Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Hari ini berjalan begitu menyenangkan bagi Nurlia. Setelah mimpi buruk yang mengerikan semalam, ia bertekad untuk menjalani hari ini dengan semangat baru dan doa yang banyak.
Sesampainya di Restoran Pak Hartono, suasana terasa sangat berbeda dengan di dalam mimpinya tadi. Tidak ada pelanggan yang galak sejak pagi, tidak ada teman yang memandang sinis, dan yang paling penting... Riski pun terlihat biasa saja, menyapa dengan sopan dan tidak bertingkah aneh sedikitpun.
"Alhamdulillah... untung semalam cuman mimpi," gumam Nurlia lega sambil menghela napas panjang.
Ia segera berganti seragam, merapikan apronnya, dan mulai bekerja seperti biasa. Hari ini terasa sangat lancar jaya.
Nurlia melayani pesanan dengan senyum tulus, mengantar makanan dengan hati-hati, membersihkan meja dengan rapi, dan berinteraksi dengan teman-teman kerjanya dengan harmonis. Dewi pun hari ini terlihat biasa saja, tidak ada ulah jahat seperti di mimpi. Semuanya berjalan normal, tenang, dan damai.
"Eh Lia, tolong ambilkan piring bersih dong!" teriak koki dari dapur.
"Siap, ini dia!" sahut Nurlia ceria.
Rasanya beban di pundaknya hilang begitu saja. Ia bisa bekerja dengan fokus penuh tanpa rasa was-was. Mimpi buruk semalam benar-benar hanya imajinasi liar yang diciptakan otaknya karena mungkin terlalu lelah bekerja.
Hingga jam makan siang tiba, restoran mulai ramai, tapi Nurlia tetap sigap dan tenang. Ia merasa hari ini adalah hari yang penuh berkah. Listrik di rumah sudah aman, pekerjaan lancar, dan tidak ada masalah apa pun.
"Semoga terus baik begini ya, Ya Allah..." doanya dalam hati.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung selamanya. Di tengah kesibukannya melayani pelanggan di meja nomor 3, matanya tanpa sengaja melirik ke arah pintu utama restoran.
Langkah kaki yang tegap dan berwibawa masuk lagi. Aura dingin dan tampan itu langsung menyita perhatian.
Itu dia... Sulthan Aditama.
Pria itu datang lagi untuk makan siang.
Jantung Nurlia sempat berdegup kencang saat melihat sosok tinggi besar berjas rapi itu masuk. Postur tubuhnya, cara berjalannya yang tegap, dan gaya berpakaiannya benar-benar sangat mirip dengan Pak Sulthan. Bahkan warna bajunya pun biru tua, sama seperti yang dipakai Sulthan kemarin.
"Itu dia Pak Sulthan datang lagi..." batin Nurlia bergetar sedikit. Ia sempat berhenti sejenak, menatap dengan seksama, campuran antara rasa gugup dan penasaran.
Tapi saat pria itu berjalan semakin dekat dan menoleh sedikit ke arahnya...
Nurlia mengerjap bingung.
"Eh... kok wajahnya beda?"
Ternyata bukan! Itu bukan Sulthan Aditama. Wajahnya memang tampan dan berwibawa juga, tapi garis wajahnya jauh lebih lembut, hidungnya tidak setegas Sulthan, dan matanya juga berbeda. Itu hanyalah pria lain yang kebetulan memiliki tinggi badan dan gaya berpakaian yang mirip, sehingga dari jauh terlihat sangat menyerupai bos muda itu.
"Ya ampun... kirain siapa, ternyata bukan," gumam Nurlia pelan sambil memegangi dadanya sendiri. Rasanya campur aduk, antara lega karena tidak perlu menghadapi tatapan tajam itu lagi, tapi entah kenapa ada sedikit rasa kecewa yang samar di sana.
Nurlia menggelengkan kepala, mencoba fokus kembali.
"Ah sudahlah Nurlia, kerjaanmu banyak. Jangan melamun," hardiknya dalam hati.
Pria asing itu akhirnya memilih duduk di meja nomor 5, area yang cukup nyaman tapi bukan area VIP. Nurlia pun segera mendekat membawa buku menu, memasang wajah ramah dan profesional seperti biasa.
