NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: PULANG KE RUMAH YANG ASING

PULANG KE RUMAH YANG ASING

​Malam semakin larut, namun sisa-sisa kemeriahan arisan sore tadi masih tertinggal dalam bentuk aroma parfum yang bercampur dengan bau pengap ruangan yang penuh manusia. Amira berdiri di depan wastafel dapur, tangannya yang sudah keriput karena terlalu lama terendam air sabun terus menggosok piring-piring porselen mahal milik mertuanya.

​Suara tawa Ibu Ratna dan Tante Lastri masih terdengar dari ruang tengah, diselingi suara televisi yang menyiarkan berita malam. Amira merasa punggungnya nyaris patah. Sejak pukul lima subuh ia tak berhenti bergerak, namun tak satu pun kata "terima kasih" mampir ke telinganya.

​Tiba-tiba, deru mesin mobil sedan mewah Aris terdengar memasuki garasi. Amira segera membilas tangannya, mengelapnya cepat-cepat pada kain lap yang sudah basah, dan berusaha merapikan rambutnya yang berantakan. Ia ingin menyambut Aris, ingin merasakan sedikit kehangatan suaminya setelah seharian dihujani duri oleh sang mertua.

​Namun, langkah Amira terhenti di ambang pintu dapur.

​"Mas Aris! Sudah pulang?"

​Bukan Amira yang menyapa. Itu suara Lista.

​Gadis itu berlari kecil menuju pintu depan, gerakannya begitu lincah dan penuh energi, seolah ia tidak baru saja menghabiskan waktu delapan jam di kantor. Lista membukakan pintu tepat saat Aris melangkah masuk.

​"Capek ya, Mas? Tadi meetingnya lancar?" tanya Lista dengan nada suara yang sangat perhatian, tangan kirinya secara alami terangkat untuk mengambil tas kerja Aris, sementara tangan kanannya menyodorkan segelas air mineral yang entah sejak kapan sudah ia siapkan.

​Aris tampak terkejut, namun kemudian tersenyum tipis—senyum yang seharian ini tak ia berikan pada Amira. "Lancar, Lis. Terima kasih ya. Kamu belum pulang?"

​"Tadi Lista bantu-bantu Bude Ratna arisan dulu, Mas. Kasihan Bude kalau sendirian," jawab Lista sambil melirik ke arah Amira yang mematung di dekat dapur. "Eh, Mbak Amira! Mas Aris sudah pulang nih, Mbak."

​Amira melangkah maju dengan canggung. "Mas... mau mandi dulu atau langsung makan? Aku sudah siapkan rendangnya."

​Aris menatap Amira sekilas. Pandangannya menyapu penampilan istrinya yang kuyu, baju yang sedikit basah karena cipratan air wastafel, dan wajah yang tampak sangat lelah tanpa riasan. Kontras sekali dengan Lista yang berdiri di sampingnya; segar, wangi, dan penuh semangat.

​"Aku sudah makan di luar tadi sama klien, Mir," jawab Aris datar. Ia menerima gelas dari tangan Lista dan meminumnya sampai habis. "Lis, tolong berkas yang tadi saya minta siapkan, taruh di meja kerja saya di atas ya."

​"Siap, Bos!" sahut Lista dengan candaan kecil yang membuat Aris terkekeh pelan.

​Ibu Ratna muncul dari ruang tengah, langsung menghampiri anaknya dan memegang bahu Aris. "Nah, lihat itu Aris. Lista ini memang luar biasa. Tadi di arisan, semua temen-temen Ibu puji dia. Katanya kamu pintar cari sekretaris. Coba kalau kamu cuma ngandelin yang di rumah..." Ibu Ratna melirik Amira dengan tatapan menghina. "...mungkin tamu-tamu Ibu tadi pulang dengan perut lapar karena penyajiannya lelet."

​"Ibu, Amira kan yang masak semuanya," Aris mencoba membela, namun suaranya lemah, nyaris seperti bisikan yang tak bertenaga.

​"Masak saja tidak cukup, Aris! Manajemen acara itu penting. Dan tadi Lista yang pegang kendali. Amira itu tadi malah mengurung diri di kamar, katanya pusing. Padahal tamu lagi ramai," bohong Ibu Ratna dengan wajah tanpa dosa.

​Amira membelalak. "Bu, Amira di kamar karena Lista yang suruh istirahat—"

​"Tuh, lihat! Malah menyalahkan Lista!" potong Ibu Ratna tajam. "Lista itu mau membantumu, Amira! Dia kasihan melihatmu yang seperti orang linglung di depan tamu. Harusnya kamu berterima kasih!"

