NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KAMAR YANG TERKUNCI

Bab 9: Kamar yang Terkunci

Suara derit pagar besi rumah yang berkarat sengaja ditarik pelan oleh Revan sore itu. Matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, menyisakan semburat warna jingga keunguan yang tampak meremang di langit Jakarta. Sudah hampir satu minggu penuh Revan memutuskan untuk tidak menetap di rumah. Ia menghabiskan malam-malamnya dengan tidur beralaskan kasur lipat tipis di kamar belakang rumah Miko, atau terkadang ikut begadang di warung kopi depan gang sampai subuh menyapa.

Baginya, rumah berlantai dua di hadapannya ini sudah kehilangan fungsi sebagai tempat bernaung. Rumah ini telah berubah menjadi sebuah arena asing, tempat di mana dia selalu menjadi penonton bayangan bagi keharmonisan tiga orang lainnya.

Revan melangkah masuk melalui pintu depan yang lagi-lagi tidak terkunci. Keheningan yang janggal langsung menyambutnya. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada ketukan spatula Ibu dari arah dapur. Rumah itu begitu sunyi, seolah-olah seluruh penghuninya sedang menahan napas dalam-dalam.

Tujuan Revan sore ini sangat spesifik: masuk ke kamarnya, mengambil sisa jaket dan beberapa potong celana jins bersih, lalu segera angkat kaki sebelum Ayah pulang dari kantor.

Namun, saat kakaknya melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua, pandangan matanya secara otomatis tertuju pada sebuah pintu kayu berwarna putih bersih yang berada tepat di sebelah kamarnya. Pintu kamar Arkael Dirgantara.

Ada sesuatu yang berbeda sejak Arka pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu. Pintu kamar itu sekarang selalu tertutup rapat.

Revan menghentikan langkahnya di koridor lantai dua yang remang-remang. Telinganya yang tajam sempat menangkap suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah bawah. Ia menoleh dan mendapati Ibu sedang berjalan menaiki tangga dengan napas yang agak terengah-engah. Di kedua tangan Ibu, terdapat sebuah nampan kayu kecil. Di atas nampan itu, ada semangkuk bubur polos yang masih mengepulkan uap hangat, segelas air putih, dan sebuah wadah plastik kecil berisi deretan butiran obat berwarna-warni yang jumlahnya tampak tidak wajar.

Wajah Ibu terlihat begitu kuyu. Gurat-gurat kelelahan tercetak jelas di sudut mata dan dahinya yang berkerut. Begitu melihat Revan berdiri di koridor, langkah Ibu sempat tertahan sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa terkejut, namun dengan cepat berubah menjadi tatapan defensif yang dingin.

"Kamu pulang hanya untuk ambil baju lagi, Revan?" tanya Ibu, suaranya terdengar sangat letih, seolah-olah energi wanita itu sudah terkuras habis untuk hal lain.

Revan mendengus pelan, menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari bersandar pada pilar tangga. "Kalau gak ambil baju, Revan gak akan sudi injek rumah ini lagi, Bu. Lagian, rumah ini kan emang bukan tempat buat Revan."

Ibu menghela napas panjang, mengabaikan kalimat sinis anak bungsunya karena tidak ingin membuang energi untuk berdebat. Ibu berjalan melewati Revan, menuju ke depan pintu kamar Arka. Ibu mengetuk pintu kayu putih itu dengan ketukan yang sangat lembut, seirama dengan nada suaranya yang mendadak berubah menjadi penuh kelembutan.

"Arka... Ini Ibu, Nak. Ibu bawakan bubur sama obat sore kamu. Buka pintunya sebentar, ya?" panggil Ibu dengan suara setengah berbisik.

Klek.

Suara kunci pintu yang diputar dari dalam terdengar nyaring di koridor yang sepi itu. Pintu sedikit terbuka, menampilkan celah sempit di mana tangan kurus Arka terulur untuk menerima nampan kayu dari tangan Ibu. Revan tidak bisa melihat wajah Arka dengan jelas karena tubuh Ibu sengaja menghalangi pandangannya, namun dari celah sempit itu, Revan bisa mendengar suara bisikan Arka yang teramat parau.

"Makasih, Bu... Maaf Arka repotkan Ibu terus. Pintunya Arka kunci lagi ya, Bu... Arka mau lanjut istirahat, gak mau diganggu," lirih Arka dari balik pintu.

