NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roda Nomor Dua Bangkit

...Chapter 8...

"Kau lincah, Nona Ling Xu," ucap Whou Ming sambil menangkis tiga jarum sekaligus dengan telapak tangannya yang berlapis Qi, "tapi kelincahan tidak akan menyelamatkanmu dari seseorang yang haus akan kepemilikan!" 

Ia tertawa—tawa yang mirip dengan tawa keempat pembunuh bayaran dulu, riang dan bejat—lalu mengerahkan seluruh Qi-nya ke telapak tangan, membentuk bola energi ungu sebesar kepala kuda, dan melemparkannya ke arah Ling Xu yang sedang terpental setelah kena sabetan samping.

Ling Xu berguling di tanah, jubahnya robek di bahu kiri, darah mengalir tipis membasahi lengan bajunya yang putih pudar. Ia bisa merasakan setiap tulang rusuknya berdenyut sakit, dan di dadanya, 51 keping Lintang Kemanusiaan yang tersisa bergetar seperti daun ketakutan. 

"Kau pikir kau bisa mengalahkanku hanya dengan keberanian seorang gadis yang ibunya digilir?" ejek Whou Ming sambil melangkah mendekat, ujung jarinya masih bercahaya ungu, 

"Aku sudah puluhan tahun melakukan ini—merampas, memiliki, menghancurkan. Kau tidak istimewa, Nona Ling Xu. Kau hanya satu dari seratus." 

Ling Xu mengangkat wajahnya, darah di sudut bibirnya ia usap dengan punggung tangan, lalu ia tersenyum—senyum yang anehnya tidak mengandung rasa takut, melainkan rasa muak yang begitu dalam hingga terlihat seperti kepasrahan. 

"Kau benar," ucapnya pelan, "aku tidak istimewa. Tapi setidaknya aku tidak menyembunyikan luka masa laluku dengan menjadi monster yang sama seperti yang membunuh ibuku." 

Wajah Whou Ming berubah. 

Senyumnya lenyap, digantikan oleh sesuatu yang lebih gelap.

Bukan amarah, tapi rasa sakit yang sudah membusuk selama puluhan tahun dan kini mengeluarkan nanahnya.

"Berani kau—" desisnya, tapi sebelum kalimat itu selesai, Ling Xu sudah melompat, bukan menyerang, tapi melompat ke samping untuk menghindari tebasan energi yang hampir memenggal lehernya. 

Ia mendarat dengan lutut yang lecet, lalu menoleh ke arah Huan Zheng yang masih duduk malas dengan puluhan bawahan terpental di sekelilingnya seperti lalat yang mati kehabisan tenaga. 

"HUAN ZHENG!" pekik Ling Xu, suaranya parau dan putus asa.

"BERHENTI BERGELANDANGAN! KALAU KAU TIDAK SERIUS SEKARANG, AKU JANJI—SETELAH INI KAU TAK AKAN PUNYA WAKTU UNTUK BERMALAS-MALAS SELAMANYA!"

Huan Zheng menghela napas panjang.

Bukan napas orang yang lelah, melainkan napas orang yang akhirnya memutuskan untuk berhenti berpura-pura.

Ia berdiri perlahan, merasakan setiap butir debu di tanah yang menempel di jubahnya, lalu menatap ke depan dengan mata yang sedari tadi malas kini berubah.

Di kedua retinanya, api membakar bukan merah, melainkan biru pucat seperti nyala lilin di pusara, dingin tapi tak pernah padam. 

"Kau menyesal, Ling Xu?" bisiknya pada angin, terlalu pelan untuk didengar gadis itu di tengah pertarungan. 

"Kau tidak sendirian." 

Dan bersamaan dengan bisikan itu, sesuatu yang mengerikan terjadi di belakang punggung Huan Zheng. 

Bukan cahaya, bukan ledakan, melainkan hawa—hawa yang begitu berat, begitu tua, begitu absolut, seperti seluruh langit dan bumi tiba-tiba memutuskan untuk bersujud. 

Area di belakang punggung Huan Zheng seketika menjadi miliknya.

Angin yang tadinya berembus kencang mendadak berbisik lembut, bebatuan yang tadinya diam-diaman mulai bergetar seperti sedang melafalkan mantra pemujaan, bahkan rumput-rumput kering di tanah menekuk batangnya seperti sedang berlutut. 

Dari mulut para bawahan Whou Ming yang masih terpental di tanah, keluar suara-suara aneh.

Bukan jeritan, bukan ratapan, melainkan doa-doa yang keluar tanpa izin dari tenggorokan mereka sendiri, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas pita suara mereka dan memaksa setiap serat otot untuk memuja. 

"Huan... Huan Zheng... Roda nomor dua..." gumam seorang prajurit dengan mata kosong, air liurnya menetes, "ampuni kami... sudilah menginjak kepala kami…." 

