NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:920
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Mendadak jadi Calon Mantu

Jantung Nala terasa seperti sedang melakukan maraton di dalam rongga dadanya.

Bunyi bip dari pintu sensor itu bukan sekadar suara elektronik biasa; bagi Nala, itu adalah bunyi sirine peringatan bahaya level merah.

Hanya ada dua kemungkinan: Pak Bambang kembali untuk membuang mayatnya, atau pemilik asli apartemen ini punya tamu yang jauh lebih mengerikan.

"Mampus gue!" bisik Nala panik.

Ia melihat sekeliling dengan kalap. Ruang tamu itu terlalu terbuka. Tidak ada tirai yang cukup tebal untuk menyembunyikan koper merah mudanya, apalagi daster ayam jagonya yang mencolok.

Tepat saat gagang pintu bergerak, Nala melakukan gerakan akrobatik yang tidak pernah ia sangka bisa ia lakukan: ia melompat ke balik sofa kulit abu-abu milik Saga, meringkuk sekecil mungkin sambil memeluk lututnya.

Pintu terbuka. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi klik-klak tegas di atas lantai marmer terdengar masuk.

Saga, yang baru saja hendak menyemprot Nala karena bau minyak telon, mendadak kaku. Wajahnya yang semula merah karena marah, kini berubah pucat pasi seputih tembok.

"Mama?!" Saga memekik pelan. Suaranya pecah di ujung, menandakan tingkat stres yang melonjak drastis.

Bu Sofia, wanita yang penampilannya lebih rapi daripada desain maket manapun, melangkah masuk ke tengah ruangan. Ia meletakkan tas Hermes-nya di atas meja makan dengan gerakan anggun yang mengintimidasi. Matanya yang tajam langsung memindai ruangan.

Nala, dari balik sofa, memberanikan diri mengintip sedikit melalui celah antara sandaran sofa dan bantal. Ia melihat Saga berdiri kaku seperti manekin toko baju.

Nala segera mengangkat jari telunjuknya ke depan bibir, memberikan isyarat "Sshhh!" yang sangat ekspresif. Matanya melotot, memberikan kode keras agar Saga tidak membocorkan keberadaannya.

Saga hanya bisa membalas dengan tatapan tajam yang seolah ingin menelan Nala hidup-hidup.

"Saga? Ya ampun, bau apa ini?" Bu Sofia mengernyitkan hidung, melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Kenapa rumahmu bau minyak kayu putih, lavender, dan... aroma bayi? Apakah kamu baru saja mengadopsi panti asuhan tanpa sepengetahuan Mama?"

"Ma, Mama... kok nggak bilang mau datang?" Saga mencoba mengalihkan pembicaraan, suaranya masih terdengar sangat tidak natural.

"Mama sudah telepon berkali-kali, tapi ponselmu mati. Dan lihat rambutmu!" Bu Sofia mendekat, menatap rambut Saga yang masih menyimpan sisa-sisa adonan cokelat kenyal buatan Nala.

"Apa itu? Kamu sedang bereksperimen dengan masker rambut organik dari limbah dapur?"

"Ini... ini cuma kecelakaan memasak, Ma. Mama duduk dulu ya," Saga mencoba memandu Mamanya untuk duduk di sofa.

Celakanya, Saga mengarahkan Mamanya duduk tepat di sofa tempat Nala bersembunyi.

Nala menahan napas sampai mukanya membiru. Ia bisa merasakan bobot tubuh Bu Sofia yang duduk hanya beberapa sentimeter dari kepalanya. Wangi parfum Chanel milik Bu Sofia kini berperang dengan bau daster ayam jago Nala di udara.

"Mama tidak akan lama, Saga. Mama ke sini hanya untuk satu hal yang sangat penting," Bu Sofia mengeluarkan selembar amplop emas dari tasnya.

"Makan malam sabtu besok. Kamu tidak boleh mangkir lagi."

"Ma, aku sibuk. Proyek perpustakaan itu—"

"Jangan pakai alasan proyek!" Bu Sofia memotong dengan nada final.