"Selamat siang, Tuan. Silakan dipilih menunya," ucap Nurlia sopan.
Pria itu tersenyum ramah, sangat berbeda dengan sikap dingin Sulthan. "Iya Mbak, ini saya mau pesan..."
Nurlia mulai mencatat pesanan dengan tenang. Pria itu sangat baik, bicaranya sopan, tidak galak, dan tidak membuat Nurlia merasa tertekan sama sekali.
Tapi anehnya, meski pelayanannya berjalan lancar dan menyenangkan, pikiran Nurlia sesekali melayang entah ke mana. Ia tak sadar sering kali melirik ke arah pintu masuk, seolah-olah sedang menunggu seseorang... menunggu apakah pria bernama Sulthan itu akan benar-benar datang hari ini atau tidak.
•••
Sementara itu, di gedung pencakar langit Aditama Gold Group, suasana sedang sangat panas dan penuh konsentrasi.
Rapat besar sedang berlangsung di ruang meeting yang luas dan megah. Di kepala meja, Sulthan duduk dengan tampilan yang sangat rapi dan berwibawa. Di sekeliling meja panjang itu duduk para manajer, kepala divisi, dan arsitek yang terlibat dalam proyek besar ini.
Topik pembicaraan hari ini hanya satu, Pembangunan Cabang Baru di Mojokerto.
"Baik, saya buka rapat ini. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, target kita adalah membangun salah satu toko emas terbesar dan termewah di kota itu," suara Sulthan terdengar lantang dan tegas, menggema di seluruh ruangan. Semua peserta rapat mendengarkan dengan seksama, tidak ada yang berani berbisik-bisik.
Sulthan menunjuk layar proyektor yang menampilkan desain bangunan. "Kita tidak mau hanya sekadar jual beli emas. Kita ingin membangun ikon baru di sana. Konsepnya harus megah, modern, tapi tetap terasa hangat dan dipercaya masyarakat."
Di sebelah kanan Sulthan, Juniarta tampak sangat bersemangat. Dia tak hanya duduk diam mencatat, tapi kali ini dia ikut aktif menyuarakan ide-ide briliannya.
"Menurut saya, Bos, untuk menarik minat masyarakat lokal, kita bisa membuat konsep one stop shopping. Jadi selain beli emas, orang bisa servis cincin, cetak nama, sampai tukar tambah dengan sistem yang sangat cepat," usul Juniarta dengan mata berbinar.
Sulthan mengangguk setuju. "Ide bagus, Jun. Lanjutkan."
"Terus soal lokasi, kita sudah pastikan di pinggir jalan raya utama kan, Bos? Jadi visibility-nya bagus. Orang lewat mana pun pasti kelihatan bangunannya," tambah Juniarta lagi. "Dan saya usul, di bagian depan kita pasang lampu-lampu hias yang indah, biar malam hari makin terlihat mewah dan berkelas."
"Setuju. Pencahayaan itu penting banget buat kesan pertama," sahut salah satu manajer pemasaran.
Diskusi pun berlanjut sangat panjang dan mendetail. Mereka membahas segala hal, mulai dari.
Desain Arsitektur. Apakah mau gaya klasik atau modern minimalis? Akhirnya dipadukan jadi satu agar terlihat kokoh.
Keamanan. Sistem alarm canggih, brankas tahan ledakan, dan penjaga bersenjata.
SDM. Rencana perekrutan karyawan lokal, pelatihan pelayanan, dan standar operasional prosedur yang sama dengan pusat.
Stok Barang. Jenis emas apa yang akan dijual, model perhiasan apa yang lagi tren di sana, sampai perhitungan untung rugi.
Juniarta tampak sangat membantu meringankan beban bosnya. Dia melengkapi poin-poin yang mungkin terlewat oleh Sulthan, memberikan data pendukung, dan bahkan berani berdebat sedikit jika menurutnya ada strategi yang kurang pas demi kebaikan perusahaan.
"Jadi kesimpulannya, anggaran yang diajukan cukup aman dan potensi balik modal diperkirakan di tahun ke-3," kata Juniarta menyimpulkan sambil menutup bukunya.
Sulthan tersenyum tipis, sangat puas melihat kerja keras timnya, terutama Juniarta yang sangat sigap dan cerdas.
