NovelToon NovelToon
MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yorozuya Rin

Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.

Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.

Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.

Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Keuntungan dalam Satu Langkah

Angin dingin awal musim dingin berhembus tipis di atas atap genteng ibu kota, menyisir setiap sudut Chang'an dan membawa aroma salju yang masih tertahan di balik awan kelabu.

Di luar, dunia sedang bersiap membeku, namun di dalam istana kekaisaran, suasana sangat kontras, ruang hangat itu dipenuhi aroma kayu cendana yang terbakar perlahan di dalam tungku tembaga, menciptakan kabut tipis yang menenangkan sekaligus menyesakkan.

Kaisar duduk bersandar pada kursi,jemarinya menggenggam penghangat tangan berlapis bulu rubah putih yang halus.

Cahaya api dari tungku menari-nari dan memantul di matanya yang terlihat hangat, namun di balik binar itu tersimpan kedalaman yang sulit ditebak sebuah tatapan penguasa yang mampu menjatuhkan vonis hanya dengan satu kedipan.

Di hadapannya, terbentang selembar surat dari Shen Fuyan yang kertasnya sedikit kaku karena perjalanan.

Ia sudah membacanya berulang kali, menelusuri setiap gorean tinta yang tajam dan tegas, seolah-olah ia bisa merasakan denyut nadi dan keberanian yang tertuang di sana.

Setiap kata dalam surat itu adalah taruhan nyawa, sebuah pengakuan yang mampu mengguncang pilar-pilar istana.

Di tengah keheningan ruangan yang hanya dipecah oleh suara kayu yang berderak terbakar, sang kaisar perlahan melepaskan penghangat tangannya.

“Lin Jingzhi telah menjaga barat laut lebih dari sepuluh tahun,” ucap Kaisar pelan,

suaranya ringan namun berat makna. “Jika putrinya hampir mati di ibu kota dan istana

tidak memberi keadilan… bagaimana para prajurit akan tetap setia?”

Di sampingnya, Guru Besar Kekaisaran duduk tegak, jubahnya putih bersih seperti salju pertama.

Tatapannya dingin, jatuh pada bonsai bunga plum yang sedang mekar rapuh namun keras kepala di tengah musim dingin.

“Selama masalah ini dikunci di dalam kediaman,” katanya datar, “ia tidak akan

menyebar.”

Kaisar tersenyum samar, namun ada kelelahan di sudut matanya.

“Tapi… A'Fu akan marah.”

Ucapan itu terdengar seperti keluhan ringan, namun keduanya tahu itu bukan sekadar

kekhawatiran.

Guru Besar Kekaisaran tidak menoleh.

“Yang Mulia melakukan ini bukan demi Marquis Yongqing,” katanya tenang,

“melainkan untuk memperingatkan Pangeran Ying.”

Ruangan seketika terasa lebih sunyi.

Api di tungku berderak pelan.

Kaisar menunduk, menatap permukaan teh yang bergetar halus.

Senyumnya tetap ada, tapi kini terasa lebih dalam, lebih sulit dibaca.

“Tiga keuntungan dalam satu langkah,” gumamnya, “mengapa tidak?”

Menghukum keluarga Wang akan menenangkan Lin Jingzhi di perbatasan,

memuaskan Shen Fuyan… dan pada saat yang sama, memberi peringatan halus kepada Pangeran Ying yang diam-diam menjalin hubungan.

Namun bagi Guru Besar Kekaisaran, itu terlalu terang-terangan.

Jika memang ada niat pengkhianatan, seharusnya dibiarkan tumbuh dalam bayangan hingga akhirnya menghancurkan dirinya sendiri.

Tapi Kaisar… berbeda.

“Apa pun yang terjadi,” desah Kaisar akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya,

“dia tetap adikku.”

Guru Besar Kekaisaran terdiam.

Ia tahu di balik wajah santai itu, Kaisar mampu menjadi jauh lebih kejam daripada

siapa pun.

Namun ia juga… terlalu manusiawi untuk memutuskan ikatan darah dengan

mudah.

Dan justru itulah kelemahannya.

“Selama Yang Mulia tidak menyesal,” ujar Guru Besar Kekaisaran akhirnya, “saya

tidak akan menghalangi.”

Kaisar tertawa kecil, suasana tiba-tiba berubah lebih ringan.

“Kalau begitu… bagaimana kalau kita bicara soal pernikahanmu tahun depan?”

Alis Guru Besar Kekaisaran bergerak hampir tak terlihat.

“Yang Mulia,” jawabnya tanpa ekspresi, “lebih baik membujuk Permaisuri untuk memajukan seleksi selir. Itu akan jauh lebih bermanfaat.”

Kaisar tersedak teh panasnya.

“Aku tidak, jangan bicara sembarangan!”

...----------------...

Kediaman Shen

Malam turun perlahan, membawa hawa dingin yang merayap hingga ke tulang.

Di kamar Lin Yuexin, lampu minyak menyala redup. Bayangan bergoyang di dinding,

seperti rahasia yang tak ingin terucap.

Shen Fuyan duduk di sisi tempat tidur, memainkan penghangat tangan berlapis bulu lembut.

Jarinya menekan-nekan bulu putih itu dengan santai, seolah tak ada beban di

dunia.

Di sampingnya, seekor merpati gemuk kini meringkuk hangat di pangkuannya.

