NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPERDULIAN ARELINA

Koridor kelas mulai ramai.

Suara obrolan siswa bercampur dengan langkah kaki yang tergesa menuju kelas masing-masing.

Keano berjalan santai di samping Senja, tangannya masuk ke saku jaket, sementara Senja terlihat sedikit gugup.

"Aku sebenarnya bisa sendiri loh…" gumam Senja pelan.

Keano melirik sekilas.

"Gue tau."

"Terus kenapa tetep dianterin?"

Keano mengangkat bahu santai.

"Pengen aja."

Deg.

Senja langsung menunduk, pura-pura merapikan rok seragamnya agar Keano tidak melihat pipinya yang mulai hangat.

Mereka hampir sampai di depan kelas—

TIBA-TIBA.

"WOI SENJAAAAA!!!"

Suara teriakan keras menggema satu koridor.

Arelina berdiri di depan kelas dengan mata membulat dramatis, tangannya menunjuk lurus ke arah mereka berdua seperti menemukan rahasia negara.

"INI APAAN?!"

Beberapa siswa langsung menoleh.

Senja membeku.

"Arelina… pelan dikit dong!"

Tapi Arelina malah makin heboh.

"Lo… DATENG… DIANTER… KEANO?!"

Ia berjalan cepat mendekat, menatap Senja dari atas sampai bawah seolah sedang menginterogasi tersangka utama.

"Gue tinggal sehari aja, lo udah upgrade kehidupan cinta?"

"Arelina!" Senja hampir menutup mulut sahabatnya itu.

Keano berdiri di samping mereka, menahan senyum.

Arelina lalu menoleh ke Keano, menyipitkan mata.

"Wah wah wah… Tuan dingin ternyata bisa juga jadi tukang ojek pribadi ya."

Keano santai.

"Khusus member VIP."

Arelina langsung menjerit kecil.

"SENJAAAAA DIA FLIRTING DI DEPAN GUE!"

Senja benar-benar ingin menghilang saat itu juga.

"Aku cuma nebeng!"

"Iya iya… nebeng rasa pasangan resmi," goda Arelina tanpa ampun.

Beberapa teman mulai ikut berbisik dan tertawa kecil.

Senja menatap Keano panik.

" kamu, kan aku dah bilang jangan di anterin sampai depan kelas."

Keano malah terlihat menikmati situasi itu.

Ia sedikit mendekat ke Senja lalu berkata pelan—

"Biasain."

Deg.

Arelina yang masih berdiri di depan mereka langsung memegang dada dramatis.

"ASTAGA! GUE SAKSI HIDUP AWAL KISAH CINTA DUA SEPAGI-PAGI GINI!"

Keano terkekeh kecil.

"Oke, gue cabut. Titip Senja ya."

Arelina langsung memberi hormat bercanda.

"Siap, calon… eh maksudnya teman Senja."

Keano berjalan pergi, tapi sebelum benar-benar menjauh ia sempat menoleh sekali lagi.

Senja masih berdiri di sana… menatapnya.

Dan entah kenapa—

Keano merasa hari sekolah belum pernah sebaik ini.

Begitu Keano menghilang di ujung koridor—

Arelina langsung menarik tangan Senja masuk kelas.

"Woi jujur sekarang!"

"Apa?"

"Sejak kapan kalian dekat?!"

Senja menutup wajahnya malu.

"Gak ada yang dekat , kita tadi cuma kebetulan aja…"

Arelina menyeringai lebar.

"Hmm… kebetulan yang di sengaja ya."

Senja diam.

Dan diamnya… justru jawaban paling jelas.

Bel masuk berbunyi, suara riuh kelas perlahan mereda ketika guru masuk membawa buku pelajaran.

"Selamat pagi semuanya."

"Pagi, Bu…"

Senja duduk di bangkunya di samping jendela, buku sudah terbuka rapi di depan. Pena berada di tangannya, tapi pikirannya… tidak di sana.

Tidak pada pelajaran, tidak pada papan tulis.

Melainkan—Keano.

Motor pagi tadi, cara dia menunggu.

Tangannya yang terulur saat Senja turun dari motor.

Tatapan itu.."

"pegangan yang bener aku gak gigit kok." percakapan itu muncul tiba-tiba di kepalanya.

Senja menggigit ujung pulpennya pelan, kepalanya mulai berisik lagi.

"Kenapa dia baik banget, dia emang gitu ke semua orang, atau cuma ke aku?" (isi pikiran Senja)

Ia menggeleng kecil.

"Fokus, Senja."(isi pikiran senja)

Guru mulai menjelaskan materi di depan kelas, suara kapur menulis di papan terdengar jelas.

Tapi kata-kata itu seperti lewat begitu saja.

Yang terdengar justru suara lain—

Suara Keano tertawa kecil tadi pagi.

