NovelToon NovelToon
Kinasih: Pengantin Keranda

Kinasih: Pengantin Keranda

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Retakan Itu Melebar

Pukul 05.17.

Masih.

Selalu kembali ke angka itu.

Namun kali ini—

jam dinding tidak hanya retak.

Ia… berdarah.

Dari celah kecil di angka lima—

cairan hitam merembes keluar.

Pelan.

Menetes.

Tik.

Bukan suara jarum.

Tapi suara tetesan.

Kinasih masih duduk di lantai.

Diam.

Terlalu diam.

Matanya terbuka.

Namun tatapannya kosong.

Atau…

tidak sepenuhnya miliknya.

Napasnya pelan.

Terlalu pelan.

Seperti bukan dia yang mengatur.

Dan di dalam kepalanya—

tidak lagi sunyi.

Ada banyak suara.

Namun kali ini—

tidak berteriak.

Tidak memaksa.

Mereka… berbisik.

Bersama.

Teratur.

Sinkron.

“Kita di sini…”

“Kita hidup…”

“Kita satu…”

Kinasih mengedip.

Sekali.

Pelan.

Lalu—

senyum tipis muncul di bibirnya.

Namun—

itu bukan senyum lega.

Itu… sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak seharusnya ada.

“Aku masih di sini…”

bisiknya.

Namun suara itu—

berlapis.

Lebih dari satu.

Lebih dalam.

Lebih… ramai.

Ia perlahan berdiri.

Tubuhnya terasa ringan.

Terlalu ringan.

Seperti tidak ada berat.

Seperti—

tidak sepenuhnya nyata.

Langkahnya menuju cermin.

Yang sudah pecah.

Namun—

di sana masih ada pantulan.

Retak.

Terpotong-potong.

Dan di setiap pecahan—

wajah yang berbeda.

Semua Kinasih.

Namun—

tidak sama.

Ada yang tersenyum.

Ada yang menangis.

Ada yang… menjerit.

Tanpa suara.

Kinasih menyentuh salah satu pecahan.

Ujung jarinya menempel di kaca.

Dan—

pecahan itu bergerak.

Seperti air.

Bukan kaca.

Dan dari dalam—

sesuatu menyentuh balik.

Jari.

Dingin.

Basah.

“Kita lapar…”

Suara itu lagi.

Namun kali ini—

datang dari tangannya sendiri.

Kinasih menarik tangannya cepat.

Namun—

terlambat.

Kulit di ujung jarinya berubah.

Sedikit.

Lebih pucat.

Dan ada garis hitam tipis…

merambat naik.

Seperti akar.

Kinasih menatapnya.

Diam.

Tidak panik.

Tidak takut.

Itu yang salah.

Ia seharusnya takut.

Namun—

ia tidak.“Apa yang kalian mau…?”

bisiknya pelan.

Dan suara itu menjawab.

“Kita ingin keluar…”

Kinasih menatap cermin.

Dalam.

“Keluar ke mana…?”

Sunyi.

Lalu—

semua pecahan cermin itu tersenyum.

Serentak.

“Ke duniamu.”

Tubuh Kinasih sedikit menegang.

Namun—

tidak mundur.

“Kalau aku bantu…?”

bisiknya.

“Semua selesai?”

Tawa kecil terdengar.

Dari dalam.

Banyak.

Bersamaan.

“Tidak ada yang selesai…”

“Ini baru mulai…”

Tiba-tiba—

ponselnya bergetar.

Keras.

Berulang.

Brrrrt… brrrrt… brrrrt…

Kinasih menoleh.

Ponsel itu ada di lantai.

Layarnya menyala.

Nama yang muncul—

Bima.

Namun—

di bawah namanya…

ada sesuatu.

Angka.

05:17

Berulang.

Berderet.

Seperti tidak ada akhir.

Kinasih mengambil ponsel itu.

Menatap layar.

Lalu—

mengangkat.

“Bim…”

Sunyi.

Beberapa detik.

Lalu—

suara itu muncul.

Namun—

terdistorsi.

Seperti rusak.

“Ki…na…sih…”

Kinasih membeku.

“Bim… kamu di mana…?”

Suara itu terputus-putus.

Namun—

ia masih bisa mendengar.

“Aku… di bawah…”

Di bawah.

Kinasih menelan ludah.

“Di mana…?”

Jawaban itu datang—

pelan.

Sangat pelan.

Namun—

cukup.

“Di dalam…”

Seketika—

lantai kamar bergetar.

Halus.

Namun terasa.

Kinasih menunduk.

Dan—

ia melihatnya.

Retakan.

Tipis.

Muncul di lantai.

Memanjang.

Pelan.

Dan dari dalam retakan itu—

keluar sesuatu.

Bukan tangan.

Bukan asap.

Tapi—

rambut.

