Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyembuhan dan Pembangunan Kembali
Hari-hari setelah pertempuran terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak lagi ada suara terompet perang, tidak lagi ada gerakan pasukan yang bergegas, dan tidak lagi ada rasa takut yang menggantung di udara. Yang ada hanyalah keheningan yang damai, bercampur dengan kesibukan yang lembut, seolah seluruh negeri sedang menarik napas panjang dan mulai bangkit kembali dari mimpi buruk yang telah berlalu.
Pertama-tama, perhatian mereka tertuju pada mereka yang telah gugur dan mereka yang terluka. Tidak ada perbedaan antara pihak yang menang dan pihak yang kalah, tidak ada perbedaan antara teman dan musuh. Setiap orang yang terbaring di tanah, baik yang masih bernyawa maupun yang telah tiada, diperlakukan dengan rasa hormat dan kasih sayang yang sama. Mereka yang terluka dibawa ke tempat perawatan, di mana tabib dan orang-orang yang terlatih bekerja siang dan malam untuk menyelamatkan nyawa dan mengobati luka, baik luka di tubuh maupun luka di hati. Mereka yang telah gugur dikuburkan dengan upacara yang layak, di tanah yang suci, dengan doa yang sama untuk semua, karena mereka tahu bahwa sebagian besar dari mereka hanyalah korban dari kebohongan dan keserakahan orang lain, dan bahwa nyawa, bagaimanapun caranya berakhir, adalah sesuatu yang suci dan tak tergantikan.
Taylor dan Elizabeth sendiri ikut terlibat langsung dalam pekerjaan ini. Mereka berjalan dari satu tenda perawatan ke tenda lain, dari satu tempat pemakaman ke tempat lain, berbicara dengan mereka yang menderita, menghibur mereka yang berduka, dan memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang terabaikan atau ditinggalkan dalam kesulitan. Tindakan mereka membuat hati rakyat semakin terikat erat dengan mereka, karena mereka melihat bahwa pemimpin mereka tidak hanya pandai berbicara atau pandai bertarung, tapi mereka juga memiliki hati yang lembut dan penuh belas kasihan.
“Luka di tubuh mungkin akan sembuh seiring berjalannya waktu,” kata Elizabeth suatu sore, saat mereka duduk beristirahat sejenak di bawah pohon besar di pinggir padang. “Tapi luka di hati jauh lebih sulit untuk disembuhkan. Banyak orang telah melihat hal-hal yang tak seharusnya mereka lihat, banyak orang telah melakukan hal-hal yang tak seharusnya mereka lakukan, dan banyak orang telah kehilangan orang yang mereka cintai. Kita tidak bisa hanya membangun kembali rumah dan jalan, kita juga harus membangun kembali hati dan jiwa mereka.”
Taylor memegang tangan istrinya erat-erat, menatap matanya dengan pandangan yang penuh pengertian dan kasih sayang. “Kau benar sekali. Perang telah meninggalkan bekas yang dalam, dan bekas itu tidak akan hilang hanya dengan kata-kata atau hukum. Tapi aku percaya bahwa kebaikan dan keadilan adalah obat yang paling ampuh. Selama kita terus hidup dengan kebenaran, selama kita terus memperlakukan semua orang dengan adil dan hormat, perlahan tapi pasti luka itu akan sembuh, dan bekasnya pun nantinya akan menjadi kenangan yang mengajarkan kita untuk tidak pernah mengulangi kesalahan yang sama.”
Sementara pekerjaan penyembuhan berlangsung, urusan keadilan juga harus diselesaikan. Para pemimpin pemberontak yang masih hidup, termasuk Lord Marcus dan para bangsawan lain yang menjadi dalang di balik segala rencana jahat, dibawa ke ibu kota untuk diadili. Namun persidangan itu tidak diadakan dengan amarah atau keinginan untuk membalas dendam. Sebaliknya, persidangan itu dilakukan dengan adil dan terbuka, di hadapan para hakim yang jujur dan di hadapan rakyat, sehingga semua orang bisa melihat dan memahami apa yang telah terjadi, apa kesalahan yang telah dilakukan, dan apa alasan di balik segala pertikaian yang telah melanda negeri ini.
