NovelToon NovelToon
Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Segel Kekosongan Abadi : Iblis Berbaju Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.

Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.

Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.

Yang mengerikan bukan caranya membunuh.

Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.

Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Melarikan Diri Dari Neraka

Dua puluh penjaga.

Wei Mou Sha berdiri di belakang pintu selnya, menghitung dalam kepalanya.

Penjaga pertama dan kedua di luar pintu ini.

Tiga di tikungan pertama koridor.

Empat di pos tengah, dua puluh meter setelah tikungan.

Tiga lagi di tangga naik.

Enam di pintu keluar.

Dua patroli keliling yang jadwalnya ia hafal dari suara langkah kaki selama berbulan-bulan.

Total ada dua puluh penjaga.

Dua puluh titik qi. Dua puluh urutan tekanan yang perlu ia eksekusi.

Wei Mou Sha menarik napas satu kali. Kemudian ia mengetuk pintu dari dalam.

"Hei." Suaranya datar. "Ada yang jatuh di sini. Sepertinya pecahan jarum dari sesi tadi."

Keheningan terjadi sebentar dari luar.

"Letakkan saja di sudut. Akan kita ambil besok."

"Sudah kucoba. Tetapi ada yang menancap di telapak kakiku."

Penjaga pintu itu kesal dan kemudian membuka pintunya.

Penjaga pertama masuk dengan ekspresi kesal. Ia melihat Wei Mou Sha berdiri di tengah ruangan dengan kaki kanan sedikit terangkat.

Tiga langkah masuk.

Wei Mou Sha langsung menyerang penjaga itu dan menekan dua titik di leher sisi kanannya secara bersamaan, yang jika ditekan dengan tekanan yang tepat akan memutus aliran qi ke otak selama beberapa detik yang cukup untuk menjatuhkan seseorang tanpa suara.

Penjaga itu langsung jatuh ke lantai. Sementara Penjaga kedua mengintip masuk setengah detik kemudian.

"Ada apa?" Sebelum melanjutkan pertanyaannya, penjaga kedua itu pun mendapat perlakuan yang persis sama seperti penjaga pertama.

Wei Mou Sha mengambil kunci dari pinggang penjaga pertama dan mengambil pisau pendek dari pinggang penjaga kedua.

Ia kemudian melangkah keluar ke koridor.

Koridor Ordo Kekosongan panjang dan lurus, diterangi bola cahaya qi yang menempel di dinding setiap sepuluh meter.

Ia bergerak cepat tapi tidak berlari, Tiga penjaga di tikungan pertama. Dua sedang berbicara satu sama lain sambil membelakangi koridor. Satu sedang melihat ke arah berlawanan sambil menguap.

Wei Mou Sha memilih menyerang yang menguap lebih dulu, ia paling jauh dari dua yang lain dan langsung menyerang titik di pergelangan tangan dan diikuti titik di pundak, seketika tubuh nya jatuh ke lantai tanpa suara.

Dua yang berbicara baru menoleh saat suara tubuh rekannya menyentuh lantai.

Setengah detik kemudian mereka merasakan ada ancaman, tetapi tidak cukup untuk bereaksi.

Keduanya menyusul rekannya jatuh ke lantai dalam selisih waktu yang tidak lebih dari tiga menit. Wei Mou Sha melangkah melewati ketiganya.

Pos tengah lebih rumit.

Empat penjaga, tapi dua di antaranya dalam posisi berhadapan satu sama lain, artinya tidak ada sudut pendekatan yang tidak terlihat.

Wei Mou Sha berhenti di sudut sebelum pos, mengamati sebentar.

Ia mempertimbangkan beberapa opsi dalam waktu yang tidak lebih dari sepuluh detik.

Kemudian ia mengambil batu kecil dari lantai,  dan melemparnya ke koridor seberang dengan suara cukup keras.

Tiga dari empat penjaga menoleh ke arah suara itu.

Yang keempat, yang posisinya paling strategis tidak menoleh. Ia bangkit berdiri dengan tangan sudah di gagang pedangnya.

Wei Mou Sha masuk dari sisi kiri.

Penjaga itu bereaksi cepat dan langsung berbalik. Tangannya sudah mendorong pedangnya keluar dari sarungnya, tapi Wei Mou Sha lebih dulu masuk ke jarak dekat membuat Pedang itu tidak lagi berguna.

Tiga serangan. Cepat dan berurutan. Semuanya tepat di jalur qi utama sisi kiri tubuhnya.

Penjaga itu jatuh begitu saja. Pedangnya kembali masuk tanpa pernah benar-benar terhunus.

Tiga lainnya baru sempat menoleh saat rekan mereka sudah tergeletak di lantai. Di saat yang sama, Wei Mou Sha sudah berdiri di tengah ruangan.

Mereka bergerak hampir bersamaan. Instingnya tidak buruk. Tapi mereka tidak pernah benar-benar siap untuk sesuatu seperti ini.

Tangga menuju atas.