​Amira menatap Lista, mencari kejujuran di mata sepupunya. Lista justru menunduk, wajahnya tampak sedih dan merasa bersalah. "Maaf, Mbak Amira... mungkin Lista salah bicara tadi. Lista cuma mau Mbak istirahat."

​Aris menghela napas panjang, tampak jengah dengan keributan itu. "Sudah, sudah. Masalah kecil jangan diperbesar. Aku mau ke atas, mau cek berkas."

​Aris melangkah naik ke tangga. Lista segera mengekor di belakangnya dengan alasan "ingin menjelaskan detail berkas". Amira ingin menahan Aris, ingin menceritakan betapa hancurnya perasaannya seharian ini, namun lidahnya kelu.

​Di ruang makan, Ibu Ratna duduk kembali di kursinya, menatap Amira yang masih berdiri tak berdaya.

​"Kamu lihat itu, Amira?" Ibu Ratna memulai dengan suara rendah yang berbisa. "Aris itu butuh wanita yang bisa mengimbangi langkahnya. Bukan wanita yang cuma bisa mengeluh capek setelah masak untuk arisan. Lihat Lista, dia kerja, dia bantu di sini, dan dia tetap terlihat cantik. Kamu?"

​Ibu Ratna berdiri, berjalan mendekati Amira dan menyentuh dagu Amira dengan jarinya yang memakai cincin berlian besar. "Kulitmu kusam, badanmu bau bawang, dan kamu tidak punya prestasi apapun untuk dibanggakan Aris di depan teman-temannya. Kalau aku jadi kamu, aku akan malu tetap berada di rumah ini tanpa memberikan keturunan atau kebanggaan bagi suamiku."

​Amira melepaskan diri dari sentuhan mertuanya. Air matanya sudah di ujung pelupuk. "Amira sudah berusaha, Bu."

​"Usahamu tidak cukup! Hasil, Amira! Yang dunia lihat adalah hasil!" bentak Ibu Ratna pelan namun menekan. "Sekarang masuk ke dapur, selesaikan cucianmu. Jangan sampai aku lihat ada satu noda pun di piring-piring itu."

​Amira berjalan kembali ke dapur dengan langkah gontai. Di sana, ia kembali berhadapan dengan tumpukan piring. Di atas sana, di ruang kerja Aris, ia mendengar sayup-sayup suara tawa kecil Lista dan suara bariton Aris yang sedang berdiskusi.

​Suara itu terdengar sangat harmonis, jauh lebih harmonis daripada percakapannya dengan Aris selama satu bulan terakhir.

​Amira mematikan lampu dapur setelah semuanya selesai. Ia berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai bawah—karena Ibu Ratna bilang Amira lebih baik di bawah agar mudah mengurus rumah, sementara Aris butuh ketenangan di kamar atas.

​Ia merebahkan tubuhnya yang remuk di atas kasur. Di kegelapan kamar itu, Amira menangis sesenggukan. Ia merindukan Aris yang dulu. Aris yang akan memeluknya saat ia lelah, Aris yang akan memujinya meski masakannya hanya telur ceplok.

​Namun kini, Aris seolah sudah berada di dunia yang berbeda. Dunia yang diciptakan oleh ibunya dan... Lista.

​Amira tidak tahu, bahwa di lantai atas, di depan meja kerja Aris, Lista sedang berdiri sangat dekat dengan Aris. Begitu dekat hingga aroma parfum vanilla milik Lista memenuhi indra penciuman Aris.

​"Mas Aris, Mbak Amira sepertinya sensitif sekali ya hari ini? Tadi Lista coba hibur, tapi Mbak Amira malah kelihatan marah. Lista jadi merasa tidak enak..." ucap Lista dengan nada yang sangat manja namun disamarkan sebagai rasa cemas.

​Aris menatap Lista. Di bawah lampu meja yang temaram, wajah Lista terlihat begitu lembut dan bersih. "Dia mungkin cuma capek, Lis. Maafkan dia ya."

​"Lista selalu maafkan Mbak Amira, Mas. Bagi Lista, kebahagiaan Mas Aris dan Mbak Amira adalah yang utama," jawab Lista sambil menyentuh jemari Aris sejenak saat menyerahkan pulpen.

​Aris terdiam. Sentuhan itu singkat, namun memberikan getaran yang sudah lama tak ia rasakan. Ia menatap punggung Lista yang berjalan keluar kamar dengan langkah yang anggun.

​Malam itu, di rumah yang mewah itu, ada tiga hati yang bergejolak. Amira yang hancur dalam kesetiaan, Aris yang mulai goyah dalam kekosongan, dan Lista yang sedang merayakan kemenangan kecilnya menuju takhta yang ia incar.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!