Bukti-bukti disajikan dengan jelas: surat-surat perjanjian, pengakuan dari saksi-saksi, keterangan dari mereka yang telah dipaksa dan ditipu, serta keterangan dari Tangan Kiri dan orang-orangnya yang telah ditangkap sebelumnya. Semuanya terungkap dengan terang, tanpa ada yang disembunyikan, sehingga tidak ada keraguan sedikitpun di hati siapa pun tentang kesalahan dan kejahatan yang telah mereka lakukan.
Di hadapan hakim dan hadirin, Lord Marcus akhirnya tidak lagi bisa menyangkal atau berbohong. Dia berdiri tegak, namun wajahnya yang dulu penuh kebanggaan dan kekuasaan kini terlihat pucat dan lemas. Dia menyadari bahwa segala sesuatu yang telah dia bangun, segala kekayaan dan kekuasaan yang telah dia kumpulkan dengan susah payah, kini telah hancur dalam sekejap, dan bahwa dia sendiri yang telah menggali lubang tempat dia akan jatuh.
“Aku telah salah,” katanya dengan suara yang lemah dan parau, terdengar oleh semua orang yang hadir. “Aku telah buta oleh keserakahan dan ambisi. Aku berpikir bahwa kekuasaan adalah segalanya, dan bahwa aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Aku telah menipu orang lain, aku telah menyebarkan kebohongan, aku telah memecah belah negeri ini, dan aku telah menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Aku pantas menerima hukuman apa pun yang kalian berikan padaku, karena aku tahu bahwa apa yang telah aku lakukan adalah salah, dan tidak ada alasan yang bisa memaafkan perbuatanku.”
Mendengar pengakuan itu, suasana di dalam ruangan menjadi hening. Banyak orang yang merasa benci dan marah terhadap orang ini, namun banyak juga yang merasa iba, melihat bahwa orang yang dulu terlihat begitu kuat dan tak tergoyahkan kini hanyalah manusia biasa yang telah terjatuh terlalu dalam karena kesalahannya sendiri.
Setelah mempertimbangkan segala sesuatu dengan hati-hati, para hakim akhirnya memutuskan hukumannya. Mereka tidak menjatuhkan hukuman mati, karena mereka tidak ingin menambah lagi jumlah darah yang telah tertumpah. Sebaliknya, mereka memutuskan bahwa para pemimpin pemberontak akan dicabut dari segala hak dan kekuasaan mereka, harta mereka akan dibagi untuk membantu mereka yang menderita akibat perang, dan mereka akan diasingkan ke tempat yang jauh, di mana mereka bisa merenungkan kesalahan mereka dan hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kekuasaan dan pengaruh yang pernah mereka miliki.
Keputusan ini disambut dengan rasa damai di hati rakyat. Mereka melihat bahwa keadilan telah ditegakkan, namun belas kasihan juga tetap ada, dan hal ini semakin menguatkan keyakinan mereka bahwa negeri mereka kini dipimpin oleh orang-orang yang bijaksana dan berhati mulia.
Setelah segala urusan persidangan selesai, saatnya bagi mereka untuk mulai membangun kembali negeri yang telah rusak. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perang tidak sedikit: jalan-jalan yang rusak, jembatan yang putus, ladang yang terabaikan, dan rumah-rumah yang hancur. Namun di balik kerusakan itu, ada semangat yang membara di hati setiap orang, semangat untuk bekerja bersama-sama, semangat untuk membangun sesuatu yang lebih baik dari yang ada sebelumnya.
