Vittorio "The Grim Reaper" Genovese adalah puncak rantai makanan di dunia bawah Italia. Dingin, kejam, dan tak tersentuh—sampai sebuah pengkhianatan bom mobil mengakhiri hidupnya. Namun, maut ternyata punya selera humor yang aneh. Vittorio terbangun di tubuh Arjuna, mahasiswa beasiswa tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi "kesialan". Tubuh kurus, kacamata tebal yang pecah, dan hobi menjadi samsak tinju geng kampus.
Dendam Vittorio membara, tapi tantangan terbesarnya bukan membalas budi pada para pembully, melainkan menghadapi Karin, gadis "semprul" tetangga kostnya yang tidak punya urat takut. Karin adalah perpaduan antara kekacauan dan keceriaan yang sering membuat Vittorio—sang raja mafia yang biasanya hanya bicara lewat peluru—kehilangan kata-kata dan martabatnya karena tingkah konyol gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vittorio Mulai Beradaptasi
Jakarta setelah hujan adalah tempat yang aneh bagi seorang pria yang terbiasa dengan udara pegunungan Sisilia atau semilir angin pelabuhan Genoa. Di atas motor sport yang dipacu kencang oleh wanita misterius bernama Maya itu, Vittorio Genovese merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: ia mulai merasa "sinkron" dengan raga Arjuna.
Luka-luka di punggungnya tidak lagi berdenyut dengan rasa sakit yang melumpuhkan; rasa itu kini berubah menjadi sensasi panas yang memompa adrenalin. Paru-parunya yang tadinya sempit kini mulai melebar, menghirup udara malam yang lembap dengan rakus. Vittorio menyadari bahwa proses transmigrasi ini bukan hanya sekadar perpindahan jiwa, melainkan fusi. Ia mulai mewarisi ketajaman saraf Arjuna yang tertekan, sementara ia memberikan ketenangan mental seorang penguasa duni bawah.
Motor itu berhenti di depan sebuah gedung perkantoran pencakar langit di kawasan Sudirman. Bangunan itu adalah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan.
"H.S. menunggumu di lantai paling atas," ucap Maya sambil membuka helmnya. "Hati-hati, Vittorio. Dia sudah tahu kau bukan lagi Arjuna yang dia buang ke jalanan. Dia menyebutmu sebagai 'Anomali'."
Vittorio turun dari motor, merapikan jaket kulitnya. "Di duniaku, anomali adalah sebutan untuk orang-orang yang mengubah sejarah. Terima kasih atas tumpangannya, Maya."
"Satu hal lagi," Maya menahan lengan Vittorio. "Dia akan mencoba memancing emosimu. Arjuna punya trauma besar padanya. Jika kau membiarkan memori Arjuna mengambil alih, kau akan kalah sebelum dia mengeluarkan satu kata pun."
Vittorio hanya menyeringai—sebuah ekspresi yang begitu tajam hingga Maya secara naluriah menarik tangannya kembali. "Dia akan menyadari bahwa memancing emosiku sama saja dengan memancing hiu menggunakan tangan kosong."
Vittorio melangkah masuk ke lobi. Keamanan di sana sangat ketat, namun anehnya, saat ia menyebutkan nama Arjuna, para petugas itu langsung menunduk dan membukakan pintu lift khusus. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Vittorio menatap pantulannya. Ia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang kini memiliki sorot predator yang tenang.
Ting.
Pintu lift terbuka langsung ke sebuah kantor pribadi yang luasnya hampir menyamai luas seluruh lantai kost-annya. Dindingnya adalah kaca transparan yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang seolah-olah tunduk di bawah kaki gedung ini. Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan rambut perak yang tertata rapi, mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik.
Hadi Sujatmiko. Pria yang memegang inisial H.S.
"Duduklah, Arjuna," suara Hadi terdengar berat dan penuh wibawa, namun di dalamnya ada nada dingin yang tidak manusiawi. "Atau harus kupanggil siapa? Aku mendengar kau bicara tentang Italia di kampus kemarin."
Vittorio tidak duduk di kursi yang disediakan. Ia justru berjalan menuju bar mini di sudut ruangan, menuangkan segelas whiskey mahal tanpa meminta izin. Ia mencium aromanya sejenak, lalu menyesapnya perlahan.
"Kualitas yang lumayan untuk seseorang yang membangun kekuasaannya dari penggelapan dana konstruksi," ucap Vittorio, suaranya mengisi ruangan dengan otoritas yang setara dengan Hadi.
Hadi sedikit terkejut, namun ia berhasil menyembunyikannya dengan senyum tipis. "Kau banyak berubah. Arjuna yang kukenal biasanya akan gemetar hanya dengan mencium bau cerutuku. Maya benar, kau memang anomali. Jadi, siapa kau sebenarnya? Roh pendendam? Atau sekadar efek samping dari mikrodit yang kutanam di lehermu itu?"
