Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGGALI INFORMASI
Lyra masih berdiri di ruang tamu yang luas itu, memandangi langit dari balik jendela kaca raksasa.
Angin sore berembus pelan di luar, namun di dalam kepalanya, suara-suara dari masa lalu dan peringatan kakeknya terus berputar.
"Lyra? Kenapa melamun di sini?"
Suara lembut itu memecah keheningan.
Nyonya Arin berjalan mendekat, menyentuh bahu putrinya dengan sayang, dia bisa merasakan aura Lyra yang sedikit berbeda sore ini.
"Tidak apa-apa, Mom, hanya merasa udara sore ini sedikit lebih berat dari biasanya," jawab Lyra tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mommy dengar tentang kejadian di sekolah tadi. Daddy-mu hampir saja mengirim helikopter untuk menjemputmu kalau Kakek tidak menahannya," ucap Nyonya Arin sambil terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Daddy selalu berlebihan, padahal aku hanya sedang belajar sejarah, bukan sedang dikepung musuh," jawab Lyra menoleh, menatap ibunya dengan, senyum tipis.
"Tapi pria itu, dia Xavier Valerius, Sayang, dia bukan orang biasa, keluarga kita dan keluarganya punya sejarah yang tidak begitu baik di Negara A ini," bisik Nyonya Arin, raut wajahnya berubah serius.
"Aku tahu, Mom, Kakek sudah memperingatkan ku tadi. Tapi bukankah semakin dilarang, sesuatu itu biasanya akan semakin mendekat?" ucap Lyra dengan nada santai namun penuh makna.
Nyonya Arin terdiam, dia menatap mata hitam pekat putrinya, sebagai ibu, dia tahu bahwa Lyra bukan gadis remaja biasa yang bisa dilarang begitu saja.
Sementara itu, di sebuah bandara pribadi yang terletak di pinggiran Negara C, Xavier baru saja menaiki jet pribadinya.
Simon dengan sigap membawakan tas medis untuk mengobati luka di lengan bosnya.
"Tuan, silakan duduk, Saya akan bersihkan lukanya," ucap Simon, sopan.
Xavier hanya duduk diam, membiarkan Simon menggunting lengan kemejanya yang robek, matanya menatap datar ke arah jendela jet yang mulai bergerak di landasan pacu.
"Simon," panggil Xavier tiba-tiba.
"Ya, Tuan?" jawab Simon, sopan.
"Cari tahu semua hal tentang Lyra Clarissa Wijaya. Bukan hanya profil sekolahnya, tapi apa yang dia suka, ke mana dia pergi setelah sekolah, dan siapa saja teman-temannya," perintah Xavier, suaranya terdengar sangat posesif.
"Termasuk jadwal kegiatan keluarga Wijaya, Tuan?" tanya Simon, menghentikan gerakannya sejenak.
"Semuanya, jangan ada yang terlewat, dan satu lagi, pastikan orang-orang kita di Negara A tidak menyentuh wilayah Wijaya tanpa seizinku! Aku tidak mau ada keributan yang bisa membuat Lyra menjauh!" perintah Xavier, tegas.
"Baik, Tuan, Saya akan segera mengaturnya," jawab Simon mengangguk patuh.
Setelah lukanya dibalut, Xavier menyandarkan kepalanya, memejamkan matanya, dan bayangan Lyra yang menatapnya dengan berani di dalam kelas tadi kembali muncul.
"Gadis yang menarik, dia sama sekali tidak takut padaku," gumam Xavier dengan seringai tipis di bibirnya.
"Mungkin karena dia adalah cucu Tuan Bastian, Tuan, darah Wijaya memang dikenal tidak punya rasa takut," ucap Simon sambil merapikan peralatan medisnya.
"Bukan hanya itu, Simon, tapi ada sesuatu yang lain dalam dirinya, sesuatu yang terasa akrab..." ucap Xavier pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Kembali ke kediaman Wijaya di Negara A, di kamarnya, Lyra baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju santai, saat ini gadis cantik itu sedang duduk di balkon kamarnya, ditemani secangkir teh hangat.
Ting
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi, sebuah notifikasi pesan masuk dari grup percakapan
Tiga Serangkai🐻
Gia Moane: "Lyraaaaa! Kamu beneran nggak bisa ikut ke kafe lili? Sifa sudah dandan cantik nih, masak aku pergi sendirian!"
