Kiara adalah definisi dari wanita modern yang ambisius. Cantik, cerdas, dan gila kerja. Baginya, satu-satunya hal yang lebih seksi daripada pria tampan adalah saldo rekening yang terus bertambah.
Hingga dia bertemu mengenal Kenan Xequel.
Kenan adalah seorang CEO yang sombong menyebalkan dan sialnya sangat tampan. Dia mewarisi kerajaan bisnis Xequel Group dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan jentikan jari.
Kiara memutuskan untuk menaklukkan hati pria sialan itu berstatus bosnya, bukan karena cinta saja tapi karena dia menginginkan segalanya.. Love and Money.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy ji ji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10.
"Dari mana saja kamu?" tanya Kenan dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Kiara tertegun melihat ekspresi Kenan yang tampak seperti ingin meledak. "Saya makan siang Pak. ini kan jam istirahat." Balas Kiara.
"Tiga puluh menit terlambat," desis Kenan sambil menunjuk jam tangannya. "Dan kenapa ponsel kamu tidak aktif?"
"Itu... tadi baterainya habis," Kiara berbohong kecil sambil melirik Arkan yang hanya bersandar di dinding dengan wajah tanpa dosa.
Kenan beralih menatap adiknya. "Dan kamu Arkan. berhenti mengganggu Kiara! pergi dari sini sebelum aku panggil keamanan untuk menyeretmu beserta mobilmu dari kantorku."
Arkan mengangkat bahu. "Galak sekali Kak. kita cuma makan siang. kiara butuh asupan nutrisi yang baik bukan cuman makanan di kantormu yang kurang gizi."
"Masuk ke ruangan kamu Kiara! sekarang!" bentak Kenan membuat Kiara kaget.
Kiara menghela napas, dia meletakkan tasnya dan berjalan menuju ruangannya sendiri yang bersebelahan dengan ruangan Kenan.
Namun Kenan justru mengikutinya masuk dan menutup pintu dengan keras. mengabaikan Arkan yang masih berdiri diluar menyaksikan tingkah laku Kenan yang tak biasa.
"Pantas saja mantannya kabur... dia tidak bisa memanjakan wanita." Kata Arkan meninggalkan lantai itu dan mencari gadis gadis cantik untuk dia goda.
Sementara di dalam ruangan Kiara.
"Kamu pikir kamu siapa bisa mengabaikan panggilanku hah?" tanya Kenan dengan suaranya naik satu oktav.
Kiara berbalik menatap Kenan dengan hati yang sedikit sakit mendengar kata kata Kenan.
"Bapak kenapa sih? saya kan cuma makan siang. Bapak takut takut saya lebih suka menghabiskan waktu dengan Pak Arkan?".
Kenan terdiam, rahangnya mengeras. "Jangan sebut nama dia." Bentak Kenan.
"Oh... jadi ini soal kecemburuan?" Kiara mendekat dan menarik sedikit dasi Kenan seperti yang dia lakukan tadi pagi.
"Pak Kenan yang sempurna dan teliti ini ternyata bisa tantrum juga ya?" Kata Kiara setelah sadar Kenan cuman cemburu pada Arkan.
"Saya tidak tantrum," bantah Kenan, meski detak jantungnya yang cepat bisa dirasakan Kiara melalui jemarinya yang menyentuh dasinya.
"Wajah Bapak merah, nafas Bapak tidak beraturan dan Bapak baru saja memarahi adik Bapak sendiri di depan saya. Itu namanya tantrum Pak," Kiara tersenyum tipis.
Pandangan yang sulit diartikan. Kenan ingin marah tapi kedekatan Kiara justru membuatnya kehilangan kata-kata.
"Jangan pergi lagi tanpa izinku, kemanapun itu." ucap Kenan pelan, suaranya kini terdengar lebih seperti permintaan daripada perintah.
"Kenapa? Bapak bakal kangen?" goda Kiara.
Kenan tidak menjawab namun dia tidak menarik diri. dia berdiri di sana membiarkan Kiara merapikan dasinya dengan perlahan.
Di ruangan Kiara kemarahan Kenan perlahan mencair. digantikan oleh ketegangan lain yang jauh lebih berbahaya bagi kewarasannya.
