NovelToon NovelToon
Mawar Memar

Mawar Memar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penawaran

Matahari sudah naik cukup tinggi, Delana kembali membuka matanya setelah dia tidur kembali dini hari tadi. Dia menoleh ke samping dan mendapati Rex yang masih terlelap juga. Hanya saja ….

“Pak, kenapa badan nya panas banget?”

Delana merasa nafas Rex panas, hawa tubuhnya pun mengeluarkan rasa panas di tubuh Delana. Benar saja, saat Delana memeriksa dahinya, Rex demam.

Gadis itu hendak turun dari kasur untuk mencari seseorang, tapi dia sadar dirinya sedang tidak memakai apapun.

“Aduh, gimana ini? Apa aku teriak aja? Kalau teriak, mereka pasti gak mau gubris, ini kan kamar bos nya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ya, telpon Angga atau Tias. Lah, aku gak punya nomor nya, lagian hp aku juga di mana lagi?”

Delana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah muncul dari mana ingatan Delana tentang teori skin to skin.

“Benar, hanya ini caranya. Bodo amat lah, darurat.”

Delana memeluk tubuh Rex dengan harapan suhu tubuh pria itu bisa teralirkan pada tubuhnya.

Rex menggigil karena terlalu panas.

“Pak, bangunlah sebentar. Kalau posisi tangan bapak menyilang di depan dada, teori skin to skin ini gak akan berhasil. Kita harus benar-benar saling menempel satu sama lain.”

Rex tidak menggubris.

Melihat Rex yang tetap diam, akhirnya Delana mengambil keputusan untuk pindah ke belakang tubuh Rex. Dari sana lah dia bisa memeluk tubuh pria itu dengan sempurna.

Rex mengeraskan rahangnya saat dada Delana menempel sempurna di punggung nya

ada apa dengan anak ini? Kenapa selalu membuatku hilang kendali.

“Pak, bisa denger aku nggak sih sebenarnya? Bapak pingsan? Berbalik lah kalau bisa. Ck! Susah banget emang ngomongin orang tua.”

Mendengar ucapan Delana, Rex langsung berbalik. Matanya terbuka, menatap Delana begitu dekat. Gadis itu sontak saja terkejut.

Tangan kekar Rex menarik pinggang Delana hingga tubuhnya menempel sempurna pada Rex.

Jantung Delana berdegup kencang. Rex bisa merasakan itu.

“Jangan suka memancing, karena kamu belum tahu apa yang akan kamu dapatkan.”

Delana menelan ludah. Dia sadar jika teori ini akan sangat tidak apa-apa di terapkan pada anak-anak. Tapi Rex adalah lelaki dewasa dan dia pun sama.

Akan ada reaksi lain yang timbul jika teori skin to skin diterapkan pada Rex.

Bodoh banget gua astagaaaa.

Rex memeluk erat Delana. Semanagat gadis itu terdiam menahan sesak dan ketakutan.

Semakin lama, pelukan itu semakin melemah. Suhu tubuh Rex pun tidak sepanas sebelumnya. Pria itu tertidur.

Delana menjauhkan tubuhnya sedikit untuk mengambil jeda dan nafas, hingga dia pun bisa melihat wajah Rex dengan sangat jelas. Wajah mereka saling berhadapan.

Delana menatap wajah Rex tanpa jeda. Rex memang sudah tidak muda lagi jika dibandingkan dengan usianya sekarang. Hanya saja ….

Tanpa sadar, Delana menyentuh pipi Rex.

Dia kembali menarik tangan nya. Rasa takut itu kembali menyergap. Delana takut Rex sadar dengan apa yang telah dia lakukan.

Perut Delana terasa perih. Hari sudah sangat siang dan dia belum makan apapaun sampai detik ini.

“Pak, aku lapar.” Bisik Delana.

Mata Rex perlahan terbuka.

“Aku pikir, denga menatap wajahku sejak tadi kamu merasa kenyang.”

Pipi Delana memerah kepanasan mendengar ucapan Rex. Delana merasa malu karena rupanya Rex sadar dia menatap nya sejak tadi.

Pria itu tersenyum, lalu turun dari kasur. Dia pergi keluar dari kamar.

Tidak lama kemudian dia membawa paper bag besar.

“Ini pakaian untukmu. Cobalah. Tias yang membelikan nya.”

“Terimakasih.”

“Setelah selesai, turunlah. Aku akan menyiapkan makanan untukmu.”

Rex kembali pergi meninggalkan kamar. Sementara Delana membersihkan badan nya, lalu segera berpakaian.

Delana berjalan perlahan keluar dari kamar. Dia begitu terkesima melihat dekorasi mention milik Rex itu. Gaya Eropa klasik yang dibalut dengan ukiran-ukiran mewah, membuat mata Delana tidak berhenti menatap kagum.

Saat turun, dia melihat Tias dan Angga sedang diam tak berkutik. Rex sedang memarahi keduanya.

