Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Riak di Lantai Tiga Puluh
BAB 11: Riak di Lantai Tiga Puluh
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah-celah gedung pencakar langit Jakarta terasa begitu hangat, namun tidak mampu mencairkan dinginnya kecemasan yang membekukan hati Luna Maharani. Dia melangkah keluar dari dalam lift di lantai tiga puluh dengan keanggunan yang alami. Luna mengenakan blus sutra lengan panjang berwarna dusty rose yang lembut, dipadukan dengan rok midi berpotongan A-line berwarna abu-abu gelap yang jatuh dengan sopan di bawah lututnya. Pakaian kerja yang minimalis namun berkelas itu membingkus pas tubuhnya yang ringkih, memancarkan aura wanita yang santun, klasik, sekaligus bersahaja.
Rambut hitamnya yang panjang dan tebal hari ini disanggul rapi dan rendah di tengkuk lehernya. Karena jepit rambut perak berbentuk bunga kecil miliknya masih berada di tangan Devano sebagai sandera, Luna terpaksa mengikat rambutnya dengan jepitan kain hitam sederhana. Kulitnya yang kuning langsat tampak sedikit pucat di bawah pendaran lampu koridor, dan sepasang matanya yang bulat kini meredup, menyimpan kabut duka yang mendalam. Tatapan melankolis yang layu itu justru memberikan kesan misterius yang memikat—seolah-olah dia adalah sekuntum bunga murni yang rapuh dan sedang bertahan di tengah hantaman badai.
Luna berjalan menunduk sembari memeluk erat sebuah map tebal berisi laporan keuangan di dadanya. Sejak melangkah masuk ke area lobi utama di lantai bawah tadi, Luna sudah bisa merasakan atmosfer yang berbeda. Bisik-bisik miring dan tatapan sinis dari beberapa karyawan wanita terus mengikuti setiap langkah kakinya. Kedatangan Siska yang membuat keributan semalam ternyata telah menjadi buah bibir yang panas di kalangan internal kantor.
Brak!
Bahu Luna sengaja disenggol dengan keras dari arah depan saat dia hendak melewati meja administrasi utama lantai tiga puluh. Sentakan yang tiba-tiba itu membuat map tebal di pelukan Luna terlepas, menjatuhkan puluhan lembar kertas putih hingga berserakan di atas lantai marmer yang mengkilap.
"Oh, maaf. Saya tidak sengaja," sebuah suara wanita terdengar dengan nada yang dibuat-buat, penuh dengan kepalsuan.
Luna mendongak perlahan. Di hadapannya telah berdiri Rania, sekretaris senior yang telah bekerja di Devano Group selama empat tahun. Rania tampil sangat glamor dengan blazer merah menyala, rok mini ketat, dan riasan wajah yang tajam. Wanita itu menatap Luna dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iri, benci, dan merendahkan. Selama bertahun-tahun, Rania mengincar posisi sebagai Asisten Pribadi CEO, namun posisinya itu justru jatuh ke tangan Luna yang baru bekerja seminggu melalui jalur "orang dalam".
"Punya mata itu digunakan, bukan cuma dipakai untuk berlagak melankolis sok suci," cibir Rania dengan suara yang sengaja dikeraskan, memancing perhatian beberapa staf administrasi yang mulai berkumpul untuk menonton.
Luna tidak membalas. Dia hanya menghela napas pendek yang terasa sesak di dadanya. Batinnya yang sudah terlanjur hancur oleh hinaan kejam Devano semalam membuat Luna merasa tidak memiliki energi lagi untuk membela diri. Dengan keanggunan yang tetap terjaga, Luna perlahan berlutut di atas lantai marmer, menunduk untuk memunguti lembaran kertas yang berserakan satu per satu.
"Kenapa diam? Merasa tersindir karena ucapan saya benar?" Rania melipat tangannya di dada, melangkah mendekat hingga ujung sepatu hak tingginya nyaris menyentuh jemari Luna yang dingin. "Keluargamu itu benar-benar tidak punya urat malu, ya. Kakakmu tempo hari diusir karena ketahuan selingkuh, lalu semalam datang lagi mengemis-ngemis seperti pengemis harta. Dan sekarang... adiknya masuk ke sini, memakai pakaian sok sopan dengan wajah memelas demi menarik perhatian Pak Devano. Menjijikkan."
"Pantas saja langsung jadi Asisten Pribadi tanpa interview resmi. Modal tampang melankolis begini ya untuk merayu CEO? Kakaknya gagal morotin uang perusahaan, sekarang adiknya yang turun ranjang untuk melanjutkan tugas," sahut salah satu staf wanita di belakang Rania, memicu tawa cekikikan yang merendahkan dari karyawan lain.
Luna memejamkan matanya erat-erat, merasakan dadanya yang begitu sakit bagai ditusuk sembilu. Mereka tidak tahu apa-apa... mereka tidak tahu betapa hinanya aku di dalam ruangan itu... jerit batin Luna dalam kepasrahan yang mendalam. Air matanya nyaris luruh kembali ke atas kertas putih yang dipegangnya.
"Rania! Jaga batasan motormu itu!"
Sebuah suara bariton yang tegas dan hangat tiba-tiba memotong riuh cacian itu dari arah koridor lift. Sosok pria muda bertubuh tegap dengan kemeja biru muda dan dasi rapi melangkah mendekat dengan wajah yang mengeras marah.
