Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Pusat Permainan
“Tempat para Game Master berada.”
Kalimat Arsen menggantung di udara seperti ancaman.
Ruangan arsip tua itu mendadak terasa makin sempit.
Lampu redup berkedip pelan.
Debu beterbangan di udara.
Dan Nayra mulai sadar satu hal—
semua yang mereka alami sejauh ini mungkin cuma bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
“Ada tempat kayak gitu?” tanyanya pelan.
Arsen menyender santai ke meja tua.
“Ada.”
“Kamu pernah ke sana?”
“Sekali.”
“Dan masih hidup?” sahut Zavian dingin.
Arsen tersenyum tipis.
“Itu bagian paling mengecewakan buat mereka.”
Nayra menatap kartu hitam di tangan Arsen.
“Kalau tempat itu nyata… kenapa nggak langsung dihancurin aja dari dulu?”
“Karena nggak gampang masuk ke sana.”
“Kenapa?”
Arsen mengangkat kartu itu pelan.
“Cuma orang tertentu yang bisa akses.”
Tatapan Zavian menyipit.
“Kartu otorisasi.”
Arsen mengangguk kecil.
Nayra makin bingung.
“Kalian ngomong kayak agen rahasia.”
“Kenyataannya lebih buruk,” jawab Zavian.
—
Suara sirine di luar mulai berhenti.
Tapi justru itu membuat suasana semakin menyeramkan.
Terlalu sunyi.
“Aku nggak suka kalau tiba-tiba hening,” gumam Nayra.
“Bagus,” kata Zavian sambil mengecek pelurunya. “Artinya insting kamu masih hidup.”
Nayra mendengus kecil.
“Cara kamu nenangin orang aneh banget.”
“Aku nggak nenangin.”
“Iya sih.”
Arsen tertawa kecil melihat mereka.
“Aneh juga lihat Zavian masih peduli sama orang.”
Tatapan Zavian langsung tajam.
“Mulutmu masih berisik.”
“Tapi benar kan?”
Nayra melirik Zavian sekilas.
Cowok itu langsung memalingkan wajah.
Dan entah kenapa…
reaksi kecil itu malah bikin Nayra ingin tersenyum.
Sedikit.
Walaupun situasinya kacau total.
—
TING!
Ponsel mereka berbunyi bersamaan.
Layar aplikasi menyala merah.
FINAL HUNT BEGINS
Lalu muncul peta gedung.
Titik merah berkedip.
Dan satu titik besar berada tepat di posisi Nayra.
TARGET DETECTED.
Nayra langsung panik.
“Mereka bisa lacak kita!”
“Dari gelang,” kata Arsen.
Zavian langsung melihat gelang logam di tangan Nayra.
“Sial.”
“Bisa dilepas nggak?!”
Arsen menggeleng.
“Kalau dipaksa, gelangnya meledak.”
Nayra langsung membeku.
“Apa?”
“Permainan mereka selalu punya pengaman.”
Nayra mulai ingin menangis lagi.
“Kenapa hidupku berubah jadi beginian…”
Belum sempat siapa pun menjawab—
suara langkah kaki terdengar dari luar.
Banyak.
Cepat.
Mereka datang lagi.
—
“Keluar belakang,” kata Zavian cepat.
Arsen langsung membuka lemari arsip tua di sudut ruangan.
Di baliknya ternyata ada pintu kecil.
Nayra melotot.
“Kenapa selalu ada pintu rahasia di gedung ini?!”
“Karena tempat ini memang dibangun buat permainan,” jawab Arsen.
Mereka masuk cepat.
Lorong sempit membentang di depan.
Gelap.
Bau lembap dan karat menusuk hidung.
Nayra berjalan di tengah sementara Zavian di belakang dan Arsen di depan.
Suasana hening beberapa detik.
Lalu Nayra akhirnya bicara pelan.
“Kalau aku memang Subject…”
Langkah Arsen melambat sedikit.
“…apa aku manusia biasa?”
Hening.
Pertanyaan itu terdengar lebih menyakitkan dari yang Nayra sadari.
Zavian menatap punggung Nayra beberapa detik.
