Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayu
"Pegangan," kata Angkasa saat Nia sudah naik ke atas motornya.
Nia dengan ragu-ragu memegang kedua sisi jaket yang dikenakan Angkasa. Angkasa melajukan motornya keluar dari gerbang utama kampus. Angkasa masih mengingatnya dimana pertama kali dia dan Nia bertemu lagi setelah sekian lama.
"Nah gang yang ada gapuranya itu. Gang Surya," kata Nia sambil menunjuk sebuah gang dengan gapura besar bertuliskan Gang Surya.
Angkasa membelokkan motornya memasuki Gang Surya. Rumah-rumah kos berderet di sepanjang gang. Dari yang sederhana hingga yang mewah. Angkasa melajukan motornya pelan. Seingatnya, dulu Nia mengatakan kosnya tak jauh.
"Yang cat pink itu," kata Nia sambil menunjuk sebuah rumah dua lantai yang terbilang mewah.
Angkasa berhenti di depan gerbang. Dilihatnya tempat kos Nia bukan tempat kos sembarangan. Ada pos satpam di dekat gerbangnya. Kos Nia terdiri dari dua lantai. Dari luar sudah terlihat bagaimana fasilitas kamar yang disediakan disana.
"Makasih," ucap Nia setelah turun dari motor Angkasa.
"Hm,"
"Hati-hati pulangnya. Salam buat Nyonya Mahendra," kata Nia. Angkasa terdiam.
Hening.
"Masuk," kata Angkasa.
"Eh?"
"Aku cuma mau mastiin kos mu beneran yang ini," kata Angaksa, datar, tanpa menatap Nia. Nia tersenyum.
"Ya udah kalo gitu. Aku masuk. Sekali lagi, makasih," kata Nia lalu berjalan memasuki gerbang. Saat Angkasa akan meninggalkan kos Nia, terdengar suara satpam menyapa Nia.
"Eh, Mbak Nia. Udah selesai nugasnya?" tanya satpam ramah.
Angkasa memperhatikan interaksi Nia dengan pak satpam di kosnya lewat kaca spion motornya. Nia terlihat memberikan sebuah bungkusan plastik pada pak satpam. Angkasa memperhatikan Nia yang kemudian berjalan berlalu menaiki tangga lantai dua. Angkasa dapat melihat Nia memasuki kamarnya.
"Ehem... Pacarnya Mbak Nia ya, Mas?" tanya Pak Rahmat, satpam kos Nia, mengejutkan Angkasa.
"Temen,"
"Yah! Temen lagi. Mas Bumi temen, Mas Tirta temen, Mas Bayu kakak," kata Pak Rahmat dengan nada kecewa.
"Bayu?" tanya Angkasa. Pak Rahmat mengangguk.
"Kakaknya Mbak Nia. Orangnya ganteng, kayak artis siapa itu... Lee Min Ho? Naah itu. Trus baik, sopan, ramah, keliatan sayang banget sama Mbak Nia," cerita Pak Rahmat. Angkasa terdiam.
"Makanya awal-awal dulu, saya kira pacarnya Mbak Nia. Sering kesini dulu pas awal-awal. Oh, ya! Pernah ijin nginep juga..."
"Nginep?" tanya Angkasa. Tanpa sadar nada suaranya meninggi.
"Eh? Iya, Mas. Nginep. Karena Mbak Nianya sakit. Nggak mau dibawa ke dokter, nggak mau dibawa pulang juga. Trus Mas Bayunya tanya ke saya, boleh nginep nggak, sambil nunjukin KTP sama foto keluarga juga buat buktiin kalo emang kakaknya. Keliatan khawatir banget. Ya udah saya ijinin," cerita Pak Rahmat.
Angkasa terdiam. Dia tidak mengetahui apapun soal Nia sejak Angkasa memutuskan kontak dengan Nia. Angkasa bahkan tak tahu kalau Nia diasuh oleh orang yang cukup berada bahkan menjadi salah satu investor bisnis papa asuhnya.
'Bayu... Kakak... Tidak sedarah. Jelas. Dia menyayanginya bukan sebagai saudara,'
***
Bayu menatap pemandangan kota yang semarak dari kaca jendela besar di ruang kerjanya. Pikirannya melayang jauh mengarungi waktu hingga delapan tahun yang lalu.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Nyonya Lestari pada Bayu remaja.
"Udah, Ma. Santunan kali ini kemana, Ma?" tanya Bayu.
"Panti Asuhan Welas Asih," jawab Nyonya Lestari. Bayu mengerutkan alisnya.
"Bayu belum pernah denger, Ma,"
"Agak di pedalaman. Tapi kondisi pantinya bagus. Ada seratus enam anak. Kebanyakan usia sekolah dasar. Meski kondisi tempat tinggal mereka layak huni, mereka juga mengalami kesulitan biaya untuk kebutuhan anak-anak disana," kata Nyonya Lestari. Bayu manggut-manggut.
