NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

...Fabian...

Nata, gue ada di taman. Lo di mana?

Natalie mengernyitkan dahinya saat membaca pesan Fabian. Ia melihat ke sekelilingnya dan benar saja ada Fabian duduk sendirian di ujung taman. Lengkap dengan seragam sekolah dan tas yang di sampirkan ke pundak.

Natalie tak membalas pesan itu—langsung menghampiri Fabian yang duduk sendirian. Kasian udah kayak jomblo yang nggak punya pasangan. Mana bajunya kucel lagi, kayak nggak pernah di cuci.

"Ian," panggilnya.

"Nata!"

Fabian berlari ke arah Natalie, berhamburan ke pelukannya. Ia. Mengeratkan pelukan itu—syarat akan kerinduan yang mendalam yang selama ini terpendam. Setelah satu bulan berlalu, mereka bertemu kembali.

"Gue kangen banget sama Lo sumpah," ujar Fabian.

"Baru juga bulan kemaren kita ketemu, masa Lo udah kangen aja," gurau Natalie.

Fabian mendudukkan Natalie dengan paksa ke tanah. Memegang pundaknya, raut mukanya berubah serius. Meskipun begitu Natalie tak bisa menahan ketawanya melihat raut wajah yang di buat-buat Fabian.

"Dih, jangan ketawa. Gue serius tau."

Natalie menghentikan aksinya, ikut berubah serius.

"Jadi …, ada apa?"

Fabian ikut mendudukkan dirinya di samping Natalie. Menyenderkan kepalanya pada bahu sahabatnya tanpa seijinnya, yang tentu saja tak mendapat penolakan sama sekali.

"Nggak ada apa-apa. Gue cuma kangen sama Lo," jawabnya tenang.

"Lo bolos?"

"Nggak. Gue lagi males aja."

"Itu namanya bolo, Ian," jengkel Natalie.

"Nggak bolos, Nata. Aku tadi udah ijin kok sampa pak Budi," belanya.

"Lo ijin apa emang?"

Fabian duduk tegak, menatap Natalie. Ia menyerahkan HP-nya, membuka percakapan yang ia kirimkan ada pak Budi.

...Pak Budi botak...

^^^Pak, saya ijin nggak sekolah hari ini^^^

Kenapa?

Ijin apa kamu

^^^Saya lagi males pak^^^

^^^Bosen saya lihat muka bapak terus^^^

^^^di sekolah^^^

Dasar kurang ajar kamu ya

^^^Jangan marah-marah pak^^^

^^^nanti cepat tua. Bapak mau jomblo^^^

^^^terus karena kebanyakan marah-marah^^^

...Anda memblokir nomor ini...

Plak!

Natalie menggeplak bahu Fabian pelan.

"Nata, kok gue di pukul sih."

"Kurang ajar banget heran. Bisa-bisanya Lo chat kayak gitu ke pak Budi. Mana kontaknya di namain pak Budi botak, lagi," omelnya.

"Lagian pak Budi mukanya ngeselin. Udah botak, garang lagi. Kayak Lo," bisiknya di akhir.

"Tapi Lo nggak boleh kayak gitu Ian. Gitu-gitu juga ok Budi kepala sekolah," nasihat Natalie.

"Udah ya, Nata. Dari pada ngegosipin si botak itu, mending kita jalan-jalan yuk!"

Fabian berdiri dari duduknya menarik tangan Natalie. Tapi saat memegang tangan sahabatnya ia mengernyit heran. Entah kenapa rasanya kayak megang ranting, nggak berat sama sekali.

"Bentar. " Fabian menelisik seluruh badan Natalie.

Rambutnya yang tipis. Wajahnya yang tak secerah dulu. Bibirnya yang pucat. Badannya yang sangat kurus—kayak lidi kalau kata Nathan. Pipinya yang dulu berisi kini juga ikut menghilang.

"Lo kok jadi kurusan begini. Cacingan ya, Lo?" tuduh Fabian.

"Ngaco, Lo. Mana ada gue cacingan. Mata Lo kali salah liat," elaknya.

"Masa sih, ah nggak. Ini memang Lo yang kurusan. Lo diet atau nggak di kasih makan? Kurus amat kayak lidi," ledeknya.

"Ian, mulut Lo tuh ya tajem banget heran."

Fabian terkekeh geli saat raut wajah Natalie sedikit merengut.

"Tapi beneran deh. Lo lebih kurus sekarang," katanya sekali lagi.

"Udah ya, dari pada Lo mikirin gue yang kurusan mending kita jalan-jalan sekarang sebelum panas," ucap Natalie mengalihkan pikiran Fabian.

"Ah nggak deh, nggak mood gue," ujar Fabian yang membuat Natalie cukup kesal.

