Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : SARAPAN PERTAMA SEBAGAI SUAMI ISTRI
Pagi hari ini tampak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Ada rasa hangat yang menyentuh hati, tapi juga rasa dingin yang menusuk tulang.
Arga terbangun lebih awal. Tidurnya terasa berbeda dari malam-malam sebelum. Terasa lebih berat, tapi tidak menyiksa. Bukan karena dia tidur di sofa atau tidak di kasur yang empuk. Tapi karena status pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Ada tanggung jawab besar yang ia pikul mulai hari ini.
Dia berdiri, merenggangkan badan yang masih kaku. Tulang-tulangnya berbunyi pelan. Matanya tanpa sengaja tertuju pada sosok Kirana yang masih terlelap di kasur besar itu. Nafasnya teratur. Tenang. Wajahnya yang putih tanpa riasan tampak sedikit pucat di bawah cahaya pagi yang menyusup dari celah gorden.
Ada desiran aneh yang menjalar di dada Arga.
Bukan desiran cinta. Dia tahu itu.
Tapi desiran hangat rasa ingin melindungi yang begitu kuat. Ingin memastikan gadis di hadapannya baik-baik saja.
"Ini hanya kontrak. Satu tahun."
Kata-kata Kirana semalam masih terngiang jelas.
Arga menghela napas panjang. Dia berjalan pelan ke jendela, membuka sedikit tirai. Halaman belakang kediaman Harsono tampak sepi. Hanya ada suara burung pagi dan hembusan angin yang menggoyang daun melati.
Satu tahun.
Terlalu lama untuk berpura-pura.
Terlalu singkat untuk jatuh cinta.
Pukul 07.30, meja makan kediaman Harsono sudah tertata rapi.
Ini pertama kalinya Arga sarapan satu meja dengan Pak Harsono dan Kirana. Dulu, setiap kali Pak Harsono mengajaknya sarapan bersama, Arga selalu menolak. Alasannya sederhana: dia sudah sarapan di dapur bersama Bibi Rina. Tapi alasan sebenarnya? Arga merasa dirinya tidak pantas duduk sejajar dengan mereka. Dia hanya anak panti yg kebetulan beliau pungut. dia merasa tak sepatutnya memanfaatkan kebaikan tuan Harsono. Dibalik semua itu dia menganggap dirinya pekerja seperti yang lain.
Tapi hari ini berbeda.
Hari ini, dia duduk di kursi sebelah Kirana. Sebagai suami, Sebagai menantu dari Pak Harsono.
Pak Harsono duduk di kepala meja dengan kursi rodanya. Wajahnya masih pucat, tapi matanya berbinar.
"Akhirnya... meja ini ramai lagi," katanya pelan sambil tersenyum. "Sudah lama meja ini hanya aku dan Kirana."
Kirana hanya mengangguk. Dia memakai dress putih sederhana, rambutnya masih setengah basah habis mandi. Makeup tipisnya kemarin sudah hilang, menyisakan wajah asli yang lelah.
Arga menunduk, tangannya memegang gelas air putih dengan gugup.
Ibu Hana yang berdiri di sampingnya langsung menyadari. Dia tersenyum lembut lalu berbisik, "Nak, jangan kaku begitu. Ini rumah sendiri sekarang."
Arga hanya mengangguk.
Sarapan itu sederhana. Nasi kuning hangat, ayam goreng, sambal, dan tempe orek. Tidak ada hidangan mewah seperti di hotel bintang lima. Tapi aroma makanan itu mengingatkan Arga pada masa kecilnya. Masa ketika Ibu Hana masih sering memasak untuknya di rumah kecil mereka.
Pak Harsono mulai menyuap nasi kuningnya pelan-pelan. "Kirana... Arga... Papa ingin bicara sedikit."
Kirana menoleh. Sendok di tangannya berhenti.
"Papa..."
"Biarkan Papa bicara, Nak." Pak Harsono mengangkat tangan. "Papa tahu, pernikahan ini... tidak normal. Papa tahu kalian berdua menikah karena keadaan. Tapi Papa percaya, sesuatu yang dimulai dengan ketulusan... pasti akan berakhir dengan ketulusan juga."
Arga menatap Pak Harsono. Dadanya terasa sesak.
Pria tua ini benar-benar percaya pada mereka.
