Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Yang Curiga
Pagi ini udara terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Nayra duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membaca apa pun. Alarm sudah berbunyi sejak sepuluh menit lalu, tapi ia belum juga beranjak. Tubuhnya terasa berat. Bukan hanya karena kurang tidur. Tapi karena pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
“Na!” Suara Sinta terdengar dari luar.
“Kamu belum siap juga?!”
Nayra menghela napas pelan. “Iya… bentar.” Ia berdiri, berjalan ke arah cermin. Wajahnya terlihat lebih pucat dibanding kemarin.
“Kenapa makin kayak orang sakit…” gumamnya pelan. Ia mengambil sedikit bedak, mencoba menutupi wajah lelahnya.
Walau tidak banyak membantu. Tapi cukup untuk terlihat… normal.
Nayra segera keluar kamar.
Sinta sudah menunggu di depan, tangan dilipat, wajahnya penuh ekspresi tidak sabar.
“Lama banget sih,” keluh Sinta.
“Maaf…” Nayra tersenyum tipis.
Sinta langsung memperhatikan wajahnya.
“Kamu makin pucet, tau nggak?”
Nayra langsung mengalihkan pandangan. “Biasa aja.”
“Biasa dari mana?” Sinta mendekat. “Kamu kurang makan, kan?”
“Enggak…”
“Bohong.”
Nayra tertawa kecil. “Dikit.”
Sinta menghela napas panjang. “Na, kamu tuh sekarang harus jaga diri.”
“Iya, aku tahu.”
“Tapi kamu nggak ngelakuin.”
Nayra diam. Tidak bisa membantah.
“Mulai hari ini,” lanjut Sinta, “Aku yang ngawasin.”
Nayra langsung melirik. “Serius?”
“Serius.”
“Kayak satpam aja.”
Sinta menyeringai. “Iya, satpam pribadi.”
Nayra akhirnya tersenyum lebih lepas.
Di kampus, suasana tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Namun bagi Nayra, semuanya terasa lebih berat. Langkahnya lebih pelan. Dan setiap tatapan orang terasa seperti… penghakiman. Padahal belum tentu.
“Kamu kenapa lagi?” tanya Sinta saat mereka berjalan di koridor.
“Nggak apa-apa,” jawab Nayra cepat.
Sinta menyipitkan mata. “Kamu kayak orang paranoid.”
Nayra langsung menoleh. “Hah?”
“Iya. Dari tadi kamu kayak takut diliatin orang.”
Nayra terdiam. Ia menunduk. “Aku cuma… nggak nyaman.”
Sinta melembut. “Na, belum ada yang tahu.”
Nayra mengangguk pelan. “Tapi nanti bakal tahu…”
Kalimat itu keluar tanpa ia sadari.
Sinta berhenti berjalan. “Na…”
Nayra ikut berhenti.
“Kamu nggak harus mikirin itu sekarang,” ucap Sinta pelan.
Nayra tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi susah…”
Sinta menepuk bahunya pelan. “Pelan-pelan aja.”
Jam berlalu begitu saja, kuliah hari ini sudah berjalan setengah jalan. Saat jam istirahat Mereka memilih duduk di kantin.
Tidak hanya berdua. Ada beberapa teman lain yang bergabung. Dan itu membuat Nayra sedikit lebih tegang.
“Eh, Na,” salah satu teman mereka, Rina, menatapnya. “Kamu akhir-akhir ini jarang nongol ya.”
Nayra tersenyum tipis. “Iya, lagi sibuk.”
“Sibuk apaan? Kayak pejabat aja,” canda Rina dan yang lain tertawa.
Nayra ikut tersenyum, meski tidak terlalu lepas.
“Eh serius, kamu kurusan deh,” lanjut Rina. “Diet ya?”
Sinta langsung menyela. “Dia lagi nggak enak badan.”
“Oh…” Rina mengangguk. “Sakit apa?”
“Masuk angin biasa,” jawab Nayra cepat.