Sementara itu, So Weihao yang tangannya masih terkilir mencoba mundur, tapi kakinya tidak bergeming, dan Xing Haoran—pria tua dengan tongkat kuning itu—hanya bisa membisikkan satu kata dengan suara yang gemetar seperti daun tua. 

"Mahakuasa...."

Huan Zheng tidak menjawab doa-doa itu. 

Ia bahkan tidak melirik. 

Yang ia lakukan hanyalah mengangkat kaki kanannya—perlahan, anggun, seperti seorang penari yang hendak memulai gerakan pertama di atas panggung yang sunyi—lalu menendang. 

Tidak ada target, tidak ada musuh di depan ujung sepatunya yang compang-camping, hanya angin malam yang dingin dan kosong. 

Tapi begitu tumitnya menyentuh udara, dunia di depannya terbelah. 

Bukan kiasan, bukan ilusi—puluhan bawahan Whou Ming yang berdiri di radius seratus meter, dengan tingkat kultivasi Lintang Bawah Keempat dan Kelima yang seharusnya tiga hingga empat tingkat di atas Huan Zheng, mendadak berhenti bergerak. 

Semua. 

Serempak. 

Seperti patung-patung lilin yang kehabisan sumbu. 

Lalu, satu per satu, tubuh mereka terbelah menjadi dua—rapi, bersih, tanpa setetes darah pun yang sempat menciprat—seperti daging kurban yang hendak disajikan di jamuan paviliun, terpotong dengan pisau yang terlalu tajam hingga dagingnya sendiri tidak sempat merasa sakit.

"Apa... apa yang baru saja kau lakukan?" bisik So Weihao, wajahnya yang cantik kini pucat seperti kapur, rambut magentanya bergetar karena seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali. 

Huan Zheng menurunkan kakinya, lalu menatap So Weihao dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

Bukan benci, bukan marah, melainkan rasa bosan yang begitu dalam hingga terlihat seperti kesedihan. 

"Kau bertanya apa yang baru saja kulakukan?" jawabnya, suaranya datar seperti batu nisan, 

"Aku baru saja... mengingat. Mengingat siapa aku dulu, sebelum racun sialan itu meracuni fondasiku." 

Ia melangkah maju satu langkah ke arah So Weihao, dan di belakangnya, mayat-mayat yang terbelah itu mulai berasap, berubah menjadi debu bercahaya yang naik ke langit malam seperti kunang-kunang yang sedang berpulang. 

"Dan kau tahu, So Weihao—" Huan Zheng menghentikan langkahnya tepat di depan pemuda berambut magenta itu, lalu tersenyum—senyum yang tidak hangat, tidak dingin, melainkan kosong.

"... Orang yang mengingat selalu lebih berbahaya daripada orang yang belajar."

So Weihao, dengan sisa-sisa keberanian yang masih tersisa di ujung jari-jarinya yang gemetar, melancarkan serangan habis-habisan—puluhan pisau lipat berenergi merah jingga melesat dari balik lengan bajunya, disertai tusukan Qi tingkat Lintang Umum Keenam yang seharusnya cukup untuk merobek tembok istana sekalipun. 

Tapi Huan Zheng tidak menghindar, tidak menangkis. 

Yang ia lakukan justru sesuatu yang absurd di tengah pertempuran maut.

Ia menari. 

Bukan tarian sembarangan—melainkan tarian balet, dengan gerakan yang anggun, ujung jari yang meliuk, dan putaran tubuh yang perlahan tapi terukur, seperti angsa yang sedang berenang di atas danau beku. 

So Weihao sempat tertawa melihatnya, karena siapa yang menari di medan perang? 

Tapi tawanya terputus di tengah jalan ketika ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.

Kulitnya terasa dingin, lalu panas, lalu dingin lagi, dan ketika ia menunduk, ia melihat garis-garis merah tipis mulai muncul di pergelangan tangannya, di lehernya, di dadanya—garis-garis yang persis mengikuti gerakan tarian Huan Zheng. 

"Tidak... jangan..." bisik So Weihao, tapi sebelum kata-katanya selesai, tubuhnya tercabik. 

Bukan meledak, bukan hancur, melainkan terpotong sebegitu cepat, sebegitu rapi, hingga ia masih sempat melihat kepalanya sendiri jatuh ke tanah sebelum kesadarannya padam—dan di detik terakhir itu, ia melihat Huan Zheng berhenti menari, lalu membungkuk sopan seperti seorang penari yang mengakhiri pertunjukannya di hadapan penonton yang sudah mati semua. 

Sementara itu, Xing Haoran tidak menyerang. 

Pria tua itu hanya berdiri di tempatnya, tongkat kuningnya bergetar hebat, matanya yang keriput terbuka lebar karena ia merasakan—merasakan sesuatu yang tidak mungkin ia rasakan dari seorang pria yang katanya hanya memiliki Lintang Bawah Tingkat Kesatu. 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!