NovelToon NovelToon
Hng Sih Kian Li

Hng Sih Kian Li

Status: tamat
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.

Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.


oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAN GEMBOS DI TENGAH JALAN

Bus masih berjalan pelan. Ah Me menatap Eng Sok yang duduk di sampingnya, wajah pucat, mata setengah terpejam. Lengan kanannya masih terbungkus perban kain coklat, tergantung di leher.

"Mending syuting besok aja," kata Ah Me pelan. "Ah Me nanti minta tolong Ah Koh Choa. Sekarang kan dia jadi tetangga kita—baru beli rumah di pojok itu. Dia mesti mau anter Ah Me."

Eng Sok tidak menjawab. Matanya masih kosong menatap ke luar jendela.

Tiba-tiba—

Cit!

Bus bergoyang. Menjolok ke kanan. Penumpang di belakang sampai teriak kaget.

"Ban gembos!" teriak sopir.

Bus berhenti di pinggir jalan. Sopir turun, menendang-nendang ban kiri belakang yang sudah kempis seperti layu.

"Turun dulu, penumpang semua! Nanti ganti ban!"

Penumpang mulai turun satu per satu. Ah Me berdiri—tapi tidak seperti biasanya. Wanita yang seminggu lalu masih terbaring lemah dengan napas pendek-pendek itu, sekarang melangkah seperti pendekar wanita di set syuting.

Ia turun dari bus, lalu menendang ban bus yang kempis.

Dut!

"Ban bengsut!" sumpah Ah Me. "Kurang ajar! Macem-macem! Baru ganti oli, ganti ban, ini ban serep gak diisi angin kali, ha?!"

Penumpang lain melongo. Sopir cuma bisa diam.

Eng Sok yang sedari tadi matanya kosong—tiba-tiba hidup kembali. Matanya bersinar. Antara kaget dan tegang. Mulutnya komat-kamit, seperti orang mau bilang sesuatu tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Sioh Bu melayang di sampingnya. Arwah itu tersenyum.

"Pangeran," katanya. "Ah Me sepuluh tahun lalu gini. Sebelum kena kanker paru-paru."

Eng Sok menoleh ke arwah itu. Masih komat-kamit. Sambil nunjuk -nunjuk Ah Me.

Tapi mendadak wajah Sioh Bu berubah. Matanya sayu. Senyumnya memudar.

"Tapi waktu itu Ah Ti masih kecil. Dan terpaksa ASI berhenti—karena kanker di paru-paru itu bikin produksi ASI ambles." Ia berhenti. "Untung ada Ah Koh (kakak perempuan ayah) Choa. Dulu masih di blok sebelah, kontrak. Bulan lalu beli rumah satu gang sama kontrakan kita."

Eng Sok tidak menjawab. Perutnya mendadak keroncongan.

Keras.

Ah Me, yang masih sibuk sumpah serapah di dekat bus, menoleh. "Sioh Bu! Makan kita di depot situ!"

Ia menarik lengan Eng Sok yang masih komat-kamit.

"Duit lu masih segepok di gua!"

 

Depot "Hokky" di pinggir jalan. Meja plastik warna merah. Kursi tipis. Tapi ramai. Aroma pangsit goreng dan bakmi ayam menyebar ke mana-mana.

Ah Me duduk tanpa basa-basi. "Mie Pangsit babi dua porsi! Soda cap Badak dan ikan dua botol!"

Eng Sok masih komat-kamit. Duduk. Melongo.

Pesanan datang.

Dan Eng Sok berubah jadi vacuum cleaner.

Pangsit babi satu per satu lenyap. Mie seperti berpusar masuk mulut Eng Sok. Mangkuk sup habis dalam hitungan detik. Tidak ada suara. Hanya suara sumpit dan sendok menyentuh mangkuk—cepat, teratur, efisien.

Ah Me menggeleng. "Koh Sioh Bu, napas dulu kali."

Eng Sok tidak menjawab. Ia merogoh tas—mengeluarkan antibiotik dan obat nyeri. Dua butir. Ditenggak dengan soda cap Badak dan Ikan.

Gluk gluk gluk.