Sementara Arsen akhirnya menjawab pelan—
“Kamu tetap manusia.”
“Tapi?”
Arsen tersenyum pahit.
“Mereka mencoba mengubahmu jadi sesuatu yang lebih berguna.”
Deg.
“Berguna buat apa?”
“Kendali.”
Nayra langsung berhenti berjalan.
“Aku nggak ngerti.”
Arsen ikut berhenti.
Tatapannya serius sekarang.
“Organisasi itu bukan cuma bikin permainan.”
“Terus?”
“Mereka membentuk pemain.”
Zavian menyela dingin.
“Mencuci otak, eksperimen mental, manipulasi emosi…”
Tatapannya turun ke gelang Nayra.
“…dan menjadikan trauma sebagai senjata.”
Napas Nayra tercekat.
“Jadi aku… eksperimen mereka?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Dan itu lebih buruk daripada jawaban apa pun.
—
Lorong berakhir di sebuah lift barang tua.
Pintunya setengah rusak.
Arsen menekan tombol.
Tidak menyala.
“Tentu saja,” gumam Zavian.
Arsen malah jongkok lalu membuka panel kecil di samping lift.
Kabel-kabel terlihat di dalam.
“Kita masih bisa pakai.”
Nayra menatapnya tidak percaya.
“Kamu bisa benerin lift?”
“Aku bisa banyak hal.”
Zavian mendecih.
“Sayangnya nggak termasuk jadi manusia normal.”
Arsen tertawa kecil.
Dan anehnya…
di tengah semua kekacauan ini, percakapan mereka terasa seperti sesuatu yang menjaga Nayra tetap waras.
Sedikit.
—
Lift akhirnya bergerak turun perlahan.
Suara besinya berdecit menyeramkan.
Nayra berdiri diam sambil memeluk dirinya sendiri.
Ia bisa merasakan tatapan Zavian beberapa kali mengarah padanya.
“Kenapa?” tanya Nayra akhirnya.
“Nothing.”
“Itu jelas bukan nothing.”
Zavian diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Kalau nanti keadaan makin buruk…”
Tatapannya serius.
“…jangan percaya siapa pun.”
Nayra mengerutkan dahi.
“Termasuk kamu lagi?”
“Terutama aku.”
Kalimat itu kembali terdengar seperti peringatan.
Dan Nayra mulai membencinya.
Karena setiap kali Zavian bicara begitu…
rasanya seperti ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.
—
Lift berhenti mendadak.
DUK!
Lampu berkedip.
Nayra refleks memegang dinding.
“Apa lagi?!”
Arsen melihat panel.
“Mereka matiin akses.”
Tiba-tiba—
layar kecil di dalam lift menyala sendiri.
Wajah topeng hitam muncul lagi.
Game Master.
“Player 03. Player 07. Subject Alpha.”
Arsen langsung menegang sedikit.
Nayra langsung sadar.
“Subject Alpha… itu kamu?”
Arsen tidak menjawab.
Suara Game Master terdengar lebih dingin dari biasanya.
“Kalian telah melanggar batas permainan.”
“Ya ampun, dia cerewet banget,” gumam Zavian.
Aneh sekali.
Cowok itu bisa tetap nyebelin bahkan saat diancam.
“Protocol Zero akan dimulai dalam tiga puluh menit.”
Layar berubah merah.
ALL SUBJECTS MUST BE ELIMINATED
Nayra langsung pucat.
“All subjects?”
Arsen mengumpat pelan.
“Mereka mau hapus semua jejak.”
“Termasuk aku…” bisik Nayra.
“Dan aku,” sahut Arsen.
Zavian melihat waktu di layar.
“Kita nggak punya banyak waktu.”
Lift tiba-tiba mati total.
Gelap.
Nayra langsung panik.
“Aku benci ini!”
Suara besi berderit keras terdengar dari atas lift.
Semua langsung diam.
Lalu…
suara langkah.
Di atas mereka.
Seseorang berjalan di atas lift.
Pelan.
Menyeret sesuatu.
Nayra menahan napas.
“Jangan bilang…”
CLANG!
Sebuah benda tajam menembus atap lift tiba-tiba.
