NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cakrawala

Dua Wajah Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Dinding Kaca

Senin malam itu, Aruna tidak bisa memejamkan mata dengan mudah. Kamarnya yang biasanya terasa seperti tempat paling aman untuk belajar, kini terasa sempit oleh pikiran-pikiran yang saling bertabrakan.

Ia menatap langit-langit kamar, membayangkan kembali momen di perbukitan tadi sore. Getaran saat Aska menatapnya, aroma angin senja, dan cara cowok itu menghargai impian "konyol"-nya tentang hutan pedalaman benar-benar mengusik logikanya.

Di atas meja, ponselnya terus berkedip. Ada tiga pesan baru dari Adrian. Aruna menghela napas, lalu memberanikan diri membukanya.

**Adrian:** *Na, tadi aku ke rumah kamu tapi kata Ibu kamu belum pulang. Aku khawatir karena HP kamu nggak aktif.*

**Adrian:** *Besok hasil simulasi keluar. Aku sudah minta tolong Pak Heru buat kasih bocoran sedikit, katanya nilai kita memuaskan. Kita harus rayain ini, Na.*

**Adrian:** *Oh iya, aku lihat kamu pulang bareng Askara tadi sore. Aku harap itu cuma urusan mendesak. Dia bukan lingkungan yang baik buat kamu, Na. Tolong dipikirkan lagi.*

Aruna meletakkan ponselnya dengan kasar. Kalimat terakhir Adrian terasa seperti sebuah tamparan. "Bukan lingkungan yang baik?" Aruna merasa darahnya sedikit mendidih. Selama ini, Adrian selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya, seolah-olah Aruna adalah proyek sains yang harus ia kendalikan agar hasilnya sempurna.

---

Selasa pagi di SMA Cakrawala Bangsa dimulai dengan desas-desus hasil simulasi. Papan pengumuman di dekat lobi sudah dikerumuni banyak siswa. Aruna berjalan perlahan, namun langkahnya terhenti saat ia melihat Adrian berdiri di sana, menunggunya dengan senyum lebar yang terlihat sangat puas.

"Na! Lihat!" Adrian menarik tangan Aruna menuju papan pengumuman.

Di urutan pertama, tertera nama **Adrian Pramudya** dengan nilai hampir sempurna. Dan tepat di bawahnya, di urutan kedua, adalah **Aruna Aradhana**. Selisih mereka hanya terpaut tiga poin.

"Kita berhasil, Na! Peringkat satu dan dua nasional untuk simulasi kali ini. Prediksi aku nggak meleset," ucap Adrian penuh kebanggaan. Ia tampak ingin memeluk Aruna, namun Aruna hanya memberikan senyum formal.

"Selamat, Kak," jawab Aruna singkat.

"Kok cuma 'selamat'? Kamu nggak senang? Kita bakal jadi sorotan utama di olimpiade nanti," Adrian tampak bingung dengan reaksi dingin Aruna.

"Aku senang, Kak. Tapi aku nggak kaget. Karena selama ini kita emang cuma hidup buat angka-angka ini, kan?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Aruna.

Adrian terdiam, wajahnya berubah kaku. "Maksud kamu apa? Kita kerja keras buat ini, Na. Aku jagain kamu, aku kasih kamu materi tambahan, itu semua buat masa depan kamu juga."

"Tapi Kakak nggak pernah tanya apa aku bahagia atau enggak," balas Aruna, suaranya mulai bergetar. "Kakak terlalu sibuk bikin aku jadi 'partner yang sepadan', sampai Kakak lupa kalau aku punya batas."

Belum sempat Adrian membalas, suara tawa yang sangat dikenal Aruna terdengar dari arah koridor. Aska berjalan santai bersama teman-temannya. Saat melihat Aruna dan Adrian sedang berkonfrontasi di depan papan pengumuman, Aska berhenti sejenak.

"Wah, lagi ngerayain angka-angka keramat ya?" sindir Aska sambil melirik ke papan pengumuman. Ia melihat nama Aruna di urutan kedua. "Hebat juga lu, Anak Pintar. Tetep jadi nomor dua di bawah ketiak si Pangeran."

"Jaga mulut kamu, Askara!" bentak Adrian, emosinya yang tertahan sejak tadi malam akhirnya meledak. "Aruna itu butuh fokus, bukan gangguan dari orang kayak kamu yang kerjanya cuma bikin motor berisik dan bolos sekolah!"

Aska tidak marah. Ia justru melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Adrian. "Gue mungkin bikin motor berisik, tapi gue nggak pernah bikin dia nangis karena stres. Lu pinter, tapi lu buta. Lu nggak liat kalau dia itu manusia, bukan kalkulator."

