Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 29
Jenia tidak bisa tidur, kepalanya penuh dengan adegan saat dirinya dan Ansel di dapur, Jenia bangkit dari tempat tidurnya dan berjala kearah meja rias, ia menatap pantulan wajahnya di cermin.
“Apa aku pantas menikah lagi? Kurasa umurku sudah tidak cocok lagi merasakan perasaan cinta, aku sudah beranak, apa akan pantas bersanding dengan Ansel yang bahkan masih terlalu muda untukku?”
Jenia menyentuh kulit wajahnya, tampak halus, tapi tetap tidak percaya diri untuk bersanding dengan Ansel. Ia merasa jauh lebih tua dari Ansel. Jenia sama sekali tidak tahu jika umur mereka hanya terpaut dua tahun.
“kenapa rasanya aku semakin tidak percaya diri, aku bahkan sudah lama tidak merawat diriku sendiri setelah melahirkan Cwen,” lirih Jenia, ia beralih menatap pantulan dirinya di cermin yang menempel dengan lemari pakaian.
“Tubuhku tidak secantik dulu lagi, wajahku juga tidak sesegar saat aku masih muda dulu. Apa Ansel tidak akan malu menikah dengan janda anak satu sepertiku? Seharusnya dia menikah dengan seorang gadis bukan?”
Jenia menghela napsnya, kepalanya benar-benar sangat penuh, dengan langkah tidak pasti ia keluar dari dalam kamar, lalu masuk ke dalam kamar putrinya.
Melihat putrinya sudah terlelap, Jenia kembali menutup pintu, dan melangkah keluar apartement. Jenia sendiri tidak tahu untuk apa ia keluar dan berdiri di depan pintu apartement Ansel.
Dengan ragu tangannya terangkat untuk memencet bel. Satu menit, dua menit, tiga menit, masih tidak ada pergerakan dari dalam apartement. Jenia menghela napas lalu berbalik untuk kembali ke dalam apartemennya.
“Jenia?”
Jenia menghentikan langkahnya dan berbalik, “Eh, belum tidur?” tanya Jenia menatap penampilan Ansel yang masih rapih jika di bandingkan dengan orang yang terbangun dari tidurnya.
Ansel menggeleng, “aku terbangun karena mendengar suara bel, aku kira siapa, ternyata kamu. Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?” Ansel melangkah mendekati Jenia.
Jenia mengangguk, rasanya percuma jika ia berbohong, karena pada kenyataannya ia sama sekali tidak bisa tidur karena kepalanya penuh dengan Ansel.
“Apa yang kamu pikirkan, hmm?”
“Ansel, apa aku terlihat pantas jika bersanding denganmu?” tanya Jenia mendongak menatap Ansel, walaupun ia keturunan asli Jerman, tetap saja ia memiliki tubuh lebih pendek dari Ansel, walaupun lebih tingi dari perempuan Indonesia pada umumnya.
Ansel menautkan alisnya tidak suka saat tahu yang menganggu pikiran Jenia, “Apa yang kamu pikirkan? Siapa yang mengatakan tidak pantas? Kamu bahkan terlihat lebih pantas dari siapapun Jenia,” jawab Ansel membuat Jenia menggeleng tidak setuju.
“Aku tidak pantas Ansel, tubuhku tidak sebagus saat aku masih muda, aku tidak secantik dulu lagi, tubuhku bahkan tidak lagi terawat, aku tidak bisa bersanding denganku, rasanya aku sangat tidak pantas Ansel,”
“Siapa bilang kamu tidak cantik lagi Jenia. Aku bahkan tidak rela menunjukkan dirimu di depan teman-temanku karena aku tahu bagaimana cantiknya dirimu. Terlebih dari kecantikan dirimu, aku jatuh cinta pada kepribadianmu, aku jatuh cinta pada bagaimana kamu mencintai putrimu, aku jatuh cinta pada bagaimana kamu mencintai dirimu sendiri,”
Jenia menatap heran Ansel. Maksudnya Ansel tidak suka dengan wajah Jenia atau bagaimana? Ia bilang ia jatuh cinta pada kepribadiannya, sikapnya dan juga? Apa tadi? Jatuh cinta pada bagiamana ia mencintai dirinya sendiri? Apakah itu terdengar aneh?
“Kamu tidak mencintai aku?” tanya Jenia pelan.
