Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Retakan di Dinding Es
Tepat tiga puluh menit kemudian, suara deru mesin alat berat terdengar membelah kesunyian di luar gedung komunitas. Tim evakuasi khusus dari Noir Group datang dengan dua kendaraan taktis pembersih salju berskala besar, diikuti oleh mobil SUV pengawal yang kokoh.
Pak Lukas mengetuk pintu ruang kelas dengan sopan, memberikan isyarat bahwa jalur evakuasi sudah aman. "Tuan Noir, kendaraan jemputan sudah siap di lobi depan. Jalur menuju apartemen Tuan Hamdan juga sudah dibersihkan oleh tim kita."
Cassian berdiri dari kursinya, merapikan kemeja rajutnya yang kini kembali dilapisi mantel wol tebal yang tadi dipinjamkannya kepada Aisya. "Bagus. Ayo bergerak."
Mereka berjalan keluar dari gedung komunitas menuju kendaraan taktis yang sudah menunggu. Aisya kembali berjalan di antara Pak Lukas dan Kevin, sementara Cassian menutup barisan di belakang. Di tengah sisa-sisa angin malam yang menusuk, mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam mobil jemputan yang jauh lebih hangat dan aman.
Perjalanan menuju apartemen Paman Hamdan berlangsung dalam keheningan yang intens. Ketika mobil akhirnya berhenti di depan lobi apartemen, badai mulai mereda, meninggalkan tumpukan salju putih yang tebal di sepanjang jalan.
Paman Hamdan dan Bibi Salma sudah menunggu di lobi dengan wajah cemas. Begitu melihat Aisya masuk dengan selamat bersama Pak Lukas dan Kevin, Bibi Salma langsung berlari memeluk keponakannya itu sambil menangis haru. Paman Hamdan, yang wajahnya masih agak pucat namun napasnya sudah kembali normal berkat bantuan tim medis Cassian, melangkah maju mendekati Cassian yang berdiri tegap di dekat pintu kaca lobi.
"Tuan Noir... saya benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Anda malam ini," ujar Paman Hamdan dengan suara bergetar karena emosi. "Anda tidak hanya menyelamatkan nyawa saya dengan mengirimkan tim medis ke Scarborough, tapi Anda juga melindungi keponakan saya di tengah badai."
Cassian mengangguk dengan sopan, wajahnya kembali ke setelan formal yang dingin namun penuh rasa hormat kepada orang yang lebih tua. "Itu sudah menjadi kewajiban tim kami, Tuan Hamdan. Yang terpenting sekarang Anda dan keponakan Anda sudah aman di rumah."
Aisya, yang berdiri di samping bibinya, menatap Cassian dari kejauhan. Kehadiran Paman Hamdan dan Bibi Salma di antara mereka seolah mengembalikan dinding pembatas realitas yang nyata: Cassian adalah miliarder penguasa kota ini, dan dirinya hanyalah seorang mahasiswi asing yang ceroboh.
Namun, ketenangan malam itu hancur seketika saat pintu lobi apartemen mendadak didorong terbuka dengan kasar.
Dua orang pria tegap berpakaian setelan jas hitam dengan lencana resmi di dada mereka melangkah masuk. Pandangan mereka yang tajam langsung memindai seisi lobi sebelum akhirnya mengunci sasaran pada Aisya yang masih mengenakan niqab hitamnya.
"Selamat malam. Apakah benar di sini ada warga asing bernama Aisya?" tanya salah satu petugas dengan suara lantang dan tegas dalam bahasa Inggris.
Paman Hamdan tersentak, langsung bergeser melindungi Aisya. "Ya, benar. Saya pamannya. Ada urusan apa ini, Petugas?"
Petugas itu mengeluarkan sebuah dokumen resmi berserelak merah dari dalam mapnya. "Kami dari otoritas Keamanan Dalam Negeri dan Imigrasi. Kami menerima laporan resmi dari lobi gedung Noir Enterprises dan posko darurat St. Andrew's mengenai adanya individu yang menolak identifikasi visual di area publik dan dicurigai melakukan aktivitas yang mengancam kepatuhan regulasi visa kunjungan belajar."
Aisya merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. Kata 'Imigrasi' dan 'Pelanggaran Visa' adalah mimpi buruk terbesar bagi setiap pelajar asing.
Petugas itu melangkah lebih dekat ke arah Aisya, mengabaikan Paman Hamdan. "Nona Aisya, Anda dilaporkan sengaja menyusup ke kawasan eksekutif korporat dengan dokumen internal tanpa ID resmi, dan malam ini memicu keresahan publik di posko darurat dengan menyembunyikan identitas Anda. Sesuai prosedur penegakan hukum darurat badai, Anda harus ikut bersama kami ke kantor penahanan imigrasi malam ini untuk pemeriksaan latar belakang secara menyeluruh."
"Astagfirullah... tidak, Petugas! Keponakan saya hanya mengantar dokumen dan dia terjebak badai!" seru Paman Hamdan panik, napasnya mulai kembali terdengar berat karena syok.
Aisya melangkah mundur, tangannya bergetar hebat di balik gamisnya. Julian. Aisya tahu pasti bahwa ini adalah ulah Julian yang sengaja membalas dendam setelah dipermalukan di lobi kantor kemarin. Pria itu menggunakan pengaruh keluarganya untuk menggerakkan pihak imigrasi di tengah situasi darurat ini demi menyingkirkannya.
Petugas itu mengeluarkan borgol taktis dari pinggangnya. "Jangan mempersulit keadaan, Tuan. Nona, silakan ikut kami sekarang."
