Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 My elite lover
Mendengar ceplosan Kevin, Saga langsung menatapnya dengan tatapan tajam nan mematikan. Tatapan itu seolah berkata 'Diam atau gue jahit mulut lo Kevin!'
"Dasar sahabat laknat! Awas aja kalau sampai Rena curiga! Kalau gue sebenernya sangat senang mendengar kabar batalnya pernikahan Rena dan Rendy!" gerutu Saga dalam hati.
Rena yang melihat interaksi keduanya hanya bisa tersenyum kecil dan menahan tawa, pipinya masih terasa hangat akibat sentuhan tangan Saga tadi. Namun, suasana itu tiba-tiba terganggu oleh nada dering ponsel yang berbunyi nyaring dari dalam tas Rena.
Ia segera mengeluarkan ponselnya dan melihat nama pemanggil.
"Eh, Mama ..." gumamnya pelan, lalu segera mengangkat sambungan itu. "Halo, Ma? Iya ... iya, Rena langsung pulang sekarang. Iya, bye."
Rena menutup teleponnya lalu menatap kedua pria tampan di depannya dengan senyum kecil. "Maaf ya Kak-Kak, Rena harus pamit duluan nih."
"Wah, pas banget!" timpal Kevin cepat, matanya berkilat cerdik menangkap kesempatan emas ini. Ia langsung mendekat ke arah Saga dan berbisik cepat agar tak terdengar Rena.
Setelah itu, ia langsung menarik diri dan memasang wajah polosnya seperti biasa siap memainkan perannya.
"Rena, aku duluan ya! Soalnya pacar aku tiba-tiba ngajak makan makan malam dan udah nungguin di depan," bohong Kevin lalu segera berbalik dan sebelum meninggal mereka berdua ia mengedipkan mata nakalnya pada Saga sambil menahan senyum.
Setelah punggung Kevin menghilang dari pandangan suasana mendadak canggung sesaat.
Saga berdehem pelan. "Hm! Kalau gitu ayo!" ujar Saga lembut tangannya terulur meraih tangan Rena dan menggenggam, lalu menariknya pelan supaya mengikuti langkahnya.
Rena yang melihat aksi Saga ya tiba-tiba, sedikit tersentak lalu melirik tangannya yang kini berada di dalam genggaman Saga.
"Eh, aku mau di bawa kemana?" protes Rena tapi tak berusaha melepaskan genggaman tangan Saga yang semakin mengeratkan genggamannya.
"Pulang!" singkat Saga.
"Rena bisa naik taksi kak!"
"Aku antarin!" tegas Saga tanpa ruang bantahan.
"Mimpi apa sih aku semalam, bisa-bisanya aku di gandeng sama Kak Saga!" batin Rena menjerit tak percaya.
Saga melangkah dengan tegas sambil mengimbangi langkah Rena pandangannya lurus kedepan, sambil menahan getaran aneh dalam dadanya.
Begitu sampai di depan sebuah motor sport mewah yang terparkir gagah di area parkir taman. Saga gegas melepaskan tangan Rena lalu meraih hlem dan memakainya di kepalanya, lalu naik keatas motor dan meraih helm satunya lagi yang ada di stang motornya.
"Sini!" seru Saga.
Bak tersihir Rena langsung melangkah mendekat dengan wajah bingungnya.
Saga langsung memasang helm di tangannya ke atas kepala Rena, lalu menunduk sedikit untuk mengancing pengait helm Rena.
Mata Rena masih terpana dengan aksi Saga.
"Kak Saga ternyata sangat tampan, bahkan lebih tampan dari para Oppa-Oppa yang sering aku tonton di drama," gumamnya dalam hati penuh kagum, hingga tanpa sadar ia tersenyum-senyum sendiri.
Saga yang melihat reaksi Rena, iku menarik sudut bibirnya, lalu dengan gemas menoel hidung mancung Rena.
"Kenapa senyum-senyum? Ayo lagi mikirin apa?" goda Saga.
Rena langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh! Enggak siapa yang senyum-senyum sih!" elak Rena dengan pipi merona untungnya ia sudah memakai helm jadi Saga nggak bisa pipinya yang kini sudah merona.
"Ayo jalan! Katanya mau anterin!" tambah Rena mengalihkan pembicaraan lalu gegas naik ke belakang motor Saga tanpa di suruh.
"Lucu banget sih kamu!" batin Saga sambil tersenyum di balik helm full facenya.
"Ya ya! Kita pulang!" sahut Saga akhirnya.
Setelah memastikan Rena duduk dengan nyaman Saga langsung menghidupkan mesin motornya, namun sebelum menjalankan motornya Saga dengan lembut menarik kedua kedua tangan Rena untuk memeluknya. Sehingga tubuh Rena mau tak mau kini menempel dipunggung Saga ya kokoh.
"Nah gini lebih baik, dan Aman!" ujar Saga lalu langsung tancap gas membelah jalanan menuju kediaman sang pujaan hati.