Rina masih menatapnya beberapa detik.
Seolah mencoba memastikan.
“Kamu beneran nggak apa-apa?” tanyanya lagi.
“Iya,” jawab Nayra, sedikit terlalu cepat.
Suasana sempat hening. Lalu percakapan kembali normal.
Tapi Nayra bisa merasakan— Ada sesuatu yang berubah.Tatapan. Cara bicara. Atau mungkin hanya perasaannya saja.
Setelah teman-teman mereka pergi—
Sinta langsung menatap Nayra.
“Kamu terlalu tegang.”
Nayra menghela napas. “Aku takut, Sin…”
Sinta menyandarkan punggung ke kursi. “Takut ketahuan?”
Nayra mengangguk.
“Wajar,” kata Sinta. “Tapi lo nggak bisa terus kayak gini.”
“Terus aku harus gimana?”
“Biasa aja.”
Nayra tertawa kecil. “Nggak segampang itu.”
Sinta tersenyum tipis. “Emang nggak gampang. Tapi harus dicoba.”
Nayra menunduk. “Aku ngerasa semua orang liat aku beda…”
Sinta langsung menjawab, “Itu cuma perasaanmu saja.”
Nayra terdiam. Mungkin benar. Atau mungkin tidak.
Setelah selesai kuliah Nayra dan Sinta pulang bersama. Langkah mereka lebih santai.
“Na,” panggil Sinta tiba-tiba.
“Iya?”
“Kalau suatu saat… bapaknya muncul?”
Nayra langsung berhenti. Pertanyaan itu Selalu ia hindari.
“Dia nggak akan muncul,” jawab Nayra pelan.
Sinta mengernyit. “Yakin?”
“Aku bahkan nggak tahu dia siapa.”
“Justru itu.”
Nayra menatap ke depan. “Dia cuma… orang asing.”
Nada suaranya datar. Seolah ingin meyakinkan diri sendiri.
Sinta terdiam.
“Dan aku nggak butuh dia,” lanjut Nayra. Kalimat itu terdengar tegas. Tapi hatinya Tidak sepenuhnya sekuat itu.
🚗 Ditempat lain
Arsen duduk di dalam mobilnya.
File data masih terbuka di tangannya.
“Mahasiswi…” gumamnya lagi.
Raka di kursi depan menoleh. “Kita sudah dapat kampusnya, Pak.”
Arsen mengangguk pelan.
“Langkah selanjutnya?” Raka sedikit ragu. “Mau langsung ke sana?”
Arsen terdiam. Beberapa detik. “Belum.”
Raka mengernyit. “Kenapa?”
Arsen menatap keluar jendela. “Aku butuh kepastian dulu.”
“Takut salah orang?”
Arsen menatapnya. “Aku nggak mau buang waktu.”
Raka mengangguk. “Baik.”
Arsen kembali melihat data itu. Nama Nayra.
Semakin dekat. Tapi belum cukup.
🏡Dikamar kos
Nayra duduk di kamar, menulis sesuatu di buku kecilnya.
Sinta duduk di sampingnya, memperhatikan.
“Kamu nulis apa?”
“Catatan,” jawab Nayra.
“Catatan apa?”
Nayra tersenyum kecil. “Tentang… hari ini.”
Sinta mengangguk pelan.
“Aku mau ingat semuanya,” lanjut Nayra.
“Kenapa?”
Nayra berhenti menulis. Tangannya menyentuh perutnya. “Karena ini pertama kalinya gue ngalamin ini.”
Sinta menatapnya lembut.
“Dan… Aku nggak mau nyesel nanti,” tambah Nayra.
Sinta tersenyum kecil. “Kamu bakal jadi ibu yang baik.”
Nayra tertawa kecil. “Aku aja masih kayak anak kecil.”
“Belajar,” jawab Sinta singkat.
Nayra mengangguk. “Iya… belajar.”
to be continued 🙂🙂