Petugas imigrasi itu melangkah maju, siap meraih pergelangan tangan Aisya dengan borgol di tangannya. Paman Hamdan sudah hampir tumbang karena syok, sementara Bibi Salma menahan tangis sambil mendekap Aisya erat-erat.
Namun, sebelum tangan petugas itu sempat menyentuh kain gamis Aisya, sebuah langkah kaki yang berat dan berwibawa memotong jalur mereka.
Cassian Noir berdiri tepat di depan petugas tersebut. Tubuhnya yang tinggi besar seketika memblokir pandangan kedua petugas imigrasi dari sosok Aisya. Atmosfer di lobi apartemen yang tadinya panik mendadak sunyi, digantikan oleh tekanan udara yang sangat berat.
"Singkirkan borgol itu dari hadapanku sebelum aku membuat kalian berdua kehilangan lencana malam ini," suara Cassian sangat rendah, hampir berupa bisikan, namun setiap suku katanya sarat akan ancaman yang mematikan.
Petugas yang memegang borgol itu mendongak, wajahnya yang tadinya tegas langsung berubah pucat begitu mengenali pria yang berdiri di depannya. "T-Tuan Noir? Maaf, kami tidak tahu Anda ada di sini. Tapi kami hanya menjalankan tugas berdasarkan laporan resmi yang masuk ke sistem penegakan hukum—"
"Laporan resmi dari Julian Vance, maksudmu?" potong Cassian dingin. Nama keluarga Julian yang disebutkan Cassian membuat kedua petugas itu saling pandang dengan gugup.
Cassian merobek dokumen berserelak merah dari tangan petugas itu dengan satu gerakan cepat, membacanya sekilas, lalu melemparnya kembali ke dada sang petugas. "Dokumen internal yang kalian sebut 'susup' itu adalah dokumen kontrak sah milik Noir Enterprises. Gadis ini membawanya atas perintah langsung dari meja kerja saya selaku CEO tertinggi. Jika kalian menyebutnya sebagai ancaman keamanan, artinya kalian sedang menuduh perusahaan saya memfasilitasi tindakan kriminal?"
"B-Bukan begitu, Tuan Noir! Kami hanya menindaklanjuti keluhan tentang penolakan identifikasi visual di gedung publik—"
"Identifikasi visual?" Cassian mendengus sinis, senyum miringnya tampak begitu mengerikan. Ia menoleh sedikit ke arah belakang. "Kevin."
Kevin yang sejak tadi berdiri siaga langsung maju menyerahkan sebuah tablet digital kepada Cassian.
"Di dalam sistem database Noir Enterprises, identitas Nona Aisya sudah diverifikasi secara biometrik dan legal sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di kantor perwakilan saya," ujar Cassian sambil menunjukkan layar tablet yang berisi dokumen resmi. "Dan mengenai posko darurat tadi, akulah yang membawanya ke sana untuk menyelamatkan nyawanya dari badai. Apakah menyelamatkan warga asing dari pembekuan tubuh sekarang dianggap sebagai pelanggaran visa di negara ini?"
Kedua petugas imigrasi itu menelan ludah dengan susah payah. Mereka tahu betul siapa Cassian Noir—pria yang pengaruhnya bisa menjangkau hingga ke jajaran menteri federal di Ottawa. Melawan pria ini sama saja dengan mengakhiri karier mereka seketika.
"Maafkan kami, Tuan Noir. Tampaknya ada miskomunikasi yang sangat besar dalam laporan yang kami terima," ujar petugas kedua dengan cepat, mencoba memperbaiki situasi sambil menarik mundur rekannya yang memegang borgol. "Kami akan membatalkan surat pemeriksaan ini dan melakukan evaluasi ulang terhadap pelapor."
"Katakan pada Julian," Cassian melangkah satu blok lebih dekat, membuat kedua petugas itu mundur hingga ke pintu kaca lobi, "jika dia atau siapa pun dari instansi kalian berani mengusik gadis ini lagi, aku sendiri yang akan menuntut dinas imigrasi atas tuduhan pelecehan hukum dan diskriminasi rasial di pengadilan federal. Sekarang, keluar dari gedung ini."
Tanpa menunggu hitungan ketiga, kedua petugas itu langsung berbalik dan setengah berlari keluar menuju mobil mereka, menghilang di balik sisa-sisa badai Toronto.
Suasana lobi kembali tenang. Paman Hamdan terduduk di sofa lobi sambil memegangi dadanya, mengucap syukur berkali-kali. Aisya sendiri masih terpaku di tempatnya. Debar jantungnya yang tadi berpacu karena ketakutan kini berubah menjadi debaran lain yang sulit ia maknai.
Cassian membalikkan tubuhnya. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, ia menatap Paman Hamdan sejenak. "Tuan Hamdan, pastikan malam ini apartemen kalian terkunci rapat. Tim keamanan saya akan berjaga di area luar kompleks ini sampai situasi kota benar-benar kondusif."
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan Noir," sahut Paman Hamdan dengan tulus.
Cassian kemudian melirik Aisya untuk terakhir kalinya malam itu. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada sentuhan, namun perlindungan mutlak yang baru saja diberikannya melampaui semua itu. Tanpa mengucap sepatah kata lagi, sang CEO berbalik dan melangkah keluar lobi bersama Pak Lukas dan Kevin, kembali masuk ke dalam Rolls-Royce Ghost-nya yang kokoh di tengah malam yang membeku.