Meski masih remaja, Bayu selalu dilibatkan dalam kegiatan sosial oleh Nyonya Lestari yang diadakan sebulan sekali. Hal itu Nyonya Lestari lakukan untuk memupuk kepedulian kepada sesama dalam diri Bayu.
"Nyonya Mahendra yang menyarankan panti ini. Katanya pola asuh disana bagus. Anak-anaknya sopan dan disiplin," lanjut Nyonya Lestari.
"Sudah siap, Ma?" tanya Tuan Laksono pada Nyonya Lestari.
"Ayok berangkat," kata Nyonya Lestari pada Bayu dan Tuan Laksono.
Setelah melalui satu setengah jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di panti asuhan yang dituju. Seperti yang Nyonya Lestari katakan, kondisi bangunan panti terlihat terawat dan bersih. Banyak anak-anak yang sedang bermain di halaman depan panti yang luas.
Mata Bayu langsung tertuju pada satu gadis yang tengah duduk di tangga menuju teras panti. Gadis itu terlihat sibuk menggoreskan pensil di atas buku gambar di pangkuannya. Bayu seperti terhipnotis. Dia berjalan mendekati gadis itu.
Gadis itu terlalu fokus pada kertas, pensil dan obyek yang digambarnya —anak-anak panti yang sedang asyik bermain di halaman— hingga tak menghiraukan Bayu sudah duduk di sampingnya, mengamati dirinya dan hasil gambarnya.
Bayu takjub dengan hasil gambaran gadis itu. Sangat detail. Bahkan bola yang menyembul dari balik semak-semak pun tak luput dari pengamatannya. Bayu terus memperhatikan bagaimana gadis itu menggoreskan pensilnya dengan sangat lincah dan persisi. Fokus yang begitu ekstrem membuat gadis itu terlihat menawan di mata Bayu.
"Bayu," panggil Nyonya Lestari sambil berjalan ke arahnya. Bayu menoleh.
"Kamu sedang apa disini? Ayo masuk dulu. Kita sapa Kepala Panti dulu," kata Nyonya Lestari membuat gadis di samping Bayu berhenti menggambar.
"Eh? Oh, baik, Ma," kata Bayu sambil beranjak dari duduknya.
Nyonya Lestari sudah berjalan terlebih dahulu menuju ruang Kepala Panti yang terletak di samping teras. Bayu menoleh ke arah gadis itu lalu tersenyum.
"Aku suka gambar kamu," kata Bayu sebelum akhirnya menyusul mamanya.
Sejak saat itu, perasaan Bayu kepada gadis itu tak pernah berubah hingga saat ini. Cinta pertamanya yang mungkin tak akan pernah terungkap karena setelah itu, Nyonya Lestari yang jatuh hati pada pribadi dan bakat gadis itu memutuskan untuk mengasuhnya. Ya. Dunia adalah cinta pertama Bayu. Cinta yang rumit bagi dirinya saat ini.
"Hhh~"
Bayu menghela napas, lalu kembali duduk di kursi kerjanya menatap tumpukan dokumen yang perlu dia cek. Bayu memijat mata dan pangkal hidungnya. Getar ponsel mencuri perhatiannya. Sebuah pesan singkat dari yang sedang dia pikirkan. Sebuah senyuman tersungging di wajah Bayu.
Hari Minggu ini Kak Bayu sibuk nggak?
Bayu menekan tombol panggilan. Mendengar suara Nia mungkin cukup untuk mengobati penat yang dia rasakan saat itu.
"Hallo, Kak?"
"Hari Minggu mau ngapain?" tanya Bayu sambil tersenyum, membayangkan Nia akan mengajaknya ke suatu tempat untuk melukis seperti yang biasa dia lakukan.
"Nia minta tolong anterin ke kediaman Nyonya Mahendra, bisa?" jawab Nia. Senyum di wajah Bayu seketika menghilang.
"Kediaman Nyonya Mahendra?" tanya Bayu, memastikan.
"Um. Nganter lukisan," kata Nia.
Bayu teringat sketsa lukisan yang dia antar ke kamar kos Nia karena permintaan mamanya, saat dia kembali ke rumah mengambil dokumen yang tertinggal. Bayu sempat melihat-lihat kamar Nia sebentar setelah meletakkan sketsa Keluarga Mahendra di atas easel. Bayu melihat kanvas-kanvas yang terselip di samping lemari Nia. Beberapa kanvas terlihat sudah terpakai. Bayu menggesernya satu per satu. Mata Bayu membulat melihat satu lukisan di salah satu kanvas. Bayu segera menoleh ke arah sketsa lukisan Keluarga Mahendra. Jelas.
'Cowok yang sama. Siapa dia bagi mu, Nia?'
***