Dika. Manajer Keuangan muda yang terkenal cerdas, ramah, dan sangat dihormati di perusahaan itu. Dika langsung berlutut di samping Luna, tanpa ragu membantu gadis itu memunguti sisa berkas yang berserakan dengan gerakan yang lembut.
"Mbak Luna, tidak apa-apa?" tanya Dika, suaranya terdengar sangat tulus dan penuh perhatian. Pandangan matanya sempat tertegun sesaat begitu menatap wajah melankolis Luna yang berselimut air mata dari dekat. Ada rasa iba sekaligus getaran kekaguman yang muncul di hati Dika melihat bagaimana Luna tetap terlihat begitu anggun dan tenang meskipun sedang diinjak-injak harga dirinya.
"Saya tidak apa-apa, Pak Dika. Terima kasih," lirih Luna dengan senyuman tipis yang teramat getir.
Dika bangkit berdiri, lalu menatap Rania dan staf lainnya dengan pandangan mata yang tajam dan penuh otoritas. "Rania, jika saya mendengar sekali lagi kamu atau staf lain menyebarkan gosip murahan dan melakukan tindakan intimidasi seperti ini di lingkungan kerja, saya sendiri yang akan menyerahkan surat rekomendasi pemecatan kalian ke divisi HRD pagi ini juga! Bubar sekarang!"
Mendengar ancaman tegas dari sang manajer keuangan, wajah Rania seketika masam. Dengan dengusan kesal, dia dan staf lainnya langsung membubarkan diri, kembali ke meja kerja masing-masing dengan perasaan dongkol yang membara.
Dika membantu Luna berdiri, menyerahkan tumpukan map yang sudah rapi kembali ke pelukan Luna. "Jangan didengarkan ucapan mereka, Mbak Luna. Mereka hanya iri dengan posisimu. Jika butuh bantuan apa pun, ruangan saya selalu terbuka untukmu," ucap Dika dengan senyuman hangat, sebuah oase kecil yang menenangkan di tengah lingkungan kantor yang sedingin es bagi Luna.
"Terima kasih banyak, Pak Dika," menunduk hormat, Luna memberikan senyuman anggunnya yang terakhir sebelum dia berbalik dan melangkah menuju pintu jati besar ruang kerja CEO untuk memulai pekerjaannya hari ini.
Tok... Tok... Tok...
Luna mendorong pintu jati itu perlahan. Begitu melangkah masuk, dia mendapati dinding kaca besar yang biasanya tertutup tirai otomatis, hari ini sengaja dibuka lebar oleh Devano. Dari dalam ruangan, seluruh karyawan di luar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam, begitupun sebaliknya.
Devano sedang duduk di kursi kebesarannya, mengenakan kemeja hitam yang sangat formal. Mata elangnya yang tajam sejak tadi ternyata telah memperhatikan seluruh kejadian di luar koridor melalui dinding kaca tersebut—termasuk bagaimana Dika membela Luna dan bagaimana Luna memberikan senyuman manisnya pada pria lain. Ada kilatan amarah dan ego teritorial yang mendadak menyala pekat di balik manik mata sang CEO, meskipun wajahnya tetap sedingin es.
"Kemari, Asisten Luna," perintah Devano, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Luna melangkah mendekat, berhenti di depan meja kerja kaca tersebut. "Tuan Devano, ini laporan keuangan yang Anda minta. Dan... saya ingin meminta kembali jepit rambut saya yang Anda bawa semalam."
Devano tidak menyentuh map yang disodorkan Luna. Pria itu bangkit dari kursinya, berjalan lambat memutari meja, lalu berhenti tepat di hadapan Luna. Dari balik dinding kaca luar, Rania dan staf lainnya langsung memicingkan mata, menonton dengan penuh rasa penasaran yang membara.
Devano merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan jepit rambut perak berbentuk bunga kecil milik Luna. Dia menatap jepitan itu, lalu menatap wajah melankolis Luna yang tampak panik.
"Kamu ingin benda ini kembali?" tanya Devano dingin.
Tiba-tiba, tanpa diduga oleh Luna, Devano mengulurkan tangannya yang besar. Jemari kokoh pria itu bergerak dengan sangat lambat dan intim, menyentuh sela-sela rambut Luna di tengkuknya, lalu memasangkan kembali jepit rambut perak itu ke atas sanggulan rambut Luna dengan gerakan yang terlihat begitu posesif di mata orang luar.
Sentuhan tangan Devano yang hangat di kulit lehernya seketika membuat tubuh Luna meremang hebat. Dia ingin mundur, namun tatapan membunuh Devano mengunci posisinya. Dari luar kaca, Rania tampak mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan wajah merah padam, mengira Luna sedang melancarkan aksi rayuan maut hingga sang CEO bersikap semanis itu.
Devano menundukkan kepalanya sedikit, berbisik dengan suara yang teramat rendah di telinga Luna, namun matanya tetap menatap tajam ke arah karyawan di luar kaca.
"Lihat ke luar, Luna. Jalang-jalang di luar sana sekarang berpikir kamu sedang menggodaku dengan tampang melankolis sok sucimu itu... dan manajer keuangan muda tadi sepertinya sangat ingin menjadi pahlawanmu," desis Devano dengan nada kejam yang dipenuhi rasa cemburu yang belum dia sadari. "Bagaimana kalau kita buat tontonan di luar sana menjadi kenyataan? Masuk ke toilet di dalam ruanganku sekarang, Luna... melayaniku di sana sebelum jam meeting dimulai, atau aku akan memanggil Dika masuk ke sini untuk melihat bagaimana asisten yang dibelanya tunduk di bawah perintahku."