Tiga penjaga menunggu di sana, namun jalurnya sempit. Hanya satu yang bisa maju dalam satu waktu.

Wei Mou Sha tidak berhenti. Ia naik tanpa memberi mereka kesempatan untuk menyusun ritme.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Jarak menyusut dengan cepat.

Di ujung, sebuah pintu sudah menunggu.

Pintu menuju permukaan dijaga enam orang. Ini yang paling banyak sejauh ini, dan untuk pertama kalinya Wei Mou Sha berhenti sejenak di balik pintu.

Ia mendengarkan ada enam napas. Dua di kiri. Dua di kanan. Dua di tengah tepat menghadap pintu.

Wei Mou Sha mendorong pintu dan membukanya dengan tenang. Tidak terburu-buru, tidak juga mencurigakan. Ia melangkah keluar seperti seseorang yang memang seharusnya berada di sana.

Dua penjaga di tengah menatapnya. Setengah detik, hanya itu yang mereka butuhkan untuk mulai merasa ada yang salah.

Setengah detik sudah cukup.

Empat yang tersisa bereaksi cukup cepat.

Tapi mereka juga sudah terlambat.

Ancaman itu bukan lagi sesuatu yang mendekat. Ancaman itu sudah berdiri di antara mereka.

Dan itu jauh lebih sulit untuk dihadapi.

Tiga menit.

Enam penjaga tergeletak di lantai.

Pintu terbuka, dan Wei Mou Sha langsung menghadap langit.

Ia berdiri di ambang pintu. Ia tidak langsung melangkah keluar. Ia merasakan terlebih dahulu udara luar yang masuk ke paru-parunya untuk pertama kalinya, sangat bersih dan dingin.

Tidak seperti udara pengap yang ia hirup selama empat belas tahun di bawah tanah. Ada bau tanah basah. Ada sesuatu yang hijau seperti rumput, mungkin, atau daun. Ia tidak tahu pasti. Ia belum pernah mengenalnya.

Napasnya tertarik lebih dalam tanpa ia sadari.

Wei Mou Sha mengangkat pandangannya.

Langit berwarna abu-abu keunguan. Bintang-bintang terakhir memudar di barat. Di timur, garis tipis cahaya merah mulai muncul di balik bayangan pegunungan yang jauh.

Ia tidak tahu nama pegunungan itu. Tidak tahu tempat ini. Tidak tahu di mana posisinya sekarang.

Empat belas tahun di bawah tanah, dan ini pertama kalinya ia melihat langit yang nyata. Bukan gambar di buku. Bukan cerita dari asisten yang kadang berbicara saat suasana hatinya baik.

Kompleks Ordo Kekosongan berdiri di lereng sebuah lembah tersembunyi. Tiga sisi dikelilingi tebing. Satu-satunya jalan keluar adalah celah sempit di utara yang tertutup kabut tebal.

Wei Mou Sha mengamatinya sejenak, lalu berjalan ke arah sana.

Belum ada yang mengejar. Setidaknya belum.

Dua puluh penjaga yang ia lewati hanya dilumpuhkan, bukan dibunuh. Dengan titik qi yang ia tekan, mereka akan tak sadarkan diri selama beberapa jam. Cukup untuk memberinya jarak dan waktu.

Ia memasuki celah itu.

Kabutnya tebal. Pandangan terputus hanya beberapa langkah ke depan. Ia tetap berjalan lurus.

Beberapa saat kemudian, kabut mulai menipis.

Di sisi lain, jalan terbuka.

Wei Mou Sha berdiri di puncak bukit kecil.

Di hadapannya, lembah terbentang luas. Padang rumput. Hutan di kejauhan. Sebuah sungai memanjang berkilau seperti perak di bawah cahaya fajar yang mulai menguat.

Ia belum pernah melihat semua itu.

Padang rumput.

Hutan yang nyata.

Sungai yang benar-benar mengalir.

Lalu ia bergerak dan melangkah.

Patroli pertama muncul dari timur, tepat saat ia setengah menuruni bukit. Ada dua orang penjaga sedang membawa obor di tangannya.

“Hei, siapa kamu? Kenapa ada disini, Ini adalah zona terlarang...”

Wei Mou Sha tidak berhenti dan terus melangkah mengabaikan pertanyaan itu.

Tidak berselang beberapa detik, keduanya jatuh sebelum kalimat itu selesai.

Di dadanya, segel itu berdenyut kembali. Seperti detak kedua. Ia mengabaikannya seperti biasa.

Empat belas tahun di ruang tanpa langit. Di tangan orang-orang yang tidak pernah menyebutkan namanya.

Wei Mou Sha melangkah di atas rumput basah. Ia terus berjalan. Dan jauh di luar sana di dunia yang belum ia kenal ada sesuatu yang harus ia temukan.

1
Romansah Langgu
Cerita tentang apa nhe??? Novel yg pelik pula nhe..
Budi Xiao
Luar Biasa
Green Boy
ditunggu up nya thor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!