NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni Knalpot di Menara Kaca

Malam itu, Jakarta terlihat seperti hamparan permata yang tumpah di atas beludru hitam jika dilihat dari jendela apartemen lantai 50 milik Adrian. Namun, bagi Zeva, kemewahan ini tetap terasa seperti akuarium raksasa. Indah, tapi kedap udara. Ia merindukan bau debu jalanan, suara klakson yang saling bersahutan tanpa aturan, dan teriakan abang tukang bakso yang memukul mangkuk dengan sendok.

​Zeva berdiri di balkon, mengenakan jas hoodie milik Adrian yang kebesaran. Di bawah sana, ia bisa melihat kerlip lampu mobil-mobil yang merayap seperti semut.

​"Masih belum tidur?" Suara berat Adrian muncul dari belakang.

​Zeva menoleh. Adrian berdiri dengan kemeja yang lengannya digulung, memegang dua gelas cokelat panas. Tidak ada kopi hitam pahit malam ini. Sepertinya, pengaruh Zeva mulai merembes ke dalam kebiasaan kafein sang CEO.

​"Gue ngerasa aneh, Adrian," gumam Zeva sambil menerima gelas cokelat itu. "Dua minggu lalu, gue masih mikirin gimana caranya bayar cicilan motor sama beli beras buat Mpok Leha. Sekarang, gue berdiri di sini, minum cokelat mahal, dan pura-pura jadi tunangan lu. Rasanya kayak gue lagi nyolong hidup orang lain."

​Adrian bersandar di pagar balkon, menatap langit yang sama. "Kadang saya juga merasa begitu, Zeva. Saya merasa sedang menjalani hidup yang ditulis oleh kakek saya. Tapi sejak ada kau... hidup ini jadi terasa seperti milik saya sendiri, meskipun sangat berisik."

​"Berisik itu bagus, Adrian. Artinya lu masih hidup," balas Zeva dengan senyum tipis. "Gue cuma takut... gimana kalau nanti kontrak ini selesai? Lu balik jadi robot, dan gue balik jadi gembel jalanan. Apa kita bakal pura-pura nggak kenal kalau ketemu di jalan?"

​Pertanyaan Zeva membuat suasana mendadak hening. Adrian tidak segera menjawab. Pikiran tentang berakhirnya kontrak itu sebenarnya adalah sesuatu yang mulai ia hindari. Tiga bulan terasa terlalu singkat untuk seseorang yang baru saja membawa warna ke dalam dunianya yang hitam putih.

​"Kita tidak akan pura-pura tidak kenal," ujar Adrian akhirnya, suaranya sangat rendah. "Kau sudah merusak mobil saya, merusak etiket makan keluarga saya, dan merusak ketenangan apartemen ini. Kau tidak bisa pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang permanen."

​Zeva tertawa, tawa yang sedikit getir. "Halah, gombal lu makin pinter ya semenjak temenan sama gue."

​Keesokan paginya, "permuseuhan" kecil kembali pecah, tapi kali ini jenisnya berbeda. Bukan lagi soal benci, melainkan soal ego masing-masing yang saling beradu.

​Zeva bersikeras ingin membawa motor bebeknya ke kantor Adrian. Ia bosan duduk manis di dalam SUV yang kedap suara. Ia ingin merasakan angin Jakarta menerpa wajahnya.

​"Tidak, Zevanya! Itu berbahaya. Bagaimana kalau ada paparazi yang melihat tunangan Adrian Alfarezel naik motor berasap seperti itu?" protes Adrian di ruang tengah.

​"Biarin aja! Emangnya salah kalau tunangan orang kaya hobi motoran? Lagian motor gue itu pahlawan, Adrian! Tanpa dia, katering bibi gue nggak jalan!" Zeva sudah siap dengan jaket denimnya dan helm bogo pink-nya.

​"Saya akan belikan kau motor baru. Ducati? Harley? Pilih saja," tawar Adrian frustrasi.

​Zeva menunjuk hidung Adrian. "Itu masalah lu, Adrian. Lu pikir semua hal bisa diganti pakai barang baru yang lebih mahal. Motor ini punya kenangan. Gue belajar naik motor pakai ini, gue jatuh bangun di jalanan pakai ini. Lu nggak bisa beli itu!"

​Adrian terdiam. Ia melihat keyakinan di mata Zeva. Sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai "kebarbaran" sebenarnya adalah kesetiaan yang luar biasa.