"Mama sudah membawa sepuluh daftar calon istri potensial untukmu. Ada Jihan, anak pemilik Bank Swasta; ada Clarissa, arsitek lulusan London yang sangat simetris selera fashion-nya; bahkan ada model mualaf yang baru saja pulang dari Paris. Pilih satu, Saga! Mama lelah melihatmu hidup sendiri di apartemen dingin yang baunya seperti tempat urut ini!"

Saga memijat pangkal hidungnya. "Ma, tolonglah. Ini sudah zaman modern. Kita tidak hidup di zaman Siti Nurbaya di mana jodoh ditentukan lewat daftar katalog. Aku bisa mencari pasanganku sendiri."

"Cari sendiri? Mana hasilnya?" Bu Sofia menantang. "Terakhir kali kamu bilang sedang dekat dengan seseorang, ternyata itu cuma asisten AI di ponselmu yang kamu beri nama 'Sekretaris'. Mama tidak mau kamu berakhir menikahi komputer!"

Nala, yang mendengar perdebatan itu, merasa harga dirinya sebagai sesama kaum jomblo tersinggung.

Namun, ia juga melihat kesempatan emas. Jika Saga dipaksa dijodohkan dan menikah cepat, Nala pasti akan segera ditendang dari apartemen ini.

Ia butuh Saga tetap menjomblo—atau setidaknya, butuh alasan agar Saga merasa berhutang budi padanya.

Nala melihat Saga yang sudah terpojok. Saat Bu Sofia sibuk memamerkan foto-foto wanita cantik dari tabletnya, Nala mulai bergerak.

Dengan gerakan gerilya yang sangat halus, ia merayap di atas lantai marmer, memanfaatkan momen saat Bu Sofia sedang membelakangi lorong kamar.

Saga melihat Nala yang sedang merangkak seperti cicak raksasa di lantai. Matanya melotot hampir keluar. Ia memberikan isyarat tangan agar Nala kembali bersembunyi, namun Nala justru membalas dengan jempol dan kedipan mata yang penuh arti. Isyaratnya jelas: Gue punya ide gila, Mas. Serahkan pada ahlinya.

Nala berhasil menyelinap masuk ke kamar utama Saga. Ia menutup pintu dengan sangat pelan sampai bunyi klik penguncinya hampir tidak terdengar.

Di dalam kamar, Nala langsung beraksi. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri agar terlihat sangat "berantakan estetis". Ia menarik sedikit kerah dasternya agar terlihat longgar di bahu.

Setelah merasa persiapannya cukup, ia menarik napas panjang, menyiapkan pita suaranya untuk akting paling berisiko dalam hidupnya.

Sementara itu, di ruang tamu...

"Pilih Clarissa, Saga. Dia cantik, pintar, dan yang paling penting: dia tidak berantakan," desak Bu Sofia.

"Ma, aku tidak—"

Tiba-tiba, suara pintu kamar utama terbuka perlahan. Suara engselnya yang sengaja digerakkan lambat menciptakan efek dramatis.

"Sayang... kok berisik banget sih di luar? Aku jadi nggak bisa tidur..."

Suara itu keluar. Suara serak-serak basah khas orang baru bangun tidur, namun diatur sedemikian rupa agar terdengar manja dan natural.

Saga membeku. Tubuhnya mendadak terasa seperti semen yang sedang mengeras di dalam cetakan. Ia tidak berani menoleh. Ia tahu, kiamat kecil baru saja dimulai di Unit 402.

Nala melangkah keluar dari kamar. Ia berjalan dengan gaya setengah mengantuk, tangannya sesekali mengucek mata. Ia masih memakai daster ayam jagonya, tapi anehnya, dalam kondisi remang-remang lorong, ia terlihat seperti wanita yang sangat nyaman berada di rumah itu.

"Eh... Mas Saga... ada tamu ya?" Nala berakting kaget saat melihat Bu Sofia. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, seolah malu tertangkap kamera.

"Aduh, maaf Tante... Nala baru bangun tidur. Habisnya semalam Mas Saga ngajak begadang sampai jam tiga pagi... dia lagi manja nggak mau ditinggal..."