Rencana pembangunan disusun dengan cermat dan adil. Tidak hanya ibu kota atau kota-kota besar yang diperhatikan, tapi setiap desa, setiap permukiman, dan setiap daerah di seluruh negeri mendapatkan perhatian yang sama. Para utusan dikirim ke setiap tempat untuk mendengar kebutuhan rakyat, untuk mengetahui apa yang rusak dan apa yang dibutuhkan, dan untuk memastikan bahwa bantuan dan peralatan akan sampai ke tangan mereka yang membutuhkan dengan cepat dan adil.
Rakyat bekerja bersama-sama dengan penuh semangat. Orang dari utara dan orang dari selatan, orang yang dulu bertarung di pihak yang berbeda, kini bekerja berdampingan, saling membantu dan saling mendukung. Mereka yang memiliki keahlian membagikan ilmunya, mereka yang memiliki kekuatan membagikan tenaganya, mereka yang memiliki harta membagikan apa yang mereka miliki, sehingga tidak ada seorang pun yang dibiarkan bekerja sendirian atau dibiarkan menderita sendirian.
“Lihatlah mereka,” kata Raja suatu hari, saat dia berdiri di atas bukit dan memandang ke bawah, melihat ribuan orang bekerja bersama-sama membangun jembatan yang telah hancur. “Beberapa bulan yang lalu, banyak dari mereka saling mengancam dan saling membunuh. Kini mereka bekerja berdampingan, tertawa dan berbicara satu sama lain seolah mereka telah menjadi saudara sejak lahir. Inilah kekuatan terbesar yang kita miliki. Bukan kekuatan pedang atau kekuatan hukum, tapi kekuatan persatuan dan persaudaraan.”
Taylor berdiri di samping ayahnya, memandang pemandangan di bawah dengan hati yang penuh sukacita dan syukur. “Perang telah memisahkan tubuh mereka, tapi kebenaran telah menyatukan hati mereka. Dan selama hati mereka tetap bersatu, tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa memecah belah kita lagi.”
Selain membangun kembali bangunan dan jalan, mereka juga membangun kembali cara hidup dan cara berpikir rakyat. Di setiap daerah, didirikan tempat-tempat untuk belajar, di mana anak-anak dan orang dewasa bisa belajar bersama-sama, tidak hanya belajar membaca dan menghitung, tapi juga belajar tentang kebaikan, keadilan, dan makna menjadi manusia yang sesungguhnya. Mereka mengajarkan bahwa kekayaan dan kekuasaan bukanlah hal terpenting dalam hidup, tapi hal terpenting adalah bagaimana kita memperlakukan sesama, bagaimana kita menjaga kebenaran, dan bagaimana kita hidup dengan damai dan hormat terhadap semua makhluk hidup.
Mereka juga mengubah cara pemerintahan, agar kesalahan yang telah terjadi di masa lalu tidak akan terulang lagi. Hukum dibuat lebih adil, sehingga orang yang paling rendah kedudukannya pun memiliki hak yang sama dengan orang yang paling tinggi kedudukannya. Setiap keputusan yang diambil dibahas dan didiskusikan bersama-sama, sehingga suara rakyat didengar dan dihargai, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kekuasaan mutlak yang bisa disalahgunakan. Para pejabat dan pemimpin diwajibkan untuk hidup dengan sederhana dan adil, dan jika ada di antara mereka yang menyalahgunakan kekuasaannya, mereka akan segera diganti dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.
Bulan-bulan berlalu, dan perubahan mulai terlihat dengan jelas. Tanah yang dulu kering dan terabaikan kini kembali hijau dan subur, ladang-ladang kembali ditanami dan menghasilkan panen yang melimpah, jalan-jalan dan jembatan kembali berdiri kokoh dan indah, dan rumah-rumah yang hancur kini dibangun kembali menjadi tempat tinggal yang nyaman dan aman. Namun perubahan yang paling indah terlihat di wajah dan di hati rakyat. Wajah mereka yang dulu dipenuhi kerutan kekhawatiran dan ketakutan kini bersinar dengan senyum dan ketenangan, dan hati mereka yang dulu terpecah dan penuh kecurigaan kini dipenuhi dengan rasa percaya dan kasih sayang.
