Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Penyelamat Tak Terduga
Udara pantai utara Jakarta pada jam dua dini hari terasa seperti pisau es yang menyayat kulit telanjang.
Aku duduk berlutut di atas hamparan pasir kasar yang bercampur kerikil tajam dan cangkang kerang pecah. Seluruh tubuhku menggigil hebat tak terkendali. Pakaianku basah kuyup, menempel ketat di kulitku, membawa beban ekstra berupa lumpur got berwarna hitam pekat yang berbau amonia, bangkai, dan karat.
Namun, rasa dingin yang membekukan darahku saat ini sama sekali bukan berasal dari angin laut. Rasa dingin itu memancar langsung dari layar ponsel retak yang tergeletak di atas pasir di depanku.
Cahaya putih dari layar kecil itu menerangi wajahku yang berlumuran jelaga, menampilkan deretan huruf tebal berwarna merah yang merobek kewarasanku.
...Detektif Elara Salim, putri dari CEO Vanguard Group, diduga kuat tewas dibakar hidup-hidup di dalam Gudang 14...
Aku menatap kata-kata itu berulang kali, berharap rentetan kalimat itu akan berubah jika aku cukup lama memelototinya. Tapi huruf-huruf itu tetap diam. Kebohongan yang dicetak tebal itu tidak bergeser sedikit pun.
Darmawan Salim. Pria yang membiayai sekolahku, pria yang selalu membelai rambutku saat aku masih kecil, pria yang kuanggap sebagai pahlawan penyelamat hidupku dari panti asuhan... baru saja mengumumkan kematianku ke seluruh penjuru negeri, bahkan sebelum api di gudang sana benar-benar padam.
Perutku melilit hebat. Rasa mual yang sangat pekat, campuran dari air limbah yang tak sengaja tertelan dan syok psikologis, menghantam kerongkonganku. Aku memalingkan wajah, terbatuk keras hingga memuntahkan cairan asam ke atas pasir basah.
Dadaku naik turun dengan brutal, berebut menghirup udara malam. Air mata panas mengalir deras membasahi pipiku, membersihkan sebagian lumpur hitam di wajahku, menetes jatuh menyatu dengan air laut.
Aku menangisi kematianku sendiri.
Mulai detik ini, aku tidak lagi memiliki kehidupan. Rekening bankku akan dibekukan besok pagi. Kartu identitasku akan dicabut. Apartemenku akan digaris polisi. Inspektur Bramantyo dan rekan-rekanku di divisi pembunuhan pasti sedang meratapi mayat hangus salah satu pembunuh bayaran di dalam gudang sana, mengira bahwa tulang belulang itu adalah milikku.
Darmawan telah menghapus eksistensiku dengan satu jentikan jari yang mematikan. Ia menjadikanku martir palsu untuk menutupi jejak konspirasinya, dan di saat yang sama, ia menggunakan "kematianku" sebagai bahan bakar untuk memicu kemarahan seluruh institusi kepolisian agar memburu sang Joker.
Sebuah tepukan pelan dan berat mendarat di bahu kiriku.
Aku tersentak pelan, mendongak.
Arlan berdiri menjulang di sebelahku. Mantel hitam panjangnya sobek di bagian bawah akibat percikan api, dan kainnya terlihat sangat berat oleh resapan air got. Wajahnya yang tanpa topeng terlihat sangat pucat di bawah cahaya bulan yang terhalang mendung. Ada memar ungu kehitaman yang menjalar dari leher hingga ke bawah kerah kemejanya. Luka sayatan di tulang pipinya sudah berhenti berdarah, namun tepiannya mulai membengkak merah.
Ia terlihat sama hancurnya denganku. Sama-sama terbuang. Sama-sama menjadi korban dari pria yang sama.
Arlan membungkuk, mengambil ponsel prabayar yang layarnya retak itu dari atas pasir. Ia menekan tombol daya hingga layarnya mati total, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia melemparkan ponsel itu jauh ke arah laut. Ponsel itu tenggelam ditelan ombak yang gelap.
"Kau tidak bisa kembali ke apartemenmu, El," suara Arlan memecah deburan ombak. Suaranya serak dan parau, terdengar seperti seseorang yang tenggorokannya dilapisi amplas kasar akibat terlalu banyak menghirup asap pembakaran.
Aku menatap kosong ke arah laut lepas. "Ke mana lagi aku harus pergi? Seluruh duniaku ada di kota ini. Pekerjaanku... teman-temanku..."
