NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Dimas

Pintu jati itu dibanting keras. Suaranya bergema memantul di dinding-dinding kusam.

Sulastri pergi. Langkah kakinya terdengar cepat menjauhi paviliun belakang. Noda hitam jamu merusak kebaya sutranya, membawa lari sisa keangkuhan wanita itu.

Sumarni sendirian.

Tenggorokannya tiba-tiba terbakar. Batuk keras merobek dadanya, memaksa tubuhnya membungkuk. Lendir kehitaman berbau karat besi menetes dari sudut bibirnya, jatuh mengenai selimut motif parang yang menutupi pahanya. Lidahnya kebas. Pahit dan amis darah bercampur menjadi satu.

Tubuh rapuh ini benar-benar menolak mati. Cangkang fisik Sumarni masih berjuang membuang sisa toksin dari tegukan pertama semalam.

Keringat dingin membanjiri dahi. Sumarni menyingkap selimut. Kakinya yang kurus pucat menyentuh lantai tegel abu-abu. Sedingin es. Tidak ada karpet bulu tebal seperti di ruang kerja CEO-nya dulu. Hanya lantai keras berdebu.

Dia butuh air.

Mata Sumarni menyapu ruangan redup itu. Bau kapur barus murahan dan aroma sangit jamu yang tumpah mendominasi udara. Di atas nakas kayu reyot samping ranjang, sebuah kendi tanah liat berdiri diam.

Sumarni menyeret kakinya. Tangannya yang gemetar mencengkeram leher kendi. Dia mengangkatnya, menenggak air putih suam-kuku itu langsung dari bibir kendi. Air membasuh jalur api di tenggorokannya. Napasnya berangsur turun menjadi ritme yang lebih stabil.

Klotak.

Sebuah bunyi benturan kayu halus menghentikan gerakannya.

Sumarni membeku. Telinganya menajam. Bunyi itu berasal dari sudut ruangan, tepat di celah sempit antara bagian bawah lemari pakaian dan dinding.

"Siapa di sana?" Suara Sumarni masih serak. Terdengar mengancam.

Hening.

Di kehidupan lamanya, dia memimpin perusahaan multinasional. Dia tahu cara menghadapi penyusup, pengkhianat, atau musuh dalam selimut. Tangan Sumarni meraba permukaan meja, mencari benda tumpul apa saja. Dia meraih sebuah asbak kayu padat.

Dengan langkah tak bersuara, dia mendekati sudut lemari. Bau debu makin pekat.

Sesuatu meringkuk di celah gelap itu.

Bukan penyusup. Bukan centeng suruhan Sulastri.

Itu seorang anak kecil. Usianya paling baru tiga tahun.

Kaus oblong putihnya menguning, penuh noda tanah di bagian kerah dan lengan. Celana pendek kainnya kebesaran, hanya ditahan oleh gulungan karet gelang di pinggang. Rambutnya lepek menempel di dahi. Bocah itu memeluk lututnya erat-erat, menenggelamkan wajahnya di sana. Tubuh kurusnya bergetar hebat.

Dimas.

Nama itu meledak di kepala Sumarni. Kepingan memori pemilik tubuh asli kembali mengambil alih. Dimas adalah anak kandung Harjono dari istri pertamanya yang sudah tiada. Pewaris sah pabrik batik ini.

Tapi di rumah ini, statusnya lebih rendah dari anak anjing jalanan. Sulastri membencinya setengah mati. Sedangkan Sumarni yang asli? Perempuan desa itu terlalu sibuk menangisi nasibnya sendiri sebagai istri kedua yang diinjak-injak, hingga membiarkan anak ini berkeliaran seperti hantu tak kasatmata.

Mata bulat Dimas mengintip dari balik lengannya. Sorotnya penuh teror. Tangan mungilnya meremas perutnya yang kempes.

Kruyuk.

Suara perut kosong itu memecah kesunyian. Lantang dan menyedihkan.

Dimas langsung memejamkan mata. Tangan kecilnya naik menutupi kepala, sebuah refleks perlindungan diri. Dia bersiap menerima pukulan, cubitan, atau sapu lidi yang biasa mendarat di tubuhnya setiap kali dia ketahuan menyelinap mencari makanan.

Langkah Sumarni terhenti. Asbak kayu di tangannya perlahan turun.

Di kehidupan masa depannya, Sumarni tidak punya anak. Rahimnya tidak pernah membuahkan kehidupan. Waktunya habis untuk rapat dewan direksi, akuisisi saham, dan menghancurkan rival bisnis. Anak kecil adalah entitas asing yang tidak masuk dalam portofolio hidupnya.

Namun, melihat bahu mungil yang gemetar itu, pertahanan rasionalnya runtuh. Dada Sumarni terasa diremas kuat. Ada perih tajam yang menyengat matanya. Bukan perih karena sisa racun, melainkan murni naluri kemanusiaan. Naluri seorang perempuan.

Sumarni meletakkan asbak itu ke lantai. Dia berjongkok perlahan. Tulang lututnya bergemeretak pelan.