Hitam.

Basah.

Menyembul keluar.

Perlahan.

Kinasih mundur.

Namun—

kakinya tidak bergerak.

Seperti menempel.

Rambut itu terus keluar.

Semakin banyak.

Menggeliat.

Seperti hidup.

Dan dari dalam—

suara itu muncul lagi.

Lebih jelas.

“Buka…”

Retakan itu melebar.

Sedikit.

Dan—

mata muncul.

Di antara rambut.

Satu.

Menatap langsung ke Kinasih.

“Kamu janji…”

Suara itu.

Bima.

Namun—

tidak sepenuhnya.

“Aku… terjebak…”

Air mata Kinasih jatuh.

“Bim…”

Tangannya terangkat.

Perlahan.

Menuju retakan itu.

Namun—

suara lain muncul.

Lebih keras.

Lebih dekat.

“JANGAN.”

Kinasih tersentak.

Ia menoleh.

Dan—

di belakangnya—

perempuan itu.

Berdiri.

Lebih dekat dari sebelumnya.

Lebih jelas.

Dan kali ini—

tidak tersenyum.

Wajahnya datar.

Namun—

lebih menakutkan.

“Kalau kamu buka…” katanya pelan, “…kamu tidak bisa menutup lagi.”

Kinasih menatapnya.

Lalu ke retakan itu.

Rambut itu kini hampir keluar semua.

Menyebar di lantai.

Seperti akar.

Mencari.

“Mereka sudah masuk ke dalamnya…” lanjut perempuan itu.

“Kalau kamu tarik dia keluar…”

Ia menatap Kinasih.

“…yang keluar bukan cuma dia.”

Sunyi.

Kinasih menggigit bibirnya.

Air matanya jatuh.

“Kalau aku nggak buka… dia mati…”

Perempuan itu diam.

Beberapa detik.

Lalu—

tersenyum tipis.

“Dia sudah mati.”

Kalimat itu—

jatuh.

Berat.

Kinasih membeku.

“Tidak…”

Namun—

mata di dalam retakan itu—

mulai berubah.

Lebih gelap.

Lebih… dalam.

Dan suara itu—

tidak lagi terdengar seperti Bima.

“BUKA.”

Kali ini—

banyak suara.

Bertumpuk.

Keras.

Memaksa.

Kinasih mundur.

Akhirnya bisa.

Satu langkah.

Dua langkah.

Namun—

rambut itu bergerak.

Cepat.

Menyambar pergelangan kakinya.

Dingin.

Lengket.

Dan—

menarik.

Kinasih jatuh.

Menjerit.

Ia berusaha melepaskan.

Namun rambut itu semakin kuat.

Semakin banyak.

Membungkus.

“Mereka memilih…” bisik perempuan itu.

“…dan sekarang mereka memilih kamu.”

Kinasih berusaha merangkak.

Namun—

sia-sia.

Ia terus ditarik.

Menuju retakan itu.

Yang kini—

lebih besar.

Lebih dalam.

Gelap.

Tak terlihat ujungnya.

“BIMA!!!” teriaknya.

Namun—

yang menjawab—

bukan Bima.

Melainkan—

tawa.

Banyak.

Dari dalam.

Dan dalam satu tarikan—

Kinasih masuk.

Gelap.

Namun—

tidak sunyi.

Ada suara.

Air.

Menetes.

Namun bukan dari atas.

Dari bawah.

Seperti ia berdiri di atas sesuatu yang… hidup.

Kinasih membuka mata.

Dan langsung menjerit.

Ia berdiri di atas—

tubuh.

Banyak tubuh.

Bertumpuk.

Semua perempuan.

Semua memakai gaun putih.

Semua—

hancur.

Beberapa tanpa wajah.

Beberapa tanpa tangan.

Namun—

mereka bergerak.

Pelan.

Seperti masih hidup.

Kinasih mundur.

Namun—

tidak ada tanah.

Hanya tubuh.

“Selamat datang…”

Suara itu muncul.

Kinasih menoleh.

Dan—

ia melihatnya.

Bima.

Berdiri.

Namun—

tidak utuh.

Setengah tubuhnya hilang.

Dan bagian yang hilang itu—

diisi oleh sesuatu.

Hitam.

Bergerak.

Seperti cairan.

“Bim…”

Air matanya jatuh.

Bima tersenyum.

Namun—

senyumnya tidak tepat.

“Kamu datang…”

Ia melangkah.

Tubuhnya mengeluarkan suara.

Basah.

Tidak normal.

Kinasih mundur.

“Itu bukan kamu…”

Bima berhenti.

Kepalanya miring.

Pelan.

Lalu—

tertawa.

Suara itu berubah.

Menjadi banyak.

“Kamu benar…”

Dalam satu detik—

tubuh itu pecah.