Tiba-tiba merpati itu bergerak, mencengkeram jarinya, dan menggesekkan paruh kecilnya dengan manja.

Shen Fuyan tertawa pelan.

“Jadi kau kembali juga…”

Nada suaranya ringan, tapi matanya menyipit sedikit.

Seolah merpati itu bukan sekadar burung.

Melainkan… pembawa sesuatu yang lebih berbahaya.

Di ranjang, Lin Yuexin menggeliat pelan. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.

Tak lama, tubuhnya mulai panas.

Demam.

Keningnya berkeringat, bibirnya bergerak tanpa suara jelas.

Shen Fuyan langsung berdiri, ekspresinya berubah tajam.

“Panggil tabib. Sekarang.”

Malam itu, langkah kaki tergesa memenuhi lorong.

Aroma obat pahit memenuhi udara,

bercampur dengan dinginnya malam.

Dan akhirnya, menjelang fajar, napas Lin Yuexin kembali stabil.

Namun sebelum Shen Fuyan sempat beristirahat pintu diketuk keras.

“Nona Kedua! Istana mengirim tabib kekaisaran!”

Shen Fuyan terdiam sejenak.

Lalu… ia tersenyum tipis.

Cepat sekali.

Berarti keputusan Kaisar… sudah turun.

...----------------...

Keesokan harinya, kabar menyebar seperti api di rerumputan kering.

Kediaman Wang menerima dekrit kekaisaran.

Suasana di sana kacau.

Tangisan, kepanikan, dan bisikan menyebar di setiap sudut.

Nama Wang Ruoxi disebut secara terang-terangan dalam dekrit.

Hukuman dijatuhkan.

Dan tak lama lagi ia akan diusir dari ibu kota.

Di kamar yang kini lebih hangat, Lin Yuexin bersandar lemah, wajahnya masih pucat

namun matanya sudah kembali jernih.

Ia menatap Shen Fuyan cukup lama.

“Aku bahkan belum menjelaskan apa pun…” ucapnya pelan, “tapi kau sudah bertindak

sejauh ini.”

Ada sesuatu di nada suaranya.

Ragu… atau mungkin takut.

“Bagaimana kalau aku memanfaatkanmu?”

Shen Fuyan tidak ragu.

“Kau bukan orang seperti itu.”

Jawaban itu datang terlalu cepat.

Terlalu pasti.

Lin Yuexin terdiam.

Untuk sesaat, ada sesuatu yang bergetar di matanya sesuatu yang jarang terlihat.

“Kalau kau laki-laki…” gumamnya pelan, “aku mungkin akan menikahimu.”

Shen Fuyan langsung menegang.

“…Aku tidak berani.”

Lin Yuexin mengernyit.

“Mengapa?”

Shen Fuyan menoleh, mengelus merpati di bahunya dengan santai.“Karena setiap kali menyentuhmu… aku harus mencuci tangan.”

Hening.

Angin di luar jendela berdesir.

Lin Yuexin menatapnya tanpa ekspresi.

“…Kau benar-benar ingin mati, ya?”

...----------------...

Sementara itu di sisi lain ibu kota, di kediaman keluarga Wei.

Wei Jie baru saja bersiap berangkat ketika ia bertemu sepupunya, yang baru kembali

dengan bau anggur masih menempel di pakaiannya.

Dengan penuh semangat, sepupunya mengangkat gulungan lukisan.

“Kakak, lihat ini, lukisan langka!”

Wei Jie mengerutkan kening.

“Apa lagi?”

Sepupunya mendekat, berbisik penuh rahasia tentang seorang gadis yang berjalan di atas air, menyelamatkan dua nyawa seperti

makhluk dari legenda.

Tentang Shen Fuyan.

Wei Jie terdiam sejenak.

Lalu menghela napas.

“…Kau ditipu.”

Ia berbalik tanpa minat.

“Dan seorang wanita yang berkeliaran dengan bela diri seperti itu… tidak pantas.”

Namun meski ia berkata demikian,

entah mengapa, bayangan seseorang yang berdiri di atas permukaan air… tetap terlintas

di benaknya.

Dan tak mudah dihapus.

Catatan :

Lin Jingzhi adalah ayah Lin Yuexin, yang ditempatkan di utara. Itulah mengapa tinggal Lin Yuexin tinggal bersama keluarga Shen.

Dalam budaya Tiongkok, menambahkan "a" (阿) di awal nama adalah cara

umum untuk menunjukkan kasih sayang atau keakraban. Itulah mengapa kaisar

menyebut Gu Fu sebagai "A'Fu."

1
Nurhasanah
suka banget sama karakter cwek yg badas nggak menye2 🥰🥰🥰 lanjut thor
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Sri Yana
tolong perbanyak episode nya, ceritanya semakin menarik....
Zhou Yan: maaf ya othor hanya bisa up 1 ep sehari, karena othor punya 4 cerita on going, lumayan menguras emosi kalo harus up lebih dari 1 episode. /Sob/
Jadi selagi nunggu othor up cerita lagi, kakak bisa baca cerita on going othor lainnya ya, 🙏🤭🤭
total 1 replies
Nurhasanah
karya yg bagus di tunggu lanjutan nya 👍👍👍
Nurhasanah
lanjut thor ... makin seru 🥰🥰🥰
Mydar Diamond
lanjuutt 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!