NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Yang Tumbuh Tanpa Suara

Pukul 05.23.

Tidak ada yang berubah.

Tidak ada yang terlihat salah.

Cahaya pagi tetap masuk lewat jendela.

Angin pelan.

Suara burung.

Semua… normal.

Terlalu normal.

Dan justru itu yang membuat

Kinasih tidak tenang.

Ia masih berdiri di depan cermin.

Tidak bergerak.

Tidak berkedip.

Seperti takut…

kalau ia lengah sedikit saja—

sesuatu akan muncul lagi.

Pantulannya diam.

Sempurna.

Mengikuti.

Tidak terlambat lagi.

Tidak tersenyum sendiri.

Tidak bicara.

Seolah semua yang tadi…

tidak pernah terjadi.

Namun—

Kinasih tahu.

Ia tidak salah lihat.

Retakan itu ada.

Kabut itu keluar.

Dan sesuatu—

sudah lepas.

“Kamu masih di sini…”

bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban.

Namun—

itu tidak berarti kosong.

Kadang—

yang paling berbahaya…

justru yang tidak menjawab.

Kinasih perlahan menjauh dari cermin.

Langkahnya hati-hati.

Seperti berjalan di tempat yang bisa runtuh kapan saja.

Ia keluar kamar.

Lorong itu sunyi.

Terang.

Bersih.

Tidak ada dinding berdenyut.

Tidak ada suara dari dalam.

Tidak ada tangan.

Tidak ada apa-apa.

Namun—

bau itu masih ada.

Sangat tipis.

Hampir tidak terasa.

Namun—

cukup untuk dikenali.

Bau tanah basah.

Kinasih berhenti.

Menarik napas.

Dan—

ia yakin.

Bau itu…

tidak berasal dari luar.

Melainkan dari dalam rumah.

Atau—

lebih dalam lagi.

Ia berjalan pelan.

Menuju ruang tamu.

Langkahnya ringan.

Namun—

setiap langkah terasa diawasi.

Seperti lantai itu…

tahu.

Seperti dinding itu…

melihat.

Ia sampai di ruang tamu.

Televisi mati.

Sofa rapi.

Meja bersih.

Semua kembali seperti dulu.

Namun—

di lantai…

ada sesuatu.

Kinasih membeku.

Satu titik.

Kecil.

Hitam.

Seperti noda.

Ia mendekat.

Perlahan.

Dan—

berjongkok.

Menatapnya.

Itu bukan noda.

Itu—

lubang.

Sangat kecil.

Seukuran ujung jari.

Namun—

gelap.

Dalam.

Seperti tidak punya dasar.

Kinasih menahan napas.

“Ini…”

bisiknya.

Ia mengulurkan jari.

Pelan.

Sangat pelan.

Dan saat ujung jarinya hampir menyentuh—

sesuatu bergerak.

Cepat.

Dari dalam lubang itu.

Seperti ditarik.

Kinasih langsung menarik tangannya.

Jantungnya berdebar.

“Tidak…”

Ia mundur.

Namun—

lubang itu tidak menutup.

Justru—

melebar.

Sedikit.

Hampir tidak terlihat.

Namun—

cukup.

Dan dari dalamnya—

suara.

Bukan suara jelas.

Lebih seperti…

gesekan.

Seperti sesuatu…

bergerak.

“Dia tumbuh…”

Suara itu muncul.

Namun—

bukan dari luar.

Dari dalam kepala Kinasih.

Sangat pelan.

Hampir seperti ingatan.

Ia membeku.

Karena—

itu suara.

Setelah semua sunyi—

suara itu kembali.

Namun—

tidak sama.

Lebih kecil.

Lebih dalam.

Lebih… dekat.

“Kamu masih di sana…”

bisik Kinasih.

Sunyi.

Lalu—

jawaban itu datang.

Sangat pelan.

Namun—

cukup jelas.

“Aku…”

“…bukan yang dulu.”

Kinasih menelan ludah.

“Lalu kamu siapa…”

Lubang itu bergerak lagi.

Sedikit.

Dan—

dari dalamnya—

sesuatu muncul.

Tidak keluar sepenuhnya.

Hanya…

menyentuh permukaan.

Seperti bayangan yang mencoba bentuk.

“Aku…”

“…yang tertinggal.”

Kinasih gemetar.

Tangannya dingin.

Karena—

ia sadar.

Ini bukan makhluk besar.

Bukan yang dulu.

Ini—

sisa.

Namun—

justru itu yang membuatnya berbahaya.

Karena—

tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang siap.

“Kamu nggak bisa keluar…”

bisiknya.

Mencoba meyakinkan diri sendiri.

Lubang itu diam.

Beberapa detik.

Lalu—

suara itu tertawa kecil.

Sangat pelan.

Namun—

menusuk.

“Siapa bilang…”

Sekejap—

lampu di ruang tamu berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu—

normal lagi.

Namun—

bayangan di lantai berubah.

Lebih panjang.