Dan dari dalamnya—

keluar mereka.

Perempuan-perempuan itu.

Satu.

Dua.

Banyak.

Muncul dari tubuh Bima.

Seperti dia hanya… wadah.

“Kami hanya meminjam…”

bisik mereka.

Kinasih gemetar.

“Mana Bima…”

Sunyi.

Lalu—

salah satu dari mereka maju.

Wajahnya rusak.

Namun—

matanya jelas.

Penuh rasa sakit.

“Dia di bawah…”

Ia menunjuk ke bawah.

Ke tumpukan tubuh.

Kinasih menatap.

Dan—

ia melihat.

Di antara tubuh-tubuh itu—

ada satu.

Bima.

Masih utuh.

Namun—

tidak bergerak.

Terkubur.

Setengah.

“Dia belum mati…”

bisik suara itu.

“…tapi hampir.”

Kinasih langsung turun.

Menginjak tubuh-tubuh itu.

Ia tidak peduli.

Ia menarik Bima.

Berusaha mengangkatnya.

Namun—

tubuh-tubuh lain bergerak.

Menahan.

Menarik kembali.

“Jangan…”

“Dia milik kami…”

Kinasih berteriak.

“LEPASIN!!!”

Ia menarik lebih kuat.

Dan—

untuk sesaat—

ia berhasil.

Tubuh Bima terlepas.

Ia memeluknya.

“Bim… bangun… tolong…”

Namun—

mata Bima terbuka.

Pelan.

Dan—

hitam.

Kosong.

Kinasih membeku.

“Tidak…”

Bima tersenyum.

Dan dari mulutnya—

keluar suara.

“Kamu terlambat…”

Tangan Bima terangkat.

Menyentuh pipinya.

Dingin.

Dan dalam sekejap—

tubuhnya mulai berubah.

Kulitnya retak.

Dan dari dalam—

tangan-tangan kecil keluar.

Menggeliat.

Mencari.

“Kami masuk…”

“Kami hidup…”

“Kami… kamu…”

Kinasih menjerit.

Ia mendorong tubuh itu.

Menjauh.

Namun—

tubuh-tubuh di bawahnya mulai bergerak.

Bangkit.

Satu per satu.

Mengelilinginya.

Lebih dekat.

Lebih rapat.

Dan perempuan itu—

muncul lagi.

Di atas tumpukan tubuh.

Menatap.

Tenang.

“Sekarang kamu mengerti…”

bisiknya.

“Tidak ada jalan keluar.”

Kinasih terengah.

Air matanya jatuh.

Namun—

di dalam dirinya—

suara itu muncul lagi.

Lebih kuat.

Lebih jelas.

“Kita bisa…”

Kinasih membeku.

“Apa…?”

“Kita bisa ambil semua…”

Senyum kecil muncul di bibirnya.

Perlahan.

Tidak wajar.

“Kalau nggak bisa keluar…”

bisiknya pelan.

“…aku hancurin semuanya.”

Perempuan itu langsung berubah.

Ekspresinya—

tegang.

“Jangan—”

Namun—

terlambat.

Kinasih mengangkat tangannya.

Dan—

dari tubuhnya—

keluar sesuatu.

Hitam.

Pekat.

Seperti asap.

Namun—

lebih padat.

Lebih hidup.

Dan saat itu—

semua tubuh di sekitarnya menjerit.

Keras.

Serentak.

“APA YANG KAMU LAKUKAN?!”

Kinasih menatap mereka.

Matanya—

tidak lagi sama.

“Kalian mau hidup…”

Ia melangkah maju.

Asap hitam itu menyebar.

Menelan semuanya.

“…aku kasih tempat.”

Dan dalam satu detik—

gelap menelan segalanya.

Jeritan.

Tangisan.

Tawa.

Semua bercampur.

Menjadi satu.

Dan—

hening.

Pukul 05.17.

Lagi.

Namun—

kali ini—

jam itu pecah.

Benar-benar pecah.

Kaca jatuh.

Jarum berhenti.

Dan—

tidak bergerak lagi.

Kinasih berdiri di tengah kamar.

Sendirian.

Sunyi.

Namun—

tidak benar-benar sendiri.

Karena—

di belakangnya—

bayangan.

Lebih dari satu.

Banyak.

Dan semua bayangan itu—

tidak mengikuti gerakannya.

Mereka bergerak sendiri.

Perlahan.

Mendekat.

Dan di cermin yang pecah—

pantulan terakhir muncul.

Kinasih.

Namun—

bukan dia.

Senyum itu.

Lebih lebar.

Lebih dalam.

Lebih… lapar.

Dan suara itu—

muncul lagi.

Namun kali ini—

bukan bisikan.

Bukan teriakan.

Melainkan—

janji.

“Sekarang…”

“…kita keluar.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!