"Kembali bekerja," gumam Kenan akhirnya sebelum berbalik dan keluar dari ruangan Kiara dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
Setelah pintu ruangan tertutup, Kenan tidak langsung kembali ke meja kerjanya. Pria itu berdiri di tengah ruangan yang luas dan sunyi, menatap tangannya yang tadi sempat gemetar karena menahan amarah atau mungkin karena debar jantungnya yang tidak wajar.
"Apa-apaan tadi itu?" gumam Kenan pada dirinya sendiri.
Suaranya yang biasanya berat dan berwibawa kini terdengar penuh keraguan.
"Kenapa aku harus peduli dia makan dengan siapa? dia cuma asisten. cuma asisten pengganti Robi."
Kenan berjalan mondar-mandir, bayangan Arkan yang berjalan sambil tertawa bersama Kiara terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Rasa panas yang menjalar di dadanya bukan lagi sekadar kekesalan biasa.
Dengan gerakan cepat dia menyambar ponsel di mejanya dan menekan sebuah nomor panggilan cepat.
"Robi," ucap Kenan begitu sambungan tersambung.
"Iya Pak Kenan? ada masalah mendesak di kantor?" suara Robi terdengar siap menerima panggilan Kenan.
Sebagai asisten tetap yang sudah bertahun-tahun mendampingi Kenan, Robi selalu siap kapanpun.
Kenan terdiam sejenak, mengatur nafasnya yang masih terasa pendek.
"Robi... menurutmu apa aku sedang jatuh cinta?"
Hening. tidak ada jawaban dari seberang selama beberapa detik yang terasa sangat lama bagi Kenan.
"Halo? Robi? Kamu masih di sana?" Kenan melihat ponselnya lagi lagi memastikan apakah panggilannya terhubung.
"Maaf Pak. saya hanya... saya pikir saya salah dengar," jawab Robi suaranya terdengar seolah dia baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
"Bapak bertanya soal... cinta?" Kata Robi.
"Jawab saja," desis Kenan kembali ke mode kakunya.
"Begini pak... jika bapak merasa panas di dada lalu marah melihat wanitanya mendekati pria lain dan mulai tidak bisa fokus kerja karena memikirkan wanita itu... apakah itu namanya cemburu? dan apakah cemburu itu selalu berarti cinta? jawabannya benar, itu sudah jatuh cinta." Balas Robi.
Robi terdengar berdehem pelan, mencoba memproses informasi yang sangat tidak masuk akal dengan pekerjaannya.
"Pak, selama bertahun-tahun saya bekerja dengan Bapak, Bapak bahkan tidak peduli dengan mantan kencan buta kenalan Nyonya besar yang selalu merengek tidak makan siang selama dua hari..... jika sekarang Bapak sampai penasaran dengan seseorang itu namanya cinta buta Pak."
"Cinta buta?" Kenan mengulangi kata itu dengan dahi berkerut.
"Selamat Pak. akhirnya bapak bisa punya perasaan manusia."
"Diam kamu, aku serius."
"Saya juga serius Pak hehehe, siapa wanita beruntung itu? atau haruskah saya menyiapkan banyak hadiah dari bapak untuknya seperti mantan kencan buta bapak?" Tanya Robi.
"Mereka berbeda." Bantah Kenan tak suka Kiara disamakan dengan wanita matre itu. Kiara jauh lebih realistis.
"Semua wanita suka uang pak." Balas Robi.
"Benar... dia mau 1 miliar." Kata Kenan.
"Apa? sepertinya bapak ditipu?" Robi Kaget mendengar angka itu.
"Kau tidak tahu apa-apa!"
Kenan langsung mematikan sambungan telepon tanpa pamit, meninggalkan Robi dalam kebingungan yang luar biasa di seberang sana.
Kenan melempar ponselnya ke sofa dan menyandarkan kepalanya. dia menatap langit-langit ruangan dengan pandangan kosong. "Jatuh cinta?" bisiknya pelan.
"Pada wanita berisik dan jorok itu? tidak mungkin! dia pasti mengirim ilmu dukun padaku." Kata Kenan membantah perasaannya.
Bersambung...
tetap semangat berkarya 💪💪💪👍👍👍🥰🥰🥰
maafkan daku kak..salah ketik 🤣🤣😭