NovelToon NovelToon
Cintaku Bersemi Di Desa

Cintaku Bersemi Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.

Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.

"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.

"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."

"Matamu, Mbak!"

Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.

Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deep talk

Usai makan malam bersama orang tua juga mertuanya, Rinjani kembali kekamar. Menghidupkan laptopnya yang seharian ini tidak terjamah akibat sibuk dengan suaminya-Ikhram.

Ia melakukan panggilan video dan langsung dijawab oleh seorang wanita dengan wajah kumalnya. Kening Rinjani mengerut menyadari Zira masih berada di kantor padahal sudah jam delapan malam.

"Kenapa belum pulang?"

"Banyak pekerjaan Bu, tadi ada beberapa klien yang meminta revisi terkait desain box makanan."

"Maaf membuatmu lembur sampai seperti ini." Rinjani cemberut. "Tapi untuk sementara saya belum bisa pulang karena menimbulkan masalah di kampung."

"Nggak apa-apa Bu, hampir selesai kok." Zira mengeleng di seberang telepon. "Detail revisinya sudah saya kirimkan ke email bu Jani."

"Oke, akan saya kerjakan dan kirim kepadamu secepatnya. Untuk sementara nggak perlu menerima orderan dulu, kita fokus pada klien yang ada saja."

"Siap Bu. Btw Bu Jani lagi di kamar?" tanya Zira dengan kening mengerut.

"Iya, kenapa memangnya?"

"Sama cowok?"

"Nggak." Rinjani refleks mengeleng.

"Tapi saya baru saja melihat cowok melintas di belakang kursi bu Jani. Apa saya salah lihat?" Zira tampak berpikir di seberang telepon.

Sedangkan tangan Rinjani, sibuk mendorong Ikhram agar menjauh dari kamera. Bahkan memelototkan matanya sebagai ancaman jika Ikhram nekat memperlihatkan diri. Rinjani tidak mau ada yang tahu bahwa ia sudah menikah di desa.

"Zira nanti saya telpon balik." Rinjani mematikan panggilan video secepat kilat. Menghela napas panjang seraya menatap Ikhram kesal.

"Saya nggak bermaksud untuk menganggumu. Saya mengantarkan ini untukmu." Meletakkan kresek berisi cemilan pesanan Rinjani saat Ikhram memberitahukan akan ke toko ibunya.

"Sorry, saya belum siap memberitahu siapapun tentang kita dan untuk cemilannya terimakasih."

"Nggak semua harus instan, santai saja."

Ikhram memilih berbaring di ranjang, meski begitu tatapannya tetap tertuju pada Rinjani yang kembali sibuk dengan layar laptop sambil mengemil makanan ringan.

Ada beberapa macam cemilan Ikhram bawa, di dominasi oleh coklat sebab yang Ikhram tahu Rinjani sangat suka coklat.

Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik mengingat momen 20 tahun lalu di mana Rinjani menangis karena dia mengigit coklat Rinjani. Bukan gigitan kecil, melainkan gigitan besar yang mampu menghabiskan coklat bahkan sampai tangan Rinjani ikut tergigit.

"Perempuan cengeng dan galak itu sekarang menjadi istriku," batin Ikhram. Tidak bosan-bosan memandangi wajah ayu Rinjani.

"Memangnya nggak ada yang menarik selain saya sampai kamu susah mengalihkan pandangan?"

"Iya." Ikhram mengangguk tanpa canggung sedikit pun.

"Tapi saya nggak bisa fokus kerja pak Ikhram." Memutar bola mata malas.

"Baiklah saya akan tidur, selamat malam." Ikram memilih untuk memejamkan matanya.

Bukan tanpa alasan, hari ini dia banyak pikiran tapi tidak bisa memperlihatkannya pada siapapun. Bagaimana mungkin dia akan baik-baik saja setelah mendapatkan pemberitahuan dibebas tugaskan? Menunggu keputusan yang berwewenang atas sanksi yang akan diterimanya.

Bukti? Bukti apa yang harus Ikhram ajukan sedangkan di dalam kamar hotel tidak ada cctv bahwa mereka tidak melakukan apapun.

Kelopak mata Ikhram terbuka merasai kasur bergerak. Dia tersenyum pada Rinjani yang ternyata sudah berada di sampingnya dengan posisi duduk.

"Bicaralah, saya akan mendengarkan," ujar Ikhram.

