NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Malam di Hotel Mulia

Aroma minyak wangi maskulin yang dibelikan oleh Nadia berpadu sempurna dengan aroma kain wool mewah dari setelan jas hitam potongan klasik buatan Edward. Andra berdiri di depan cermin besar toilet lobi Hotel Mulia, memandangi bayangan dirinya sendiri. Kemeja putih bersih berkerah kaku di balik jasnya terpasang rapi, lengkap dengan sepasang kancing manset perak berukir yang diberikan Nadia dua hari lalu.

Pemuda desa yang sebulan lalu masih mengosok tempe di atas tikar pandan Palmerah itu kini telah menjelma menjadi sosok pria muda yang luar biasa memikat. Potongan jas yang pas di badan mempertegas dada bidang dan bahu kokohnya. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, mengekspos garis rahangnya yang tegas dan wajah sawo matangnya yang bersih. Andra menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berdegup kencang sebelum melangkah keluar menuju ruang utama lobi hotel.

Di sana, Nadia sudah menunggu. Wanita itu tampil luar biasa anggun dengan gaun malam berbahan satin berwarna hitam legam yang mengekspos keindahan bahunya. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan jepit mutiara kecil yang berkilau di bawah lampu gantung kristal.

Saat melihat Andra mendekat, sepasang mata indah Nadia tampak melebar sesaat. Ada kilatan kekaguman dan kepuasan yang sangat pekat di matanya. Ia melangkah mendekati Andra, lalu tanpa ragu menyelipkan tangan kanannya di sela lengan kiri Andra, menggandeng pemuda itu dengan erat.

Kamu terlihat sangat menawan, Andra. Jangan gugup, tetap tegakkan bahumu dan berjalan di samping saya, bisik Nadia lembut, memberikan suntikan rasa percaya diri yang instan.

Nggih, Mbak, jawab Andra pelan, menyesuaikan langkah kakinya yang dilapisi sepatu kulit hitam mengilat dengan langkah anggun Nadia masuk ke dalam ballroom utama.

Ruangan besar itu sudah dipenuhi oleh ratusan pelaku industri periklanan, investor, dan jajaran eksekutif papan atas Jakarta. Denting gelas kaca dan alunan musik jazz lembut memenuhi udara. Begitu Nadia masuk bersama Andra, beberapa pasang mata langsung menoleh ke arah mereka. Kedatangan Managing Director Apex Media tanpa suaminya, Gunawan, melainkan bersama seorang pria muda bertubuh tegap dan tampan, seketika memicu bisik-bisik penasaran di antara para tamu.

Nadia mengabaikan semua tatapan itu dengan kepala tegak. Ia membawa Andra berkeliling, memperkenalkannya kepada beberapa direktur perusahaan rekanan sebagai asisten pribadinya yang paling andal. Pembawaan Andra yang ramah, sopan, dan tidak banyak bicara justru memberikan kesan misterius yang sangat berkelas di mata orang-orang elite tersebut.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari arah sudut bar, langkah kaki yang berat dan angkuh terdengar mendekat.

Nadia? Jadi ini alasan kenapa kamu bersikeras agar aku tidak perlu repot-repot pulang dari Bali?

Suara bariton yang dingin itu seketika membuat otot tubuh Andra menegang. Mereka berbalik dan mendapati Gunawan sudah berdiri di sana. Pria itu memegang sekelas minuman, mengenakan setelan jas desainer abu-abu gelap, dan tatapan matanya sangat tajam, dipenuhi oleh kemarahan yang tertahan saat melihat tangan Nadia masih melingkar di lengan Andra.

Gunawan rupanya sengaja pulang lebih cepat tanpa memberi tahu istrinya, hanya untuk memastikan apakah rumor tentang kedekatan Nadia dengan asisten barunya itu benar atau tidak.

Mas Gunawan? Bukankah sekretaris-mu bilang kamu masih di Bali sampai minggu depan? tanya Nadia, suaranya mendadak mendingin, dan ia sengaja tidak melepaskan gandengannya dari lengan Andra sebagai bentuk perlawanan batin.

Urusanku sudah selesai lebih cepat. Dan beruntung aku pulang, jadi aku bisa melihat sendiri bagaimana istriku membawa seorang buruh administrasi murah ke acara terhormat seperti ini, ucap Gunawan dengan nada menghina yang sangat kencang, sengaja memancing perhatian beberapa kolega di sekitar mereka.

Gunawan melangkah maju, menatap Andra dari atas ke bawah dengan pandangan menjijikkan. Kamu... bocah desa. Sudah aku peringatkan di lift waktu itu, bukan? Tugasmu hanya mengurus kertas di atas meja! Berani sekali kamu memakai kancing manset perak dan jas mahal ini untuk mengimbangi kastaku di sini? Kamu tidak lebih dari sekadar pelayan yang mencoba mencuri panggung majikannya!