"Teman-temanmu di kepolisian kini berada di bawah kendali narasi Darmawan. Jika kau muncul di markas besok pagi dengan keadaan hidup, ayahmu tidak akan memelukmu sambil menangis bahagia," Arlan berlutut di depanku, menyamakan tinggi wajah kami. Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap lurus ke mataku, menuntut fokus penuh dariku. "Dia akan tahu bahwa kau selamat. Dan dia akan memastikan bahwa 'kematianmu' malam ini bukanlah sebuah kesalahan pelaporan, melainkan sebuah penundaan."
Tubuhku kembali bergetar. Bukan karena dingin, melainkan karena kengerian dari kebenaran kata-katanya.
"Dia akan mengirim orang untuk benar-benar membunuhku," bisikku pelan, kalimat itu terasa seperti pecahan kaca di lidahku.
Arlan mengangguk lambat. "Satu-satunya alasan kau masih bisa bernapas saat ini adalah karena Darmawan Salim mengira kau sudah hangus menjadi abu. Kematian palsumu adalah perisai terbaik yang kau miliki saat ini, Elara. Kau harus tetap menjadi hantu."
Aku menundukkan kepala, memeluk kedua lututku yang kotor oleh lumpur. Lencana kepolisian berbahan kuningan yang masih tersimpan di saku dalam jaketku kini terasa sangat berat, seolah benda itu adalah bongkahan timah yang menarikku tenggelam ke dasar laut.
Aku telah mendedikasikan seluruh masa dewasaku untuk lencana itu. Aku memotong rambutku, belajar menembak hingga tanganku kapalan, tidur di kursi kantor demi mengejar pembunuh, semua itu untuk membuktikan bahwa aku tidak hanya menumpang nama besar keluarga Salim.
Dan sekarang, lencana itu tidak lebih dari sekadar suvenir rongsokan. Hukum yang kupercaya ternyata hanyalah ilusi yang dirancang oleh orang-orang kaya untuk menghukum orang-orang miskin.
Lalu, mataku beralih menatap tangan Arlan yang sedang bertumpu di atas lututnya.
Buku-buku jarinya memar biru dan lecet berdarah. Kulit di pergelangan tangannya memerah akibat luka bakar ringan saat ia menahan balok kayu yang runtuh di dalam gorong-gorong tadi.
Pikiranku berputar kencang, mencoba menyatukan dua keping gambar yang saling bertolak belakang.
Di kepalaku, aku memiliki gambaran sang Joker. Pembunuh berdarah dingin yang meracuni Handoko Salim tanpa berkedip. Psikopat manipulatif yang menyudutkan Hakim Setiawan hingga orang tua itu memecahkan kepalanya sendiri. Dalang teror yang membakar truk-truk senjata Jenderal Sudiro sambil mendengarkan musik klasik.
Itu adalah monster yang diciptakan untuk membalas dendam. Pria yang seharusnya tidak memiliki belas kasihan.
Namun, pria yang duduk di depanku saat ini... pria yang napasnya masih tersengal menahan rasa sakit... melakukan hal yang sangat berlawanan dengan sifat seorang monster.
Saat pintu gudang dikunci dari luar dan api bensin mulai menjilat langit-langit, Arlan memiliki senjata serbu di tangannya. Ia bisa saja menggunakan peluru terakhirnya untuk mengakhiri penderitaannya sendiri dengan cepat agar tidak mati terbakar. Atau, ia bisa saja mendorongku ke arah api untuk membuka jalan keluar bagi dirinya sendiri. Itulah yang akan dilakukan oleh seorang penjahat bertahan hidup.
Tapi Arlan tidak melakukan itu.
Ia membuang senjatanya. Ia menggunakan seluruh sisa tenaganya, membongkar jeruji besi karatan yang menyatu dengan beton menggunakan sebatang pipa, merobek otot bahunya sendiri, hanya untuk membukakan jalan keluar untukku. Ia melingkarkan tubuhnya di atasku saat reruntuhan atap berjatuhan di dalam got yang gelap. Ia menempatkan nyawaku di atas nyawanya.
Mengapa?
Jika aku adalah anak dari pria yang membakar orang tuanya, tidakkah seharusnya nyawaku adalah bayaran yang pantas untuk darah ibunya? Mengapa ia merusak rencana balas dendamnya yang sempurna hanya untuk seorang detektif yang memburunya?
"Ayo," Arlan berdiri dengan gerakan yang sedikit kaku, menahan ringisan nyeri saat ia meluruskan punggungnya. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arahku. Tangan yang hangat dan kokoh, mengabaikan kotornya lumpur yang menempel di sarung tangannya. "Kita tidak bisa diam di sini sampai pagi. Patroli laut akan segera menyisir area sekitar pabrik untuk mencari bukti."
Aku menatap uluran tangan itu.
