Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
suasana yang hangat
Sore itu, teras rumah Nenek Elia terasa sejuk oleh hembusan angin yang menggoyangkan dahan pohon mangga. Beliau sedang mengobrol melalui sambungan telepon; di ujung sana, Rain mendengarkan dengan saksama. Secangkir teh melati yang masih mengepul di atas meja menjadi saksi bisu negosiasi panjang yang melintasi udara di antara mereka.
"Ini yang terakhir ya, Nek," ucap Rain pelan namun tegas. Suaranya terdengar lelah—bukan karena pekerjaan, melainkan karena rentetan kencan buta yang ia jalani selama ini hanya demi menyenangkan keluarga.
Nenek Elia menyesap tehnya, lalu suaranya terdengar menyelidik. "Terakhir? Kamu sudah bilang begitu tiga kali, Rain. Nenek ini melobimu bukan karena kurang kerjaan. Kamu lihat sendiri kondisi Nenekmu sekarang. Demensianya sering kambuh, fisiknya kadang drop. Dia itu cuma ingin satu hal: melihat cucu kesayangannya ini berdiri di pelaminan dengan gadis pilihan yang tepat."
Rain terdiam. Bayangan nenek kandungnya yang kini sering kehilangan ingatan memang selalu menjadi titik lemahnya.
"Nenek sebenarnya juga tidak ingin terus-terusan menjodohkanmu begini," sambung Nenek Elia, suaranya melunak. "Apalagi setelah kamu membawa Ayyara ke sini beberapa waktu lalu."
Rain sedikit tersentak mendengar nama itu disebut. "Nek, sudah Rain bilang, Ayyara itu hanya rekan kerja."
Nenek Elia terkekeh sinis sembari menyandarkan punggungnya ke kursi rotan. "Rekan kerja? Rain, Nenek ini sudah hidup tujuh puluh tahun. Nenek sempat mengobrol beberapa jam dengan Ayyara waktu itu. Gadis itu... dia berbeda. Pemikirannya tentang pernikahan, tentang jati diri... dia tipe wanita yang tidak akan kehilangan dirinya sendiri hanya karena menjadi seorang istri atau ibu."
Beliau menjeda sejenak, matanya menerawang. "Melihat Ayyara itu seperti melihat Nenek waktu muda, tapi dia hidup di zaman yang lebih baik. Dia wanita yang tidak mungkin terbelenggu oleh patriarki atau aturan kuno yang kaku. Mandiri, tapi tahu cara menghargai partner.
Tipe seperti itu yang kamu butuhkan, Rain. Bukan sekadar gadis yang setuju dijodohkan lewat kencan buta."
Rain menghela napas panjang. Ia teringat bagaimana Ayyara bersikap tenang di depan Zayn tadi siang, atau bagaimana wanita itu memahami rahasia lini masa mereka tanpa menghakimi.
"Dia memang salah satu wanita luar biasa yang aku kenal, Nek. Tapi situasi kami... rumit."
"Rumit itu karena kamu yang membuatnya jadi sulit," potong Nenek Elia telak. "Kalau kamu memang bersikeras dia hanya rekan kerja, ya sudah. Hadiri kencan buta terakhir ini akhir pekan nanti. Nenek harap setelah ini kamu tidak menyesal kalau tiba-tiba ada laki-laki lain yang lebih berani melobi Ayyara daripada kamu."
Rain tertegun. Kalimat Nenek Elia seolah menyentil kesadarannya. Bayangan Zayn yang begitu gencar mendekati Ayyara kembali melintas di kepalanya.
"Baik, Nek. Rain akan pergi," ujar Rain akhirnya sembari merapikan jaketnya. "Tapi janji, ini yang benar-benar terakhir."
Nenek Elia hanya tersenyum di ujung telepon. "Kita lihat saja nanti, Rain. Terkadang orang baru sadar setelah ada kompetisi di depan mata," gumam beliau pelan, sebelum kembali menikmati ketenangan sore di terasnya.
Di sebuah kafe bertema industrial di selatan kota, Rain duduk berhadapan dengan wanita pilihan Nenek Elia. Percakapan mengalir lancar—jauh lebih lancar dari yang ia perkirakan. Wanita itu cerdas, memiliki selera humor yang pas, dan secara umum mereka memiliki banyak kecocokan dalam memandang karier. Untuk sesaat, Rain merasa kencan buta terakhir ini benar-benar sebuah penutup yang manis.