Ansel tersenyum dan menyentuh kedua pundak Jenia lembut, “bukan itu maksudku, aku tidak mencintai kelebihanmu saja, tapi aku juga mencintai semua kekurangan yang ada padamu, aku tidak peduli seperti apa kelemahanmu, aku sudah jatuh cinta lebih dulu pada cara bagaimana kamu mencintai dirimu dan juga pada bagaimana kamu mencintai Cwen,”
“A-aku tidak merasa aku mencintai diriku Ansel,” bantah jenia, ia merasa ia tidak secinta itu pada dirinya sendiri, ia tidak lagi merawat dirinya, ia tidak lagi mengasihani dirinya sendiri. Jadi dimana letak ia mencintai dirinya sendiri itu?
Ansel tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Jenia.
“Tidur ya, jangan kamu pikirkan hal yang negatif lagi, aku mencintaimu dan aku tetap memilihmu menjadi pendamping hidupku sampai aku tua nanti,”
Jenia diam, ia mengangguk pelan, “selamat malam!”
Ansel mengangguk, “Selamat malam juga Jeni,”
Jenia diam sebentar, Apa katanya tadi? Jeni? Apakah itu semacam panggilan khusus untuk orang spesial? Terdengar sangat manis.
“Ansel,”
Ansel mengangkat sebelah alisnya, menunggu Jenia membuka bibirnya untuk mengataka sesuatu,
“A-Aku, aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini, aku mau menjadi pendamping hidupmu.”
Setelah mengatakan hal itu, Jenia langsung berlari masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintu tanpa menunggu reaksi dari Ansel.
“Ya ampun jantungku.” Lirih Jenia bersandar di daun pintu.
***
Sekarang gantian Ansel yang tidak bisa tidur. Kepalanya penuh dengan suara Jenia yang mengatakan jika ia bersedia menjadi pendamping hidup dirinya.
“Apa itu artinya Jenia menerima lamaranku?” Ansel tersenyum lebar, jantungnya kembali berdetak cepat.
Ansel cepat-cepat meraih ponselnya dan menekan ikon telpon kepada bundanya, biarlah ia menganggu bundanya yang mungkin sudah tertidur itu, ia butuh berbicara dengan bundanya. Malam ini.
“Halo bunda,”
Terdengar suara bundanya yang langsung mengomel dari sebrang telpon karena tidurnya terganggu dengan suara dering telpon dari Ansel.
“Bunda jangan marah dulu, Ansel butuh jawaban dari bunda,” ucap Ansel memotong omelan bundanya, jika ia berada di depan bundanya dan memotong omelannya itu, sudah pasti Ansel akan langsung mendapatkan pukulan sayang dari bundanya itu.
“Bun, tadi Jenia menemui Ansel dan mengatakan jika ia bersedia untuk jadi pendamping hidup Ansel, apakah itu Jenia sudah menerima lamaran Ansel?” tanya Ansel.
“Ya ampun Ansel, kamu menelpon bunda hanya untuk mengatakan hal ini? sudah jelas loh itu Jenia juga menyukaimu, kalau ia tidak suka, Jenia tidak akan mungkin mau datang ke acara makan malam itu di rumah bunda. Masa seperti itu saja kamu masih butuh bunda untuk bertanya, dasar tidak peka,” terdengar lagi nada bundanya yang kembali mengomel.
Ansel langsung diam. Kembali berfikir ucapan bundanya. Kepalanya mendadak pening memikirkan jika jenia juga sudah menyukainya sejak malam itu, Ansel kira Jenia bersedia untuk bertemu dengan orang tuanya karena tidak bisa menolak, rupanya karena Jenia juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Kenapa aku tidak menyadarinya?” lirih Ansel kepada dirinya sendiri, tapir gumamannya terdengar oleh bundanya yang telponnya masih terhubung.
“Kamu memang tidak peka Ansel, Kamu masalah seperti ini kenapa mendadak bod-,”
Ansel langsung mematikan sambungan telponnya, pasti bundanya akan kembali mengomel masalah bagimana bodohnya dulu saat ia mencintai seseoarang.
“Maaf bunda, aku tidak mau dihina bodoh lagi karena masa lalu, sudah lama juga, jadi aku tidak mau kembali mengingatnya,” bisik Ansel menatap ponselnya yang sudah mati.
seru ceritanya