Ingin rasanya ia menampar mulut sahabatnya itu. Tadi aja minta jalan-jalan, sekarang? Tiba-tiba aja nggak mood jalan. Heran dia tuh dengan tingkah sahabatnya itu.

"Terserah Lo dah. Capek gue," kesal Natalie.

Natalie menjatuhkan tubuhnya ke tanah, meletakkan kepalanya di pangkuan Fabian—yang di sambut dengan baik oleh sang empu. Tangan Fabian membelai rambutnya dengan penuh sayang.

"Nata, rambut Lo rontok apa gimana dah. Perasaan beberapa bulan yang lalu rambut Lo lebat, kenapa sekarang jadi tipis gini," heran Fabian.

"Biasalah," jawabnya singkat.

Natalie mulai memejamkan matanya menikmati belaian tangan Fabian. Rasa kantuk perlahan menyerangnya. Hingga tak terasa ia tertidur begitu lelap.

Fabian yang sadar akan hal itu hanya diam, tak mengusiknya sedikitpun. Karena terlihat dari raut wajahnya pun udah kelihatan betapa capek dan lelahnya tubuh itu.

Drrtt … Drrtt …

Handphone Natalie berbunyi. Fabian mengambil handphonenya yang tergeletak begitu saja di samping Natalie. Terpampang nama Bu Ani yang menelpon sahabatnya itu.

"Halo Natalie. Gimana, kamu udah periksa ke dokter belum? Gimana kata dokternya?"

"Halo, maaf Buk Natalie-nya lagi tidur."

"Oh, gitu. Terus ini siapa, ya. Temannya Natalie kah?"

"Iya buk, saya sahabatnya. Oh iya, kalau boleh tau kenapa Natalie harus periksa ke dokter ya buk?"

"Jadi gini, mas. Beberapa hari ini di tempat kerjanya Natalie sering nggak fokus gitu. Terus kayaknya juga lebih mudah lelah dan capek. Makanya tadi saya suruh dia libur dulu untuk periksa ke dokter.. Takutnya ada masalah yang serius mas."

"Kerja?" tanya Fabian dalm hati.

"Oh, gitu ya buk. Makasih infonya ya, buk. Nanti kalau Natalie udah bangun, saya yang akan anter dia ke dokter."

"Iya, mas. Yaudah kalau gitu, saya tutup teleponnya."

"Nata, Lo bohongin gue lagi?" lirihnya.

Fabian kembali meneliti seluruh inci wajah Natalie. Memang benar, rona ceria yang selama ini ia lihat—sekarang hilang. Bibirnya sangat pucat. Mata panda tercetak jelas di kedua kelopak mata Natalie.

Ia mengangkat tangannya, memeriksa suhu tubuh Natalie. Hangat, itu yang ia rasakan ssaat telapak tangannya menyentuh kening Natalie. Dengan terpaksa ia membangunkan Natalie dari tidurnya.

"Eugh, apa sih Ian, gue ngantuk," gumamnya.

"Bangun dulu Nata jangan tiduran di sini, nanti badan Lo sakit semua."

Dengan malas Natalie bangun dari tidurnya—masih dengan mata terpejam. Bahkan kini dirinya nyender pada bahu Fabian. Salah satu tangan Fabian melingkarkan lengannya pada pinggang Natalie—agar tidak terjatuh. Tangannya yang satu lagi sibuk merogoh kantongnya.

......Pangeran Kodok......

^^^Ke taman biasa sekarang juga^^^

^^^jangan lama-lama^^^

^^^Urgent^^^

Fabian kembali memasukkan handphonenya setelah mengirim pesan pada Nathan. Jangan salah fokus sama nama kontaknya. Sebenarnya yang kasih nama adalah Nathan sendiri. Awalnya pangeran tampan, cuma karena nggak sesuai dengan tingkah lakunya—maka dari itu ia mengubahnya menjadi pangeran kodok.

Lagian ia sebenarnya juga balas dendam sama Nathan. Kontaknya di hp Nathan di kasih nama Babu pangeran, siapa yang nggak kesel coba. Untung aja Fabian masih sayang sama sahabatnya itu. Kalau nggak, mungkin udah ia buang ke sungai Amazon tuh makhluk satu.

Fabian menggendong Natalie ala bridal style, membawanya ke tempat di mana motornya berada. Untung saja ia membawa dua helm. Sebenarnya yang satunya punya Nathan, tadi pagi cowok. Itu nebeng padanya. Tapi karena lagi males sekolah jadilah ia tinggal gitu aja.

Mungkin sekarang tuh anak lagi bingung mau ke sini pakai apa. Dan lagi, kebiasaan Nathan adalah meninggalkan dompetnya di dalam tas Fabian atau Natalie—karena repot katanya. Kemungkinan besar pasti lagi kelimpungan karena nggak bawa duit sama sekali. Salahnya sendiri yang suka nitipin dompet gitu aja.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!