Di sudut kota yang berbeda, Ayyara pun menjalani hal yang sama. Sosok pria di hadapannya adalah tipikal pria mapan yang santun. Obrolan mereka tenang, tidak ada kecanggungan berarti, dan kencan itu berakhir dengan kesan yang sangat positif.
Namun, saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, kedua jiwa yang membawa rahasia masa depan ini secara alami mencari satu sama lain. Mereka sepakat bertemu di sebuah kedai kopi kecil yang tenang, tempat di mana mereka tidak perlu berpura-pura menjadi "orang normal" di tahun 2019.
"Jadi, bagaimana kencannya?" tanya Ayyara sembari menyesap cokelat panasnya, matanya menatap Rain dengan binar jenaka.
"Lancar. Dia orang yang baik, sangat nyambung diajak bicara," jawab Rain jujur, namun nada suaranya datar seolah sedang melaporkan hasil rapat bulanan. "Kamu sendiri?"
"Sama. Menyenangkan," sahut Ayyara singkat.
Mereka terdiam sejenak, saling melempar senyum tipis. Ada pengakuan tak terucap di sana: meskipun kencan mereka masing-masing berjalan mulus, ada satu kekosongan yang tidak bisa diisi oleh orang baru. Orang-orang itu tidak tahu bahwa dunia akan berubah beberapa tahun lagi, dan mereka tidak tahu bagaimana rasanya terbangun di tubuh yang lebih muda dengan memori yang sudah penuh.
Percakapan pun beralih ke hal-hal yang lebih nyata. Rain mengeluarkan ponselnya, menunjukkan beberapa foto unit paviliun hasil perburuannya minggu ini.
"Ada unit di daerah ini, Ra. Tiga lantai, sirkulasi udaranya persis seperti yang kamu minta. Pemiliknya bilang unitnya siap huni minggu depan," jelas Rain.
Mereka menghabiskan satu jam berikutnya membahas tata ruang dan biaya sewa. Mereka tertawa saat Ayyara menceritakan betapa tenangnya suasana di rumahnya—sebuah anomali yang justru membuatnya waspada.
"Alurnya benar-benar berubah, ya?" gumam Ayyara pelan. "Dulu di tahun 2019, aku bahkan tidak kenal siapa Zayn. Sekarang, dia hampir setiap hari ada di kantin."
Rain mengangguk setuju. "Prediksi masa depan kita mulai bergeser. Beberapa peristiwa besar mungkin tetap terjadi, tapi detail-detail kecil seperti ini... ini yang membuatku merasa kita benar-benar sedang menulis ulang takdir."
Obrolan panjang itu membawa mereka ke sebuah bioskop tua di pusat kota. Mereka memilih film yang dulu sempat populer di lini masa asli, namun belum pernah mereka tonton bersama. Di dalam kegelapan studio, saat layar lebar menampilkan cerita fiksi, keduanya justru merasa sedang menjalani realitas yang paling jujur.
Mereka melangkah keluar bioskop, membelah malam yang dingin dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Seolah-olah, di tengah kekacauan takdir yang mereka susun ulang, mereka telah menemukan koordinat yang tepat untuk pulang
--
Kedatangan keluarga besarku ke kota mengubah ritme hidupku yang biasanya tenang menjadi penuh keriuhan. Ruang tamu rumah sewaan yang biasanya sunyi kini sesak oleh tumpukan kain, kotak hantaran, dan suara Ibu yang tak henti-hentinya mengabsen daftar belanjaan.
Persiapan lamaran Bian sudah di depan mata. Karena keluarga calon istrinya berdomisili di sini, janji suci itu akan diikrarkan dalam hitungan hari, sebelum nantinya resepsi besar diboyong ke kampung halaman untuk dirayakan bersamaan dengan pernikahan Cinta.
"Mbak Ara, lihat deh. Kain untuk seragam lamaran Bian sudah pas belum warnanya sama punyaku?" tanya Cinta sembari membentangkan kain brokat berwarna senada ke arahku.
Aku tersenyum, mencoba menjaga fokus di tengah tumpukan kotak kue yang mulai memenuhi meja. "Sudah pas, Cin. Warnanya bagus, cocok di kulitmu."
Bian, sang aktor utama dalam kesibukan ini, tampak duduk tegang di sudut ruangan. Ia berulang kali merapikan catatan kecil di ponselnya—mungkin draf kalimat lamaran yang sedang ia hafalkan di luar kepala.
