Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Perubahan
6 bulan kemudian
Seorang wanita dengan paras menawan dan tubuh ramping berdiri tegak di hadapan cermin besar yang membentang dari lantai hingga setinggi langit-langit ruangan. Cahaya lampu yang temaram memantul lembut pada permukaan kaca, menyoroti setiap lekuk tubuhnya dengan jelas.
Tatapannya terarah lurus ke depan, menembus bayangan dirinya sendiri dengan sorot mata yang dingin, nyaris tanpa emosi. Yvone menyeringai tipis. Sudut bibirnya terangkat perlahan, namun senyum itu tidak memancarkan kehangatan, melainkan kepuasan yang bercampur dengan dendam.
Bayangan yang ia lihat di cermin terasa asing. Ia nyaris tidak mengenali sosok yang kini berdiri di hadapannya. Wanita gemuk yang selama ini menghantui telah lenyap, tergantikan oleh figur baru yang lebih sempurna.
“Ini menakjubkan,” bibir seksi dan tebal itu menggumam.
Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat salah satu tangannya, meraba tubuhnya sendiri. Ujung jari-jarinya menyusuri lekuk pinggang yang kini tampak begitu ramping, nyaris tanpa cela. Dahinya sedikit berkerut, seakan masih berusaha memastikan bahwa semua ini nyata.
Tidak ada lagi lipatan di perutnya yang dahulu sering membuatnya merasa tidak percaya diri. Kulitnya kini tampak halus dan rata, seolah telah dipahat dengan sangat teliti.
Tangannya kemudian bergerak naik, menyentuh pipinya yang kini tampak lebih tirus. Dulu, wajahnya terlihat lebih bulat, pipinya menggembung bahkan lipatan di dagu.
Kini, garis rahangnya lebih tegas, memberikan aura yang berbeda. Lebih dingin, lebih dewasa, dan entah mengapa, lebih sulit didekati. Ia mengamati setiap sudut wajahnya dengan saksama, seakan tengah menilai hasil karya seorang seniman.
Pandangan Yvone kemudian turun perlahan. Dadanya yang dahulu terasa kurang kencang kini tampak lebih padat dan proporsional. Ia menarik napas dalam, merasakan perubahan itu bukan hanya secara visual, tetapi juga secara fisik.
Ada sensasi asing yang masih belum sepenuhnya ia pahami, seolah tubuh ini adalah milik orang lain yang baru saja ia pinjam. Ya memang ia sedang berada di dalam tubuh orang lain. Bahkan tubuh ini, kini lebih sempurna dari tubuh aslinya.
“Yvone bahkan tidak setinggi ini,” ucap Rose lagi.
Tidak berhenti di sana, jemarinya meluncur ke bawah, mengikuti garis pahanya yang kini tampak jenjang dan proporsional. Kakinya yang dahulu terasa besar kini berubah menjadi lebih ramping dan elegan, menopang tubuhnya dengan anggun.
Ia memutar tubuhnya sedikit, mengamati dirinya dari berbagai sudut, memastikan bahwa tidak ada satu pun kekurangan yang terlewat.
“Benar-benar sempurna…” gumamnya lirih, hampir seperti bisikan yang hanya ingin ia dengar sendiri. Namun, dibalik kata-kata itu, terselip sesuatu yang sulit dijelaskan. Sebuah kekosongan yang samar.
Senyum di wajahnya tetap terukir, tetapi matanya tidak sepenuhnya mencerminkan kebahagiaan. Ia kembali menatap bayangannya di cermin, lebih lama kali ini, seolah berusaha mencari sesuatu yang hilang.
Operasi yang ia jalani memang berhasil, melampaui ekspektasinya. Setiap perubahan yang ia inginkan kini terwujud dengan nyata. Akan tetapi, semakin lama ia menatap dirinya sendiri, semakin terasa bahwa kesempurnaan itu datang, akan ia bayar dengan harga yang tak kasatmata.
Pintu ruangan terbuka, membuyarkan semua pikiran Yvone. Yuna memasuki ruangan, lalu kembali menutup pintu.
“Hai, Nyonya Reinhart,” sapa wanita itu lalu duduk di sofa sudut ruangan. “Ada kabar untukmu.”
Yvone memutar tubuhnya dengan elegan. Lalu duduk di single sofa yang berseberangan dengan Yuna.
“Kabar apa?” tanya Yvone penasaran.
“Kabar baik dan buruk, kau ingin mendengar yang mana dulu?” Yuna balik bertanya.
Selama 6 bulan terakhir, Yuna selalu menemani dirinya. Entah sejak kapan, mereka menjadi sangat dekat. Karena Sui tidak bisa menemaninya pergi ke Korea, maka ia sedikit kesepian.
Beruntung Yuna selalu ada di sisinya. Selain sebagai teman, Yuna juga bertindak sebagai dokter pendamping. Rupanya koneksi yang dimiliki wanita itu sangat luar biasa. Yuna lahir di Korea, dan memiliki tempat tinggal menetap di sana.
Hal itu memudahkan Yvone yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Yuna bahkan meminjamkan salah satu apartemennya.
“Terserah kau saja, kabar baik dan buruk tidak berpengaruh bagiku,” ujar Yvone dingin.