“Mba Tias, om Angga.” Delana menyapa.

“Hai.” Tias melambaikan tangan. sementara Angga hanya tersenyum tipis.

“Pak, di mana sarapan nya?”

Rupanya Rex memang sedang serius memarahi Angga dan Tias. Bahkan Rex hanya memberikan isyarat mata kepada anak buahnya yang lain untuk mengantar Delana ke ruang makan.

“Bis kalian kenapa?” Tanya Delana pada anak buah Rex yang bersamanya.

“Maaf, nyonya. Saya tidak tahu.”

“Nyonya? Siapa? Aku?”

Pria itu hanya diam tak berkutik.

Saat sedang makan, Delana mendengar suara Rex yang berbicara dengan nada tinggi, tapi dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dikatakan oleh Rex.

Brakkkk

Delana yang jauh saja terperanjat mendengar Rex menggebrak meja kaca. Bahkan terdengar bunyi pecahan.

Delana segera mengakhiri sarapan nya dan menghampiri Rex yang ada di depan sana.

Benar saja, meja itu pecah. Semua orang yang ada di sana terdiam. Suasana tegang sangat kental menyelimutseluruh ruangan.

“Pak, tangan bapak berdarah.”

Delana mendekati Rex. Dia celingukan mencari tisu tapi tidak ada. Akhirnya Delana membungkus tangan Rex dengan gaun bagian yang sedang dia pakai.

“Sudahlah, ini hanya luka kecil.”

“Diam bisa nggak? Dasar orang tua, susah banget diaturnya.”

Rex menghela nafas mendengar kata tua dari mulut Delana.

“Yakin ini kalian cuma diam saja melihat atasan kalian terluka? Bawain kasa kek, obat atau apa gitu?” Tanya Delana pada anak buah yang sedang berdiri. Awalnya mereka hanya saling melirik, sampai Rex memberikan isyarat jari untuk mereka pergi mencari apa yang disebutkan oleh Delana.

“Ini nyonya.” Seseorang memberikan kotak P3K

Dengan hati-hati, Delana membersihkan luka yang ada di tangan Rex, lalu membalutnya.

“Baru aja bangun udah marah-marah aja, inget umur pak. Kalau darah tinggi, bisa struk nanti.”

“Delana.”

“Ayo, aku tidak bisa makan sendirian.”

Delana menarik tangan Rex. Entah kanapa dia tidak bisa melawan gadis kecil itu. Rex pun ikut pergi menuju ruang makan.

Gadis itu berbalik sekilas untuk menyuruh Angga dan Tias pergi dari sana. Tias mengangguk cepat, lalu membawa Angga dan yang lain nya pergi dari sana.

“Ada apa? Kenapa harus marah-marah seperi itu? Apapun masalahnya, jangan pakai emosi. Lihat, jadinya diri sendiri yang terluka.”

“Angga sudah melakukan kesalahan besar.”

“Sebesar apa? Apa itu mengalahkan persahabatan kalian yang sudah terjalin puluhan tahun ini?”

Rex terdiam selayaknya anak yang sedang dinasihati oleh ibunya.

“Jangan hanya melihat kesalahan orang, lantas kebaikan nya Bapak lupakan begitu saja.”

“Angga menaruh obat perangsang diminuman kamu.”

Deg!

Hening.

Delana tiba-tiba bangun. “Kurang ajar!” Kini dia yang menggebrak meja. Untung bukan terbuat dari kaca.

“Anggaaaaaa.” Delana berjalan menuju ruang depan, untung dihentikan oleh Rex.

“Aaah, dasar Angga. Kurang ajar banget lo ya, awas kalau kita ketemu lagi, habis kamu!”

Delana memarahi Angga yang sudah tidak ada di sana. Di tangan nya terdapat sendok garpu dan pisau. Dia mengacungkan nya ke arah ruang depan yang sudah tidak ada siapapaun di sana.

Rex memeluknya dari belakang agar Delana tidak lepas dan lari mencari Angga. Dia masih mencerca Angga yang menjebaknya dengan obat perangsang.

Rex tertawa.

“Kenapa? Apa yang lucu?” Tanya Delana membalikkan badan. Sementara tangan Rex masih melingkar di pinggangnya.

“Lihatlah, kamu sendiri bilang apapun masalah nya janga marah-marah, kalau apa yang sedang kamu lakukan sekarang?”

“Dia udah keterlaluan soalnya.”

“Itulah kenapa aku memarahinya tadi. Mungkin niat dia hanya becanda, tapi aku tidak suka siapapun menyakiti kamu.”

Amarah Delana mereda. Wajahnya dan hatinya menghangat karena ucapan Rex.

Lama mereka saling menatap.

“Lana, tinggal lah bersamaku.”

1
Mujria Ria
padahal ceritanya bagus TPI belum ada yg baca yaa?? di tunggu kelanjutannya thor
Chaw_Mully: Hehehe gak apa-apa kak, mungkin belum rezekinya 😄. Makasih ya udah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!