"Gugup, Bi?" tanyaku menghampirinya, mencoba mencairkan suasana.
Bian mendongak, lalu tertawa hambar. "Lebih dari gugup, Mbak. Rasanya seperti mau sidang skripsi lagi, tapi kali ini taruhannya masa depan seumur hidup."
Ibu yang sedang melipat kain jarik menimpali tanpa menoleh, "Makanya, kamu harus mantap. Janji suci itu tinggal hitungan hari. Setelah urusanmu di kota ini selesai, Ibu baru bisa tenang menyiapkan resepsi besarmu di kampung nanti, barengan sama Cinta."
Aku terdiam sejenak. Di tengah hiruk-pikuk rencana pernikahan kedua adikku, pikiranku justru melayang pada percakapanku dengan Rain di bioskop malam itu. Tentang takdir yang sedang kami tulis ulang, dan tentang "ketenangan" keluarga yang belakangan ini membuatku curiga.
"Ngomong-ngomong, Ra," suara Ibu memutus lamunanku. Beliau menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan lewat pantulan cermin. "Temanmu yang namanya Rain itu... dia tinggal di dekat sini juga, lho. Bian bilang dia itu kakak tingkatnya dulu."
Aku berdeham pelan, mencoba bersikap acuh tak acuh. "Iya, mungkin, Bu. Aku malah tidak terlalu paham dia tinggal di mana.
Kenapa?"
"Enggak apa-apa. Tapi kamu tahu tidak? Rumah sewaan ini ternyata milik keluarganya Rain," jawab Ibu santai, kembali fokus pada lipatan bajunya seolah itu bukan informasi penting.
Aku tertegun. "Milik keluarga Rain?"
"Iya. Bian sengaja mencari celah di sini supaya bisa dapat slot kenalan. Katanya kemarin susah sekali cari tempat yang pas untuk rombongan keluarga kita. Tapi begitu ke sini dan bicara dengan pengurusnya, kita langsung diberi izin setelah mereka tahu kalau kita ini keluarga temannya Rain."
Aku mengerjapkan mata, mendadak merasa dunia ini menjadi sangat sempit. Jadi, alasan rumah sewaan ini terasa begitu nyaman dan "kebetulan" tersedia di saat yang tepat adalah karena campur tangan Rain?
"Beruntung sekali ya, Mbak," sahut Cinta dengan nada menggoda yang sangat jelas. "Sepertinya Mas Rain benar-benar tipe pelindung, bahkan sebelum kita minta tolong pun, jalannya sudah dibukakan."
Aku hanya bisa terdiam, menatap deretan koper di pojok ruangan. Rasa waspadaku tentang "rencana besar" keluarga kini berganti dengan rasa hangat yang aneh di dada.
Aku menarik napas panjang, lalu perlahan menjauh dari kerumunan keluarga yang masih sibuk di ruang tengah. Setelah menemukan sudut yang cukup sepi di balkon belakang, aku segera menekan nomor Rain.
"Halo, Rain?" bisikku pelan begitu sambungan terhubung.
"Ya, Ra? Ada apa? Suaramu pelan sekali, sedang sembunyi ya?" suara Rain terdengar tenang, ada nada jenaka yang terselip di sana.
"Rain... Ibu baru saja bilang kalau rumah sewaan yang ditempati keluargaku itu punya keluargamu. Kamu sengaja, ya?" tanyaku langsung pada intinya.
Di ujung telepon, Rain. "Ketahuan juga akhirnya. Maaf ya, Ra. Sebenarnya aku sudah berpesan pada pengurus rumah itu agar jangan bawa-bawa namaku, tapi sepertinya Ibu jauh lebih jeli."
"Kenapa harus repot-seperti ini, Rain? Aku kan bisa cari sendiri kalau memang butuh bantuan," protesku lembut, meski hatiku mulai menghangat.
"Bukan begitu, Ra. Beberapa hari lalu Bian menghubungiku lewat media sosial. Dia cerita kalau kesulitan cari tempat yang pas untuk rombongan keluarga kalian. Aku merasa tersanjung dia masih ingat aku sebagai kakak tingkatnya. Lagipula, siapa yang tidak kenal Bian? Si jenius yang dulu sering jadi 'maskot' kampus karena prestasinya. Membantu keluarganya adalah kehormatan buatku."
Aku terdiam, tak menyangka Rain begitu menghargai adikku.