Nayra menjerit kecil dan mundur.
Pisau besar menancap tepat di tempat ia berdiri tadi.
“Astaga!”
Zavian langsung mengangkat pistol.
“Hunter.”
Arsen tersenyum tipis.
“Yang ini agresif.”
“AGRESIF KATAMU?! DIA MAU BUNUH KITA!”
CLANG!
Tebasan kedua menembus atap.
Kali ini lebih dekat.
Debu jatuh berhamburan.
Hunter di atas mulai membuka atap lift paksa.
Nayra bisa melihat siluet topeng hitam muncul perlahan.
Dan matanya—
merah.
Menyala seperti lampu.
“Itu bukan manusia…” bisik Nayra ketakutan.
Zavian langsung menembak ke atas.
DUAK!
Hunter mundur sedikit.
Tapi tidak jatuh.
Malah tertawa.
Suara tawanya mekanis.
Rusak.
Seperti robot yang belajar jadi manusia.
“Aku resmi trauma lift,” kata Nayra dengan suara gemetar.
Arsen tiba-tiba menarik pintu lift paksa.
Celah kecil terbuka.
“Kita keluar sekarang!”
Mereka memanjat keluar cepat ke lorong sempit.
Begitu Nayra berhasil naik—
BRAKK!
Hunter menghancurkan atap lift sepenuhnya.
Sosoknya muncul.
Tinggi.
Tubuhnya penuh kabel hitam di leher.
Dan matanya benar-benar merah menyala.
Nayra langsung mundur ngeri.
“Itu apaan…”
Arsen menatapnya datar.
“Batch gagal.”
“Hah?”
“Mereka yang eksperimennya rusak.”
Hunter itu bergerak cepat.
Terlalu cepat.
DUAK!
Zavian nyaris kena tebasan pisaunya.
Mereka bertarung di lorong sempit.
Nayra hanya bisa mundur panik.
Zavian menembak dua kali.
Arsen menyerang dari samping.
Tapi Hunter itu tetap bergerak seperti tidak merasakan sakit.
“Dia nggak normal!” teriak Nayra.
“Ya, terima kasih informasinya!” balas Zavian.
Hunter tiba-tiba menoleh ke Nayra.
Lalu berhenti.
Matanya merahnya berkedip.
Seolah mengenali sesuatu.
Dan suara rusak keluar dari mulutnya.
“…Subject… 07…”
Tubuh Nayra langsung dingin.
Hunter itu perlahan menurunkan pisaunya.
“…selamatkan…”
Semua membeku.
“Hah?” Nayra bingung.
Lalu tiba-tiba—
DUARR!
Kepala Hunter itu meledak.
Darah dan pecahan logam muncrat ke dinding.
Nayra menjerit refleks.
Tubuh monster itu jatuh keras ke lantai.
Sunyi.
Napas Nayra memburu hebat.
“Apa… apa yang barusan…”
Arsen melihat mayat itu dengan ekspresi gelap.
“Mereka meledakkan chip pengendalinya.”
Zavian menurunkan pistol perlahan.
“Mereka nggak mau dia bicara.”
Nayra menatap mayat itu dengan tangan gemetar.
Monster itu tadi…
meminta tolong.
Berarti…
masih ada manusia di dalam sana.
Dan itu jauh lebih mengerikan.
—
Lampu lorong tiba-tiba menyala terang.
Suara alarm baru berbunyi.
Lalu sebuah pintu besar di ujung lorong perlahan terbuka sendiri.
CREEEEKK…
Di balik pintu itu…
terlihat ruangan putih luas.
Sangat bersih.
Sangat terang.
Bertolak belakang dengan gedung tua ini.
Dan di tengah ruangan…
berdiri seorang wanita bergaun putih.
Rambut hitam panjang.
Wajah cantik.
Tersenyum tenang.
Nayra langsung membeku.
Karena wanita itu…
sangat mirip dengannya.
Wanita itu tersenyum lembut.
“Selamat datang kembali, Nayra.”
Suara Nayra langsung hilang.
Dan wanita itu melanjutkan kalimatnya dengan tenang—
“Aku ibumu.”