​"Baik," ujar Adrian mengalah. "Kau bawa motormu. Tapi saya akan mengikutimu dari belakang dengan mobil. Sebagai pengawal."

​"Dih, posesif banget!" ledek Zeva, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya.

​Maka terjadilah pemandangan paling aneh di sepanjang jalan Sudirman pagi itu. Sebuah motor bebek tahun 2010 dengan knalpot yang sedikit batuk melaju dengan lincah, dikendarai oleh seorang gadis dengan helm pink yang ceria. Dan tepat di belakangnya, sebuah Rolls-Royce hitam mengilap melaju perlahan, menjaganya seolah-olah motor itu adalah harta karun yang paling berharga di dunia.

​Beberapa pengendara motor lain sampai menoleh berkali-kali. Mereka pikir itu adalah pengawalan kepresidenan versi sangat hemat biaya.

​Sesampainya di lobi gedung Alfarezel Group, Zeva memarkirkan motornya tepat di samping pintu masuk utama—area yang biasanya dilarang keras untuk kendaraan roda dua. Adrian turun dari mobilnya, berjalan menghampiri Zeva yang sedang melepas helmnya. Rambut Zeva berantakan karena angin, wajahnya sedikit berkeringat, tapi ia terlihat sangat bahagia.

​"Puas?" tanya Adrian sambil merapikan beberapa helai rambut Zeva yang mencuat.

​"Puas banget! Lu liat nggak tadi muka sopir taksi pas kita lewat? Dia bingung banget liat Rolls-Royce ngintilin motor butut," Zeva tertawa lepas.

​Adrian tidak tertawa. Ia hanya menatap Zeva dengan tatapan yang sangat dalam. Di tengah hiruk-pikuk orang-orang kantor yang mulai masuk, di antara bunyi klakson dan polisi yang berjaga, Adrian merasa waktu melambat. Ia menyadari bahwa ia lebih suka melihat Zeva yang berantakan seperti ini daripada Zeva yang dipaksa memakai gaun mahal.

​"Zeva," panggil Adrian pelan.

​"Apa?"

​"Terima kasih sudah mengingatkan saya bahwa jalanan tidak selalu soal kemacetan, tapi soal kebebasan."

​Zeva tertegun. Ia melihat sisi Adrian yang sangat lembut, sisi yang mungkin hanya ditunjukkan padanya. "Sama-sama, Bos. Udah ah, masuk sana. Nanti saham lu turun kalau lu kelamaan berdiri di samping motor butut gue."

​Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa jam. Di dalam kantor, Siska berlari menuju ruangan Adrian dengan wajah pucat dan tablet di tangannya.

​"Pak Adrian! Kita dalam masalah besar!" seru Siska.

​Adrian mendongak dari mejanya. "Ada apa?"

​Siska menunjukkan layar tabletnya. Sebuah situs berita gosip ternama baru saja merilis artikel dengan judul provokatif: "Skandal Cinta Sang CEO: Adrian Alfarezel Bertunangan dengan Gadis Jalanan? Siapa Sosok Berhelm Pink Ini?"

​Di bawah judul itu, terdapat foto-foto mereka saat makan bubur ayam di depan gedung tempo hari, foto Zeva saat turun dari motor tadi pagi, dan yang paling parah: foto Zeva saat sedang marah-marah di depan Rolls-Royce Adrian di hari pertama mereka bertemu.

​"Beritanya sudah menyebar ke semua media sosial, Pak. Clarissa juga baru saja mengunggah status yang menyindir tentang 'selera rendahan'. Investor mulai bertanya-tanya apakah ini strategi pemasaran atau masalah pribadi yang akan memengaruhi stabilitas perusahaan," lapor Siska cepat.

​Zeva yang sedang asyik bermain gim di sofa kantor langsung berdiri. Ia melihat foto-fotonya di layar. "Waduh... muka gue di situ jelek banget lagi pas lagi mangap," gumamnya, mencoba menutupi rasa takutnya dengan humor.

​Adrian mengambil tablet itu, membacanya dengan rahang yang mengeras. Ia tidak peduli soal Clarissa, tapi ia peduli soal bagaimana media menyerang privasi Zeva. Mereka menyebut Zeva sebagai "gadis oportunis" dan "pemikat harta".

​"Siska, siapkan konferensi pers sore ini," perintah Adrian dengan suara dingin yang bisa membekukan air.

