"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Membawa Luka
Hari itu, Naira datang ke kantor dengan senyum yang dipaksakan, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia ingin menjadikan hari ini sebagai kenangan terindah sekaligus terakhirnya bersama sang CEO.
Di dalam ruangan, Naira bersikap jauh lebih manja dari biasanya. Saat jam makan siang, ia tidak mau disuapi, melainkan ia yang menyuapi Nevan dengan penuh kasih sayang.
"Mas... hari ini Mas Nevan ganteng banget," bisik Naira sambil merapikan dasi Nevan, lalu mengecup pipi pria itu lama.
Nevan terkekeh, ia memeluk pinggang Naira erat. "Ada apa ini? Tumben sekali kamu agresif begini, Sayang? Kamu bikin saya tidak mau membiarkan kamu keluar dari ruangan ini."
Naira hanya tersenyum getir, menyembunyikan genangan air mata di sudut matanya. Ia memeluk leher Nevan, mencium bibir pria itu dengan lumatan yang sangat dalam, seolah ingin merekam setiap rasa dan aroma Nevan ke dalam memorinya untuk selamanya.
"Naira sayang banget sama Mas Nevan... selamanya," gumam Naira di sela ciuman mereka.
Nevan tidak menyadari bahwa itu adalah salam perpisahan. Ia membalas pelukan itu dengan protektif, tanpa tahu bahwa esok pagi, meja kerjanya akan kosong dan gadis pembuat kopi terbaiknya telah pergi membawa rahasia besar di rahimnya.
Sore itu, kantor Wiratama Group terasa lebih sepi dari biasanya. Nevan baru saja kembali dari kunjungan lapangan di proyek satelit kota dengan langkah terburu-buru. Ada kerinduan yang membuncah di dadanya; ia ingin segera memeluk tubuh mungil Naira, menghirup aroma sabun bayinya yang menenangkan, dan menyesap kopi susu buatan gadis itu.
Nevan melongok ke ruang pantry, tempat Naira biasanya merapikan peralatan. Kosong. Ia kemudian berjalan menyusuri koridor, matanya mencari sosok berseragam biru muda itu, namun tak ada tanda-tanda keberadaan Naira.
"Mungkin dia sudah menunggu di ruanganku," batin Nevan sambil tersenyum tipis.
Ia membuka pintu ruang kerjanya yang megah. Hening. Hanya ada keharuman parfum Naira yang masih tertinggal di udara. Nevan berjalan menuju meja eksekutifnya dan matanya tertuju pada sebuah amplop putih bersih yang diletakkan tepat di atas keyboard komputernya.
Nevan duduk di kursi kebesarannya, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang karena firasat buruk. Ia membuka amplop itu dengan tangan gemetar.
"Mas Nevan yang paling Naira sayangi...
Maafkan Naira karena pergi tanpa pamit secara langsung. Naira tidak sanggup melihat mata Mas yang penuh cinta jika harus mengatakan ini. Mas, Naira sangat, sangat mencintai Mas Nevan. Tapi semakin Mas mencintai Naira, semakin Naira merasa tidak pantas.
Naira tidak mau membohongi Mas lebih lama lagi. Mas, sebelum kita bertemu, Naira sudah ternoda. Malam itu di parkiran mall, seseorang telah merenggut kesucian Naira di dalam sebuah mobil. Naira dijebak oleh rekan kerja Naira dengan obat perangsang, dan Naira tidak tahu siapa pria itu karena semuanya gelap dan Naira tidak berdaya.
Dan sekarang... Naira hamil, Mas. Naira mengandung anak dari pria asing itu. Naira merasa sangat kotor dan rendah di hadapan Mas Nevan yang begitu sempurna. Carilah wanita yang selevel dengan Mas, wanita yang masih suci dan bisa menjaga martabat Mas, bukan gadis desa yang sudah cacat seperti Naira.
Lupakan Naira, Mas. Biarkan Naira menanggung dosa ini sendirian di kampung. Terima kasih untuk satu bulan yang indah. Maafkan Naira."
Nevan tertegun. Kertas di tangannya bergetar hebat. Matanya memanas saat membaca baris demi baris pengakuan jujur yang menghujam jantungnya. Bukan karena marah, tapi karena rasa sakit yang luar biasa membayangkan betapa menderitanya Naira menanggung beban itu sendirian.
"Bodoh... kamu bodoh, Naira!" teriak Nevan frustrasi, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.
Nevan meremas surat itu, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan kalung perak melati yang selama ini ia simpan. Ia tertawa getir dengan air mata yang mulai menetes.
Naira pergi karena merasa mengandung anak pria lain, padahal pria itu adalah dirinya sendiri. Pria "jahat" di parkiran mall itu adalah Nevan, pria yang sekarang sangat ia cintai.
"Kamu hamil anakku, Naira! Itu anakku!" terhampar kenyataan pahit bahwa kebungkamannya selama ini justru menjadi bumerang yang menghancurkan hatinya sendiri.
Tanpa membuang waktu, Nevan menyambar kunci mobilnya. Ia berlari keluar ruangan, mengabaikan Dimas yang mencoba memanggilnya. Ia harus ke Yogyakarta. Ia harus menemukan Naira sebelum gadis itu melakukan hal nekad atau tenggelam dalam rasa bersalah yang salah alamat.
Pagi itu, desa Jogja yang biasanya tenang berubah menjadi riuh rendah, namun bukan karena suara musik gamelan pernikahan, melainkan karena isak tangis yang memecah kesunyian. Bendera kuning berkibar di depan rumah Sutrisno.