Rena dengan susah payah menetralkan detak jantungnya yang berkerja lebih cepat, dan ia juga bisa merasakan detak jantung Saga yang berdekatak seirama dengannya, meskipun canggung ia tak berusaha melepaskan pelukannya, ia merasa nyaman berada di dekat Saga, sang Kakak kelas yang diam-diam pernah ia kagumi selama satu tahun lamanya.
_______&&_______
Malamnya di dalam kamarnya yang luas dan mewah dengan interior bergaya maskulin, Saga duduk di tepi tempat tidurnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan tak berekspresi, kini tak bisa lagi menyembunyikan senyum lebar yang terukir jelas di bibirnya.
Ia merebahkan tubuhnya ke belakang, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong namun penuh dengan bunga-bunga kebahagiaan. Tangannya tak sadar mengulur-ulur selimut dengan gerakan gemas, sesekali menendang-nendang kasur dengan kaki panjangnya layaknya anak remaja yang baru jadian.
"Terima kasih Ya Allah, atas kesempatan ini!" serunya penuh syukur.
"Sepertinya gue haru beterima kasih secara langsung dengan sama tuh curut! Dengan tololnya dia menyia-nyiakan spek bidadari hanya demi kerikil kali. Tapi dengan begitu gue bisa perjuangin lagi cinta gue sama Rena!" mata Saga berbinar penuh semangat dan sedikit nakal membayangkan kebersamaannya dengan Rena.
BRAKK!
Saga sontak melompat kaget dari posisinya. Ia duduk tegak seolah tersengat listrik, wajahnya yang tadi sumringah kini berubah pucat lalu memerah padam.
Di ambang pintu, berdiri wanita cantik dengan gaun tidur sutra berwarna ungu, tersenyum menggoda sambil melipat tangan di dada. Itu Marissa, ibunya tercinta yang baru saja memergoki aksi langka sang putra yang 'salah tingkah' yang sangat tidak wajar bagi seorang Komandan.
"Mo ... Mommy! Sejak kapan Mommy ada di sana?!" tanya Saga gagap, matanya berkedip-kedip tak tenang, tangannya sibuk merapikan kausnya yang sebenarnya sudah rapi. Jantungnya berdegup kencang karena tersyiduk sama sang Mommy.
"Sialan! Gue kebawa suasana! Mommy pasti denger semua omong kosong gue tadi!"
"Dari tadi dong," jawab Marissa sambil berjalan mendekat dan duduk di tepi kasur, matanya menyipit menatap wajah anaknya yang kini terlihat super canggung. "Loh? Muka kamu kok merah banget? Apa kamu sakit?" tanya Marissa terlihat khawatir, tangannya spontan meraba dahi Saga untuk mengecek suhunya.
"Normal kok, gak panas tapi kok bisa merah gitu?" lanjut Marissa bingung.
"Apaan Sih Mom! Saga gak kenapa-kenapa. Itu cuma ... kepanasan!" elak Saga cepat, memalingkan wajahnya ke samping berusaha mempertahankan gengsinya yang runtuh seketika.
"Masa sih? Dingin kok! Ah atau jangan-jangan Kamu ...!"
"Mommy kesini sebenarnya mau apa? Kalau enggak ada Saga mau istirahat!" potong Saga cepat.
"Kamu ngusir Mommy?" seru Marissa memasang wajah sedihnya.
"Eh, gak gitu maksud Saga Mom!" sahut Saga jadi serba salah, ia dengan cepat merangkul Mommy-nya.
Marissa tersenyum puas karena berhasil mengerjai putranya, ya Saga meskipun terlihat dingin dan datar di luar, ia sangat menyayangi sang ibu.
"Saga, Mommy liat dari tadi kamu senyum-senyum sendiri, nendang-nendang kasur, ngomong sendirian .... apa kamu gak mau berbagi sama Mommy?"
Saga menghela napas panjang, menelan ludah kasar. Untuk pertama kalinya, Komandan Elite yang gagah perkasa ini merasa gugup setengah mati. Ia menatap Mommy-nya dengan tatapan serius.
"Saga ... Saga mencintai seseorang Mom!" jujur Saga akhirnya, suaranya pelan namun tegas.
"Oh ya? Serius?" mata Marissa berbinar antusias. "Siapa gadis hebat yang bisa bikin komandan dingin Mommy ini, jadi salah tingkah brutal seperti ini?"
"Rena!"
"Maksud kamu Renata sahabatnya Sallena?" tanya Marissa memastikan.
"Ya Mom! Apa Mommy setuju!"
Seketika senyum di wajah Marissa lenyap. Cubitan mautpun mendarat sempurna di lengan kekar Saga.
"Aw! Mom! Kok Saga di cubit sih!" keluh Saga sambil mengelus bekas cubitan sang Mommy yang tak main-main.
"Kamu gila ya Saga?! Gak! Mommy gak setuju!" tegas Marissa tegas.
Bersambung ....