NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Saling Memandang

"​Saat ujian, kau menoleh ke belakang. Sedetik. Hanya sedetik, tapi cukup membuatku gila. Di antara ratusan rumus rumit dan angka-angka yang menghantui kepala, sepasang mata kelammu adalah satu-satunya soal yang tak akan pernah bisa kupecahkan, dan satu-satunya jawaban yang paling ingin kumiliki." (Buku Harian Keyla, Halaman 95)

​Waktu bergulir dengan kejam, membawa kami tiba di penghujung masa putih abu-abu. Bulan April datang mengusung hawa panas yang menyengat, seolah ikut memanaskan ketegangan yang merayap di setiap sudut SMA kami. Minggu ini adalah minggu Ujian Kelulusan Sekolah, gerbang terakhir yang akan menentukan ke mana langkah kami selanjutnya akan berlabuh.

​Suasana kelas XII-IPA 1 tak lagi diwarnai oleh canda tawa atau obrolan tentang film terbaru. Papan tulis kini dipenuhi jadwal ujian dan hitung mundur menuju hari kelulusan. Di setiap jam istirahat, meja-meja disesaki oleh tumpukan buku tebal, kumpulan soal try out, dan wajah-wajah pucat yang kurang tidur.

​Aku duduk di bangkuku, membolak-balik halaman buku biologi dengan tatapan kosong. Beberapa minggu telah berlalu sejak hari di mana aku menolak Indra dan dihancurkan oleh Rendi. Selama itu pula, aku mematuhi peranku sebagai bayangan bisu. Aku tidak menyapanya. Aku tidak menyelipkan makanan apa pun. Jarak di antara kami terasa seperti jurang membentang yang dasarnya dipenuhi lahar panas.

​"Gila, kepala gue rasanya mau pecah," keluh Bella, memecah keheningan meja kami. Ia menenggelamkan wajahnya di atas tumpukan buku rumus fisika. "Kalau gue nggak lulus, nyokap gue pasti bakal masukin gue ke asrama putri yang ketat banget. Terus tamat riwayat gue dari dunia percintaan."

​Lidya memutar bola matanya sambil mengunyah permen karet, matanya tetap terpaku pada buku catatannya. "Makanya belajar, Bel. Jangan mikirin cowok melulu. Kalau lo lulus dengan nilai bagus, lo bebas mau masuk universitas mana aja. Lo mau masuk jurusan komunikasi kan? Fokus aja ke situ."

​Siska, yang selalu terlihat paling siap di antara kami semua, menutup buku catatannya dengan anggun. Ia tersenyum menatap Lidya dan Bella. "Kalian pasti lulus kok. Kita semua udah belajar maksimal. Habis ujian ini, kita bisa fokus mikirin prom night dan persiapan masuk kampus favorit. Aku udah daftar jalur undangan ke fakultas hukum, doain ya."

​"Wah, gila! Keren banget lo, Sis. Amin, gue doain keterima deh!" seru Bella antusias. "Eh, Key, lo sendiri mau ngambil jurusan apa? Tetep sastra atau ngikutin jejak bokap lo di bisnis?"

​Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak mencapai mata. "Masih bingung, Bel. Sastra sih kayaknya."

​Siska menatapku dengan lembut, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu masuk mana aja pasti gampang, Key. Papa kamu punya banyak koneksi. Tapi yang lebih penting, ujian ini bukan cuma soal nilai, tapi juga soal memilah siapa yang pantas maju dan siapa yang bakal tertinggal." Siska sengaja melirihkan suaranya di kalimat terakhir, ekor matanya melirik tajam ke arah sudut belakang kelas. "Dunia ini adil kok. Yang punya persiapan dan modal yang bakal sukses. Yang cuma bisa ngeluh dan nyalahin nasib, ya bakal selamanya jadi sampah."

​Kata 'sampah' yang diucapkan Siska dengan nada semanis madu itu membuat darahku mendidih seketika. Siska sedang membicarakan Rendi. Siska tahu bahwa Rendi terancam tidak lulus akibat nilainya yang anjlok waktu itu. Dan Siska... menikmatinya.

​"Siska," panggilku pelan, namun nadanya mengandung peringatan yang tak biasa kugunakan padanya. Aku menatap lurus ke balik lensa kacamatanya. "Tolong jangan ngomong gitu. Masa depan orang nggak ada yang tahu."

​Siska terlihat sedikit terkejut, namun senyumnya tak luntur. "Aku cuma ngomong realita, Key. Kamu masih aja ya, hatinya terlalu lembut." Ia membelai lenganku, seolah aku adalah anak kecil yang tak mengerti kerasnya dunia. "Yaudah, fokus belajar lagi yuk. Sebentar lagi bel masuk."