Ia duduk. Menatap layar ponsel. Menghirup udara dalam-dalam.

Matanya mulai beneran hidup.

Sakit di lengan masih ada. Tapi berkurang. Atau setidaknya, ia bisa mengabaikannya sekarang. Luka ginian buat Pangeran biasa berangkat perang sih kecil.

"Ah Me," katanya. "Aku syuting hari ini aja. Jam 1 nanti. Naik ojol. Biar besok Rontgen."

Ah Me mau menolak. Bibirnya sudah terbuka. Tapi Eng Sok bilang naik ojol—artinya anak ini naik transportasi agak mahal, tapi tidak bikin dia capek. Tidak perlu ganti bus, tidak perlu jalan jauh.

Ah Me mengangguk.

"Jangan capek-capek," pesannya.

 

Lokasi syuting di studio "Bintang Nusantara", lantai tiga. Eng Sok datang tepat jam 1 siang.

Toian Steve sudah menunggu dengan wajah tegang. Matanya langsung tertuju ke lengan kanan Eng Sok yang masih terbungkus perban.

"Sioh Bu... itu lengan lu. Bagaimana kita mau nutup perban di kamera?"

Eng Sok tidak menjawab. Ia malah nonton Mikrodrama lain di ponsel. Adegan seorang kultivator dengan tangan setengah tertutup handsock hitam dengan motif Naga perak.

Ia mengangkat ponselnya ke Toian Steve.

"Toian, ini ada?"

Toian Steve melihat layar. Lalu ke lengan Eng Sok. Lalu ke layar lagi.

"Handsock naga?"

"Ada?"

Toian Steve memanggil asisten properti. Sepuluh menit kemudian, dua handsock hitam dengan bordir naga perak—satu untuk tangan kanan, satu untuk tangan kiri—sudah ada di meja rias.

Eng Sok memakainya. Perban di lengan kanan tertutup rapi. Tangan kirinya—yang sehat—juga pakai, biar simetris.

"Kesannya... setengah zirah gaib," kata Eng Sok.

Toian Steve manggut-manggut. "Gas."

 

Syuting dimulai.

Adegan pertama: negosiasi dengan lawan kultivator. Eng Sok duduk di kursi kayu ukiran naga, tangan kanan bersandar di meja—tidak banyak gerak. Lawan mainnya seorang aktor tua dengan janggut palsu.

"Kau pikir aku takut padamu?" suara Eng Sok dingin.

Lawan mainnya gemetar—bukan akting. Ada sesuatu di mata Eng Sok yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Adegan kedua: konfrontasi fisik. Eng Sok berdiri. Tangannya—yang di tangan kiri—bergerak cepat. Jurus lengan kiri melempar senjata. Eng Sok sendiri yang improvisasi.

Toian Steve tidak cut. Tidak ingin. Walaupun jelas-jelas gak sesuai naskah. Tapi sesuai sama pikiran dia, imajinasi dia dan rasa dia. Matanya melebar.

"Lanjut!"

Adegan ketiga. Keempat. Kelima.

Eng Sok tidak mengeluh. Tidak minta istirahat. Sesekali minum air dan ke toilet. Hanya bergerak—seperti mesin yang tidak kenal lelah.

Syuting hari itu harusnya empat episode. Tapi karena Eng Sok dan lawan mainnya terlalu cepat dan terlalu bagus, mereka berhasil menyelesaikan sampai episode enam.

Toian Steve menutup dengan tepuk tangan. Entahlah, lawan mainnya bilang sejak Eng Sok masuk, rasanya dia gak lagi akting. Takutnya beneran, rasa ingin larinya beneran… yang paling gong, artis perempuan bilang,”Naksirnya beneran, Toian. Jadi ada rasa-rasa”. “Waduh! Stop!”,  kata Toian Steve. Toian ogah mikirin cinta. Waktunya mepet.

"CIAMIK!" teriaknya. "Sioh Bu, lu hebat! Besok libur, ya. Lusa syuting setengah hari—atau lu bisa ambil job lain."

Eng Sok mengangguk. Tidak tersenyum. Tidak bangga. Hanya lelah.