Sepuluh jam yang lalu, jika pria ini mengulurkan tangannya padaku, aku akan langsung memborgol pergelangannya dan membacakan hak-hak Miranda. Aku akan menyeretnya ke ruang interogasi dan memastikan ia membusuk di penjara dengan pakaian tahanan warna oranye.
Tapi dunia sepuluh jam yang lalu adalah dunia kebohongan. Dunia di mana aku adalah polisi yang membela sistem yang membunuh ayah kandungku sendiri.
Perlahan, aku mengangkat tanganku yang gemetar, dan menyambut uluran tangannya.
Genggaman Arlan terasa sangat kuat. Ia menarikku berdiri dengan mudah, seolah berat badanku bukanlah apa-apa baginya. Saat tubuhku kembali tegak, kepalaku sedikit berputar karena kelelahan, dan aku tanpa sadar oleng ke depan.
Arlan menangkap bahuku dengan cepat, menstabilkan tubuhku. Aroma asap thermite, darah, dan wangi maskulin sandalwood yang samar langsung menyergap indra penciumanku, membawaku kembali pada memori saat kami berpelukan di apartemennya.
"Kau bisa jalan?" tanyanya pelan. Matanya menyapu wajahku dengan kilatan kekhawatiran yang tidak bisa dipalsukan.
"Aku bisa," jawabku parau, menarik diri sedikit mundur agar kakiku bisa menapak dengan benar.
"Mobilku kusembunyikan di semak-semak dekat rawa, sekitar setengah kilometer dari sini. Jalan masuknya tidak terpantau CCTV pabrik," ucap Arlan, memutar tubuhnya dan mulai berjalan tertatih membelah angin malam, membelakangi arah kepulan asap Gudang 14. "Aku punya satu pangkalan operasi darurat di kawasan Kota Tua. Tempat itu menggunakan nama kepemilikan anonim dan tidak terkoneksi dengan jaringan utama yang diretas Vanguard. Kau bisa bersembunyi di sana sementara waktu."
Aku melangkah mengikutinya dalam diam. Sol sepatu botku yang berat oleh air berbunyi berdebam di atas pasir basah.
Sambil berjalan di belakangnya, mataku tak lepas dari punggung lebar pria itu. Punggung yang terbungkus mantel hitam basah itu tampak sedikit membungkuk, menanggung beban rasa sakit fisik dan penderitaan masa lalu yang tak terlihat.
Media nasional besok pagi akan mencetak wajahnya dari sketsa kepolisian di setiap sudut kota. Para pembawa acara berita akan mengutuk namanya. Pasukan khusus bersenjata laras panjang akan dikerahkan untuk memburu kepalanya dengan perintah tembak di tempat. Seluruh negeri akan menyebutnya sebagai iblis.
Tapi mereka tidak ada di sini malam ini. Mereka tidak melihat bagaimana iblis ini mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menarik seorang polisi keluar dari kobaran api. Mereka tidak melihat bagaimana pria yang dituduh tidak memiliki hati ini, menangis dalam diam karena tidak bisa menyelamatkan keluarganya sendiri sepuluh tahun yang lalu.
Langkahku perlahan melambat, sementara otakku terus berputar keras seperti mesin yang kelebihan muatan.
Ayahku, Darmawan Salim, adalah pria yang dihormati di masyarakat. Ia memberikan sumbangan miliaran rupiah ke panti asuhan, membiayai pembangunan rumah sakit, dan selalu duduk di barisan depan acara amal dengan setelan jas rapi dan senyum kebapakan.
Namun di balik senyum itu, Darmawan menandatangani surat pembunuhan. Ia memutus rem mobil keluarga yang tak bersalah. Ia memerintahkan eksekusi terhadap ayah angkatku yang jujur. Dan malam ini, ia mencoba memanggangku hidup-hidup tanpa sedikit pun keraguan, hanya demi mempertahankan kekuasaannya.
Darmawan Salim adalah monster yang berpura-pura menjadi manusia.
Sementara Arlan... pria yang menciptakan persona Joker untuk menebar teror, pria yang meracun musuhnya dan menghancurkan institusi dengan senyuman gila di balik topeng... baru saja membuktikan bahwa ia rela mati demi melindungi seseorang.
Arlan Wiratama adalah manusia yang terpaksa berpura-pura menjadi monster.
Kenyataan ini menghantamku dengan kekuatan yang melumpuhkan. Batas antara keadilan dan kejahatan, antara hukum dan kriminalitas, telah hancur lebur menjadi abu di dalam kepalaku. Hitam dan putih tidak lagi ada. Yang tersisa hanyalah lautan warna abu-abu yang pekat oleh jelaga dan darah.