Vittorio meletakkan gelasnya di atas meja kerja Hadi dengan denting yang disengaja. "Siapa aku tidaklah penting. Yang penting adalah apa yang aku ketahui. Aku tahu tentang medali 'Serigala Terlilit Rantai'. Aku tahu hubunganmu dengan keluarga Lupi di Mare. Dan aku tahu mengapa kau menanam pelacak di tubuh putra kandungmu sendiri."
Wajah Hadi menegang. Nama "Lupi di Mare" bukanlah sesuatu yang seharusnya diketahui oleh siapa pun di Indonesia, apalagi oleh seorang mahasiswa hukum yang selama ini hidup seperti gelandangan.
"Kau sedang bermain api, anak muda," desis Hadi. "Lupi di Mare bukan sekadar organisasi. Mereka adalah pemilik sah dari setiap hembusan napas yang kau ambil. Pelacak itu bukan untuk menjagamu, tapi untuk memastikan 'investasi' ini tidak hilang sebelum waktunya."
"Investasi?" Vittorio tertawa dingin. "Kau menganggap anakmu sebagai komoditas untuk menyenangkan tuanmu di Genoa? Kau benar-benar pria kecil yang menyedihkan, Hadi."
"Pria kecil yang bisa menghancurkanmu dalam sekejap!" Hadi berdiri, menampar meja dengan keras. "Kau pikir karena kau bisa menghajar beberapa preman, kau sudah menang? Aku memiliki polisi, pengacara, dan pembunuh di kantongku!"
Vittorio tidak berkedip. Ia justru maju mendekati meja Hadi, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Kau punya polisi dan pembunuh? Bagus. Karena aku punya sesuatu yang tidak kau miliki: Insting untuk Bertahan Hidup di Neraka."
Vittorio merogoh sakunya dan mengeluarkan medali emas yang ia temukan di kost-an tadi. Ia melemparkannya ke atas meja. "Serigala ini terlilit rantai. Di duniaku, kami punya pepatah: Serigala yang dirantai akan menggigit tangan tuannya saat rantai itu putus. Dan tebak apa, Hadi? Rantainya baru saja putus."
Hadi menatap medali itu dengan mata terbelalak. "Dari mana kau... ibumu seharusnya sudah membuang itu!"
"Ibu Arjuna menjaga rahasia ini lebih baik daripada kau menjaga moralmu," ucap Vittorio. "Dia ingin Arjuna tahu siapa musuhnya. Dan sekarang, aku di sini bukan sebagai putramu yang memohon kasih sayang. Aku di sini sebagai penagih hutang. Hutang untuk setiap air mata ibuku, hutang untuk setiap luka di punggung ini, dan hutang untuk martabat yang kau injak-injak."
Hadi mencoba menekan tombol darurat di bawah mejanya, namun Vittorio lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Hadi dan memutarnya dengan teknik yang ia gunakan pada Bara pagi tadi.
"ARGH!" Hadi mengerang, tubuhnya merosot ke kursi.
"Jangan repot-repot," bisik Vittorio. "Sinyal di lantai ini sudah diputus oleh Maya. Ternyata, orang-orangmu tidak seloyal yang kau kira. Mereka tahu kapan harus berpindah ke pemenang yang baru."
Vittorio melepaskan cengkeramannya. Ia mengambil kembali medalinya. "Mulai besok, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Arjuna. Saham perusahaan konstruksimu, aset-asetmu di luar negeri, dan pengakuanmu di depan hukum. Jika kau mencoba melawan... aku tidak akan mengirimmu ke penjara. Aku akan membiarkan Lupi di Mare tahu bahwa kau telah kehilangan kendali atas 'investasi' mereka. Dan kau tahu apa yang mereka lakukan pada kegagalan, bukan?"
Hadi menatap Vittorio dengan ketakutan yang murni. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada mafia Italia: ia melihat putranya sendiri, namun dengan jiwa seorang monster yang tidak mengenal ampun.
Vittorio berjalan menuju pintu lift tanpa menoleh lagi. "Oh, satu hal lagi, Hadi. Jangan pernah mengirim orang ke kost-anku lagi. Jika ada satu helai rambut pun yang jatuh dari kepala temanku, Karin... aku akan memastikan kau tidak akan memiliki sisa rambut untuk disisir saat aku selesai denganmu."
Vittorio keluar dari gedung dengan langkah santai. Hujan sudah berhenti, menyisakan udara malam yang segar. Di pinggir jalan, Maya masih menunggunya dengan motor sport-nya.
"Bagaimana?" tanya Maya singkat.
"Pria itu hanyalah kulit yang kosong," jawab Vittorio. "Dia terlalu lama bersembunyi di balik uang hingga lupa bagaimana rasanya menghadapi ancaman nyata. Tapi dia benar tentang satu hal: Lupi di Mare akan segera datang."
"Kau butuh tempat persembunyian yang lebih baik dari kost-an itu," saran Maya.
Vittorio menggelengkan kepala. "Tidak. Kost-an itu adalah tempat di mana Arjuna merasa aman. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merenggut itu darinya lagi. Selain itu... ada seseorang yang sedang menungguku dengan nasi gorengnya."
Maya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan. "Kau benar-benar beradaptasi dengan cepat, Vittorio. Dari seorang Raja Mafia menjadi pelindung seorang gadis semprul. Siapa yang sangka?"
