NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase Identitas

Goresan pena di baris terakhir dokumen itu terdengar seperti suara gergaji membelah kayu keras. Ekantika Asna menahan napas. Ia hanya bisa merasakan ujung jari telunjuknya yang kaku, dingin, seolah energi hidupnya tersedot habis oleh tinta hitam di atas kertas 80 gram itu.

“Selesai, Bu Ekantika. Selamat—atau, yah, saya rasa ini lebih tepatnya, resolusi,” ujar Pak Haryo, pengacaranya, dengan nada yang terlalu riang untuk sebuah perpisahan. Pak Haryo adalah tipikal pria paruh baya yang percaya bahwa perceraian adalah sekadar transaksi real estat emosional yang cepat selesai.

Ekantika hanya mengangguk, tanpa ekspresi. Tiga puluh lima tahun. CEO perusahaan IT yang baru saja memenangkan tender Proyek Garuda. Wanita yang dalam enam tahun terakhir membangun kerajaan digital dari nol. Dan kini, ia hanya ditandai sebagai: Janda.

“Saya permisi, Pak Haryo. Ada rapat dewan direksi dalam satu jam,” katanya, suaranya kembali ke mode Ekantika Asna, The Unstoppable.

Di dalam mobil, ia menatap pantulan dirinya di jendela. Riasan yang sempurna, power suit hitam yang mahal, dan tatapan mata yang membunuh. Semua itu adalah perisai. Perisai yang ternyata tidak cukup tebal untuk menangkis bisikan-bisikan halus yang menantinya di lantai lima belas kantor.

Ia tidak tahu persis mengapa, tetapi sejak berita perceraiannya tersebar—bahkan sebelum palu diketuk—kantornya, yang seharusnya menjadi benteng profesionalisme, berubah menjadi sebuah amphitheater gosip.

Ekantika turun dari lift, langkahnya cepat dan tegas.

“Selamat pagi, Bu,” sapa Vina, asistennya, yang tampak gugup.

“Vina, tolong siapkan data kuartal kedua. Dan batalkan makan siang saya. Saya tidak lapar.”

“Baik, Bu. Tapi, Bu—” Vina ragu.

“Ya?” Ekantika menaikkan sebelah alis.

“Itu, Bu. Tadi ada beberapa rekan dari Divisi Marketing. Mereka... mereka bertanya apakah Ibu baik-baik saja.”

Ekantika tersenyum dingin. Senyum yang tidak mencapai matanya. “Tentu saja saya baik-baik saja, Vina. Saya Ekantika Asna. Saya tidak pernah ‘tidak baik-baik saja’ di jam kerja.”

Vina menunduk. “Tentu, Bu. Hanya saja... Pak Doni tadi bertanya, apakah Ibu akan mengambil cuti panjang untuk ‘pemulihan moral’?”

Ekantika berhenti total. Kata-kata itu berputar di kepalanya. Pemulihan moral? Seolah-olah status jandanya adalah sebuah penyakit menular yang harus dikarantina.

Ia masuk ke ruangannya, menutup pintu kaca buram itu dengan sedikit bantingan. Ia duduk di kursi kulitnya yang nyaman, tetapi tiba-tiba terasa seperti kursi listrik.

Ia mengambil ponselnya, mencoba mengalihkan perhatian dengan memeriksa feed media sosial. Itu adalah kesalahan fatal.

Postingan dari akun anonim (mungkin salah satu kolega Divisi Marketing Pak Doni) muncul di linimasanya. Sebuah meme yang tidak lucu: gambar kepala singa betina yang sedang marah, dengan caption:

>“Ketika janda sukses bilang dia ‘bahagia’ padahal hidupnya kosong dan dia cuma bisa tidur sambil memeluk sertifikat saham.”

Ekantika merasakan asam lambung naik. Ini bukan hanya tentang perceraiannya. Ini tentang bagaimana masyarakat, bahkan di lingkungan korporatnya yang progresif, selalu punya narasi siap pakai untuk seorang wanita sukses yang gagal dalam rumah tangga.

Gagal. Kata itu menempel seperti label harga yang sulit dilepas.

Ia melemparkan ponselnya ke meja. Ia bangkit, mulai mondar-mandir di karpet tebal ruangannya.

“Tidak,” bisiknya pada ruangan kosong itu. “Aku tidak akan membiarkan kegagalan mendefinisikanku.”

Ia bekerja keras. Ia membangun perusahaan ini. Tetapi semua orang melihatnya sebagai angka statistik yang menyedihkan: 1 Janda, 0 Anak, 1 Perusahaan Besar.

Ia butuh validasi. Bukan dari dewan direksi, bukan dari angka keuntungan, apalagi dari Doni dan kroni-kroninya. Ia butuh validasi bahwa ia masih berharga, masih diinginkan, masih relevan. Ia butuh untuk membuktikan bahwa Ekantika Asna yang berusia 35 tahun, yang baru saja bercerai, bisa mengalahkan stigma yang dilekatkan masyarakat padanya.

