Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Ciuman tak terduga.
Belum sempat Zinnia benar-benar menjauh dan memperbaiki posisi duduknya, mobil kembali berguncang, kali ini jauh lebih keras dan hebat dari sebelumnya. Ternyata jalanan yang mereka lewati memang rusak parah, penuh lubang dan tidak rata sama sekali, membuat kendaraan meloncat-loncat seolah melewati medan berat.
Refleks untuk menjaga diri, tangan Zinnia dengan cepat mencengkeram erat bagian depan jas hitam Rion, kainnya sampai sedikit terlipat karena kuatnya genggamannya. Wajahnya seketika memerah merona sampai ke telinga dan leher, saat menoleh mendapati Rion sedang menatapnya tajam, matanya gelap tak terbaca.
" Ma.. maaf.. Aku tidak sengaja. " Ucap Zinnia tergagap, segera berusaha melepaskan cengkeramannya dan menjauh.
Tapi baru saja menghindar sedikit, BRAK!
Mobil jatuh ke lubang besar, guncangan itu membuat tubuh Zinnia kembali terlempar maju kembali. Kali ini kedua wajah mereka benar-benar menempel, hidung bersentuhan, napas saling bertukar. Tanpa sadar, kedua tangan Zinnia otomatis melingkar erat di leher Rion untuk menahan diri, dan seketika posisi mereka berubah total.
Gadis itu sudah terduduk tepat di atas pangkuan lelaki itu. Sementara tangan besar Rion, entah sejak kapan, sudah melingkar kuat di pinggang rampingnya, menahan agar tubuhnya tidak terguncang jatuh lagi.
Suasana di dalam mobil mendadak hening dan panas.
Rion mengangkat kepalanya sedikit, tatapannya beralih ke arah kaca pembatas di depan, lalu suara beratnya terdengar dingin dan tegas.
" Pak Harun, kenapa jalannya rusak begini, dan kenapa juga memilih jalan ini? " Tanya Rion dengan nada sedikit kesal.
Pak supir yang mendengar pertanyaan itu menjawab dengan nada sedikit gugup, matanya tetap fokus mengemudi.
" Maaf Tuan, nyonya meminta kita segera pulang. Katanya ada sesuatu yang mendesak, jadi saya terpaksa memilih jalan memutar dan ternyata jalanannya rusak begini. Saya minta maaf Tuan. "
Mendengar jawaban itu, mata Zinnia membulat kaget. Jalan memutar? Kalau begitu, dirinya bagaimana?
" Tunggu dulu, bagaimana denganku? " tanyanya cepat.
Rion menoleh kembali menatap wajah di hadapannya, nadanya tetap datar seolah tak ada apa-apa yang aneh dengan posisi mereka sekarang.
" Tenanglah Zinnia, Aku bisa mengantarmu pulang nanti. "
" Itu artinya aku harus ikut denganmu menemui ibumu? Aku gak mau !! Lebih baik turunkan saja aku sekarang.. " Pintanya mendesak.
" Ya sebentar saja. Tapi kamu bisa menunggu di mobil. "
" Begitu ya.. baiklah. " jawab Zinnia pelan.
Zinnia seakan belum sadar dengan posisi dirinya saat ini. Dia diam saja, sedangkan tubuhnya masih tetap berada di pangkuan Rion, kedua tangannya masih melingkar di leher lelaki itu, dan tangan Rion pun tak pernah melepaskan cengkeramannya di pinggangnya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa makin menyesakkan dada.
Sampai akhirnya Rion membuka suara lagi, nada bicaranya terdengar dingin dan sinis, padahal di dalam hati ia sudah berantakan tak karuan, perasaannya berkecamuk hebat antara marah, bingung, dan hasrat yang susah dikendalikan.
" Sampai kapan kamu mau begini terus? " Tanyanya dengan nada dingin.
" E.. eh.. maaf.. maaf.. "
Zinnia baru sadar posisi memalukan mereka, wajahnya makin merah padam, dia segera berusaha melepaskan tangannya dan bangkit turun dari pangkuan lelaki itu.
Tapi... sudah terlambat.
Sebelum jari-jarinya benar-benar lepas, sebelum tubuhnya sempat bergerak sedikitpun, Rion sudah kehilangan seluruh akal sehat dan pertimbangannya. Dorongan dari dalam dadanya terlalu kuat untuk ditahan lagi. Dengan satu gerakan cepat dan kasar, dia menarik tubuh Zinnia makin erat menempel di dadanya, lalu kepalanya menunduk dan mencium bibir gadis itu tepat, dalam, dan penuh hasrat yang terpendam.
Ciuman itu bukan lembut atau manis, melainkan liar dan mendesak. Semakin Rion merasa kesal dengan perasaan asing yang terus menguasai dirinya, semakin ganas pula dia mencium Zinnia. Dia menggigit pelan bibir ranum milik gadis itu, menyedotnya, menjelajahinya, seolah ingin mencari tahu seberapa jauh perasaan ini ada? Seberapa besar pengaruh gadis ini padanya? Dia ingin memastikan, ingin membuktikan, bahkan rela melakukan apa saja agar rasa kacau ini hilang, atau malah justru membuatnya makin terjebak.
Zinnia membelalakkan matanya lebar-lebar, seluruh tubuhnya membeku kaku. Otaknya kosong tak bisa berpikir apa-apa, hanya bisa merasakan bibir hangat itu, tekanan yang kuat, dan sensasi yang membuat seluruh tulang sumsumnya lemas tak berdaya. Kedua tangannya yang tadi hendak melepaskan diri, entah kenapa malah kembali mencengkeram erat bahu Rion, napasnya tercekat dan berubah tak beraturan.