"Dunia ini butuh sedikit anomali, bukan?" Vittorio memakai helmnya. "Antarkan aku pulang. Aku punya tugas statistik yang harus diselesaikan."
Perjalanan pulang terasa lebih singkat. Saat Vittorio sampai di depan gerbang kost, ia melihat lampu kamar Karin masih menyala. Di teras depan, Bang Mamat sedang merokok sambil menjaga pintu masuk dengan waspada—sebuah instruksi diam-diam yang Vittorio berikan melalui pesan singkat tadi sore.
"Aman, Juna?" tanya Bang Mamat sambil mengangguk.
"Aman, Bang. Terima kasih," jawab Vittorio.
Ia melangkah menuju kamarnya, namun pintu kamar Karin terbuka sebelum ia sempat sampai. Karin muncul dengan wajah bengkak karena baru bangun tidur, memegang sebuah penggaris besi.
"Woi! Alien sombong! Lu baru balik?!" Karin berteriak pelan agar tidak membangunkan Mbak Yanti.
Vittorio tersenyum—senyuman tulus yang kini mulai lebih sering muncul. "Aku baru saja menyelesaikan urusan bisnis. Dan aku membawa ini."
Vittorio memberikan sebuah kantong plastik berisi martabak manis yang ia beli di pinggir jalan tadi.
Mata Karin langsung berbinar. "Martabak cokelat keju?! Wah, lu beneran asisten yang berbakti ya! Sini masuk, bantu gue kerjain statistik! Gue udah hampir gila liat angka-angka ini!"
Vittorio masuk ke kamar Karin. Ruangan itu berantakan dengan kertas-kertas tugas dan botol air mineral. Namun bagi Vittorio, ruangan ini terasa lebih mewah daripada kantor Hadi Sujatmiko tadi. Di sini, ia tidak perlu menjadi Vittorio Genovese yang ditakuti; ia bisa menjadi "Juna" yang membantu teman semprulnya.
Saat mereka duduk di lantai mengerjakan tugas, Karin sesekali melirik ke arah Vittorio. "Juna... lu nggak apa-apa kan? Maksud gue... urusan bisnis lu lancar?"
"Lancar, Karin. Sangat lancar," jawab Vittorio sambil menuliskan rumus statistik di kertas Karin.
"Lu tau nggak? Tadi pas lu pergi, gue ngerasa sepi banget. Biasanya kan ada lu yang gue bully," Karin tertawa kecil, namun ada nada serius di suaranya. "Janji ya, jangan sering-sering pergi malem kayak gitu. Gue takut... gue takut lu nggak balik lagi."
Vittorio berhenti menulis. Ia menatap Karin dengan tatapan yang lembut. "Aku sudah bilang, kan? Kematian pun harus mengantre jika ingin menemuiku. Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Karin. Setidaknya, tidak sampai kau lulus kuliah dan jadi sarjana hukum paling berisik di Indonesia."
Karin tersipu, lalu memukul bahu Vittorio dengan penggaris besinya. "Dih! Geer banget lu! Udah, cepetan kerjain ini! Gue laper mau makan martabaknya!"
Vittorio tertawa. Di tengah konspirasi internasional yang mulai menjeratnya, di tengah ancaman Lupi di Mare yang sedang menyeberangi lautan, Vittorio Genovese menyadari satu hal: ia sudah benar-benar beradaptasi. Bukan hanya dengan tubuh Arjuna, tapi dengan kehidupan yang selama ini ia lewatkan sebagai seorang mafia. Kehidupan tentang persahabatan, tentang martabak manis di malam hari, dan tentang melindungi seseorang bukan karena kewajiban, tapi karena keinginan hati.
Malam itu, di sebuah kost sederhana di sudut Jakarta, sang Raja Mafia dan Gadis Semprul berbagi martabak di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. Musuh mungkin akan datang, perang mungkin akan pecah, tapi untuk malam ini, Vittorio Genovese merasa ia telah memenangkan pertempuran yang paling penting: pertempuran untuk menjadi manusia kembali.
"Juna, martabaknya enak banget! Besok-besok beli lagi ya, tapi pake martabak telur!"
"Kerjakan tugasmu dulu, Karin."
"Siap, Tuan Besar!"
Di luar, bintang-bintang Jakarta yang biasanya redup karena polusi, entah mengapa malam ini terlihat sedikit lebih terang. Seolah-olah alam semesta pun setuju bahwa anomali ini adalah awal dari sesuatu yang luar biasa.
aq ngakak 😄🤣😄🤣😄🤭
lucu bnget cemburu ny si vittrio🤣😄🤣😄🤭 lanjut kk👍
kocak bnget,,,,👍
laen x cukup sederhana tp berkesan saja🤭
karin udh gak malu lg yaa peluk2 vittrio depan orng🤭
mna manja lg
🤣😄🤭
dri pda karin pke daster kuning bikin syilau mata mu😄🤣😄🤣🤭
tp gak ap lah, klu vittrio penguasa italia, aq penguasa komen d cerita kk ini🤭👍