NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mandat dibalik tirai

Suasana di dalam klinik seketika berubah menjadi jauh lebih sunyi saat pintu depan tertutup, meninggalkan Lara dan Baskara hanya berdua di balik tirai hijau yang setengah terbuka.

​"Dek, saya harus ke apotek pusat sebentar untuk ambil stok perban dan obat oles tambahan. Tolong jaga Kakaknya ya," ujar perawat itu sambil merapikan celemeknya. Ia kemudian menyodorkan sebuah handuk kecil yang berisi es batu kepada Lara. "Kompres pelan-pelan di bagian yang bengkak ini supaya nyerinya berkurang. Saya tinggal sepuluh menit."

​Lara menerima bungkusan es itu dengan tangan sedikit gemetar. "E-eh, iya Bu. Saya usahakan."

​Begitu perawat itu benar-benar pergi, Lara menelan ludah. Ia perlahan duduk kembali di kursi kecil, tepat di samping kaki Baskara yang terjulur di atas bed. Ia bisa merasakan aura dominan Baskara yang kini sepenuhnya tertuju padanya.

​"Kenapa diam saja? Ibu perawat tadi bilang apa?" suara Baskara memecah keheningan, terdengar sedikit serak namun penuh godaan.

​Lara tidak berani menatap mata Baskara. Ia menunduk, perlahan menempelkan kompres es itu ke pergelangan kaki Baskara yang memar. "Iya, Kak. Ini mau dikompres..."

​Begitu es itu menyentuh kulitnya, Baskara sedikit mengernyit, membuat Lara refleks menarik tangannya. "Sakit ya, Kak? Maaf... saya pelan-pelan kok."

​"Dingin, Lara. Bukan sakit," sahut Baskara. Tiba-tiba, tangan Baskara bergerak turun, memegang punggung tangan Lara yang sedang memegang kompres, memastikan es itu tetap berada di posisi yang benar.

​Lara membeku. Sentuhan tangan Baskara yang hangat sangat kontras dengan es yang ia pegang. "Kak Baskara... tangannya..."

​"Biar nggak meleset kompresnya," ucap Baskara santai, padahal ia hanya ingin mencari alasan untuk menyentuh tangan gadis itu. "Lagipula, di sini cuma ada kita berdua. Kamu nggak perlu pasang wajah cemberut seperti sedang dihukum."

​Lara memberanikan diri mendongak, matanya bertemu dengan manik mata Baskara yang dalam. "Habisnya Kakak aneh-aneh saja. Masa saya disuruh jaga di sini, nanti kalau Randy atau panitia lain tahu gimana?"

​Baskara tersenyum tipis—kali ini senyum yang benar-benar tulus, bukan senyum formal. "Biarkan saja mereka tahu. Biar mereka sadar kalau ketua mereka sedang butuh perhatian khusus dari asisten medisnya."

​Lara hanya bisa menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menyembunyikan rona merah yang kini sudah menjalar hingga ke telinganya.

Momen di dalam klinik itu seolah menjadi titik balik bagi hubungan mereka. Ternyata, kesamaan mereka bukan hanya soal alamat rumah dan status sosial keluarga, tapi juga masa depan akademik yang mereka pilih.

​"Kak, aku dengar dari Papa... Kak Baskara juga di Bisnis Manajemen ya?" tanya Lara pelan, sambil tetap telaten mengompres kaki Baskara. Kali ini suaranya terdengar lebih santai, tidak setegang tadi.

​Baskara sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap Lara dengan binar tertarik. "Iya. Kenapa? Kamu juga ambil jurusan itu karena disuruh Papa kamu untuk lanjutin perusahaan?"

​Lara menggeleng, lalu sebuah senyuman manis terukir di wajahnya—senyum tulus pertama yang dilihat Baskara secara langsung dari jarak dekat. "Enggak juga. Aku memang suka hitung-hitungan dan bikin strategi. Papa cuma kasih arahan saja."

​Baskara tertegun sejenak. Senyum Lara ternyata jauh lebih berbahaya bagi jantungnya daripada godaan Randy di ruang panitia.

​"Baguslah. Berarti kita satu departemen. Kalau ada tugas makroekonomi atau akuntansi yang susah, kamu tahu harus cari siapa, kan?" ujar Baskara dengan nada bangga yang khas.

​Lara tertawa kecil, suara tawanya halus dan renyah. "Iya, Kak. Tapi jangan sampai Kakak kasih 'tugas tambahan' lagi kayak sekarang ya."

​"Tergantung performa kamu hari ini," balas Baskara sambil ikut tersenyum.

​Melihat Lara yang mulai tidak sungkan untuk tersenyum dan bercanda membuat Baskara merasa usahanya menahan gadis itu di klinik tidak sia-sia. Di dalam ruangan putih yang dingin itu, suasana justru terasa hangat. Mereka mulai mengobrol banyak hal, mulai dari dosen yang kabarnya paling galak di jurusan Bisnis, hingga kantin mana yang punya kopi paling enak untuk menemani begadang mengerjakan tugas.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!