Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dave dan perjodohannya
"Bu Jani, ada yang mau ketemu." Jani yang sedang menanda tangani berkas mendongak, menatap sekretarisnya yang baru saja memasuki ruangannya.
"Siapa?" Rasanya dia ngga ada janjian dengan siapa pun siang ini.
"Pak Baskara dari perusahaan Prisma Indotama, Bu Jani."
DEG
Baskara? Mau apa dia ke sini?
"Ya. Persilakan beliau masuk," ucapnya setelah beberapa saat terdiam.
"Baik, bu."
Setelah sekretarisnya keluar dari ruangannya, ngga lama kemudian sosok yang ditaksir temannya Talisha kini melangkah memasuki ruangannya.
Talisha udah tau atau belum, ya, bos idamannya datang ke sini? batin Jani was was juga.
Tapi Jani ngga sempat berpikir lagi ketika Baskara sudah makin mendekati meja kerjanya. Baskara, atau dulu dia dan teman temannya selalu memanggilnya Kak Baskara ketika masih SMA, karena dulu merupakan kakak kelas mereka.
"Mengganggu, ya?" tanya Baskara dengan senyum khas di bibirnya.
Semakin tampan, natin Jani terkesima sesaat, 1tapi Jani terlalu takut menikm@tinya. Dia malah mencari sosok Talisha di belakang Baskara. Tapi dia tidak menemukannya. Baskara datang seorang diri.
"Nyari teman kamu? Dia ngga ikut," ucap Baskara seakan tau yang ada di pikiran Jani.
"Ooo...." Jani jadi agak salah tingkah.
"Silakan duduk," sambungnya lagi.
Baskara duduk dengan wajah masih tetap tersenyum.
"Kaget, ya, aku datang."
"Iya." Senyum Jani berusaha tenang. Tentu saja kaget. Baru kali ini Baskara mendatanginya tanpa janjian karena pekerjaan.
"Begini, aku mau bicara soal lain. Bukan soal proyek kita," ucap Baskara memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.
"Ooh..... Tentang apa?" Jani mulai menatap Baskara dengan mode serius.
"Aku mau bertanya soal keberadaan Rhea."
Haaa? Rhea? Ngga salah? batin Rani kaget. Perasaan Jani jadi ngga enak.
"Aku udah nanya ke Talisha soal Rhea. Tapi kata Talisha , dia ngga tau. Aku pikir kamu pasti tau, karena kamu lebih dekat dengan Rhea, kan?"
Jani menghela nafas panjang. Jangan jangan selama ini yang dia pikirkan benar. Talisha sudah salah paham karena selama ini yang disukai Baskara itu Rhea.
"Saya juga ngga tau, Pak Baskara. Nomernya ngga aktif, sosmednya juga. Rhea juga belum memberi kabar pada saya."
Baskara melebarkan senyumnya lagi.
"Ngga usah terlalu formal, Jani."
Dada Jani berdesir juga mendengar namanya disebut tanpa embel embel Ibu.
"Eh, i iya, kak."
Baskara menghembuskan nafas panjang.
"Rhea kemana, ya?" gumamnya agak khawatir. Tapi Jani bisa mendengarnya.
"Kalo ada kabar soal Rhea, kasih tau, ya. Ada yang mau aku bicarakan dengannya."
"Oh iya, kak."
Kemudian Baskara melirik jam di pergelangan tangannya.
"Aku pulang dulu, ya. Mau meeting sama klien di dekat sini," pamitnya sambil bangkit dari duduknya.
"Eh, iya, kak." Jani juga ikut berdiri.
"Kamu punya nomer kontakku, kan?"
Jani menganggukkan kepalanya. Tentu saja punya. Mereka relasi bisnis.
"Nomor yang ini?" Kemudian Baskara membacakan nomer yang biasa dia gunakan untuk bekerja.
"Iya, Kak."
Baskara mengeluarkan kart namanya.
"Simpan nomor yang ini, ya." Dia mengulurkan kartu namanya yang diterima Jani.
Jani mengangguk lagi.
Baskara tersenyum lagi sebelum membalikkan punggungnya. Berjalan pergi meninggalkan ruangan Jani.