 

Tring!

HP di saku celananya bergetar.

Eng Sok mengeluarkan ponsel. Layar menampilkan notifikasi dari dompet digital.

"Rp 4.500.000 telah masuk ke akun Anda."

Bonus.

Eng Sok mengerjap. Menghitung jumlahnya. Empat setengah juta. Di luar bayaran pokok.

Ia menatap layar. Lalu menatap lengan kanannya yang masih terbungkus perban. Lalu menatap layar lagi.

"Lumayan," bisiknya.

 

Jam baru menunjukkan pukul 3 sore. Masih sore. Matahari masih tinggi.

Eng Sok berjalan keluar studio. Ada Bank "Bun Long" di seberang jalan—gedung putih dengan kaca tebal dan pintu otomatis.

Ia masuk.

Ding dong.

Suara pintu otomatis. Udara dingin menyambutnya. Antrean tidak terlalu panjang.

"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" suara customer service ramah.

"Saya... mau buka rekening."

"Baik, Bapak. Silakan isi formulir. Nanti kita lakukan verifikasi sidik jari dan scan iris."

Eng Sok menelan ludah.

Lagi.

Ia mengisi formulir. Nama: Sioh Bu. Pekerjaan: Artis. Penghasilan: tidak tetap.

"Silakan tempelkan jari di sini, Pak."

Eng Sok menempelkan jari telunjuk kanan—yang masih sedikit bengkak, tapi sudah lebih baik.

Layar berkedip.

Memuat. Memuat.

"Verifikasi berhasil."

Petugas bank itu mengerjap. "Sebentar, Pak. Sidik jari Bapak... kok beda sedikit ya? Masih toleransi sih—tapi..."

Eng Sok tidak panik. Ia sudah punya jawaban.

"Iya, Bang. Saya artis silat. Kecelakaan..." Ia menunjuk lengan kanannya yang masih terbungkus perban. "Jadi gitu, nah."

Petugas bank itu memandang lengan Eng Sok. Melihat perban coklat masih ia pakai. Gerakan tangan kanannya yang kaku sampai nulis pake tangan kiri, untung rapi. Lalu ke wajah Eng Sok yang tampak serius—tidak seperti orang berbohong.

"Masuk akal, sih. Adik gua ginian juga!," kata petugas bank di sebelahnya.

Scan iris berikutnya. Juga lolos.

Seorang ibu-ibu yang antre di belakangnya mundur selangkah.

"Ih Engkoh ganteng... kok senyumnya serem?"

Dalam hati, ia tertawa.

Iya. Kebanyakan jadi antagonis. Senyum bahagiaku jadi mencurigakan.

"Yang Mulia Leng Tiat... tolong senyumnya diatur. Nanti dilaporin polisi.", goda petugas bank sambil menyodorkan buku tabungan dan kartu ATM. 

“Lah penggemar!”, balas Eng Sok ramah sambil menerima buku.

“Boleh foto Yang Mulia?”, tanya pria petugas Bank.

Eng Sok mengangguk. 

Tidak disangka-sangka semua petugas bank menggeruduknya dan pose. Dia di tengah. Petugas bank bagian sosmed mengambil foto-foto dan mengirimkan sebagian ke HP Sioh Bu. 

Di atas kepalanya, Sioh Bu melayang. Memegang kepala.

Lalu Eng Sok membuka kipas… diikuti beberapa penggemar fanatiknya yang kerja di situ. Dia keluar dengan langkah pasti naik ojol. Ia melihat buku tabungan itu

“Buat tabungan Ah Ti”, bisiknya dalam hati. Lalu meletakkannya di tas.

Lao Ma di sampingnya cuma geleng-geleng kepala. Tapi di sudut bibirnya, ada senyum tipis.

 

BERSAMBUNG

 

Ban gembos. Ah Me yang tiba-tiba jadi pendekar. Syuting kilat dengan tangan kiri. Dan rekening bank baru.

Eng Sok punya identitas lain sekarang.

Bukan milik Sioh Bu.

Miliknya sendiri.

🪷👩‍❤️‍👨💐

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!