Senja menghela napas pelan.

Tangannya menulis… tapi isi catatannya malah berantakan, tanpa sadar ia menulis satu nama.

Keano.

Ia langsung membeku.

Cepat-cepat Senja menutup buku, pipinya memanas.

"Aku kenapa sih…"

Dari samping, Arelina menyenggol sikunya pelan.

"Masih mikirin tukang ojek VIP?"

Senja langsung menatap tajam.

"Pelan-pelan dong ngomongnya"

Arelina menyeringai puas.

"Lo tuh kelihatan banget."

"Gak ada ya."

"Iya iya… biasanya yang bilang gitu justru udah mulai jatuh......."

Deg.

Kalimat itu menusuk pelan.

"Jatuh?"

Senja menatap meja.

Ia bukan takut pada perasaan, ia takut… berharap terlalu jauh.

Karena selama ini—dia belum pernah dekat dengan pria manapun.

Tangannya mengepal pelan di bawah meja.

"Jangan terlalu nyaman, Senja."

"Jangan salah arti." (isi pikiran senja)

Namun di saat yang sama—

senyumnya tadi pagi masih terasa hangat di hati.

Dan untuk pertama kalinya setelah lama…

Senja merasa ingin datang ke sekolah lagi besok.

Di lantai dua tepatnya di kelas IPS —tanpa Senja ketahui, Keano duduk di kelasnya, dagu bertumpu pada tangan, menatap kosong ke luar jendela.

Bukan pelajaran yang ia pikirkan.

Melainkan—

"Dia udah masuk kelas belum ya."

Keano mengambil ponsel diam-diam di bawah meja, mengetik cepat.

KEANO:(Hai cantik, udah mulai belajarnya?)

Beberapa detik.

Layar ponsel Senja bergetar pelan di dalam tas.

Senja membukanya hati-hati.

Nama itu muncul.

KEANO:(Hai cantik, udah mulai belajarnya?)

Jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Ia membalas.

SENJA: (udah)

Sedikit.

Balasan datang hampir langsung.

KEANO: (Nanti istirahat gue culik ke kantin.)

Senja menatap layar lama, tanpa sadar—ia tersenyum, dan kepalanya yang tadi berisik…

kini hanya dipenuhi satu hal:

Keano.

Guru masih menjelaskan materi di depan.

Suara kapur bergesekan dengan papan tulis terdengar ritmis, tapi perhatian Arelina sama sekali bukan ke sana.

Matanya justru diam-diam memperhatikan Senja.

Senja terlihat tenang dari luar.

Menulis. Membuka buku. Sesekali mengangguk.

Tapi Arelina tahu.

Itu bukan Senja yang biasa, sahabatnya itu terlalu sering tersenyum sendiri, kadang menatap kosong.

Kadang buru-buru menyembunyikan ponselnya.

Dan yang paling mencurigakan—pipinya memerah setiap layar ponsel menyala.

Arelina menyipitkan mata.

"Fix."

Ia menyenggol pelan lengan Senja.

Senja refleks menoleh.

"Hm?"

Arelina berbisik pelan, tapi tajam.

"Lo lagi chat sama Keano ya?"

Senja langsung panik kecil.

"Gak!"

"Layar HP lo barusan nyala."

"Itu… grup kelas."

Arelina menatapnya datar.

"Sumpah?"

Senja mengangguk terlalu cepat.

Justru itu membuat Arelina makin yakin.

Ia bersandar di kursinya, menatap Senja dengan senyum tipis yang penuh arti.

Untuk pertama kalinya sejak mereka berteman—

Arelina melihat sesuatu yang berbeda di mata Senja.

Ada cahaya, ada harapan dan ada rasa takut yang disembunyikan, Arelina tahu cerita hidup Senja tidak mudah, ia tahu bagaimana Senja selalu menjaga jarak dari orang lain.

Makanya…

melihat Senja mulai membuka hati membuat dadanya hangat sekaligus khawatir, ia berbisik lebih lembut kali ini.

"Lo suka ya sama dia?"

Pertanyaan itu jatuh pelan.

Senja diam, tangannya berhenti menulis.

Beberapa detik terasa panjang.

"Aku… gak tahu."

Jawaban jujur, bukan penolakan, bukan pengakuan.

Arelina tersenyum kecil.

"Yang penting satu."

Senja menoleh.

"Jangan sampai lo yang nanti sendirian ngerasain semuanya, gue gak mau lihat lo sedih nantinya."

Kalimat itu tidak terdengar seperti godaan lagi.

Melainkan… perlindungan seorang sahabat.

Senja menunduk pelan, ia tahu Arelina mengerti dirinya, dan mungkin—itulah alasan kenapa Senja takut, karena kali ini… rasanya benar-benar berbeda.

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!