Ciuman itu tak berhenti, malah makin dalam dan liar. Lidah Rion menjelajah setiap sudut mulut Zinnia, mengambil segala sesuatu yang dia inginkan seolah tak mau ada yang tersisa. Zinnia mulai merasa kepalanya pusing, dadanya sesak, napasnya makin menipis dan habis tak bersisa. Dia berusaha berontak, kedua tangannya mendorong dada bidang Rion, bahunya digerakkan berusaha menjauh, tapi genggaman lelaki itu di pinggangnya bagai besi tuang, tak bisa digeser sedikitpun.
" R.. Rion.. tunggu dulu.. " Suara Zinnia keluar terputus-putus di sela-sela ciuman, napasnya terengah-engah.
Tapi kata-kata itu bukannya membuat Rion berhenti, malah sebaliknya. Baginya, suara yang tergagap dan lembut itu. Nada memohon yang keluar dari bibir yang masih basah dan bengkak itu, terdengar seperti bisikan rayuan yang meminta lebih banyak lagi, memintanya untuk tak berhenti, untuk terus melakukan apa yang dia lakukan. Rion makin menjadi-jadi, tekanan bibirnya makin kuat, ciumannya makin mendesak seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup.
Baru saat paru-paru mereka berdua benar-benar kosong dan tak ada oksigen lagi, Rion perlahan mengangkat kepalanya. Tapi dia tak melepaskan Zinnia sepenuhnya, kening mereka masih saling bersentuhan, napas panas dan tak beraturan dari hidung dan mulutnya menerpa wajah Zinnia, membuat kulit gadis itu terasa terbakar. Tatapan matanya gelap pekat, penuh dengan hasrat dan kekacauan yang tak bisa disembunyikan lagi.
" Kenapa.. kamu sekuat itu Zinnia.. membuatku gila.. " Bisik Rion tepat di telinga Zinnia, suaranya rendah serak dan berat, cukup terdengar hanya untuk mereka berdua.
Seluruh tubuh Zinnia membeku seketika. Jantungnya berdegup sampai dia sendiri takut orang lain bisa mendengarnya. Dia menelan ludah susah payah, lalu menjawab dengan suara yang juga bergetar, pura-pura bodoh dan tak mengerti apa maksud lelaki itu.
" A.. apa maksudmu aku tak mengerti. "
Rion tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata, penuh dengan ketertarikan yang tak terbendung. Dia menggerakkan kepalanya sedikit, bibirnya menyapu lembut kulit telinga Zinnia saat bicara.
" Jangan berpura-pura.. aku yakin kamu tahu.. seberapa kuat pesonamu sampai menusuk kedalam diriku.. sampai aku kehilangan akal sehat di depanmu.. "
" E.. Eh.. benarkah? " balas Zinnia lagi, berpura-pura bersikap polos. matanya melirik ke samping tak berani bertemu tatapan, pipinya masih memerah habis-habisan.
" Zinnia... "
Panggilan itu keluar lirih, lembut tapi membelenggu. Rion menarik kembali wajahnya, menatap lurus ke dalam mata gadis di pangkuannya. Dia benar-benar sudah hilang akal sehat. Di hadapan sosok ini, semua harga diri, semua wibawa, semua kendali yang dia bangun selama bertahun-tahun lenyap begitu saja. Dia bahkan ingin melahap gadis itu habis-habisan di sini juga.
Dan Zinnia... dia mulai sadar betapa bahayanya posisinya sekarang. Dia melihat api yang membara di mata Rion, tahu persis kalau lelaki itu sudah di ujung kendali. Di benaknya muncul satu ide, kesempatan emas untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dengan sedikit keberanian, dia mendekatkan mulutnya ke telinga Rion, suaranya dibuat semanis mungkin, penuh rayuan halus.
" Kalau begitu.. bisakah kamu berbaik hati padaku setidaknya sekali seumur hidupmu.. berikan padaku kalung itu.. " Goda Zinnia dengan suara manja.
Rion terdiam sejenak, lalu senyum tipis terukir di bibirnya, tapi kali ini ada rasa kecewa dan getir di dalamnya. Wajahnya masih menempel di kening Zinnia, napasnya masih terasa panas di wajah gadis itu.
" Hanya Kalung? kamu perduli hanya pada hal itu ya.. "
Mendengar nada bicaranya, Zinnia langsung panik. Dia gelagapan, tangannya tanpa sadar mencengkeram bahu Rion lebih erat, bingung harus menjawab apa.
" Tidak bukan begitu aku... "
" Apa aku tidak menarik di hadapanmu ya.. " potong Rion perlahan, suaranya terdengar datar tapi menyimpan banyak pertanyaan.
" Menarik kok.. tapi.. hanya saja.. em.. " Zinnia terbata-bata, otaknya kosong tak tahu harus bicara apa lagi.
Pikirannya yang mulai kacau itu, tak bisa berpikir dengan jernih. Setiap sentuhan yang di berikan Rion padanya seperti racun yang perlahan melemahkan tubuhnya, sampai dirinya sendiri tak berdaya di buatnya.
" Kita lihat, seberapa dalam perasaan ini menguasai diriku? atau seberapa besar pengaruhmu padaku. " Batin Riom dalam hati.
***