Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 meninggalkan kota
Hujan masih belum terang juga, suara petir bersahutan di luar jendela kost, sementara Alena tidur menggigil dibalik selimut tipis, wajahnya pucat sejak pulang dari hotel Kael sore tadi, kondisinya semakin memburuk.
Pintu terbuka, di situ Rina membawa air hangat serta satu helai roti untuk mengganjal perut temannya itu.
"Lena, kamu minum dulu ya," ucap Rina dengan nada cemas, sambil membantu Alena untuk duduk.
Alena hanya manut meskipun tubuhnya masih menggigil. Dan setelah minum perasaan Rina nampak tak tenang hingga akhirnya gadis itu segera memesan taksi online.
"Lena, sabar ya, setelah ini taksi kita datang," ucapnya lagi.
"Kita mau kemana," suara Alena akhirnya keluar.
"Kita harus ke rumah sakit, aku gak bisa membiarkan kamu terus menerus seperti ini," ujar Rina.
"Tapi aku gak ada yang," sahut Alena.
"Sudah kamu jangan pikirin hal itu."
Taksi yang mereka pesan pun datang, segera kedua perempuan itu masuk, hujan masih rintik-rintik membasahi jalanan malam, di dalam mobil itu Rina memeluk erat tubuh temannya itu.
Meskipun mereka belum kenal begitu lama, entah kenapa hati Rina tergerak untuk menolong Alena yang memang ia tahu jika Alena memang gadis baik nan polos hanya saja keadaan yang mengharuskannya terjun di dunia malam seperti dirinya.
"Rin, aku udah gak kuat," ucap Alena di tengah-tengah suara hujan yang menggelegar.
"Shutt... kamu tidak boleh nyerah Lena, ada aku dan anak di dalam kandunganmu," sahut Rina.
Alena hanya terdiam tatapannya nanar melihat sorot lampu kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya.
"Tapi aku benar-benar tidak tahan, ucapan pria kejam itu terus menerus menghantui pikiranku," kata Alena.
Rina mendengus kesal entah kenapa jemarinya refleks mengepal, saat tahu pria itu malah menyuruh Alena untuk menggugurkan janinnya.
"Sudah jangan dipikirkan ucapan pria brengsek itu, kamu masih punya Tuhan Alena, serahkan semuanya saja padaNya," pesan Rina.
Alena mengangguk pelan, dan tanpa sadar ia merasakan kedutan kecil dari dalam rahimnya seketika tangannya langsung mengelus perut ratanya.
"Rina dia berdenyut," ucap Alena dengan perasaan haru.
Rina ikut terbawa suasana mendengar ucapan itu, seketika tangannya juga ikut mengelus pelan.
"Itu tandanya, anakmu ingin hidup bersamamu Len, tolong jangan pernah sakiti dia ya," ungkap Rina.
"Iya Rin, aku janji gak akan sakiti dia, dan nanti jika dia sudah besar akan aku kasih tahu jika selama dikandungan dia punya Tante sebaik kamu," sahut Alena.
Beberapa jam kemudian, dokter mulai memeriksa kandungannya, keningnya langsung mengkerut saat tahu detak jantung janin yang tak beraturan.
“Ibu terlalu stres.” Dokter wanita paruh baya itu menatap Alena dengan serius.
“Kandungan ibu masih lemah. Kalau dipaksa terus dalam tekanan seperti ini, janinnya bisa bermasalah.”
Deg.
Wajah Alena langsung pucat. Refleks tangannya memegang perutnya, ia tidak pernah menyangka jika kondisinya yang seperti ini akan berpengaruh drastis dengan kondisi janinnya.
Dokter itu kembali bicara lembut. “Mulai sekarang ibu harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran.”
Alena menggigit bibirnya pelan. Bagaimana mungkin dirinya tidak memikirkan semuanya?
Hidupnya hancur. Masa depannya gelap. Dan anaknya bahkan tidak diinginkan ayahnya sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang, Alena terus diam, hingga pada akhirnya saat ia kembali ke kostnya tiba-tiba saja ia memberanikan diri untuk berbicara pada Rina.
“Aku mau pergi.”
Langkah Rina langsung terhenti seketika ia berbalik badan. “Hah?”
Alena berdiri di teras kost, tatapannya menyapu halaman yang masih basah. “Aku nggak bisa tetap di kota ini.”
“Lena…” suara Rina mencegahnya.
“Aku takut suatu hari nanti aku bakal benar-benar hancur kalau terus di sini.”
Air matanya jatuh lagi tanpa bisa dibendung “Aku cuma mau anakku lahir dengan tenang.”
Rina terdiam. Hatinya ikut sesak melihat sahabatnya harus sejauh ini menanggung semuanya sendirian.
“Kamu mau pergi ke mana?”
“Aku belum tahu…”
Alena tersenyum kecil pahit. “Mungkin kota kecil. Yang penting jauh dari dia.”