Di ibu kota, suasana di istana pun kini terasa berbeda. Tidak lagi ada pertemuan yang penuh dengan intrik dan kebohongan, tidak lagi ada pembicaraan yang penuh dengan ambisi dan keserakahan. Yang ada hanyalah pembicaraan yang penuh dengan kebijaksanaan, pekerjaan yang penuh dengan tanggung jawab, dan suasana yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Taylor dan Elizabeth memerintah dengan bijaksana dan lembut, didampingi oleh Raja dan Ratu yang dengan senang hati menyerahkan sebagian besar tugas pemerintahan, karena mereka melihat bahwa negeri ini kini berada di tangan yang paling aman dan paling baik.
Hunter kini tumbuh menjadi anak yang cerdas, berani, dan berhati lembut. Dia sering ikut berjalan bersama orang tuanya ke berbagai tempat di seluruh negeri, melihat bagaimana rakyat hidup, melihat bagaimana pekerjaan pembangunan berlangsung, dan belajar dari setiap hal yang dia lihat dan dengar. Orang-orang menyayanginya, karena mereka melihat dalam dirinya cerminan dari kebaikan dan kebijaksanaan orang tuanya, dan mereka berharap bahwa suatu hari nanti dia pun akan memerintah dengan cara yang sama, membawa kebahagiaan dan kedamaian untuk generasi-generasi yang akan datang.
Suatu sore, saat matahari mulai terbenam dan mewarnai langit dengan warna keemasan yang indah, Taylor dan Elizabeth berjalan berdua di taman istana, berjalan pelan di antara bunga-bunga yang mekar dan pohon-pohon yang rindang. Mereka berhenti di tepi kolam, memandang pantulan diri mereka di air yang tenang, dan merasakan kedamaian yang luar biasa menyelimuti hati mereka.
“Perjalanan kita telah panjang dan penuh dengan rintangan,” kata Elizabeth dengan suara yang lembut, sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. “Kita telah melalui banyak hal, kita telah melihat banyak kesedihan dan banyak kebahagiaan, kita telah menghadapi banyak bahaya dan banyak tantangan. Tapi jika aku harus memilih kembali, aku akan memilih jalan yang sama, karena aku tahu bahwa segala sesuatu yang telah kita lalui telah membawa kita ke tempat di mana kita berdiri sekarang, dan telah membuat kita menjadi orang yang kita ada sekarang.”
Taylor memeluk istrinya dengan erat, memandang ke arah ufuk di mana matahari perlahan tenggelam, dan tersenyum dengan hati yang penuh syukur. “Aku juga merasa hal yang sama. Kita telah belajar bahwa tidak ada hal baik yang datang dengan mudah, dan bahwa kedamaian dan kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dijaga dengan segenap hati. Tapi yang paling berharga dari semuanya adalah kita telah belajar bahwa selama kita berjalan bersama-sama, selama kita memegang teguh kebenaran dan saling mengasihi, tidak ada rintangan yang terlalu tinggi untuk kita lalui, dan tidak ada jarak yang terlalu jauh untuk kita tempuh.”
Matahari akhirnya terbenam sepenuhnya, dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit yang gelap, bersinar terang seperti ribuan harapan yang menyala di dalam hati seluruh rakyat negeri ini. Perang telah berakhir, luka telah disembuhkan, dan pembangunan telah selesai. Namun perjalanan mereka belum berakhir, karena hidup adalah perjalanan yang tak pernah berakhir, dan tugas mereka untuk menjaga kebenaran dan keadilan akan terus berjalan selamanya. Tapi mereka tidak merasa takut atau cemas, karena mereka tahu bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Mereka berjalan bersama-sama, dengan hati yang bersatu, dengan keyakinan yang kuat, dan dengan kasih sayang yang takkan pernah padam.