Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16# Restu terbaik
“Aiden sudah menemui om Andi,” ucapnya.
“Andi dan Nirma tidak melakukan hal buruk padamu, kan?” mama Indah justru terlihat khawatir.
Aiden menggeleng. “Mereka menyambut Aiden dengan baik. Tante tidak perlu khawatir,”
“Syukurlah,” mama Indah mengusap dadanya lega.
Papa Harun seolah bisa membaca maksud sang keponakan. “Jadi apa langkahmu selanjutnya?”
“Hari ini Aiden ingin minta restu pada om dan tante, Aiden ingin menikahi Karin secepatnya. Hanya pernikahan sederhana,” ucapnya dengan harap-harap cemas.
Papa Harun mengangguk paham. “Kamu memang harus melakukannya, Aiden. Bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu dan Karin lakukan, saat ini ada nyawa yang tidak berdosa tumbuh akibat ulah kalian. Tapi jangan pernah mempermainkan pernikahan,”
“Aiden serius, om. Aiden dan Karin memang belum sepenuhnya saling mengenal, tapi kami berdua sepakat untuk saling belajar dan mengenal lebih jauh lagi. Kami tidak ingin melakukan kesalahan untuk ke dua kalinya,” papa Harun dan mama Indah bisa melihat keseriusan dari sorot mata Aiden.
“Menikahlah minggu depan dengan Karin, Aiden! Gunakan hotel dan semua fasilitas pernikahan milik Rega dan Rhea, mereka belum membatalkan dan semua sudah di bayar lunas. Lagi pula mereka tidak mungkin akan menikah minggu depan,” sendu mama Indah mengingat seharusnya minggu depan adalah hari bahagia Rega dan Rhea, namun takdir berkata lain.
“Tidak tante. Itu adalah milik Rega dan Rhea, lagi pula Aiden dan Karin sepakat untuk menikah secara sederhana. Hanya ada keluarga inti saja,” tolak Aiden dengan lembut.
“Lakukan demi tante dan om, Aiden! Meskipun hanya keluarga inti, tapi berikan pernikahan yang terbaik untuk Karin. Tante dan om akan bicara pada Andi dan Nirma tentang hal ini,” pinta mama Indah.
Aiden menatap papa Harun, papa Rega tersebut tersenyum dan mengangguk. “Lakukan seperti yang tantemu minta jika kamu memang menganggap kami sebagai orang tuamu, Aiden. Jangan lupa beritahu papa dan mamamu,”
Aiden menghela napas. “Baiklah kalau itu bisa membuat om dan tante lebih lega, Aiden akan lakukan. Soal papa dan mama, Aiden akan tetap memberi tahu mereka. Tapi Aiden tidak berharap mereka datang,”
Aiden berdiri dan menghampiri mama Indah, dia berjongkok di samping mama Indah. Aiden meraih tangan penuh kelembutan tersebut, bahkan meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Tangan mama Indah masih lembut dan cerah.
“Bagi Aiden restu terbaik dan yang utama adalah dari tante, karena tante yang selalu ada dalam setiap momen hidupku. Tante yang selalu memberiku kasih sayang,” Aiden meng3cup punggung tangan mama Indah.
Mama Indah mengusap kepala Aiden. “Tante dan om merestuimu, nak. Kamu juga adalah putra kami,” mama Indah merasa terharu dengan ucapan Aiden, dia memang tulus menyayangi keponakannya tersebut. Mama Indah tidak pernah membedakan kasih sayang yang dia berikan pada Rega amupun Aiden.
***
Malam itu Aiden berjaga di rumah sakit menggantikan mama Indah dan papa Harun. Ke dua paruh baya tersebut tidak pulang ke rumah, melainkan pulang ke hotel terdekat dari rumah sakit. Arka salah satu sahabat Rega memang turun tangan, mereka tahu kalau papa Harun dan mama Indah tidak akan mau pulang. Karena itu Arka memesankan hotel yang jaraknya bisa di jangkau dengan mudah.
Mengingat obrolannya dengan om dan tantenya tadi siang, Aiden langsung menghubungi Karin malam itu. Dia menceritakan kalau papa Harun dan mama Indah memberikan restu, bahkan mama Indah yang menyarankan untuk dirinya dan Karin menggunakan hotel dna segala fasilitas pernikahan yang seharusnya untuk Rega dan Rhea.
"Itu terlalu berlebihan, kak. Kita nikah di KUA saja Karin tidak masalah,"
"Aku tahu, Rin. Tapi om dan tante memaksa dan aku tidak tega menolak permintaan mereka. Anggap saja ini adalah salah satu baktiku pada om dan tante, aku tahu kamu berat. setidaknya ini yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka senang,"
"Tapi kakak harus bicara dengan papa dan mamaku lebih dulu, mereka pasti juga menolak. Terlebih kondisinya seperti ini,"
"Om dan tante bilang mereka yang akan bicara dengan mama dan papamu sebagai pihak dari mempelai pria,"
"Kalau begitu Karin ikut apa kata kak Aiden saja,"
"Good job calon istri,"
karin tersipu malu, tentu Aiden tidak tahu karena mereka mereka mengobrol lewat panggilan telepon.
"Sudah malam, kak. Cepat istirahat!"
"Sepertinya malam ini aku sedikit tidur, Rin. Aku sedang jaga di rumah sakit. tante dan om pulang untuk istirahat,"
"Minum vitamin sama jangan lupa pakai baju yang tebal biar tidak dingin, kak!"
"Siap,"
Aiden dan Karin mengakhir panggilan telepon, Karin tersenyum melihat layar ponselnya. Dia lantas mengambil figura hadiah dari Alya tadi siang, figura berisi photo Rhea yang menggendong Aretha.
"Lagi dan lagi aku yang akhirnya menggunakan fasilitas yang seharusnya untukmu, mbak. Cepat pulang, mbak. Karin janji apapun yang mbak minta akan Karin lakukan," dia bicara dengan photo sang kakak.