Tanpa berani mencegah, akhirnya Rina ikut masuk ke dalam kamar kecil Alena. Ia juga ikut membantu perempuan itu mengemasi barang-barangnya.
Ada rasa berat melepas sahabatnya itu, terlebih lagi ia belum sempat melihat anak Alena lahir, tapi hidup sudah memisahkannya terlebih dulu.
"Lena, kamu yakin dengan kondisi yang seperti ini," ujar Rina ia seperti tidak percaya dengan Alena.
"Aku yakin aku, kuat," sahut Alena cepat.
"Kenapa tidak nunggu besok pagi saja," cegah Rina.
"Enggaklah, jika aku terus menunda maka pikiranku semakin stres Rin," sahut Alena.
Rina mulai paham, ternyata yang dibutuhkan temannya itu bukan lagi pengakuan melainkan tempat yang aman untuk dia dan anaknya.
"Baiklah semoga di tempat barumu nanti, kamu bisa mendapatkan kedamaian," ucap Rina akhirnya.
Alena tersenyum simpul entah keberanian dari mana yang membuatnya mengambil keputusan besar seperti ini.
"Makasih banyak ya Rin, selama ini kamu sudah membantuku," kata Alena sambil memegang kopernya.
Rina menatapnya dengan tatapan iba, tanpa sadar ia merogoh tasnya lalu mengambil beberapa lembar uang.
"Lena, aku gak bisa kasih apa-apa, semoga uang ini cukup untuk menemani perjalananmu," ucap Rina dengan nada bergetar.
Alena menggeleng pelan bukan karena ia ada uang, akan tetapi dia tidak mau terus menerus menjerat Rina ke dalam masa sulitnya. "Gausah Rin."
"Jangan menolak, ini rejekimu dan anakmu," sahut Rina.
"Tapi Rin."
"Sudah jangan kebanyakan tapi." Rina pun langsung menyalamkan uang itu ke tangan Alena.
Tanpa berani menolak lagi, akhirnya Alena menerima uang itu. Meskipun rasa malu merayap di dalam hatinya.
"Rin, makasih banyak ya." hanya kata itu yang mampu diucap oleh Alena.
"Pergilah, jaga baik-baik anakmu itu. Dan jangan lupa jika dia lahir, sampaikan dalam sayangku untuk dia," ucap Rina.
"Itu pasti, akan aku perkenalkan dirimu, bahkan saat anak ini baru melihat dunia."
Rina akhirnya mulai melepas sahabatnya itu, perlahan langkah Alena menghilang dibalik pintu gerbang kost.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya, di lantai paling atas Hotel Ardion Group, suasana ruang kerja Kael terasa mencekam.
Brak!
Sebuah gelas whiskey pecah menghantam lantai. Semua anak buah langsung menunduk tegang.
Sudah dua hari terakhir emosi Kael benar-benar buruk. Pria itu bahkan memukuli salah satu bawahannya hanya karena kesalahan kecil.
“Apa kalian tuli?!” bentaknya dingin. “Cari data perempuan itu!”
“Su-sudah, Tuan…"
Lalu salah satu dari mereka langsung menyerahkan map.
Kael meraihnya kasar lalu membuka isi di dalamnya. Namun semakin ia membaca… rahangnya makin mengeras.
Alena Mahira. Yatim piatu. Lulusan panti asuhan. Bekerja sambilan demi bertahan hidup. Di dalam catatan itu tidak ada seorang pria pun yang pernah dekat dengan perempuan itu.
Catatannya begitu bersih, dan di bagian akhir catatan yang membuat tatapan Kael membeku. Pemeriksaan kandungan usia 12 minggu.
Ruangan mendadak sunyi. Untuk beberapa detik Kael hanya menatap tulisan itu tanpa bergerak.
Jadi... perempuan itu tidak berbohong, entah kenapa dadanya terasa sesak. Bayangan wajah Alena saat menangis kemari kembali muncul di kepalanya.
“Anakku tidak akan pernah punya ayah seburuk anda!”
Brak!
Kael langsung menutup map itu kasar.
“Sial…”
Namun sebelum sempat berkata lagi, salah satu anak buah masuk tergesa.
“Tuan…”
“Apa lagi?”
“Perempuan itu… pergi.”
Tatapan Kael langsung berubah tajam. “Maksudmu?”
“Kami datang ke kostnya pagi tadi.” Pria itu menelan ludah gugup. “Dia sudah pindah.”
Pria itu langsung mengepalkan rahangnya, bahkan otot-otot di lehernya terlihat jelas seperti ingin memangsa seseorang.
"Kalian bodoh, mencari perempuan lemah seperti itu saja bisa terlambat!" gertaknya sambil menunjuk kasar ke arah anak buahnya.
Para anak buahnya tidak ada yang berani menjawab. Emosi Kael semakin memuncak saat tahu Alena sudah benar-benar pergi dari kota ini.
Entah kenapa sejak kedatangan gadis itu kemarin pikirannya mulai tidak bisa tenang, seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
Bersambung ....