NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:20.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

***

Langkah kaki Nadia yang goyah membawanya melewati koridor panjang mansion dengan sisa-sisa air mata yang masih mengalir di pipinya. Begitu sampai di kamar utama, ia langsung membanting pintu kayu jati yang berat itu dan menguncinya dari dalam.

KLIK.

Nadia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, menenggelamkan wajahnya di bantal. "Dasar Kulkas! Dasar Robot! Nggak tahu apa kalau bumil itu sensitifnya ngalahin detektor bom!" umpatnya tertahan.

Di luar, hari mulai gelap. Bi Sum mengetuk pintu kamar dengan pelan, membawa nampan berisi sup asparagus dan steak salmon yang dimasak khusus oleh koki pribadi.

"Ibu... makan malam dulu ya? Ini Bapak yang pesan, katanya Ibu harus makan nutrisi yang benar," suara Bi Sum terdengar cemas.

Nadia bangkit, matanya sembap. Sisi barbar-nya bangkit. "Bilang sama majikan Bibi, anak ini lagi mogok makan! Dia nggak mau makan kalau Papanya lebih sayang sama buku kesehatan daripada perasaan Ibunya! Bawa pergi supnya, Bi! Saya mau tidur!"

Di lantai bawah, Raditya berdiri di ruang tengah, mendengarkan laporan Bi Sum dengan wajah datar namun rahangnya mengeras. Ia tidak menyangka tegurannya soal rujak akan berbuntut "perang dingin" seperti ini.

"Bapak... Ibu benar-benar marah. Pintunya dikunci rapat," lapor Bi Sum takut-takut.

Raditya menghela napas panjang. Ia adalah pria yang bisa memenangkan negosiasi triliunan rupiah dalam hitungan menit, tapi menghadapi seorang wanita hamil ternyata jauh lebih rumit daripada menghadapi dewan direksi.

"Tinggalkan nampannya, Bi. Biar saya yang urus," ucap Raditya dingin.

Ia melangkah naik ke lantai atas. Berdiri di depan pintu kamar, ia mengetuk tiga kali secara teratur. "Nadia, buka pintunya. Jangan kekanak-kanakan. Kamu harus makan."

"TIDAK MAU! PERGI SANA KE KANTOR! NGOBROL AJA SAMA BERKAS-BERKAS MAS YANG MATI ITU!" teriak Nadia dari dalam.

Raditya memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kesabaran. "Anak itu butuh nutrisi, bukan ego ibunya."

"OH, JADI SEKARANG MAS BILANG AKU EGOIS LAGI? OKE! ANAK INI BIAR MAKAN EGO AJA KALAU GITU! JANGAN KETUK-KETUK LAGI!"

Raditya tidak menjawab lagi. Ia meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah kunci cadangan yang selalu ia simpan. Bagi Raditya Hadiwinata, tidak ada pintu yang tidak bisa ia buka, baik itu pintu bisnis maupun pintu kamarnya sendiri.

Cklek.

Pintu terbuka perlahan. Suasana kamar remang-remang, hanya diterangi lampu meja rias. Raditya masuk dan langkahnya terhenti saat melihat Nadia tidak sedang tidur.

Nadia berdiri di depan cermin besar, masih menggunakan dress rayonnya. Ia sedang mengelus perutnya yang membuncit, menatap pantulan dirinya dengan tatapan yang sangat hancur. Isak tangis kecil terdengar dari bibirnya.

"Aku jelek banget ya..." bisik Nadia pada dirinya sendiri, tidak sadar Raditya sudah masuk. "Perut makin gede, kaki bengkak, emosian... Pantesan dia cuek. Pantesan dia cuma nanyain anak ini terus."

Hati Raditya berdesir. Ada rasa nyeri yang asing saat melihat bahu istrinya yang bergetar hebat. Ia melangkah mendekat. "Nadia."

Nadia tersentak, berbalik dengan cepat. "Mas?! Kenapa bisa masuk?! Aku kan sudah kunci!"

"Ini rumah saya, tidak ada tempat yang terkunci bagi saya," jawab Raditya, mencoba kembali ke mode tenangnya. Ia melihat mata Nadia yang merah dan sembap. "Berhenti menangis. Secara medis, stres yang berlebihan bisa mempengaruhi perkembangan janin—"

"STOP! BERHENTI NGOMONG SOAL MEDIS!" Nadia meledak. Ia berjalan mendekati Raditya dan menunjuk dada pria itu dengan telunjuknya. "Mas itu kaku! Mas itu membosankan! Mas itu cuma robot yang diprogram buat ngurusin Hadiwinata Group!"

Raditya hanya diam, membiarkan Nadia mengeluarkan amarahnya.

"Mas tahu nggak? Aurel—maksudku aku—aku benci banget sama sikap Mas yang kayak robot kulkas begini! Aku merasa sendirian di mansion gede ini! Aku merasa cuma dianggap sebagai pabrik bayi!" teriak Nadia lagi, air matanya tumpah lebih deras. "Aku merasa jelek, aku merasa nggak berguna selain buat ngelahirin ahli waris Mas!"

"Nadia, itu tidak benar—"

"ITU BENAR! Mas nggak pernah nanya gimana perasaanku! Mas cuma nanya nutrisi, nutrisi, dan nutrisi! Kalau Mas cuma sayang sama anak ini, mending sewa pengasuh aja! Nggak usah terima perjodohan dulu kalau Mas emang nggak punya hati buat manusia lain!"

Kalimat terakhir Nadia seolah menampar wajah Raditya. Perjodohan itu memang dingin, tapi melihat Nadia yang biasanya lemah lembut kini meledak dengan penuh penderitaan membuat Raditya kehilangan kata-kata untuk berargumen.