Ia berhenti di depan jendela besar, menatap cakrawala Jakarta yang penuh polusi dan ambisi.

“Apa yang akan mereka lakukan jika aku menghapus semua sejarahku? Jika aku menciptakan sebuah algoritma pembangkang?” gumamnya, bibirnya membentuk garis tipis yang penuh perhitungan.

Ia mengambil ponselnya lagi. Matanya menyala, penuh tekad yang gila. Ia mencari. Aplikasi kencan.

Ia harus memulai dari tempat yang paling superfisial, tempat di mana identitas bisa direkayasa, tempat di mana ia bisa menjadi versi dirinya yang tidak terkontaminasi oleh masa lalu.

Aplikasi itu meminta detail dasar. Nama, pekerjaan, minat.

Nama: Ia mengetik Ekantika, lalu menghapusnya. Terlalu berat, terlalu CEO. Ia mengetik cepat: Nana.

Pekerjaan: Ia tidak mungkin menulis CEO. Ia mengetik: Freelance designer. Kedengarannya ringan, penuh passion, khas Gen Z yang baru lulus.

Lalu, bagian yang paling krusial, bagian yang akan menjadi fondasi kebohongan monumental ini:

Usia:

Jari Ekantika terhenti di angka 35. Ia menatap angka itu. Tiga puluh lima tahun. Usia yang di mata publik berarti ‘hampir kedaluwarsa’ jika ia belum memiliki anak, apalagi dengan status janda.

Ia tertawa kecil, tawa pahit yang hanya terdengar di ruangan itu.

“Baiklah, Doni. Kalian ingin aku menjadi tidak relevan? Aku akan menjadi yang paling relevan.”

Ia menekan tombol backspace. Angka 35 lenyap.

Ia mengetik angka baru. Sebuah angka yang mewakili kebebasan, kepolosan, dan masa depan yang belum ternoda. Sebuah angka yang akan membatalkan semua sumpah serapah status quo yang dilemparkan padanya.

Ia melihat layar, senyum jahatnya melebar.

26.

Klik. Profil itu langsung terunggah. Nana, 26 tahun, fresh grad, siap untuk revolusi digital.

Ekantika bersandar di kursi, merasakan adrenalin memompa. Ini terasa lebih memuaskan daripada memenangkan tender manapun. Ia baru saja melakukan sabotase identitas.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Sebuah notifikasi muncul di layar, di bawah foto selfie Nana yang baru saja ia unggah.

Nana, you have 99+ likes and several messages waiting. Ready to connect?

Ekantika menyeringai, jemarinya bergerak cepat untuk membuka kotak masuk. Ia akan melihat siapa saja yang tertarik pada ilusi yang ia ciptakan. Ia akan memilih mangsa paling menarik.

Ia menggeser layar, membaca pesan pertama yang masuk. Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi membuat jantung Ekantika langsung mencelos ke lantai marmer ruangannya.

Nana, kamu terlihat menarik. Saya Riton, 28 tahun. Tertarik ngopi besok?

Ekantika membeku. Ia mengenali nama itu. Riton Wijaya. Juniornya dulu di kantor, yang kini menjadi CEO start-up paling sukses di kota ini.

Nana mencocokkan diri dengan Riton. Takdir baru saja mengunci Ekantika dalam jebakan paling ironis yang pernah ia ciptakan.

Match!

Nana (Ekantika) menatap pesan itu, wajahnya perlahan memucat, namun matanya memancarkan kegembiraan yang berbahaya. Ia telah mendapatkan validasi yang ia inginkan, tetapi harganya mungkin adalah kehancuran yang total. Ia tidak bisa mundur sekarang. Ia harus menjawab, tetapi ia harus melakukannya sebagai Nana.

Ia mulai mengetik, tetapi jarinya terhenti tepat di atas tombol kirim. Ia baru menyadari satu hal yang mengerikan.

Bagaimana jika Riton mengenalinya? Bagaimana jika Riton pernah melihatnya, Ekantika Asna, si Janda CEO, dan menyadari bahwa Nana hanyalah versi filtered yang sembilan tahun lebih muda?

Ia menghela napas, menutup aplikasi itu dengan cepat. Ia harus segera menyusun strategi pertahanan digital. Ia harus membunuh Ekantika Asna di dunia maya sebelum Riton mencari tahu.

Ia buru-buru membuka laptopnya, tangannya gemetar. Otaknya yang cerdas, yang biasa merancang strategi bisnis bernilai miliaran, kini hanya fokus pada satu hal: menghapus jejak digital masa lalu, dan membangun benteng kebohongan yang sempurna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!