"Kamu lapar?"

Suaranya tidak lagi mengancam. Tidak ada nada tinggi.

Dimas membuka sebelah matanya. Ragu. Takut. Perlahan, dagu kecilnya mengangguk. Gerakan yang sangat rapuh.

Sumarni menoleh ke arah meja bundar kecil di dekat jendela. Ada sebuah tudung saji anyaman bambu kusam di sana. Dia bangkit, berjalan tertatih menghampiri meja itu. Saat tudung saji dibuka, rahang Sumarni mengeras.

Di atas piring seng lecet, hanya ada seporsi nasi dingin yang sudah agak mengering. Sepotong tempe bacem sisa kemarin. Dan sejumput sambal terasi mentah. Tidak ada lauk lain.

Ini sarapan untuk seorang istri pemilik pabrik? Sulastri benar-benar memperlakukan penghuni paviliun ini lebih buruk dari binatang.

Sumarni membawa piring seng itu kembali ke sudut lemari. Dia duduk bersila di atas lantai tegel, tidak peduli kain batiknya kotor. Piring diletakkan di tengah-tengah antara dirinya dan Dimas.

"Sini."

Dimas tidak bergerak. Matanya terpaku pada butiran nasi, tapi ketakutan menahan tubuhnya.

Sumarni mematahkan sedikit ujung tempe, menaruhnya di atas gumpalan nasi, lalu menyodorkannya lebih dekat. "Makan. Kalau perutmu kosong, kamu tidak akan punya tenaga untuk lari dari orang jahat."

Mendengar nada suara yang tidak menghakimi itu, pertahanan Dimas runtuh. Perlahan, bocah itu merangkak keluar dari celah lemari. Tangannya yang mungil dan kotor langsung menyambar nasi.

Dia memasukkan makanan itu ke mulutnya dengan rakus. Terburu-buru. Berantakan. Nasi berjatuhan di dadanya. Dia mengunyah tanpa henti, persis seperti anak kelaparan yang tidak makan berhari-hari.

Sumarni menahan napas. Jemarinya yang dulu terbiasa menandatangani cek miliaran rupiah, kini terulur pelan. Dia mengusap sisa butiran nasi di sudut bibir Dimas. Kulit pipi bocah itu terasa dingin dan kasar.

Satu sentuhan itu membuat Dimas mendongak. Kunyahannya terhenti sejenak.

Untuk pertama kalinya, bocah itu tidak menemukan tatapan jijik atau kasihan yang merendahkan dari ibu tiri barunya. Yang ada di mata Sumarni hanyalah kehangatan pelindung yang kokoh. Seperti perisai baja.

Dimas kembali menunduk, melanjutkan makannya. Kali ini, pundaknya tidak lagi tegang. Dia menggeser tubuh kecilnya, duduk menyandar pada lutut Sumarni. Mencari kehangatan.

Sumarni merapikan poni lepek Dimas. Pikirannya berdengung tajam.

Bocah ini adalah ancaman terbesar bagi takhta Sulastri. Selama Dimas hidup, posisi istri pertama itu tidak akan pernah mutlak. Sulastri sengaja menelantarkannya, membiarkannya mati pelan-pelan tanpa harus mengotori tangannya sendiri secara langsung. Sama liciknya dengan racun jamu itu.

Di kehidupan lalu, Sumarni membangun kerajaan bisnis raksasa dari titik nol. Di tahun 1984 ini, di tengah rumah berisi senyum palsu dan niat membunuh ini, dia akan membangun hal yang sama. Dia akan membangun benteng.

Tidak akan ada yang berani menyentuh bocah ini lagi. Tidak selama Sumarni masih bernapas.

Tiba-tiba, aroma sangit kembali menyerang penciumannya.

Mata Sumarni beralih ke tengah ruangan. Genangan hitam sisa jamu dari mangkuk yang pecah. Cairan itu tidak sekadar tumpah. Busa-buih putih kecil muncul di tepian genangan, bereaksi memakan lapisan nat semen pada lantai tegel.

Jantung Sumarni berdetak lebih cepat.

Racun korosif. Jika Sulastri kembali dengan membawa saksi atau pelayan, perempuan licik itu bisa memutarbalikkan fakta. Dia bisa menuduh Sumarni sengaja merusak obat mahalnya, atau lebih buruk, menemukan bukti racun itu dan melenyapkannya sebelum Sumarni bisa menggunakannya sebagai senjata balik.

Genangan itu harus dibersihkan. Sekarang.

Sumarni baru saja hendak memindahkan kepala Dimas perlahan dari lututnya, ketika rasa sakit yang mendadak meledak di dalam tengkoraknya. Pandangannya berputar. Dunia seakan berhenti bergerak. Suara detak jam dinding mati seketika.

Ting.

Sebuah suara mekanis yang melengking dingin bergema tepat di dalam otaknya. Mustahil. Suara sintetik seperti itu tidak ada di tahun 1984.

[Sistem Istri Ideal Aktif.]

1
Wiecipa Wicipha
suka..../Rose//Heart/
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!