"Mending Mas keluar! Aku mau tidur!" Nadia mendorong dada Raditya, namun pria itu tidak bergeming. Nadia terus mendorongnya dengan sisa tenaganya yang mulai habis karena lelah menangis. "Keluar Mas! Aku benci Mas!"

Raditya yang awalnya terpancing emosi karena diteriaki, tiba-tiba merasakan dorongan lain. Ia tidak bisa membiarkan wanita ini terus menyakiti dirinya sendiri dengan amarahnya.

Secara tiba-tiba, Raditya menangkap kedua tangan Nadia yang sedang memukul dadanya. Dengan satu tarikan kuat, ia menarik tubuh Nadia masuk ke dalam dekapannya yang kokoh.

"Duh! Apa-apaan sih Mas?!" Nadia meronta di dalam pelukan itu.

Raditya tidak melepaskannya. Ia justru mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Nadia. Bau harum bayi dan melati dari rambut Nadia seketika menenangkan emosi Raditya yang tadi sempat naik.

"Diamlah, Nadia. Kamu berisik sekali," bisik Raditya, suaranya kini tidak lagi dingin, melainkan berat dan penuh penekanan yang anehnya terasa menenangkan.

Nadia masih mencoba memberontak. "Lepasin! Mas kan nggak punya perasaan! Jangan peluk-peluk!"

"Saya bilang diam," perintah Raditya, kali ini lebih lembut. Tangan besarnya mengusap punggung Nadia yang naik turun karena isak tangis. "Kamu tidak jelek. Kamu hanya sedang hamil. Dan saya... saya memang kaku, tapi bukan berarti saya tidak peduli."

Nadia terdiam. Pelukan Raditya terasa begitu hangat dan kuat. Ia bisa merasakan detak jantung Raditya yang stabil di telinganya. Rasa lelah yang luar biasa tiba-tiba menyerang tubuhnya. Hormon bumilnya yang tadi membara, kini perlahan mendingin karena rasa aman yang diberikan oleh suaminya.

"Mas bohong..." gumam Nadia lirih, kini ia tidak lagi meronta, melainkan menyandarkan wajahnya di dada Raditya, membiarkan air matanya membasahi kemeja putih mahal suaminya.

"Saya tidak pernah bohong soal fakta," sahut Raditya datar, namun tangannya masih terus mengusap punggung Nadia dengan teratur. "Sekarang, berhenti menangis. Kamu membuat kemeja saya basah, dan itu tidak ada di peraturan rumah."

Nadia mendongak, menatap dagu Raditya yang tegas dengan mata sembapnya. "Mas beneran nggak punya perasaan ya? Lagi momen begini masih aja bahas peraturan."

Raditya menunduk, menatap mata Nadia. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ketakutan di sana, melainkan sebuah tantangan yang menggemaskan. "Dan kamu, adalah satu-satunya orang yang berani melanggar semua peraturan saya hari ini, Bumil Barbar."

Nadia mendengus, namun ia tidak bisa menahan senyum tipisnya. "Itu karena Mas pantes buat dilawan."

Raditya tidak membalas, ia hanya menatap bibir Nadia yang sedikit mengerucut. Di dalam hatinya, Raditya menyadari bahwa hidupnya yang kaku dan teratur kini telah hancur berantakan oleh kehadiran Nadia yang baru. Dan anehnya, ia tidak merasa keberatan sama sekali.

"Makan malammu. Saya akan temani di sini," ucap Raditya, menuntun Nadia menuju meja kecil di sudut kamar.

Malam itu, di dalam kamar yang luas, si Kulkas Hadiwinata akhirnya mulai mencair, menghadapi serangan tak terduga dari seorang wanita yang dulunya ia anggap remeh, namun kini menjadi pusat dari kewarasannya.

****

Bersambung

Aduhhh, bumil sexy mommy gemes syekali yaaa,,,, xixixixi

🫣😚😚🫣😚😚😚

1
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
MARWAH HASAN
aku suka yg cerita model begini
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
Heresnanaa_: aaa maaciw kaka😍🤭😚🥹🫂
total 1 replies
partini
wah tumben mafia bermain dulu bisa sikat tebas biarpun itu ibu ayah sodara ga penting,keren bang Radit
partini
wow
aku
sangat jelas..... 🤣🤣🤣🤣
partini
ahhh ternyata mafia juga Thor,masih di dalam perut aja aktif luar biasa gimana kalau dah lahir bisa lebih sadis dari ayahnya tu baby
MOZZA AUDYA
sikattt trussssssssss Thor buat nyaaaa seru bat drama siang yang di buat nadia 🤭
partini
itu baru di semprot kalau pakai jurus 10 tinju dan tendangan apa ko langsung 😂
MOZZA AUDYA
lanjut thorrr.... gk sabar nih nunggu drama di kantor nyaaa🤭
partini
ulet kadut itu,ayo nak bantu mommy buat hempas uler kadut 😂😂
tunggu aksi luar biasa bumil thor
𝐀⃝🥀Weny
si kulkas jadi bucin😁
MOZZA AUDYA
wahhhhh nampak aada drama baru yang akan di main kn nihh🤭
partini
Thor sekali pakai lingerie bagus deh perut Belendung uhhhh
partini
see main masuk aja kata ga berani wkwkwk
partini
lah masa udah ketauan aja sih ,roh nya Nadia ganti yg tau orang lain pula 🤦
MOZZA AUDYA
aduhh nadia jiwa barbar nya gk bisa di tahan sihhh 🤭
partini
good story 👍👍👍👍👍
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
partini
Nemu juga novel kaya gini suka "❤️
Heresnanaa_: hai kaka🤭
happy reading yaa 🤭
total 1 replies
rara🍁🍃🦋
mo nangis tapi mallu
Heresnanaa_: diam diem aja author engga liat kok🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!