Bukannya bicara, Rinjani malah menghela napas panjang. Ikut berbaring di samping Ikhram.

"Dua hari yang melelahkan, bagaimana denganmu?" tanyanya tanpa menatap lawan bicara.

"Entahlah saya harus mengatakan ini melelahkan atau membahagiakan, tetapi semuanya nggak ada yang berjalan sesuai rencana." Ikhram Menumpu kepalanya dan menghadap Rinjani.

Cahaya lampu yang temaram tidak menghalangi Ikhram menikmati wajah cantik itu. Siluet Rinjani pada dindin sesekali bergerak karena tarikan napas yang begitu panjang.

Tanpa berbicara banyak mereka tahu memiliki beban masing-masing yang menghimpit dada.

"Kamu benar nggak ada yang berjalan sesuai rencana. Saya datang ke desa ini untuk menenangkan hati karena tuntutan ayah, sakitnya dikhianati juga lelahnya pekerjaan. Namun, saya berakhir menikahi pria yang baru saya temui satu minggu."

"Kamu menyesal?" Ikhram mengerjap pelan, menanti setiap kata yang terlontar dari bibir Rinjani.

"Hm, tapi hanya sesaat setelah memikirkannya lebih dalam." Perhatian yang semula ada pada langit-langit kamar, beralih pada wajah tampan Ikhram di sampingnya. "Berkat fitnah warga, saya menepati janji yang hendak saya ingkari pada ayah." Rinjani tersenyum.

"Saya usia saya 25 tahun, ayah selalu mendesak untuk menikah tapi pacar saya belum siap. Akhirnya saya berjanji pada ayah untuk menikah sebelum usia 28 tahun. Namun ...." Ucapan itu terjeda, seolah sangat sulit untuk dilanjutkan. Anehnya saat Ikhram mengenggam tangannya, ia seakan mendapatkan dorongan.

"Namun dua minggu sebelum genap 28 tahun, saya memergoki pacar saya selingkuh di apartemen saya sendiri. Menakjubkan bukan?"

"Hm." Ikhram mengangguk. "Sangat menakjubkan."

"Apanya?"

"Doa saya."

"Huh?" Kening Rinjani mengerut.

.

.

.

Aturannya mah pelan-pelan Ikhram,

1
Teh Yen
nah loh mel selain tidak setia atasan mulutmu Tidka d jaga pula hihii 😁 Suami yah Mel suami atasanmu itu bukan sepupunya ingat itu
Teh Yen
kan kan Jani jd bodoh Karena adrian.yg terus gangguin dia huuh untung aj kmr zira nyelamatin kamu Jani huft
Teh Yen
kenapa kamu berpikir pendek Jani huuh 😤 sebenarnya apa yg membuat kamu putus asa apakah ancaman Adrian
Maria Kibtiyah
lanjut
sryharty
hayooo semangat para calon nenek dan kakek,,
sryharty
setia banget ko yah
Rista Awwalina
lah..pintar tp polos 🤣
sryharty
Aisssss janiiii
sryharty
ya Allah yg sabar ya ka,,padahal ceritanya bagus
jangan end di tengah jalan ya ka,,,

noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
Rohmi Yatun
semangat thor.. ceritanya bagus kok..
lanjut sampe end ya thor🙏
Rohmi Yatun: siaappp👍
total 2 replies
Maria Kibtiyah
akhirnya si jani sadar juga
sryharty
ayo iklan tanyakan dulu Jani hamil berapa Minggu
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
Teh Yen
ikram.pasti datang terlepas dari perkataan Jani kemarin padanya ,,,.kamu Tidka sendiri Jani andai kamuu cerita kegelisahan mu pada ikram suamimu semuanya pasti akan baik baik saja
Teh Yen
Jani kenapaki.jahat.kali.sama Ikram hmmm???
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: Cie udah mulai ngerti bahasa makassar😅
total 1 replies
Arsyad Algifari.
ga mau komen karena Jani dan iklan berpisah 😪😪😪
sryharty
pasti datang wong iklan wes kecintaan banget sama jani🤭🤣
sryharty
coba cek darah hamilnya udah berapa Minggu,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
Maria Kibtiyah
hadehhh ruwet bgt hidup si jani mangkanya jngn dp duluan
Rista Awwalina
brati bukan cinta sejati, ikhlaskan saja.
sryharty
udah ikram biarkan Jani sama keputisannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!