​"Tapi Pak, apa yang akan Bapak katakan?" tanya Siska khawatir.

​"Saya akan mengatakan yang sebenarnya... versi kita," jawab Adrian. Ia menoleh ke arah Zeva. "Zeva, kau siap masuk ke dalam kandang singa yang sebenarnya? Kali ini singanya punya kamera dan mikrofon."

​Zeva menarik napas panjang. Ia melihat Adrian yang tampak sangat siap untuk melindunginya. Rasa permusuhan yang dulu pernah ada benar-benar sudah menguap, berganti dengan rasa percaya yang sangat kuat.

​"Selama ada lu di samping gue, gue rasa gue bisa ngadepin singa-singa itu, Adrian. Lagian, mereka belum tahu aja kalau gue bisa lebih galak dari singa manapun kalau lagi laper," balas Zeva dengan keberanian yang kembali menyala.

​Sore itu, aula konferensi pers penuh sesak. Cahaya lampu kilat kamera menyilaukan mata. Adrian melangkah masuk dengan tenang, menggandeng tangan Zeva dengan sangat erat. Zeva mengenakan setelan jas wanita yang elegan tapi tetap menunjukkan karakternya yang kuat.

​"Selamat sore semuanya," buka Adrian di depan podium. "Saya di sini bukan untuk mengklarifikasi gosip, tapi untuk menegaskan fakta. Wanita di samping saya, Zevanya, adalah tunangan saya. Dia bukan 'gadis jalanan' seperti yang kalian sebut. Dia adalah wanita yang memiliki integritas dan keberanian yang lebih besar daripada kebanyakan orang yang saya kenal di ruangan ini."

​Seorang wartawan mengangkat tangan. "Tapi Pak Adrian, bagaimana dengan latar belakangnya yang sangat kontras dengan keluarga Alfarezel?"

​Adrian tersenyum tipis, menatap wartawan itu dengan tajam. "Justru karena kontras itulah saya memilihnya. Dunia saya terlalu banyak kepura-puraan. Zevanya memberikan saya kenyataan. Dan bagi saya, kenyataan adalah aset yang paling berharga."

​Zeva mengambil mikrofon. Ia menatap ratusan pasang mata di depannya tanpa ragu. "Denger ya semuanya. Saya emang bukan dari keluarga kaya. Saya tahu cara benerin kompor dan saya tahu rasa panasnya aspal Jakarta. Kalau kalian pikir saya di sini cuma buat harta, kalian salah besar. Harta terbesar yang saya dapetin dari Adrian adalah keberanian dia buat jadi dirinya sendiri di depan saya. Jadi, silakan tulis apa pun yang kalian mau, tapi jangan pernah berani-berani ngehina profesi saya atau keluarga saya."

​Suasana aula mendadak hening. Keberanian Zeva yang murni dan tanpa basa-basi membuat para wartawan tertegun. Mereka baru saja melihat sesuatu yang sangat langka di dunia elit: kejujuran yang tidak disaring.

​Setelah konferensi pers selesai, mereka kembali ke dalam mobil. Adrian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, merasa sangat lega.

​"Kau hebat tadi, Zeva," bisik Adrian.

​"Lu juga hebat, Adrian. Lu nggak malu ngakuin gue di depan semua orang," jawab Zeva. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.

​Malam itu, Bagian dari kisah mereka hari ini berakhir dengan sebuah kemenangan kecil atas opini publik. Namun, mereka tahu bahwa ini baru permulaan. Di luar sana, Clarissa dan musuh-musuh bisnis Adrian sedang menyusun rencana yang lebih licik. Dan di dalam hati mereka masing-masing, sebuah pertanyaan mulai tumbuh: Apakah ini masih sekadar kontrak, atau sudah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi mereka lepaskan?

​Benih permusuhan itu kini telah benar-benar mati, terkubur di bawah tumpukan dukungan dan rasa percaya. Di atasnya, tumbuh sesuatu yang jauh lebih kompleks: sebuah cinta yang lahir dari kekacauan, yang akan diuji habis-habisan suatu hari nanti.

​"Siap buat babak selanjutnya, Gadis Barbar?" tanya Adrian sambil menggenggam tangan Zeva saat mobil melaju menembus malam Jakarta.

​"Siap banget, Bos Robot. Tapi inget, besok tetep giliran lu yang cuci piring!"

​Tawa mereka pecah, mengakhiri hari yang paling melelahkan namun paling bermakna dalam hidup mereka berdua.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!