Lebih gelap.

Dan—

bergerak.

Kinasih menatapnya.

Tidak bergerak.

Bayangan itu tidak mengikuti arah cahaya.

Tidak mengikuti tubuhnya.

Ia bergerak sendiri.

Pelan.

Menuju lubang itu.

Dan—

menyentuhnya.

Saat itu—

lubang itu berdenyut.

Seperti jantung.

DUM…

Satu kali.

Dan—

bayangan itu…

ditarik masuk.

Hilang.

Lenyap.

Kinasih menjerit.

Ia mundur.

Menabrak meja.

Namun—

tidak bisa lari.

Karena—

sesuatu berubah.

Ruangan itu—

tidak lagi terasa sama.

Masih terlihat normal.

Namun—

rasanya berbeda.

Lebih padat.

Lebih sempit.

Lebih… hidup.

“Kamu lihat?”

bisik suara itu.

“…aku tidak perlu besar.”

Kinasih menggeleng.

“Berhenti…”

Namun—

suara itu tidak berhenti.

“Yang kecil…”

“…lebih mudah masuk.”

Sekejap—

ia merasakan sesuatu.

Di kakinya.

Dingin.

Sangat dingin.

Ia menunduk.

Dan—

membeku.

Karena—

di bawah kakinya—

ada bayangan lain.

Tidak miliknya.

Dan bayangan itu…

tidak diam.

Ia merambat.

Naik.

Pelan.

Sangat pelan.

Namun—

pasti.

Kinasih mencoba mundur.

Namun—

tidak bisa.

Kakinya terasa berat.

Seperti tertanam.

“Jangan…”

Ia berusaha mengangkat kaki.

Namun—

bayangan itu sudah menyentuh kulitnya.

Dan saat itu—

ia merasakannya.

Bukan sentuhan biasa.

Namun—

masuk.

Seperti air yang meresap.

Seperti sesuatu…

menemukan jalan.

“AKU BILANG BERHENTI!!!”

Ia menjerit.

Namun—

tidak ada yang mendengar.

Karena—

ini tidak seperti sebelumnya.

Tidak ada suara luar.

Tidak ada makhluk terlihat.

Hanya—

proses.

Pelan.

Diam.

Namun—

tidak bisa dihentikan.

Bayangan itu naik.

Ke betis.

Ke lutut.

Ke paha.

Dan setiap bagian yang disentuh—

terasa dingin.

Lalu—

mati rasa.

“Kamu kosong…”

bisik suara itu.

“…aku isi lagi.”

Kinasih jatuh.

Tubuhnya lemas.

Namun—

matanya masih terbuka.

Masih sadar.

Dan itu—

yang paling menyiksa.

Karena—

ia merasakan semuanya.

Tanpa bisa menghentikan.

“Tidak…”

Air matanya jatuh.

“Udah selesai…”

Namun—

suara itu menjawab.

“Belum…”

“…ini baru mulai yang benar.”

Sekejap—

ia melihat sesuatu.

Bukan di luar.

Namun—

di dalam pikirannya.

Rumah itu.

Namun—

berbeda.

Lebih besar.

Lebih dalam.

Lebih… penuh.

Dan—

di dalamnya—

banyak lubang.

Kecil.

Sangat kecil.

Namun—

banyak.

Dan dari setiap lubang—

sesuatu keluar.

Pelan.

Diam.

Namun—

tidak berhenti.

“Kamu lihat sekarang…”

bisik suara itu.

“…aku tidak sendiri.”

Kinasih menjerit.

Namun—

tidak ada suara yang keluar.

Karena—

mulutnya tidak bergerak.

Tubuhnya—

tidak lagi sepenuhnya miliknya.

Bayangan itu sudah sampai ke dadanya.

Dan—

denyut itu kembali.

Namun—

bukan jantung.

DUM…

Lebih pelan.

Lebih berat.

DUM…

Seperti sesuatu…

bangun lagi.

Dan kali ini—

tidak butuh pintu.

Tidak butuh undangan.

Tidak butuh pilihan.

Karena—

ia sudah di dalam.

Dan—

tidak akan keluar.

Kinasih menatap langit-langit.

Matanya kosong.

Air matanya terus jatuh.

Namun—

tidak ada harapan lagi.

Karena—

ia tahu.

Yang besar bisa ditutup.

Yang jelas bisa dilawan.

Namun—

yang kecil…

yang diam…

yang tumbuh tanpa suara…

tidak bisa dihentikan.

Dan di lantai—

lubang kecil itu masih ada.

Namun—

sekarang tidak sendirian.

Ada satu lagi.

Lalu—

satu lagi.

Dan—

satu lagi.

Muncul.

Pelan.

Tanpa suara.

Tanpa peringatan.

Dan di setiap lubang—

sesuatu bergerak.

Menunggu.

Untuk keluar.

Saat waktu yang tepat.

Dan kali ini—

tidak ada yang akan tahu.

Sampai semuanya…

sudah terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!