“Sungguh wanita yang dingin. Kalau begitu aku akan sampaikan kabar baik. Jadi, dokter sudah mengizinkanmu untuk kembali ke negara asalmu, katanya kau lulus uji observasi. Tubuhmu pulih lebih cepat dibandingkan orang lain.”
“Ah, begitu rupanya.” Respon Yvone terdengar biasa saja.
“Hmmm, lalu kabar buruknya…” Yuna menjeda ucapannya lalu mengeluarkan sebuah perangkat dalam bentuk iPad dan menunjukkannya pada Yvone. “Kau lihat sendiri saja.”
Yvone meraih tablet tersebut dan melihat sebuah artikel, lengkap dengan sebuah potret seseorang yang tak asing baginya. Yvone seketika mengepalkan tangannya.
“Jadi yang dikatakan Brighita dan Alexa benar, mereka akan menikah,” gumam Yvone lirih.
Yuna menatap Yvone dan melihat emosi yang tersirat di wajahnya. Ia jelas memahami apa yang dirasakan oleh wanita itu. Selama menemani Yvone, Yuna tak melewatkan sedikit pun cerita tentang wanita itu.
Alasan Yvone ingin merubah dirinya, awalnya Yuna tidak ingin tahu. Namun, ia menjadi tertarik setelah cerita tentang suami dari wanita itu terkuak. Rupanya Yvone dulunya adalah seorang model, istri dari Arsen Reinhart–pengusaha terkenal.
“Jadi apa kau ingin kembali sekarang?” tanya Yuna.
“Ya, sudah waktunya aku kembali.”
Di sisi lain, Arsen berdiri seorang diri di atas balkon sebuah ruangan yang berada di lantai atas sebuah bangunan. Tubuhnya tegak, namun bahunya sedikit merosot, seolah memikul beban yang tak kasatmata.
Angin siang berembus perlahan, mengibaskan helaian rambutnya dan membawa serta udara dingin yang menyentuh kulitnya tanpa mampu menyadarkannya dari lamunan.
Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat hamparan kota dan kendaraan yang berlalu-lalang. Suara langkah beberapa orang dan samar percakapan mereka di dalam ruangan terdengar, tetapi semua itu seakan teredam, jauh, dan tidak benar-benar ia hiraukan.
Tatapan Arsen tampak kosong, terarah entah ke mana. Bola matanya tidak benar-benar fokus pada satu titik, seolah hanya menatap kehampaan yang terbentang di hadapannya. Dalam diamnya, pikirannya justru berisik, dipenuhi oleh satu nama yang terus berulang tanpa henti.
“Rose, di mana kau?”
Selama enam bulan terakhir, ia kehilangan Rose. Tak satu pun usaha pencariannya membuahkan hasil. Bahkan Daniel yang memiliki keahlian dalam bidang itu pun tampak kesulitan mencari keberadaan Rose. Rose seolah ditelan bumi dan bahkan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Sementara Sang Ibu menuntut dirinya untuk mendapatkan pengganti. Alasan sebuah keturunan kembali menggerogoti pundak Arsen. Sehingga nama Renata pun muncul sebagai kandidat pertama dan terakhir.
Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram pagar balkon dengan sedikit lebih erat. Ada gejolak emosi yang ia tahan. Ia menarik napas dalam, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa berat, tidak mampu mengusir kegelisahan yang terus mengendap.
Tak lama kemudian, pintu balkon terbuka, menampilkan seorang wanita cantik memikat.
“Arsen, giliranmu,” ucap Renata.
Arsen menghela napas panjang. Di sela-sela kesibukannya, ia harus menghadiri acara fitting baju yang telah diatur oleh Brighita. Arsen bisa saja menolaknya, tetapi ia tidak ingin membuat masalah seperti yang sudah-sudah.
Saat Arsen menolak menikahi Renata, Brighita sakit beberapa hari. Ia tahu bahwa itu hanya tipu muslihat, yang bila dibiarkan akan semakin menjadi. Sehingga Arsen tidak punya pilihan selain menuruti.
Arsen memasuki ruangan dan segera melakukan pengukuran oleh pihak desainer pakaian.
Setelah acara membosankan selesai, Arsen memutuskan untuk pulang. Meski Renata merengek ingin pergi ke tempat lain, Arsen dengan tegas menolaknya dan membuat Renata kesal.
Tiba di rumah, Arsen disambut oleh Brighita dan juga Alexa yang tampak bahagia dengan kedatangan mereka.
“Calon pengantin baru, kalian terlihat sangat serasi sekali,” puji Alexa.
Pujian itu membuat Renata tersipu malu.
Sebaliknya, Arsen justru merasa biasa saja.
“Selamat ya kalian sebentar lagi akan menikah,” ucap Brighita.
“Terima kasih, Bibi. Semua berkat dukungan darimu,” balas Renata.
“Kau boleh memanggilku Mama, karena sebentar lagi kau akan menjadi istri Arsen.”
“Tidak! Siapa pun yang ingin menjadi Istri Arsen, langkahi dulu mayatku!”
Suara seorang wanita mengalihkan atensi semua orang yang ada di teras rumah.
Tampak sesosok wanita ramping melangkah dengan sangat anggun. Satu tangannya melepas kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Saat itulah mereka bisa melihat dengan jelas wajah itu.
“Rose?”