Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
"Ta - tapi Pak Vince!" Kedua perawat itu mencoba mencegah Vince yang bertekad masuk ke balik tirai di unit kesehatan sekolah, di mana Maura berada.
Kedua perawat tersebut teringat akan janji mereka pada Maura. Mereka telah berjanji hanya akan meminta Vince untuk membawa Maura ke rumah sakit, tanpa menyebutkan soal luka cambukan yang dideritanya.
Namun, dihadapkan pada keadaan yang genting ini, mereka bimbang. Bagaimana cara menjelaskan alasan Maura harus dibawa ke rumah sakit tanpa melanggar janji mereka? Di satu sisi, mereka ingin melindungi rahasia Maura, namun di sisi lain, kesehatan gadis itu lebih penting.
Akhirnya, setelah berbincang dalam hati, perasaan tidak enak dan bimbang merayapi pikiran kedua perawat tersebut. Mereka memutuskan bahwa kejujuran adalah pilihan terbaik. Meskipun terasa berat, mereka bersiap untuk mengungkapkan kebenaran kepada Vince, berharap bahwa ia bisa memahami keputusan mereka dan bekerja sama demi keselamatan Maura.
"Biarkan aku bertanya pada muridku, sebenarnya apa yang terjadi padanya?"
Glek
Naura dari balik tirai hanya bisa menelan ludahnya yang kelu itu berkali kali.
Krek!
Suara tirai yang di buka, menampilkan Maura yang sedang duduk di atas brangkar. Dengan wajah yang terlihat sangat pucat.
"Aku akan membawa mu ke rumah sakit? Tapi sebelum itu aku ingin bertanya? Siapa orang yang mencambuk punggung mu?" tanya Vince dengan tatapan penuh selidik, sembari terus menatap ke dua bola Maura yang berwarna hitam.
Maura nampak berpikir keras, ia bingung harus mencari alasan apa yang logis yang bisa si percaya oleh gurunya.
"Pak Vince, lebih baik tanya tanya Maura itu nanti saja! Kita harus segera membawa Maura ke rumah sakit. Saya takut jika infeksinya bertambah parah," celetuk salah satu perawat sembari berjalan mendekat ke arah Vince.
"Iya Pak, nanti saya jelaskan! Soalnya punggung saya itu sakit banget," timpal Maura dengan ekspresi wajah kesakitan, bahkan sekarang ini ia terlihat mengeluarkan air mata.
Ya selain akting, sebenarnya Maura bukan tipe orang yang suka menangis di depan orang lain.
Vince hanya bisa melongo, melihat muridnya yang tadi memasang ekspresi wajah biasa saja dan tiba tiba berubah kesakitan parah seperti sekarang ini.
"Tolong bapak tampan, bawa muridnya segera ke rumah sakit. Saya benar benar kasihan!" Salah satu perawat terlihat memaksa Vince untuk segera membawa Maura ke rumah sakit.
Vince hanya bisa mengembuskan nafas dengan kasar. "Okey, aku akan segera membawa mu ke rumah sakit terdekat! Namun aku harus menghubungi ke dua orang tua mu dulu."
Ke dua bola mata Maura nampak membulat sempurna. "Tolong Pak, jangan hubungi ke dua orang tua saya! Tolong Pak, plis saya janji akan menjelaskan nya nanti. Kalau Bapak mau menjaga rahasia ini saya janji, akan menjadi siswi yang penurut dan juga menuruti semua yang di katakan oleh Pak Vince," ujar Maura tanpa sadar.
Namun setelah dirinya menyadari apa yang ia katakan, tiba tiba Maura menutup bibirnya itu dengan telapak tangannya.
"Astaga, apa yang barusan tadi aku katakan!" gumam Maura dalam hati, ia benar benar menyesal dengan apa yang barusan keluar dari bibirnya.
"Menuruti?" gumam Vince pelan di sertai dengan tanda tanya besar, ia benar benar tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh muridnya ini.
"Okey ... Okey, aku akan mengantar mu ke rumah sakit sekarang!"