"Perusahaan Harsono..." lanjut Pak Harsono. "Papa tidak bisa memimpinnya selamanya. Dokter bilang, kondisi Papa tidak boleh terlalu banyak stres. Jadi, mulai minggu depan, Kirana harus mulai belajar ikut rapat dengan direktur."
Kirana langsung mengangkat kepala. "Papa..."
Suara itu bergetar.
"Aku tahu kamu tidak suka, Nak," potong Pak Harsono lembut. "Kamu lebih suka menggambar baju daripada membaca laporan keuangan. Tapi Papa tidak punya pilihan lain. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan menjaga perusahaan ini?"
Ruangan mendadak hening.
Kirana menatap ayahnya. Di mata Pak Harsono, ada ketakutan. Ketakutan bahwa perusahaan yang dibangunnya selama tiga puluh tahun akan hancur setelah dia tiada.
Kirana menarik napas dalam. "Papa... Kirana butuh waktu."
Itu saja. Tidak ada penolakan. Tidak ada persetujuan. Hanya permintaan waktu.
Pak Harsono mengangguk. "Papa beri waktu. Tapi jangan terlalu lama, ya?"
Arga memperhatikan Kirana dari sudut matanya. Tangan Kirana yang memegang sendok sedikit bergetar. Arga ingat... dulu di dalam mobil, Kirana sering menggambar sketsa baju di buku kecilnya. Sketsa gaun dengan potongan yang unik. Sketsa yang penuh warna dan harapan.
Sekarang, sketsa itu harus dikubur demi perusahaan.
---
Setelah sarapan selesai, Pak Harsono dipapah Raka kembali ke kamar untuk istirahat.
Tinggal Kirana dan Arga di ruang makan. Suasana canggung langsung menyelimuti.
Kirana berdiri, hendak berjalan pergi. Tapi tiba-tiba gelas air di hadapannya hampir terjatuh. Arga tanpa berpikir langsung meraih gelas itu sebelum jatuh ke lantai.
Tangan mereka bersentuhan sesaat.
Kirana langsung menarik tangannya seperti tersengat listrik. "Aku... aku bisa sendiri."
Arga langsung mundur satu langkah. "Maaf, Nona. Refleks saja."
Kirana mengangguk kaku. "Terima kasih."
Lalu keheningan.
Kirana berjalan ke arah jendela. Dia menatap taman di luar dengan pandangan kosong.
"Arga," katanya tanpa menoleh. "Kamu tidak perlu bersikap baik padaku."
Arga mengerutkan kening. "Maksud Nona?"
"Kamu tidak perlu menolongku. Kamu tidak perlu peduli padaku." Kirana memeluk tubuhnya sendiri. "Ingat, ini kontrak. Satu tahun. Setelah itu kita berpisah. Jadi jangan mulai berharap hal lain."
Arga menatap punggung Kirana yang tampak rapuh.
"Nona..." Arga berjalan mendekat, berhenti dua langkah di belakang Kirana. "Aku tidak berharap kamu mencintaiku. Aku juga tidak berharap kamu percaya padaku sekarang."
Kirana menoleh sedikit.
"Tapi..." Arga menelan ludah. "Aku berjanji pada Tuan Harsono untuk menjaga Nona. Dan aku orang yang pegang janji."
Kirana terdiam. Kalimat itu... sederhana. Tapi entah kenapa, terasa berat.
"Lagipula," lanjut Arga dengan suara pelan, "kalau Nona jatuh sakit karena kelelahan, siapa yang akan menjaga Tuan Harsono?"
Kirana membeku.
Arga tidak salah. Kalau Kirana tumbang, Pak Harsono akan lebih terpukul.
Kirana menutup mata sebentar. "Kamu... pintar."
Arga tersenyum kecil. "Bukan pintar, Nona. Hanya... pernah kehilangan."
Kata-kata itu membuat Kirana menoleh penuh.
Arga sadar dia kelepasan bicara. Dia langsung menunduk. "Lupakan, Nona. Aku akan ke garasi dulu. Mobil perlu dicuci."
Sebelum Kirana bisa menjawab, Arga sudah berjalan keluar ruang makan dengan langkah cepat.
DI GARASI KEDIAMAN HARSONO
Arga menyiram mobil Alphard hitam milik Pak Harsono dengan air selang. Tapi pikirannya tidak di mobil.
"Hanya... pernah kehilangan."
Kalimat itu terucap begitu saja.