​Tepat saat itu, langkah kaki yang berat terdengar memasuki ruang kelas.

​Kelas mendadak hening sejenak. Aku tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma sabun cuci batangan murah yang bercampur dengan hawa dingin pagi langsung menyapa indra penciumanku.

​Rendi berjalan menunduk menuju bangkunya, tepat di belakangku.

​Aku menahan napas. Sejak aku berhenti memberinya makanan, fisik Rendi mengalami penurunan yang sangat drastis dan mengerikan. Tulang pipinya menonjol, rahangnya semakin tirus, dan kulitnya memucat seperti mayat hidup. Kantung matanya menghitam pekat, membuktikan bahwa ia mungkin tak pernah tidur lebih dari dua jam setiap harinya. Ia dipaksa membagi nyawanya antara menjadi kuli untuk makan adiknya, dan belajar mati-matian agar beasiswanya tak dicabut.

​Ia meletakkan tas ransel bututnya di meja. Gerakannya sangat lamban. Ia terbatuk pelan, sebuah batuk kering yang terdengar sangat menyakitkan.

​Dadaku serasa diiris-iris. Aku mencengkeram ujung rok seragamku kuat-kuat untuk menahan diri agar tidak berbalik dan memberikan sebotol air padanya. Jangan, Keyla, batinku menjerit mengingatkan. Bantuanmu hanya akan dianggap sebagai penghinaan.

​Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Para pengawas ujian mulai memasuki ruangan kelas, membawa amplop cokelat tebal yang tersegel rapat. Suasana berubah menjadi sangat kaku dan tegang. Tas dan buku-buku harus disingkirkan ke bagian depan kelas. Di atas meja hanya diizinkan ada alat tulis dan kartu peserta ujian.

​Aku meletakkan dua buah pensil 2B, penghapus, dan penggaris di atas mejaku. Dari sudut mataku, aku melihat Rendi memindahkan tasnya ke depan. Di tangannya, ia menggenggam dua buah pensil yang sudah sangat pendek, nyaris tak bisa digenggam dengan nyaman, dan sebuah penghapus yang sudah menghitam.

​Itu adalah senjata terakhirnya untuk bertarung di medan perang ini.

​Pak Pengawas, seorang guru dari sekolah lain yang bermuka garang, mulai membagikan lembar soal dan Lembar Jawaban Komputer (LJK). Hari ini adalah hari ketiga, dan mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika. Mata pelajaran yang bisa membunuh mimpi siapa pun.

​"Waktu kalian seratus dua puluh menit. Jangan ada yang menengok, jangan ada yang berbisik. Ketahuan menyontek, kertas kalian saya robek!" ancam Pak Pengawas dengan suara lantang. "Berdoa mulai... Selesai. Silakan kerjakan!"

​Suara gemerisik kertas yang dibalik serentak memenuhi ruang kelas. Kurasakan adrenalin mulai memompa darahku. Aku menarik napas panjang, menunduk, dan mulai membaca soal nomor satu.

​Tiga puluh menit pertama berlalu dengan lancar. Aku berhasil mengerjakan belasan soal yang tergolong mudah dan sedang. Suasana kelas benar-benar senyap, hanya terdengar suara coretan pensil di atas kertas buram dan suara detak jarum jam dinding yang terasa jauh lebih keras dari biasanya.

​Namun, saat aku mencapai pertengahan soal, konsentrasiku mulai terganggu. Bukan karena soalnya yang sulit, melainkan karena suara-suara kecil dari meja di belakangku.

​Rendi.

​Aku bisa mendengar embusan napasnya yang berat dan tersengal. Terdengar suara ketukan pelan ujung pensilnya yang beradu dengan meja kayu, seolah ia sedang frustrasi mencari jawaban. Sesekali, ia terbatuk dengan suara tertahan. Hawa panas dari tubuhnya yang mungkin sedang demam menyapu punggungku.

​Aku menggigit bibir bawahku. Perasaanku berkecamuk. Ia sedang kesusahan. Soal matematika ini sangat sulit, apalagi bagi seseorang yang tak punya waktu untuk mempelajari materinya. Apakah ia bisa menyelesaikannya? Jika ia gagal di mata pelajaran ini, rata-rata nilainya akan hancur lebur. Nanda... bagaimana nasib Nanda nanti?

​Aku menatap LJK-ku. Lembar jawabanku sudah terisi hampir setengahnya.