"Bapak tidak akan memberitahu pada ke dua orang tua angkat ku, kan. Aku sangat memohon pada Bapak agar tidak mengatakan ini pada ke dua orang tua angkat ku, aku benar benar tidak mau kalau Mamih Cherly sama Papih Aron itu khawatir," ujar Maura dengan nada memohon.
Vince tertegun, melihat Maura yang memohon kepadanya. Ada sedikit rasa tidak tega, namun dalam benaknya sendiri nampak bertanya tanya perihal kata "orang tua angkat" yang baru saja keluar dari bibir manis maura.
"Orang tua angkat? Terus kalau bukan anak Cherly dan Aron, anak ini anak siapa? Terus siapa emangnya yang berani mencambuk dirimu Maura?" Beberapa pertanyaan nampak muncul dari dalam benak Vince.
"Gimana Pak? Saya mohon!" pinta Maura dengan nada memohon, bahkan sekarang ini Maura telihat menyatukan ke dua telapak tangannya membentuk kode memohon.
"Iya, Bapak janji tidak akan mengatakan luka cambuk mu itu pada ke dua orang tua angkatmu. Tapi nanti setelah mendapatkan perawatan, bapak minta kamu jawab semua pertanyaan bapak dengan jujur."
"Iya Pak siap. Saya akan menjawab semua pertanyaan bapak dengan jujur, ayo segera bawa saya ke rumah sakit!" Maura nampak bersemangat, bahkan sekarang ini ia sudah turun dari ranjang dan berdiri tegak dengan wajah semangat.
Vince dan ke dua perawat yang ada di dalam ruangan unit kesehatan sekolah hanya bisa melongo, melihat semangat Maura yang nampak berkobar.
"Kalian berdua yakin? Kalau luka cambuk di tubuh Maura itu infeksi." Vince terlihat bertanya pada ke dua perawat yang ada di dalam ruangan itu, guna memastikan.
Karena yang Vince lihat, Maura sama sekali tidak terlihat kesakitan.
Kedua perawat yang ada di depan Vince nampak menganggukkan kepalanya.
"Kami berdua yakin Pak, bahkan luka itu terlihat menyakitkan. Jujur kami berdua sendiri sampai di buat tidak tega, dan tidak bisa membayangkan rasa sakit apa yang di derita oleh anak ini!"
"Ta - tapi kenapa dia seperti orang yang tidak kesakitan," sahut Vince dengan nada heran.
Kedua perawat itu nampak mengedikkan bahunya, sebagai respon kalau ke duanya tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan otak Maura.
"Kalau saran saya, lebih baik Pak Vince itu segera bawa anak ini ke rumah sakit."
***
*
Akhirnya Vince dan Maura sudah sampai di rumah sakit terdekat dari SMA Taruna.
Vince menunggu dari luar dengan penuh harap cemas. Sementara Maura masih mendapatkan perawatan.
Tak berselang lama pintu UGD pun di buka, menampilkan seorang dokter yang berjalan ke arah Vince.
"Orang tua atas nama Maura dimana?" tanya suster yang ada di samping dokter.
Vince termenung seraya bergumam dalam hatinya, "oh iya, harus keluarga yang bisa mendapatkan informasi dari dokter." Namun Vince teringat akan janjinya pada Maura.
"Sa - saya dokter. Saya adalah paman Maura," sahut Vince bohong.
"Begini Pak, infeksi di punggung Maura lumayan sangat parah. Dan sekarang ini Maura harus di rawat inap di rumah sakit ini!" Perawat yang berdiri di samping dokter itu nampak menjelaskan.
"Apa?" Vince terkejut.
"Iya, jadi Maura harus mendapatkan pemantauan dan perawatan dari pihak rumah sakit."
Vince bingung harus gimana mengambil keputusan, karena kata Maura ia tidak boleh memberitahu ini pada ke dua orang tua angkatnya.
"Sekarang bapak harus ke pendaftaran untuk mengurus kamar inap Maura, karena kalau sampai tidak di rawat inap. Kami takut luka infeksi, itu akan mengancam nyawa Maura," timpal dokter yang berada di samping suster.