"Bagus. Kalau begitu semua poin disetujui. Laksanakan sesuai rencana. Saya ingin groundbreaking-nya dilakukan bulan depan," perintah Sulthan tegas.
Rapat pun ditutup. Semua orang keluar ruangan dengan membawa tugas masing-masing, bersemangat menyukseskan proyek besar pertama sang CEO di luar kota Surabaya.
Sulthan berjalan keluar terakhir, diikuti oleh Juniarta. Jam dinding di pergelangan tangan Sulthan sudah menunjukkan pukul 1 siang. Perutnya mulai lapar setelah otak bekerja keras memikirkan strategi bisnis selama berjam-jam.
"Jun," panggil Sulthan santai saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju lift.
"Iya, Bos?" jawab Juniarta sigap.
"Kita makan siang yuk. Perut udah minta diisi. Ayo aku traktir, kita ke Restoran Pak Hartono aja. Sekalian kamu bisa istirahat sebentar," ajak Sulthan ramah.
Biasanya Sulthan memang sering mengajak asistennya itu makan di luar untuk membahas hal-hal ringan di luar pekerjaan. Tapi kali ini, Juniarta justru menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar.
"Wah, makasih banyak Bos. Tapi hari ini enggak usah keluar dulu deh," tolak Juniarta halus.
Sulthan menoleh, sedikit heran. "Loh? Kenapa? Biasanya kan kamu juga suka makan di sana."
"Soalnya di luar lagi panas banget, Bos. Terus mungkin macet juga. Capek kalau harus bolak-balik naik mobil," jelas Juniarta sambil mengacak rambutnya sendiri. "Lagipula kan di kantor kita juga ada kantin khusus. Masakannya enak-enak lho, bersih, dan yang pasti gratis buat kita. Hehehe."
Sulthan tertawa kecil mendengar alasan asistennya yang polos tapi masuk akal itu. "Yaelah, irit banget sih kamu. Padahal kan perusahaan yang bayar."
"Ya tetep aja irit, Bos. Daripada buang-buang waktu di jalan mending kita makan di sini, terus bisa lanjut kerja cepat," jawab Juniarta cerdik.
"Oke deh, terserah kamu. Kalau kamu mau di sini ya sudah," jawab Sulthan pasrah tapi senang. "Kamu jalan duluan, aku ikut saja."
Mereka berdua pun berbalik arah, tidak menuju lift utama, melainkan menuju area sayap gedung di mana terdapat fasilitas makan untuk karyawan level atas.
Sesampainya di sana, tampak sebuah ruang makan yang sangat bersih, nyaman, dan terawat. Ini adalah area khusus VIP atau ruang makan privat untuk direksi dan staf inti. Suasananya tenang, tidak berisik seperti kantin umum karyawan, dan mejanya pun diatur rapi dengan taplak meja yang bersih.
"Silakan duduk dulu, Bos. Saya yang pesenin makanan buat Bos," kata Juniarta sopan, lalu dia berjalan ke arah konter pemesanan.
Seorang pelayan kantin segera menyambut dengan ramah. "Mau pesan apa, Mas Jun?"
"Untuk Bos Sulthan, siapkan Nasi Goreng Spesial yang extra pedas, tambah telur dadar dan kerupuknya. Minumnya Es Teh Manis yang dingin ya," pesan Juniarta hafal betul selera bosnya.
"Terus buat saya sendiri, saya mau Soto Ayam sama Nasi Putih, sama Es Jeruk," tambahnya lagi.
"Siap, ditunggu sebentar ya."
Tak lama kemudian, makanan diantar ke meja mereka. Wanginya sangat menggugah selera. Nasi goreng warna hitam pekat dengan potongan daging ayam dan bakso terlihat sangat lezat, begitu juga dengan soto ayam yang kuahnya kuning kental dan beraroma rempah yang kuat.
Mereka berdua pun mulai menyantap makan siang dengan lahap. Di ruangan yang tenang ini, obrolan mereka menjadi lebih santai. Tidak lagi membahas angka-angka atau grafik penjualan, tapi membahas hal-hal ringan seperti hobi, olahraga, sampai cerita lucu tentang kenalan mereka.
Sulthan menikmati momen ini. Ternyata benar kata Juniarta, makan di kantor sendiri juga tidak kalah enak dan jauh lebih santai.