Jani menatap lekat kepergian laki laki yang ditaksir m@ti-m@tian sama Talisha. Bahkan sampai mempermalukan Rhea.
Bagaimana, ya, kalo Talisha tau Baskara ke perusahaannya hanya untuk menanyakan kabar Rhea?
Lagian, kenapa Baskara niat banget nyari Rhea? batinnya sambil menatap kartu nama Yang diberikan mantan kakak kelasnya itu.
Jani jadi mumet sendiri memikirkannya.
*
*
*
Opa Hendy tersenyum melihat kedatangan cucunya. Dia tau Dave ngga akan mengecewakannya.
"Opa udah siapkan pakaian untuk kamu di kamar."
Dave mengangguk.
"Makasih, opa."
"Sama sama. Opa ngga sengaja bertemu dengan kakeknya. Ternyata ada cucunya yang belum menikah juga," cerita Opa Hendy sambil.menjejeri langkah cucunya, Dave, ke kamarnya.
"Oooh....," jawab Dave seadanya.
"Ngga apa, kenalan dulu aja." Opa Hendy menepuk lembut pundak Dave ketika cucunya membuka pintu kamarnya.
"Ya, opa. Masih sempat, kan, kalo aku mandi dulu?" tanya Dave sambil membuka pintunya lebih lebar.
"Tentu saja masih cukup waktunya." Opa Hendy tersenyum maklum.
*
*
*
Dave mengusap rambut basahnya dengan handuk sambil melihat dirinya dari pantulan cermin.
Dia belum terlalu tua, kan? keluhnya dalam hati.
rrrrtttt rrrrrttttt rrrrrttttt
Dave meraih ponselnya. Baim yang menelpon.
"Sudah siap siap mau pergi?" tanya Baim.
"Sebentar lagi." Dave meraih hair dryernya untuk mengeringkan rambutnya.
"Lagi ngeringin rambut?" tebak Baim ketika mendengar suara dengungan hair dryer.
"Iya."
"Dave, kamu tinggal bilang udah punya pacar sama opa," usul Baim yang merasa kasian. Teringat nasibnya dulu sebelum ketemu hilalnya.
"Siapa pacarku?" Dave sudah tau jawaban.yang akan Baim berikan.
"Rhea aja." Kemudian terdengar tawa Baim.
Hemm.... Sesuai tebakannya.
"Udah, ya, telponnya."
"Oke, oke," jawab Baim mengerti.
Setelah Baim memutuskan komunikasi via ponsel, Dave menghela nafas.
Kenapa dia harus mengaku Rhea pacarnya, dengus Dave dalam hati.
Reflek dia melihat tangan nakalnya yang baru saja menOffkan hair dryernya.
Kalo iseng, kenapa dia masih ingat rasanya.
Dave menggusar kasar rambutnya yang belum sepenuhnya kering.
*
*
*
Dave akhirnya pergi bersama opanya ke restoran yang berada di sebuah hotel mewah. Ternyata Opa dan gadis itu sudah datang lebih dulu.
"Maaf, aku terlambat." Opa Hendy jadi merasa ngga enak hati.
"Tidak apa apa. Kami juga baru saja datang." Sahabat opanya, Heri, tersenyum ramah, seolah tidak masalah.
Dave menyalim tangan sahabat opanya. Begitu juga gadis itu yang menyalim opanya juga..
"Dave, ya. Udah lama sekali opa ngga melihat kamu," ucap Opa Heri dengan hangat.
Dave tersenyum santun.
"Kenalkan ini cucu opa. Namanya Talisha."
Dave mengulurkan tangannya yang dijabat Talisha dengan pipi merona.
"Dave."
"Talisha."
Talisha mengagumi perawakan tegap dan wajah tampan Dave. Ngga kalah dari Baskara. Bahkan Dave lebih keren dari Baskara, karena ada unsur bule bulenya.
Untung saja Opanya tadi memaksanya untuk bertemu Dave. Dia memang sempat menolak perjodohan ini karena ngga mau mengkhianati Baskara. Tapi melihat calon suami seganteng ini, keraguannya jadi hilang.
Oke, kalo Baskara nanti menolaknya, dia masih punya cadangan yang lebih segala galanya dari Baskara.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk