NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:617
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Siluman

"Bagaimana cara untuk membuat gadis sekeras batu itu benar-benar tergila-gila padaku?" Steven bertanya pada kesunyian, lebih kepada menantang egonya sendiri.

Ia menyandarkan punggungnya pada batang pohon tua di halaman mansion, membiarkan tekstur kasar kulit kayu itu menusuk kemeja nya.

Matanya menatap lurus ke cakrawala yang mulai menggelap, sementara benaknya sibuk menyusun bidak catur rencana demi memaksa Zoe patuh hingga bertekuk lutut di bawah otoritasnya. "Gadis itu... dia bukan sekadar galak, dia sangat menyeramkan... bahkan lebih seram dari iblis yang selama ini ku habisi," gumamnya dengan nada rendah yang bergetar.

Sebagai entitas yang telah melintasi dimensi waktu selama lebih dari ribuan tahun, Steven merasa harga dirinya terusik---- untuk pertama kalinya dalam sejarah keabadiannya, ada sesuatu yang tidak bisa ia taklukkan hanya dengan jentikan jari.

"Apa aku harus menurunkan levelku dan berpura-pura menjadi pria romantis yang memuakkan?" gumamnya lagi, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang getir. "Tapi tidak, Zoe tidak akan mempan dengan buket mawar atau puisi picisan. Wajahnya saja selalu memancarkan aura permusuhan yang kaku." Ia menghela napas panjang, sebuah suara yang hampir terdengar seperti puncak frustasi dari seorang predator yang kehilangan jejak mangsanya.

Tiba-tiba, keheningan itu pecah. Papow muncul dengan langkah tergesa-gesa, kakinya tersandung rumput mansion yang tertata rapi. "Tuan!! Tuan Steven!!" serunya, napasnya tersengal-sengal seolah paru-parunya baru saja dipaksa bekerja melewati batas normal tepat saat ia tiba di hadapan Steven.

Steven tidak bergerak dari posisinya, hanya melirik dingin. "Apa kau baru saja mendaftarkan diri dalam lomba lari lintas alam tanpa memberitahuku? Kenapa kau tampak berantakan begitu?"

"Tuan, simpan sindiranmu... tadi aku tidak sengaja menemukan ini," jawab Papow sambil menyodorkan sebuah helai bulu berwarna hitam gelap yang tampak kontras di antara jemarinya.

Steven mengambil bulu itu dengan dua jari, alisnya bertaut heran. "Bukankah warna bulu mu itu putih salju? Kenapa sekarang kau tiba-tiba berubah warna menjadi hitam gelap begini?"

"Itu bukan milikku, Tuan! Aromanya... coba Tuan rasakan sendiri kepekatannya," desak Papow dengan wajah pucat.

Steven mendekatkan bulu itu ke indra penciumannya. Seketika, pupil matanya berkilat tajam, berubah warna menjadi perak berkilau yang mematikan.

Sebuah memori purba menyeruak masuk. "Ini... aroma busuk dari siluman iblis!" geram Steven. Tangannya terkepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih, dan secara instan, tekanan atmosfer di sekelilingnya berubah drastis--- angin tiba-tiba berputar membentuk pusaran kecil yang merusak tatanan taman.

Dalam satu kedipan mata, sebelum Papow sempat berkedip, tubuh Steven sudah menghilang, hanya menyisakan debu yang beterbangan.

BRAK!

Steven muncul dengan hantaman energi yang menggetarkan seluruh fondasi ruangan mansion, menciptakan gelombang kejut yang membuat Zoe dan Nindi tersentak hebat hingga hampir terjatuh.

Tatapan perak Steven yang dingin kini beralih, mengunci tiga sosok yang mencoba berdiri setelah mendapat serangan dadakan dari Steven.

Hatinya berbisik dengan nada penuh kebencian diri, "Apakah kemampuan ku sudah berkurang... sampai aku bisa tidak menyadari keberadaan mereka di sekitar ku? Ataukah karena setengah kekuatan ku tidak ada padaku... membuatku tidak sehebat dulu?" Aura yang dipancarkannya kini terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja dicabut paksa.

"Kalian benar-benar luar biasa dalam menyembunyikan aura kalian..." suara Steven berat, mengintimidasi setiap sel saraf di ruangan itu. "Sampai aku sendiri tidak menyadari keberadaan kalian."

Nindi, yang kakinya sudah lemas, segera bersembunyi di balik punggung Zoe, menutup mulutnya agar tidak berteriak saat melihat wajah asli ketiga tamu tak diundang itu—wajah yang lebih menyerupai mimpi buruk daripada manusia.

"Siapa kalian sebenarnya? Dan apa urusan kalian mengusik ketenangan mansion ini?" tanya Zoe dengan nada dingin yang dipaksakan, meski matanya menatap tajam ke arah ketiganya tanpa berkedip sedikit pun.

Steven melangkah maju, memecah ketegangan dengan senyum sinis yang menyakitkan untuk dilihat. "Biar aku yang memperkenalkan mereka, Zoe. Lihatlah baik-baik tamu istimewa kita ini," kata Steven dengan nada meremehkan. "Yang satu adalah siluman harimau hitam, yang satunya lagi hanyalah siluman ular yang licin..." Steven berhenti sejenak, menatap sosok ketiga dengan dahi berkerut seolah sedang memecahkan teka-teki sulit. "Dan yang terakhir ini... apa ya? Apakah kau siluman kodok dari rawa terdalam?"

Mendengar itu, mata Zoe melebar sempurna. Keheningan mencekam itu pecah seketika saat Steven kembali bersuara. "Kalana... Hasutki... dan kau... kodok Mateo?" gumam Steven.

Sementara Zoe menatap tak percaya. Bayangan seekor kodok besar yang mencoba bersikap sangar melintas di benaknya. "Pffttt!" Zoe menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya berguncang hebat saat ia berusaha keras menahan tawa yang meledak di tengah situasi hidup dan mati ini.

Sosok berkulit hijau itu mendidih. Wajahnya yang penuh bintil-bintil aneh memerah padam karena penghinaan itu. "KAU— TUTUP MULUTMU! AKU ADALAH SILUMAN KADAL PADANG PASIR YANG TERHORMAT, BUKAN KODOK!" teriaknya dengan suara parau yang menyakitkan telinga.

"Buhahahahaha!" Pertahanan Zoe runtuh sepenuhnya.

Dia tertawa terbahak-bahak hingga air mata menyelinap di sudut matanya, melupakan rasa terkejut yang sempat menghimpitnya tadi. Kontras antara penampilan mereka yang menyeramkan dengan sebutan 'kodok' benar-benar terlalu konyol bagi Zoe.

"Kau... berani sekali menertawakanku! Akan kuhabisi kau sampai tidak ada satu pun tulang yang tersisa!" teriak siluman kadal itu murka. Kulit hijaunya yang pekat berkilat di bawah cahaya lampu, kontras dengan mata merah menyala seperti bara api yang siap membakar apa saja. Dia merapal sesuatu, lalu dari telapak tangannya keluar cahaya hijau berpendar yang menyebarkan aroma busuk seperti bangkai yang sudah berhari-hari—sebuah serangan racun yang mematikan.

Tanpa peringatan, siluman itu menerjang Zoe dengan kecepatan kilat. Namun, sebelum serangan itu bahkan sempat menyentuh helai rambut Zoe, sebuah bayangan putih melesat lebih cepat. Steven sudah melepaskan kekuatan rubahnya--- satu ekor putih yang besar dan kuat meluncur, melilit pinggang Zoe dengan protektif namun lembut, menarik tubuh gadis itu ke arahnya dalam satu gerakan mulus.

Zoe tersentak, napasnya tertahan saat punggungnya menabrak dada bidang Steven yang keras dan hangat. Dia mendongak, menemukan wajah Steven yang hanya berjarak beberapa inci.

Mata pria itu tidak lagi dingin, melainkan berkilat dengan amarah yang murni, menatap tajam ke arah siluman hijau yang kini mematung karena serangannya gagal.

"Kau—" Steven berbisik, namun getaran suaranya mengandung ancaman yang bisa meruntuhkan nyali siapa pun. "Berani sekali kau mencoba menyentuh milikku."

Deg! Jantung Zoe berdegup kencang, bukan karena tawa atau rasa takut, melainkan karena aliran aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya mendengar sebuah kata posesif itu.

BERSAMBUNG

1
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!