Bu Sofia berdiri dari sofa dengan gerakan yang sangat cepat sampai tas Hermes-nya terjatuh. Ia menatap Nala dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran antara syok, horor, dan rasa tidak percaya yang mendalam.

"Saga..." suara Bu Sofia bergetar di oktaf tertinggi. "Siapa... wanita... ini? Dan kenapa dia keluar dari kamarmu dengan suara seperti itu?!"

Nala tidak membiarkan Saga menjawab. Ia langsung menghampiri Saga, melompati garis hitam yang tadi pagi dibuat Saga, dan menggelayut di lengan pria itu dengan sangat erat.

Nala menempelkan pipinya ke bahu Saga yang kaku, lalu menatap Bu Sofia dengan mata bulat yang polos.

"Ini mama kamu sayang? Halo Tante, salam kenal, aku Nala. Pacar Mas Saga," Nala tersenyum manis, senyum yang sangat provokatif.

"Maaf ya Tante kalau penampilanku begini. Mas Saga bilang dia paling suka kalau aku pakai daster ini, katanya aku kelihatan 'seksi'..."

Saga hanya bisa menatap langit-langit apartemennya. Ia merasa harga dirinya sebagai arsitek papan atas, sebagai pria perfeksionis yang dipuja banyak wanita, baru saja hancur berkeping-keping dan diledakkan oleh bom atom bernama Nala.

Ide Nala benar-benar di luar nurul—di luar nalar dan di luar batas kewarasan manusia normal.

Bu Sofia menunjuk Nala dengan jari yang gemetar.

"Saga Adiputra! Kamu menolak sepuluh gadis terhormat pilihan Mama hanya demi... demi gadis ini?!"

"Ya. Seperti yang mama lihat. Cinta itu buta, Ma," suara Saga terdengar seperti robot yang kehabisan baterai. Ia tidak punya pilihan lain.

Mengakui Nala sebagai pacar sandiwara jauh lebih baik daripada harus menjelaskan bahwa ada perempuan asing masuk ke unitnya dan ia mandi saat perempuan itu masuk.

"Namanya Nala. Dan... kami memang sudah seserius itu."

Nala makin mengeratkan rangkulannya, memberikan tekanan kecil pada lengan Saga seolah berkata: Bagus, Mas! Teruskan!

"Tante jangan marah ya," timpal Nala lagi, makin memperkeruh suasana. "Tante mau aku buatin teh?"

Bu Sofia memegang keningnya, tampak hampir pingsan. "Makan malam sabtu besok... kamu harus bawa dia, Saga! Mama harus memastikan wanita ini bukan penipu yang memberimu ramuan pelet!"

Begitu Bu Sofia menyambar tasnya dan keluar dari pintu dengan langkah seribu, suasana apartemen mendadak sunyi sesunyi kuburan.

Saga melepaskan tangan Nala dengan gerakan sentakan. Ia menjauh lima langkah, wajahnya merah padam sampai ke telinga. Ia menatap Nala dengan tatapan yang seolah-olah bisa membuat Nala terbakar di tempat.

"Nala..." suara Saga sangat rendah dan bergetar. "Apa yang baru saja kamu lakukan?!"

"Saya menyelamatkan Mas dari perjodohan Siti Nurbaya!" balas Nala bangga, ia merapikan dasternya yang sedikit miring.

"Coba pikir, kalau saya nggak keluar tadi, Mas pasti sudah dipaksa nikah sama Clarissa itu. Sekarang Mas bebas! Mas cuma perlu akting jadi pacar saya di depan Mama Mas!"

Saga menunjuk pintu kamar utamanya dengan jari gemetar. "Kamu masuk ke kamar saya! Kamu bilang kita begadang sampai jam tiga pagi! Kamu bilang saya suka daster itu! Kamu tahu apa artinya ini, Nala?!"

"Artinya... saya boleh tinggal di sini tiga bulan?" Nala nyengir tanpa dosa.

Saga memejamkan matanya rapat-rapat. Ia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis yang memakai daster.

Di Unit 402, kekacauan yang sesungguhnya baru saja mendapatkan label resmi: "Calon Menantu Dadakan".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!