Dia teringat 10 tahun lalu saat nyonya Anastasya Ibu kirana berpulang karena penyakit jantung. Saat itu dia tahu dunia Nona Kirana telah runtuh.
Mulai saat itu, dia bersumpah. Dia tidak akan membiarkan orang yang dia sayangi jatuh sakit lagi sendirian.
Dan sekarang, orang itu adalah Pak Harsono.
Arga mengusap wajahnya dengan kasar. "Gila. Baru satu malam jadi suami, sudah mikir sejauh ini."
Tiba-tiba, pintu garasi terbuka.
Kirana berdiri di sana dengan buku sketsa di tangannya.
Arga langsung mematikan selang. "Nona? Ada apa?"
Kirana tidak menjawab. Dia berjalan mendekat, lalu menyodorkan buku sketsa itu ke arah Arga.
"Ini..." suara Kirana pelan. "Ini desain gaun yang mau Kirana buat untuk fashion week tahun depan."
Arga terkejut. Dia menatap buku itu, lalu menatap Kirana. "Kenapa... kenapa Nona kasih ke aku?"
"Karena..." Kirana menggigit bibir. "Karena kemarin Papa bilang, kamu pernah lihat aku menggambar di mobil."
Arga terdiam.
"Dan karena..." Kirana menunduk. "Karena kamu satu-satunya orang di rumah ini yang tidak memandangku sebagai 'Nona Harsono'. Kamu memandangku sebagai... Kirana."
Arga menatap buku sketsa itu dengan hati-hati. Halaman pertama terbuka. Gambar gaun putih dengan detail bordir melati. Sederhana. Elegan. Penuh ketulusan.
Sama seperti pelaminan mereka kemarin.
"Nona... ini bagus," kata Arga jujur. "Sangat bagus."
Kirana mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya sejak akad nikah, senyumnya terlihat... nyata. Meski hanya sedikit.
"Terima kasih."
Arga mengangguk. "Kalau Nona butuh tempat untuk menggambar... garasi ini sepi. Tidak ada yang ganggu."
Kirana mengangguk pelan. "Mungkin... nanti."
Lalu Kirana berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Arga dengan buku sketsa di tangan.
Arga menatap punggung Kirana yang menjauh. Dadanya terasa... berbeda.
Bukan hangat.
Bukan dingin.
Tapi... sesuatu di antara keduanya.
---
DI KAMAR PAK HARSONO
Pak Harsono menatap foto mendiang istrinya, Anastasya, yang ada di meja nakas.
"Anas..." bisiknya pelan. "Kamu lihat kan? Kirana... dia mulai sedikit terbuka pada Arga."
Dia tersenyum lembut.
"Semoga ... menjadi seumur hidup."
DI KAMAR
Kirana duduk di pinggir kasur dengan buku sketsa di pangkuannya. Tapi buku itu kosong. Tidak ada gambar baru.
Pikirannya penuh dengan Arga.
Tangan Arga yang cepat menangkap gelas.
Suara Arga yang bilang "aku orang yang pegang janji".
Mata Arga yang tidak memandang rendah padanya.
"Ini hanya kontrak. Satu tahun."
Kirana mengulang kata-kata itu dalam hati.
Tapi kenapa... satu tahun itu sekarang terasa terlalu dekat?
Dan kenapa... hatinya terasa terlalu jauh dari kata-kata itu?
Kirana menutup buku sketsa dengan pelan.
"Kirana... jangan lemah. Ini hanya sandiwara."
Tapi di dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik...
"Bagaimana kalau sandiwara ini... menjadi nyata?"
MALAM HARI
Arga duduk di sofa dengan bantal di pangkuannya. Dia tidak bisa tidur.
Di kasur, Kirana juga belum tidur. Dia memunggungi Arga, tapi napasnya tidak teratur seperti tadi malam.
Arga tahu. Kirana juga terjaga.
Dia ingin bertanya apakah Kirana baik-baik saja. Tapi dia menahan diri.
"Jangan sentuh aku. Jangan dekati aku kalau tidak ada Papa."
Kata-kata Kirana semalam masih terngiang.
Arga menutup mata.
"Satu tahun, Nona. Aku akan jaga Nona selama satu tahun. Setelah itu... terserah Nona mau pergi kemana."
Di luar, hujan mulai turun perlahan. Menemani dua orang yang berbagi satu atap... tapi masih terpisah oleh tembok kokoh bernama kontrak.
[BERSAMBUNG...]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"