"Sudah! Cukup!" Aruna berteriak, membuat perhatian seluruh siswa di lobi tertuju pada mereka. Aruna menatap Adrian dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu beralih menatap Aska. "Gue mau ke kelas. Sendiri."

Aruna berlari meninggalkan lobi, mengabaikan panggilan Adrian. Ia terus berlari menuju atap sekolah—satu-satunya tempat yang biasanya sepi saat jam pelajaran dimulai.

---

Aruna duduk di pinggir atap, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya. Ia menangis pelan, melepaskan semua sesak yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Ia merasa terjepit di antara dua dunia yang sama-sama kuat menariknya. Dunia Adrian yang memberinya kepastian tapi mencekik, dan dunia Aska yang memberinya napas tapi penuh dengan ketidakpastian.

Pintu atap terbuka perlahan. Aruna tidak menoleh, ia tahu siapa yang datang. Langkah kakinya berat namun mantap.

"Gue tau lu pasti ke sini," suara Aska terdengar dari belakangnya.

Aska duduk di samping Aruna, memberikan jarak yang cukup agar Aruna tidak merasa terganggu. Ia tidak memberikan tisu, tidak juga memberikan kata-kata manis. Ia hanya diam, menemani Aruna dalam keheningan selama beberapa menit.

"Si Pangeran bener-bener bikin lu meledak ya?" tanya Aska akhirnya.

Aruna menyeka air matanya dengan kasar. "Dia nggak jahat, Ka. Itu yang bikin gue susah. Dia mau yang terbaik buat gue, tapi cara dia... cara dia bikin gue ngerasa nggak punya harga diri di luar nilai akademik."

Aska menyandarkan kepalanya ke dinding pagar atap. "Lu punya harga diri yang jauh lebih besar dari itu, Na. Masalahnya, lu belum berani buat bilang 'tidak' sama hal-hal yang bikin lu sakit. Lu terlalu takut jadi orang jahat di cerita orang lain, sampai lu jadi orang jahat buat diri lu sendiri."

Aruna menoleh, menatap profil samping wajah Aska. "Lu pernah ngerasa takut nggak, Ka? Takut masa depan lu berantakan karena lu nggak ikutin aturan?"

Aska tertawa kecil. "Tiap hari, Na. Tapi gue lebih takut kalau masa depan gue rapi tapi gue nggak kenal siapa orang yang ada di cermin. Gue lebih milih berantakan tapi itu pilihan gue sendiri."

Aruna terdiam, meresapi kata-kata itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia selalu hidup dalam ketakutan. Takut mengecewakan, takut gagal, takut tidak dianggap. Dan Aska adalah orang pertama yang menunjukkan bahwa ketakutan itu bisa dihadapi dengan kejujuran.

"Ka, kalau nanti gue milih buat ambil penelitian hutan pedalaman dan bukan kedokteran... menurut lu gue gila?"

Aska menatap Aruna dalam-dalam, lalu ia mengulurkan tangannya, mengacak rambut Aruna dengan lembut—kali ini jauh lebih lama dari biasanya. "Kalau lu gila, berarti gue orang pertama yang bakal nganterin lu ke hutan itu pake motor gue. Kita cari tanaman obat sampe ke ujung dunia kalau perlu."

Aruna tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa beban di pundaknya benar-benar hilang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Adrian, atau bagaimana reaksi orang tuanya nanti. Tapi saat ini, berdiri di atas atap sekolah bersama cowok urakan yang memahami jiwanya lebih baik dari siapa pun, Aruna merasa ia siap menghadapi badai apa pun.

"Makasih, Ka. Beneran."

"Berhenti bilang makasih, atau gue dorong lu dari sini," canda Aska sambil berdiri dan menjulurkan tangannya untuk membantu Aruna bangun.

Saat Aruna menyambut tangan Aska, ia merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai. Bukan lagi tentang angka di papan pengumuman, tapi tentang perjalanan menemukan siapa sebenarnya Aruna Aradhana.

---

1
Eti Alifa
bacanya merinding thor....nano2 jg.
Alex
😭😭😭😭
nyesek didada rasanya
Alex
bawangnya terlalu banyak thor😭😭
lanjut thor
minttea_: hehehe, siappp tetep terus dukung author dan baca ceritanya ya😍
total 1 replies
Eti Alifa
bagus bngt ceritanya, sumpah authornya jenius.
👍🏻
minttea_: wow, makasih banyak kak💐✨
total 1 replies
Eti Alifa
asli ceritanya bagus banget👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!