​Sebuah bisikan gila melintas di kepalaku. Jika aku menggeser LJK-ku sedikit ke pinggir meja... Rendi bisa melihatnya dari belakang. Tidak. Itu salah. Menyontek adalah hal yang sangat dibenci. Dan lebih dari itu, jika Rendi tahu aku sengaja memberinya jawaban, ia akan merasa bahwa aku sedang merendahkan kecerdasannya. Ia akan merasa bahwa aku kembali menjadi 'pahlawan kesiangan'. Ia lebih memilih nilai nol daripada harus lulus berkat belas kasihan.

​Aku menggelengkan kepalaku pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Aku kembali fokus pada soalku.

​Satu jam berlalu. Ketegangan semakin memuncak. Udara di dalam kelas, meski ber-AC, terasa pengap oleh keringat dingin puluhan siswa yang sedang berpikir keras.

​Di belakangku, gerakan Rendi tiba-tiba terhenti.

​Aku tak lagi mendengar suara coretan pensilnya. Tak ada lagi suara gemerisik kertas soal yang dibalik. Keheningan dari arah mejanya ini justru membuat jantungku berdetak tak karuan. Apa yang terjadi? Apakah ia menyerah? Apakah ia tertidur karena kelelahan ekstrem?

​Tanpa bisa kukendalikan, tanganku yang memegang pensil berhenti menulis. Aku menajamkan pendengaranku.

​Terdengar suara helaan napas yang sangat dalam, berat, dan bergetar. Sebuah napas yang memancarkan keputusasaan yang absolut. Itu adalah helaan napas seorang laki-laki yang baru saja menemui jalan buntu di labirin hidupnya, menyadari bahwa ia tak akan bisa menyelamatkan adiknya.

​Hatiku seakan diremas oleh tangan raksasa. Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata. Rasa perih yang menjalar di dadaku begitu nyata, mengalahkan ambisiku sendiri untuk menyelesaikan ujian ini. Aku tak peduli lagi pada soal matematika di depanku. Aku hanya ingin memeluk keputusasaannya.

​Refleks, tubuhku bereaksi sebelum otakku sempat mencegah.

​Pensil 2B di tanganku terlepas.

​Tak. Klinting... klinting...

​Pensil itu jatuh ke lantai keramik dan menggelinding melewati kursi, berhenti tepat di bawah meja Rendi.

​Seketika, aku mematung. Kebodohan apa ini? Aku baru saja menjatuhkan pensilku ke wilayah teritorialnya di tengah ujian yang sangat ketat. Pak Pengawas yang sedang membaca koran di depan kelas langsung menoleh dengan mata menyipit.

​"Ada apa itu?" tegur Pak Pengawas dengan suara baritonnya.

​"M-maaf, Pak," cicitku dengan suara bergetar, wajahku memerah menahan panik dan tangis. "Pensil saya... jatuh ke belakang."

​Pak Pengawas menghela napas kasar. "Ambil cepat! Jangan lirik-lirik kertas temanmu!"

​Aku menelan ludah. Tubuhku gemetar hebat. Dengan gerakan sangat lambat dan kaku, aku memutar tubuhku ke samping, membungkuk untuk mengambil pensil itu.

​Saat aku membungkuk, pandanganku otomatis mengarah ke bawah meja Rendi. Kulihat sepasang sepatu kets usang yang ujungnya sudah menganga. Aku meraba lantai, menemukan pensilku.

​Namun, tepat di saat aku mengangkat tubuhku dan memutar kepalaku ke belakang untuk kembali ke posisi semula... hal yang tak pernah kuprediksi itu terjadi.

​Rendi tidak sedang menunduk menatap kertas ujiannya.

​Ia sedang menoleh ke arahku.

​Waktu di kelas XII-IPA 1 berhenti berdetak. Suara detik jam di dinding lenyap. Suara napas teman-temanku menguap. Gravitasi seolah kehilangan tarikannya, membiarkanku melayang di ruang hampa tempat hanya ada aku dan dia.

​Mata elangnya yang kelam dan tajam itu... menatap langsung ke dalam manik mataku.

​Jarak kami sangat dekat. Aku bisa melihat pantulan diriku yang terlihat pucat dan ketakutan di dalam retinanya.

​Tatapan itu... Ya Tuhan. Tidak ada amarah di sana. Tidak ada kebencian seperti saat ia membentakku di perpustakaan. Tidak ada raut merendahkan.

​Yang kulihat di matanya hanyalah sebuah kehancuran yang sangat sunyi. Sebuah kerapuhan yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik topeng gunung esnya. Ia menatapku dengan sorot mata yang begitu lelah, begitu terluka, seolah ia sedang berkata padaku dalam bahasa kebisuan yang paling menyayat hati: Aku kalah, Keyla. Dunia ini terlalu berat untukku.