Hantaman kalimat Gunawan yang sangat kasar itu membuat beberapa orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik. Wajah Nadia seketika memucat karena malu dan amarah yang luar biasa.

Cukup, Mas Gunawan! Jaga bicaramu! Andra di sini karena dia yang menyelamatkan draf kontrak kita saat timmu bahkan tidak peduli! bentak Nadia, air matanya mulai menggenang di sudut mata karena tidak tahan lagi dengan penghinaan suaminya di depan umum.

Gunawan terkekeh sinis, tidak memedulikan pembelaan istrinya. Ia melangkah satu langkah lagi, tepat di hadapan Andra, lalu dengan gerakan sengaja menyenggolkan gelas minumannya ke dada jas Andra, membuat sedikit cairan alkohol membasahi kain wool mahal tersebut. Pulang ke kampungmu, bocah. Kamu tidak pantas berada di gedung-gedung tinggi ini, bisik Gunawan penuh intimidasi.

Andra mengepalkan tangan kanannya dengan sangat kencang di samping paha hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya sebagai seorang pria dewasa bergejolak hebat mendengarkan penghinaan yang merendahkan harkat martabat keluarganya dan dirinya sebagai anak desa. Namun, ia melihat air mata Nadia yang perlahan mulai luruh membasahi pipi. Andra tahu, jika ia memukul Gunawan di sini, ia hanya akan menghancurkan nama baik Nadia sepenuhnya.

Saya permisi, Pak Gunawan, Bu Nadia, ucap Andra dengan nada suara yang sangat rendah namun bergetar menahan ledakan emosi. Ia melepaskan tangan Nadia dengan lembut, lalu berbalik badan dan melangkah lebar meninggalkan ballroom hotel menembus kerumunan orang yang memandangnya dengan berbagai ekspresi.

Andra berjalan cepat keluar dari hotel, mengabaikan rintik hujan malam yang kembali turun membasahi jalanan Sudirman. Ia melepas dasi kupu-kupunya yang terasa mencekik leher, berjalan menuju area parkir motor dengan hati yang panas dan terluka. Tamparan realitas kota besar malam ini terasa sangat kejam di dadanya.

Namun, baru saja ia hendak menghidupkan mesin motor bebek milik Mas Joko, sebuah mobil sedan mewah lainnya berhenti tepat di belakang posisinya. Pintu penumpang belakang terbuka.

Sesosok wanita dengan gaun malam berwarna merah marun yang sangat berkelas melangkah turun dari mobil, membawa sebuah payung hitam besar. Dia adalah Diana, Direktur Hukum dari SCBD yang kemarin memberikan kartu namanya kepada Andra. Diana rupanya juga menghadiri acara gala tersebut dan menyaksikan seluruh insiden penghancuran harga diri Andra oleh Gunawan dari kejauhan.

Diana berjalan mendekati Andra, memayungi tubuh tegap pemuda yang kini mulai basah oleh air hujan itu. Sepasang matanya yang tajam di balik kacamata menatap Andra dengan pancaran kekaguman dan rasa iba yang sangat mendalam.

Pria sehebat dan setampan kamu tidak seharusnya membiarkan dirimu dihina oleh pria arogan seperti Gunawan, Andra, ucap Diana, suaranya terdengar sangat jernih dan menenangkan di tengah deru suara hujan. Kamu memiliki harga diri yang jauh lebih tinggi daripada seluruh kekayaan yang dimiliki Gunawan.

Andra mendongak, menatap wajah cantik Diana yang berdiri sangat dekat di bawah payung yang sama. Saya hanya orang miskin dari desa, Ibu Diana. Apa yang dikatakan Pak Gunawan mungkin ada benarnya, jawab Andra getir.

Diana tersenyum manis, lalu mengulurkan tangan kirinya yang halus, menyentuh lembut pipi sawo matang Andra yang basah oleh air hujan. Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, Andra. Di mataku, kamu adalah permata yang belum diasah. Masuklah ke dalam mobilku. Biarkan aku membantumu mengeringkan pakaianmu, dan malam ini... aku akan menunjukkan kepadamu bahwa dunia ini tidak hanya berisi orang-orang yang gemar menghina seperti mereka.

Andra menatap tangan Diana di pipinya, lalu beralih memandangi kartu nama tebal milik Diana yang sebenarnya sudah dihancurkan Nadia kemarin, namun nomor teleponnya entah mengapa masih melekat kuat di ingatan Andra. Kehadiran Diana malam ini datang sebagai sebuah pilihan baru yang sangat menggoda di tengah hancurnya pertahanan batin Andra, menjadi awal dari benih-benih takdir panjang yang kelak akan membawa Andra menuju puncak kasta tertinggi di ibu kota ini pada bab-bab yang akan datang.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!