Di dalam rumah, jenazah Sutrisno terbujur kaku ditutupi kain jarik. Naira Ayu Lestari bersimpuh di samping keranda ayahnya, tubuhnya bergetar hebat. Matanya kosong, tidak ada lagi air mata yang tersisa karena sudah terkuras habis sepanjang malam.
"Ini salahku... Bapak meninggal karena menanggung maluku," rintih Naira dalam hati. Kalimat pengakuannya semalam tentang kehamilan dan peristiwa di Jakarta terus terngiang, menjadi beban yang sangat berat di pundaknya.
Sulastri Wulandari duduk tak jauh dari sana, sesekali sesenggukan. Namun, di sela tangisnya, ia menatap Naira dengan tatapan yang sulit diartikan, antara sedih dan menyalahkan. Sementara Bagas, sang kakak, tampak gelisah di teras rumah. Ia tidak hanya sedih kehilangan ayahnya, tapi ia panik karena utang judinya pada Tuan Tommy belum lunas dan "jaminannya" kini sedang berduka hebat.
Di tengah prosesi doa, Tuan Tommy datang dengan setelan batik mentereng, kontras dengan suasana duka. Ia melangkah masuk tanpa rasa sungkan, menatap jenazah Sutrisno sekilas lalu beralih pada Naira yang tampak sangat rapuh.
"Sutrisno sudah tidak ada, tapi utang tetap utang," ucap Tuan Tommy dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Bagas, ibumu, dan kamu Naira... jangan pikir kematian ini bisa menghapus perjanjian kita. Setelah tujuh hari pemakaman, pernikahan tetap harus dilaksanakan!"
Naira hanya bisa menunduk, meremas ujung kebayanya. Ia merasa benar-benar hancur. Ayahnya baru saja pergi, dan kini ia harus menghadapi monster yang ingin memilikinya.
Setelah pemakaman selesai dan para pelayat pulang, rumah itu terasa sangat sepi dan dingin. Naira mengunci diri di kamarnya yang kecil. Ia duduk bersandar di pintu, memeluk perutnya yang kini ia tahu sedang mengandung nyawa.
"Maafkan Ibu, Nak... Ibu tidak tahu harus membawamu ke mana. Ayahmu... pria misterius itu tidak ada di sini, dan Mas Nevan... Mas Nevan pasti akan membenciku jika tahu aku mengandung anak orang lain," bisik Naira terisak.
Naira merasa sangat rendah diri. Ia merasa dirinya adalah wanita pembawa sial. Ia telah mengecewakan ayahnya hingga ayahnya meninggal, dan ia merasa telah mengkhianati cinta tulus Nevan Adhiguna Wiratama.
Di saat yang sama, di jalur pantura menuju Yogyakarta, sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi, membelah hujan yang mulai turun. Di dalam mobil itu, Nevan mencengkeram kemudi dengan erat, matanya merah karena kurang tidur. Di sampingnya, Dimas terus mencoba menghubungi nomor Naira yang tidak aktif.
Nevan belum sampai. Ia belum tahu bahwa calon mertuanya telah tiada, dan ia belum tahu bahwa kekasih hatinya sedang bersimpuh di lantai meratapi nasib yang begitu malang.
Rasa bersalah yang menghimpit dada membuat Naira Ayu Lestari merasa tidak pantas lagi menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Di tengah suasana duka yang belum kering, tepat saat anggota keluarga lain terlelap karena kelelahan setelah pemakaman, Naira mengemasi sedikit pakaiannya ke dalam tas kusam.
Tanpa sepatah kata, tanpa surat pamit, Naira melangkah keluar dari rumah kayu itu di bawah kegelapan dini hari. Dengan sisa uang bonus dari Nevan, ia berjalan kaki menuju jalan raya provinsi dan menaiki bus antar kota pertama yang lewat—bus jurusan Surabaya. Ia ingin menghilang, membuang identitasnya, dan menanggung dosanya sendirian di kota yang tak mengenalnya.
Pagi harinya, desa Jogja geger. Tuan Tommy datang dengan mobilnya, siap menagih janji pernikahan yang tertunda. Namun, saat ia mendapati kamar Naira kosong melompong, kemarahannya meledak.
"Sutrisno sudah mati, sekarang anaknya kabur?! Kalian mau mempermainkan saya?!" teriak Tuan Tommy sambil menggebrak meja ruang tamu.
Bagas Pratama Lestari gemetar ketakutan, sementara Sulastri Wulandari hanya bisa bersimpuh memohon ampun. Tapi Tuan Tommy tidak punya belas kasihan.
"Bagas! Karena adikmu kabur, semua utang judimu dan utang bapakmu jatuh tempo hari ini! Keluar kalian dari sini!" perintah Tuan Tommy kejam.
Dengan pengawalan tukang pukulnya, Tuan Tommy menyita surat sawah satu-satunya peninggalan Sutrisno. Tak cukup sampai di situ, barang-barang Sulastri dan Bagas dilempar keluar rumah. Mereka diusir paksa dari rumah yang telah mereka huni puluhan tahun.
Sulastri duduk di pinggir jalan desa, menatap rumahnya yang kini digembok oleh anak buah Tuan Tommy. Rasa sedih kehilangan suami berganti menjadi kebencian yang mendalam kepada putri bungsunya.
"Naira... tega-teganya kamu!" raung Sulastri sambil memukul-mukul tanah. "Dulu kamu jadi kebanggaan, sekarang kamu buat kami sengsara! Gara-gara anak haram di perutmu itu, Bapakmu mati dan kami jadi gelandangan!"
Bagas hanya bisa tertunduk diam. Ia ingin marah pada Naira, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu dialah yang memulai semua ini dengan utang-utangnya. Namun, egonya lebih besar; ia ikut menyalahkan kepergian Naira sebagai penyebab kehancuran keluarga mereka.