"Iya, Nak. Habiskan buburnya ya, obatnya langsung diminum. Kalau ada apa-apa, ketuk dinding kamar Ibu aja," sahut Ibu penuh perhatian, mengusap permukaan pintu itu dengan sayang sebelum celah itu kembali tertutup rapat.

Klek! Suara kunci pintu kembali diputar dua kali dari dalam, mengunci rapat kamar itu dari dunia luar.

Menyaksikan interaksi itu, ego Revan yang terluka kembali bergejolak hebat di dalam dadanya. Rasa muak dan jengkel bercampur menjadi satu, meracuni logika remajanya yang belum matang. Di mata Revan, aksi mengunci kamar yang dilakukan Arka beberapa hari terakhir ini adalah sebuah taktik manipulasi tingkat tinggi.

Caper banget lo, Bang, batin Revan mengutuk keras di dalam hati. Sengaja ngunci diri di kamar biar Ibu ngerasa bersalah? Atau lo sengaja berakting kayak perawan pingitan yang depresi cuma karena gagal ikut Olimpiade Fisika kemarin? Malu karena status anak emas lo agak lecet? Sumpah, menjijikkan.

Revan tidak pernah tahu—dan pembaca pun tidak akan pernah menyangka di titik ini—bahwa di balik pintu yang terkunci rapat itu, Arka sedang terduduk lemas di balik ubin dingin. Napasnya memburu, memegangi perut bagian kanannya yang terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum panas. Arka sengaja mengunci pintu itu bukan karena malu atau manja. Ia menguncinya karena tidak ingin Revan mendengar erangan kesakitannya. Ia menguncinya karena setiap kali dia memuntahkan darah atau cairan bening akibat komplikasi gagal ginjalnya, dia tidak ingin adiknya melihat betapa rapuh dan menjijikkannya tubuh sang kakak yang sedang sekarat menanti ajal.

"Ibu gak capek apa, dipermainkan terus sama anak emas Ibu itu?" sindir Revan lantang, sengaja mengeraskan suaranya agar getaran suaranya menembus pintu kamar Arka yang tertutup rapat. "Ngunci diri di kamar kayak anak kecil yang gak dapet mainan. Manja banget. Harusnya dia malu, cowok kok kerjaannya cuma bisa meringkuk di kamar sambil disuapin obat terus."

"REVAN! Jaga ucapan kamu!" bentak Ibu, berbalik badan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena menahan amarah yang luar biasa. "Abangmu itu sedang butuh ketenangan! Kamu kalau pulang cuma bisa bikin rusuh dan memprovokasi suasana, mending kamu pergi lagi sekarang! Ibu pusing, Revan! Ibu capek!"

Kalimat "Mending kamu pergi lagi sekarang" menghantam dada Revan dengan telak. Meskipun dia yang memilih untuk kabur ke rumah Miko, mendengar Ibunya sendiri yang secara tidak langsung mengusirnya demi menjaga kedamaian si anak emas tetap saja menggoreskan luka yang teramat perih di harga dirinya.

"Oke. Revan emang bakal pergi," sahut Revan, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan bergetar hebat. "Urus aja terus anak kesayangan Ibu yang berharga itu. Jangan pernah cari Revan lagi kalau nanti Revan bener-bener gak akan pernah injek rumah sialan ini!"

Revan berbalik dengan cepat, mengabaikan panggilan lirih dari Ibunya yang sempat tersentak mendengar kata-katanya. Cowok itu masuk ke kamarnya, menyambar jaket denim hitam miliknya dari atas kasur dengan gerakan kasar, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel tanpa dipedulikan lagi kerapiannya.

Dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan keras di atas anak tangga kayu, Revan turun ke lantai bawah. Ia melangkah keluar dari pintu depan, lalu membanting pintu utama rumah itu dengan kekuatan penuh. BRAAAKKK! Bunyi dentuman keras itu bergema, menggetarkan kaca-kaca jendela rumah Dirgantara.

Revan menyalakan mesin motor matic-nya, menarik gas dalam-dalam, lalu melesat membelah jalanan malam yang mulai dingin. Di kepala Revan, dinding kebenciannya terhadap Arka kini telah bertambah satu lapis lagi. Kamar yang terkunci itu, di mata Revan, adalah simbol keegoisan Arka yang menutup diri demi memonopoli seluruh sisa tenaga dan kasih sayang Ibu. Sebuah kesalahpahaman fatal yang kian mengunci takdir mereka berdua di dalam labirin yang sangat gelap, bergerak perlahan menuju hari di mana penyesalan yang tak bertepi siap meremukkan seluruh hidup Revanza.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!