"Tapi aku benar-benar mewanti-wanti Bian agar jangan memberi tahumu," lanjut Rain dengan nada konspirasi. "Aku takut kena omel karena kamu paling tidak suka 'jalur dalam'. Ternyata bocor juga lewat Ibu."
Aku tersenyum tipis, menatap lampu-lampu kota dari kejauhan. "Terima kasih, Rain. Kamu benar-benar memikirkan segalanya, bahkan hal-hal yang belum sempat terpikirkan olehku."
"Sama-sama, Ra. Nikmati waktumu bersama keluarga. Jangan pikirkan soal sewaan itu, yang penting Bian bisa lamaran dengan tenang tanpa pusing soal akomodasi."
Kami menutup telepon dengan perasaan yang lebih ringan.
--
Hari yang dinantikan pun tiba. Pagi-pagi sekali, kesibukan di rumah sewaan milik keluarga Rain sudah mencapai puncaknya. Bian tampak gagah dengan kemeja batik bermotif halus, meski jemarinya tak bisa berhenti bertaut karena gugup. Ibu sibuk memastikan tiap hantaran terbungkus rapi, sementara Cinta berulang kali mengecek daftar bawaan.
Kami berangkat menuju rumah calon mempelai wanita yang terletak di komplek perumahan asri sekitar 30 menitan dari sana. Sesampainya di sana, kami disambut dengan hangat. Di tengah deretan kursi tamu, aku tertegun melihat sosok yang berdiri di samping Bian, ikut membantu membawakan salah satu kotak seserahan utama.
Rain hadir di sana. Ia tidak hanya datang sebagai tamu, tapi benar-benar menempatkan diri sebagai bagian dari rombongan keluarga kami. Mengenakan batik lengan panjang dengan motif yang sangat berwibawa, ia tampak begitu tenang, kontras dengan Bian yang masih pucat.
Prosesi lamaran berlangsung khidmat di ruang tamu keluarga calon mempelai wanita. Saat tiba sesi perkenalan keluarga, Bian dengan bangga memperkenalkan Rain.
"Dan ini Mas Rain, kakak tingkat saya sekaligus kakak bagi saya di kota ini," ucap Bian dengan suara yang mulai stabil.
Rain membungkuk hormat kepada orang tua calon istri Bian. Caranya berbicara, tutur katanya yang tertata, serta pembawaannya yang matang membuat suasana lamaran yang tegang menjadi lebih cair. Ia bahkan sempat membantu menimpali beberapa pembicaraan teknis mengenai rencana akad nikah dengan sangat bijak, layaknya seorang abang yang sedang menjaga adiknya.
Ibu, yang duduk di sampingku, sesekali menyenggol lenganku pelan. "Lihat Nak Rain, Ra. Sopan sekali. Dia bahkan mau repot-repot ikut rombongan lamaran Bian padahal dia orang sibuk," bisik Ibu dengan binar mata penuh selidik yang mulai berubah menjadi kekaguman.
Setelah acara inti selesai dan kami dipersilakan menyantap hidangan, Rain berjalan menghampiriku yang sedang berdiri di sudut ruangan dekat meja prasmanan.
"Lancar ya, Ra. Bian hebat, kalimat lamarannya tadi ok banget," ucap Rain tulus. Ia mengambil segelas air mineral, gerakannya tenang dan sangat dewasa.
"Terima kasih sudah mau datang, Rain. Apalagi sampai ikut bawa seserahan... kamu benar-benar totalitas membantu Bian," jawabku, merasa sedikit canggung namun sangat tersentuh.
Rain tersenyum tipis. "Bian itu sudah seperti adik sendiri. Lagipula, aku ingin memastikan semua urusan keluargamu di sini berjalan mulus sebelum kalian pulang ke kampung."
Di seberang ruangan, aku bisa melihat Ibu, Bapak, dan bahkan beberapa paman sedang memperhatikan kami sambil berbisik-bisik dan tersenyum. Tatapan mereka seolah sudah "mengesahkan" kehadiran Rain di tengah keluarga kami.
"Sepertinya setelah lamaran Bian ini, Ibu akan punya target baru untuk ditanya kapan menyusul," goda Cinta yang tiba-tiba muncul di antara kami sambil membawa sepiring kue. "Dan targetnya sepertinya sudah ada di depan mata."
Rain hanya terkekeh pelan, tidak membantah maupun terlihat risih. Kedewasaannya menghadapi godaan Cinta justru membuat Ibu yang mendekat semakin yakin.