Sifa Luxio: "Gia, jangan bohong, aku cuma pakai bedak tipis. Lyra, abaikan dia, tapi kalau kamu bosan di rumah, kami siap menculik mu kalau kamu mau."
Lyra tersenyum kecil membaca pesan itu, sahabat-sahabatnya adalah satu-satunya pelariannya dari dunia yang menyesakkan ini.
Lyra C. Wijaya: "Lain kali ya guys, kakek sedang dalam mode waspada tingkat tinggi. Kalau aku keluar, bisa-bisa satu batalyon ikut menjaga di belakang."
Gia Moane: "Yahhh... Dasar Kakek Bastian protektif! Ya sudah, selamat menikmati malam dengan laporan saham mu ya, Nona Muda"
Lyra meletakkan ponselnya kembali, dan menghela napas panjang, menatap bulan yang mulai muncul di langit malam.
"Malam ini terasa sangat tenang," gumam Lyra, pelan.
Namun, insting tajamnya sebagai keturunan makhluk abadi memberitahu hal lain.
Baru saja Lyra akan menyesap tehnya yang mulai mendingin, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk pelan.
Tok
Tok
Tok
Tanpa perlu menoleh, aroma melati yang menenangkan sudah memberitahunya siapa yang datang.
"Lyra, Sayang? Boleh Mommy masuk?" tanya Nyonya Arin terdengar lembut dari balik pintu.
"Masuk saja, Mom. Pintunya tidak dikunci," jawab Lyra, wajahnya yang tadi terlihat dingin dan waspada seketika melunak.
Ceklekk
Nyonya Arin masuk sambil membawa sebuah nampan kecil berisi segelas susu putih hangat dan beberapa keping biskuit gandum.
Wanita paruh baya itu tersenyum melihat putrinya yang masih asyik duduk di balkon, membiarkan rambut hitam panjangnya tertiup angin malam.
"Sudah malam, Sayang, udara di luar mulai dingin, ini, Mommy buatkan susu hangat. Habiskan ya, supaya tidurmu nyenyak," ucap Nyonya Arin sambil meletakkan gelas itu di meja kecil samping Lyra.
Lyra menoleh, dengan lembut menarik tangan ibunya dan menyandarkan kepalanya di pinggang Nyonya Arin.
Di depan dunia, dia adalah singa betina keluarga Wijaya yang ditakuti, tapi di depan ibunya, dia tetaplah gadis kecil yang butuh pelukan.
"Terima kasih, Mom. Mommy selalu tahu apa yang aku butuhkan," gumam Lyra manja, tangannya memeluk pinggang ibunya erat.
"Tentu saja, kamu itu separuh nyawa Mommy, Lyra, melihatmu pulang sekolah dengan wajah lelah saja sudah membuat hati Mommy tidak tenang," jawab Nyonya Arin mengelus rambut Lyra dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak lelah karena pelajaran, Mom, aku hanya lelah menghadapi orang-orang yang berisik," ucap Lyra sambil mendongak, menatap mata ibunya dengan binar jahil.
"Termasuk pria Valerius itu? Mommy perhatikan sejak tadi sore pikiranmu seperti terbang ke mana-mana," tanya Nyonya Arin tertawa kecil lalu duduk di kursi sebelah Lyra.
Lyra terdiam sejenak, mengambil gelas susu hangatnya dan menyesapnya perlahan, membiarkan rasa hangatnya mengalir di tenggorokan, menenangkan syarafnya yang sempat tegang.
"Dia hanya berbeda, Mom, tapi jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengacaukan ketenangan keluarga kita. Aku akan menjaga Mommy dan Daddy," jawab Lyra dengan nada sungguh-sungguh.
"Sayang, dengarkan Mommy," ucap Nyonya Arin menggenggam tangan Lyra, jemarinya mengusap punggung tangan putrinya.
"Tugas menjaga keluarga itu ada di bahu Daddy dan Kakek, dan juga Paman-Paman mu, kamu cukup menjadi Lyra yang bahagia. Kejarlah apa yang ingin kamu kejar, sekolah dengan baik, dan carilah teman yang tulus seperti Gia dan Sifa," lanjut Nyonya Arin, lembut.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,