang dan sekarang malah ngantuk nih," ucap Al sambil menguap lebar.
"Iya ayo pulang. Besok kalau Om ada waktu luang, kita main ke tempat yang lebih seru lagi!" janji Saga.
"Benarkah? Apa sama Aunty Rena juga!" tanya Al antusias, ia melompat-lompat kecil sambil bertepuk tangan.
Saga tak langsung menjawab, ia menatap ke arah Rena sambil tersenyum menggoda. "Coba Al tanya aja sama Aunty Rena, apa Aunty juga mau ikut?"
"Aunty ikut ya! Kalau gak ada Aunty gak seru!" bujuk El dengan wajah pura-pura sedih yang sangat menggemaskan.
Rena hanya tersenyum lalu mengangguk yakin. "Baiklah, Aunty akan ikut sama kalian. Dan sekarang ayo pulang! Mama Marissa pasti sudah nungguin kalian!" sahut Rena sambil mencubit gemas pipi kedua bocah itu.
"Yeeee!!" seru keduanya kompak dengan riang.
Mereka pun akhirnya melangkah pergi menjauh, meninggalkan bayangan panjang di trotoar, sebuah pemandangan indah keluarga kecil yang bahagia di bawah langit senja.
Namun, di tempat lain ...
Di dalam sebuah mobil mewah yang berhenti di lampu merah, suasana terasa sangat mencekam. Sasa dan Rendy duduk dengan memasang wajah masam.
"Rendy, kamu kenapa dari tadi diam aja sih! Kamu masih mikirin si Rena itu ya? Jahat banget sih kamu, padahal sebentar lagi kita akan menikah loh! Ingat Rendy, di dalam sini ada anak kamu!" ujar Sasa akhirnya memecah keheningan dengan nada kesal.
"Itu bukan urusan kamu Sasa! Yang penting aku sudah bertanggung jawab mau menikahi kamu, dan di luar itu jangan pernah mencoba mengatur hidup aku!" ketus Rendy dingin tanpa menoleh sedikitpun. "Dan Rena jelas wanita yang aku cintai!"
Sasa mengeram keras menahan amarah. Ia tahu Rendy memang tidak mencintainya, tapi ia tidak akan membiarkan pria itu terus memikirkan Rena. Ia akan berusaha keras mendapatkan hati Rendy, dan yang paling penting ... mendapatkan hartanya.
"Awas aja kau Rendy! Kita lihat nanti setelah kau sah jadi suami aku! Akan aku buat kau bertekuk lutut di hadapanku!" sinis Sasa dalam hati. Ia memilih diam untuk sementara, tak ingin memperkeruh suasana.
Tiba-tiba, dering ponsel Rendy memecah kesunyian yang kaku.
"Ya Sam! Ada apa?" tanya Rendy.
"Gawat Pak! Kerja sama kita dengan Grup Dirgantara tiba-tiba di batalkan," sahut Sam sang asisten dengan nada panik di seberang sana.
"Kok bisa tiba-tiba?! Padahal kemarin Tuan Andra terlihat tertarik dengan proposal kita!" Rendy mulai terlihat gelisah.
"Saya juga kurang tahu Pak, tiba-tiba saja mereka mengirim surat penolakan!" keluh Sam.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Atur pertemuan langsung dengan Tuan Andra! Aku ingin kejelasan sekarang juga!" perintah Rendy tegas.
"Baik Pak, akan saya coba atur semuanya!" jawab Sam ragu.
Sasa yang mendengar percakapan itu langsung terkejut. "Hah? Ditolak? Kenapa bisa begitu?" batinnya bertanya-tanya, namun ia enggan bertanya langsung pada Rendy yang sedang emosi.
Tiba-tiba layar ponsel Sasa menyala, sebuah pesan masuk dari ayahnya.
'Sasa cepat pulang! Ada yang ingin Papa tanyakan langsung padamu!'
Mata Sasa terbelalak besar. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Apa yang terjadi! Pasti ada yang tidak beres kalau Papa sudah menghubungi langsung begini!" gumamnya dalam hati, perasaan gelisah mulai merayapi seluruh tubuhnya.
"Baik Pa!" balasnya singkat.
Lampu hijau menyala, Rendy langsung tancap gas dengan kencang, berniat mengantar Sasa ke rumah orang tuanya lalu langsung pergi ke kantor.
Sasa hanya bisa diam membeku, keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Pikiran buruk terus menghantui, namun ia sama sekali belum menyadari bahwa semua malapetaka ini bermula dari mulutnya sendiri.
Bersambung ...