Aku berhenti melangkah. Berdiri diam di tengah hembusan angin laut yang membekukan tulang.
Arlan menyadari langkahku yang terhenti. Ia ikut berhenti sekitar lima meter di depanku. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatapku dari balik kegelapan dengan kening berkerut.
"Elara? Ada apa? Kakimu terluka?" tanyanya, suaranya terdengar waspada, bersiap untuk kembali menghampiriku.
Aku menggeleng pelan, membiarkan rambut lepekku menutupi sebagian pandanganku.
"Kenapa, Arlan?" suaraku pecah, terlontar mengalahkan suara deburan ombak. Pertanyaan yang sedari tadi menyumbat kerongkonganku akhirnya meledak keluar.
Arlan terdiam. Ia tidak menjawab, hanya menunggu kelanjutan kalimatku dengan napas yang sedikit memburu.
"Kenapa kau melakukannya?" aku melangkah maju dua langkah, meremas kedua sisi jaket kulitku dengan putus asa. "Darmawan membunuh orang tuamu. Dia menghancurkan masa mudamu. Dia membuatmu hidup seperti binatang buruan di jalanan. Dan aku... aku adalah anak yang dibesarkan oleh uangnya. Aku memakai lencana institusi yang melindungi pembunuh keluargamu."
Aku menelan cairan pahit yang menggenang di mulutku.
"Tidakkah seharusnya kematianku di gudang tadi menjadi pembalasan dendam yang paling sempurna untukmu?" teriakku, air mata kembali mengalir deras, merobek sisa-sisa pertahananku. "Kau bisa membiarkanku terbakar! Kau bisa saja menggunakan kematianku untuk menghancurkan Darmawan dari dalam! Itu adalah taktik yang selalu kau gunakan! Kenapa kau merusak rencanamu sendiri malam ini?!"
Hujan mulai kembali turun dengan rintik yang lebih besar, memukul bahu dan kepala kami.
Arlan berdiri mematung di depanku. Hujan membasahi wajahnya, namun aku bisa melihat sorot matanya yang tidak pernah berkedip menatapku.
"Karena balas dendamku adalah untuk menghukum monster, Elara," jawab Arlan. Suaranya tidak lagi terdengar seperti sang Joker yang mengancam, melainkan terdengar seperti bisikan seorang pria yang jiwanya telah terkoyak. "Bukan untuk menjadi monster itu sendiri."
Kata-katanya begitu sederhana, namun menghancurkan setiap argumen logika yang kubangun.
"Dan jika aku membiarkan api itu menyentuhmu malam ini..." Arlan melangkah pelan mendekatiku, berhenti tepat satu jengkal di hadapanku. Ia menundukkan wajahnya, menatap lurus ke kedalaman pupil mataku. "...maka aku tidak ada bedanya dengan pria-pria yang berdiri di atas tebing sepuluh tahun lalu, menonton ibuku terbakar hidup-hidup."
Napas di dadaku seolah ditarik paksa keluar.
Ia tidak melihatku sebagai polisi. Ia tidak melihatku sebagai anak Darmawan. Di dalam gudang tadi, ia melihatku sebagai dirinya di masa lalu. Ia melihat seseorang yang tidak berdaya, dijebak oleh kebohongan pria yang sama, dan sedang menunggu kematian yang tidak adil.
Ia menyelamatkanku untuk menyelamatkan sisa-sisa jiwa kemanusiaannya sendiri.
Arlan tidak mengucapkan apa-apa lagi. Ia memutar tubuhnya dan kembali berjalan tertatih menuju arah rawa-rawa yang gelap, meninggalkanku yang masih berdiri mematung di atas pasir basah.
Aku menatap punggungnya yang perlahan menjauh, ditelan oleh bayang-bayang pepohonan liar dan rintik hujan.
Hukum di negara ini mungkin telah melabelinya sebagai musuh nomor satu. Ayahku mungkin telah meyakinkan seluruh dunia bahwa pria itu adalah iblis inkarnasi. Dan secara teknis, lencanaku menuntutku untuk menarik senjataku dan membunuhnya di tempat.
Tapi saat aku menekan telapak tanganku ke dada kiriku yang berdebar kencang, aku tahu satu kebenaran absolut yang tidak bisa dibantah oleh ruang sidang mana pun di dunia ini.
Pria bertopeng badut itu tidak mencabut nyawaku malam ini. Ia mengembalikannya.
Dan di tengah kesunyian pantai yang membeku ini, sebuah pertanyaan berdengung nyaring di dalam kepalaku, menuntut sebuah jawaban yang mungkin akan mengubah takdir kami berdua selamanya.
Kenapa Joker menyelamatkanku?