​Untuk sedetik itu, seluruh benteng pertahanannya runtuh. Ia membiarkanku melihat jiwanya yang sedang menangis darah. Ia menatapku seolah aku adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai, namun ia tahu ia tak punya tenaga lagi untuk berenang meraihku.

​Ada sebuah kerinduan yang sangat pekat di dasar matanya. Sebuah permohonan maaf tanpa kata.

​Sedetik. Hanya sedetik. Namun tatapan itu mengoyak seluruh pertahananku. Ia berhasil menembus jantungku, meremasnya hingga hancur, dan menanamkan dirinya di sana untuk selamanya.

​Deg.

​Seketika, Rendi tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan. Keterkejutan melintas kilat di wajahnya. Rahangnya mengeras. Ia buru-buru membuang muka, memutar wajahnya kembali menghadap ke depan dengan gerakan yang sedikit kaku dan panik, seolah ia baru saja melakukan sebuah dosa besar karena membiarkan aku melihat kelemahannya.

​Aku kembali duduk tegak menghadap ke mejaku. Napasku terengah-engah, seakan aku baru saja berlari maraton sejauh puluhan kilometer. Tanganku yang memegang pensil bergetar begitu hebat hingga aku tak bisa lagi mengendalikan jari-jariku.

​Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah, menetes membasahi soal ujian Matematika di depanku. Tintanya sedikit luntur. Aku menggigit bibir bawahku sekuat tenaga hingga kurasakan anyir darah, berusaha meredam isakan tangis yang mendesak di tenggorokan.

​Sedetik itu sudah cukup. Sedetik tatapannya telah memberikan semua jawaban yang aku cari. Ia tidak membenciku. Ia hanya membenci nasibnya. Dan entah mengapa, kesadaran itu rasanya jauh lebih menyiksa daripada jika ia benar-benar membenciku.

​"Di tengah ruangan yang dipenuhi ratusan angka mutlak, matamu memberikanku sebuah ketidakpastian yang paling menyiksa. Jika kau memang ingin aku pergi, lalu mengapa tatapan sedetikmu itu seolah memohon agar aku tetap tinggal? Tolong, Rendi... jangan siksa aku dengan harapan yang tak akan pernah kau wujudkan." (Buku Harian Keyla, Halaman 97)

​Sisa waktu ujian kulalui dalam kekacauan mental yang luar biasa. Aku mengisi LJK-ku dengan sisa-sisa rasionalitas yang ada, sementara hatiku tertinggal di sedetik tatapan tadi.

​"Waktu habis! Letakkan alat tulis kalian dan tinggalkan LJK di atas meja! Pengawas akan mengumpulkan!" teriakan Pak Pengawas membelah keheningan.

​Seketika, terdengar suara helaan napas lega yang panjang dari seluruh penjuru kelas. Bella langsung menjatuhkan kepalanya ke meja dengan erangan keras. Lidya merenggangkan otot-otot lengannya.

​Aku masih duduk mematung.

​Terdengar suara kursi yang ditarik dengan kasar dari belakangku. Rendi berdiri. Tanpa menunggu pengawas selesai menghitung LJK, ia meraih tas ranselnya yang diletakkan di bagian depan kelas, lalu melangkah keluar melalui pintu belakang dengan kecepatan setengah berlari. Ia melarikan diri. Ia pergi secepat hantu, menghilang sebelum ada satu pun orang yang menyadari kepergiannya.

​Aku menatap pintu kelas yang kosong itu dengan dada yang terasa hampa.

​"Astaga naga! Soal nomor dua puluh lima sampai empat puluh itu dari planet mana sih?! Gila, gue nyaris nembak semua jawabannya!" keluh Bella histeris, menghampiri mejaku dan Lidya.

​Lidya memutar bola matanya. "Lo doang yang nembak, Bel. Gue sih aman."

​Siska merapikan alat tulisnya dengan senyum puas yang biasa ia tunjukkan setelah menaklukkan ujian. Ia berjalan mendekatiku, berdiri di samping mejaku. Mata Siska yang jeli menatap wajahku yang basah oleh air mata dan LJK-ku yang sedikit bergelombang karena tetesan air.

​"Keyla, kamu nangis?" tanya Siska dengan nada terkejut yang dibuat-buat. "Kenapa? Soalnya terlalu susah ya buat kamu? Padahal kamu kan pintar Matematika."

​Aku buru-buru menghapus jejak air mata di pipiku dengan lengan seragam. "E-enggak, Sis. Mataku cuma perih... kelilipan debu tadi pas ngambil pensil."

​Siska tersenyum tipis. Tangan Siska terulur, membelai punggungku dengan gerakan yang sangat lembut. "Oh... kirain kamu nangis karena ngeliat kelakuan cowok di belakangmu itu."

​Tubuhku menegang seketika. Aku mendongak menatap Siska.

​"Kelakuan apa maksud lo, Sis?" Lidya yang sedari tadi mengeluh kini ikut tertarik.

​Siska menghela napas pelan, menatapku dengan sorot mata penuh keprihatinan yang membunuh. "Tadi pas kamu lagi nunduk ngambil pensil, Key, aku kebetulan noleh. Aku lihat Rendi ngeliatin punggung kamu. Tatapannya itu... aneh banget."

​Jantungku berdebar tak karuan. Apa Siska melihat kelemahan di mata Rendi juga?

​"Aneh gimana?" desak Bella penasaran.

​"Ya... aneh," Siska melirihkan suaranya, memposisikan dirinya sebagai pelindungku. "Dia ngeliatin Keyla dengan tatapan yang sangat intens. Menurutku, dia pasti lagi mikir buat nyari cara nyontek dari kertasmu, Key. Kan dia nilainya hancur kemarin. Dia pasti panik takut nggak lulus, terus dia ngerencanain buat manfaatin kamu yang duduk di depannya."

​Darahku mendidih mendengar tuduhan Siska. Fitnah itu begitu kejam, memutarbalikkan sebuah momen yang paling rapuh dan tulus menjadi sebuah niat jahat.

​"Dia nggak nyontek, Sis," bantahku dengan suara bergetar menahan marah. "Kertas ujiannya ada di mejanya sendiri. Jarak meja kami jauh. Lagian dia bukan tipe orang yang mau lulus dari belas kasihan orang lain, apalagi hasil nyontek!"

​"Keyla sayang, kamu ini terlalu naif," Siska menggeleng pelan, tersenyum maklum. "Orang miskin yang lagi kepepet itu bisa ngelakuin apa aja. Demi beasiswanya, demi hidupnya, dia bisa ngebuang harga dirinya buat nyontek. Coba kamu pikir pakai logika. Buat apa dia ngeliatin kamu kalau bukan ada maunya? Apalagi setelah dia ngusir kamu dengan kasar waktu itu."

​"Siska benar, Key," timpal Lidya mengangguk setuju. "Lo hati-hati deh. Jangan sampai pas lo lengah, dia beneran ngintip jawaban lo. Kalau ketahuan pengawas, lo yang bisa ikutan didiskualifikasi! Jangan biarin masa depan lo ancur gara-gara bantuin parasit."

​Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Rasanya ingin berteriak menyuruh mereka semua diam. Mereka tidak melihat apa yang aku lihat. Mereka tidak menatap mata Rendi. Mereka hanya melihat cangkang luar dari seorang pemuda miskin, lalu menghakiminya dengan stereotip yang paling menjijikkan.

​"Udah, tolong jangan bahas dia lagi," pintaku lirih. Tenagaku benar-benar sudah habis. "Ayo pulang. Aku capek banget."

​Aku mengambil tasku dan berjalan keluar kelas lebih dulu, meninggalkan sahabat-sahabatku yang saling bertukar pandang. Di balik punggungku, aku tahu Siska tersenyum puas. Ia berhasil menanamkan racun baru ke dalam benak Lidya dan Bella, membuat Rendi terlihat semakin buruk di mata mereka.

​Sepanjang perjalanan pulang, bayangan sedetik tatapan itu terus menghantuiku. Kata-kata Siska berusaha meracuni pikiranku, 'Dia cuma mau nyontek. Dia cuma manfaatin kamu.' Namun hatiku menolak keras racun itu. Matanya tidak berbohong. Keruntuhan pertahanannya di detik itu adalah hal paling jujur yang pernah Rendi tunjukkan padaku.

​Di dalam mobil Pak Anton, aku menyandarkan kepalaku ke kaca jendela yang dingin. Hujan kembali turun, menghapus jejak debu di jalanan ibu kota.

​"Aku percaya padamu, Ren," bisikku pelan ke arah rintik hujan. "Biarpun seluruh dunia menuduhmu sebagai penjahat yang paling kotor... aku akan tetap menjadi satu-satunya orang yang bersedia menjadi tamengmu. Karena di saat sedetik tadi... aku melihat jiwamu memanggil namaku."

1
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!